
Pagi harinya saat Keisha sadar jika dirinya kini sudah berada di dalam kamarnya padahal saat dirinya mengingat kembali dia seharusnya berada di ruang tamu menunggu kepulangan Aldrich. Tetapi kenapa dia bisa ada di sini, sebuah tanda tanya besar.
"Siapa yang memindahkan ku ke sini? Kenapa aku tidak menyadarinya?" monolog nya pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, aku harus segera menyiapkan sarapan pagi secepatnya," ujar Keisha yang segera turun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya segera.
Tanpa membersihkan terlebih dahulu Keisha segera memulai kegiatan pagi harinya. Seperti sudah terbiasa Keisha melakukan semuanya dengan telaten.
Hingga pukul 7.30 seluruh masakan telah selesai di siapkan tinggal menunggu Aldrich datang bersama dengan Hans.
"Selamat pagi Nona," sapa Hans yang sembari mendorong Aldrich masuk ke dalam ruang makan.
"Pagi, kebetulan sekali sarapannya sudah siap," balas Keisha segera. Melihat Aldrich yang nampak tak berekspresi.
Hans mendorong Aldrich hingga ke meja makan sebelum sarapan di mulai.
"Selamat pagi tuan," sapa Keisha dengan senyuman sedangkan Aldrich hanya membalas dengan anggukan saja.
"Mau kemana Hans? Sarapan lah di sini," ucap Keisha yang membuat Hans menghentikan niatnya pergi dan menoleh ke arah Aldrich yang menunjukkan wajah tanpa ekspresi.
"Tidak perlu nona, saya masih ada urusan sebentar di depan," tolak Hans secara halus dan kemudian bergegas pergi dari sana meninggalkan keduanya yang kembali dalam selimut canggung.
Sarapan pun di mulai tak ada sepatah kata pengantar apapun hanya dentuman sendok dan garpu yang saling beradu di atas meja.
Hingga suara sendok terjatuh membuat fokus Keisha beralih pada Aldrich yang tengah memejamkan matanya seperti menahan kesakitan.
"Tuan? Tu---tuan?" panggil Keisha yang segera beranjak dari duduknya mendekat ke arah Aldrich yang nampak sangat kesakitan.
"Argghhh!" Rasa sakit pada kaki Aldrich benar-benar menyiksa dirinya hingga tak sadar dirinya berteriak kesakitan.
Dengan perasaan takut Keisha segera menarik kursi roda Aldrich keluar dari area meja makan lalu menghadapkan kursi roda itu di hadapan nya.
Keisha berjongkok tepat di depan kaki Aldrich yang nampak kaku dengan Aldrich yang terus memegang erat kedua pegangan kursi rodanya.
Dengan hati hati Keisha memegang kaki Aldrich dan memberikan pijatan lembut di sana. Aldrich membuka matanya melihat Keisha yang tengah berjongkok memijat kakinya.
"Apa yang kau laku...,"
__ADS_1
"Dimana yang sakit? Katakan padaku tuan, apakah di sini masih terasa sakit?" tanya Keisha yang memotong ucapan Aldrich.
Aldrich merasa jika nyeri yang tadi menyerangnya perlahan-lahan memudar seiring dengan pijatan lembut dari Keisha.
"Tuan? Kenapa diam? Katakan kepada saya, dimana yang sakit?" tanya Keisha lagi.
"Tidak, eh... Maksud ku sakitnya sudah hampir menghilang," jawab Aldrich walaupun sulit mengakui jika pijatan dari Keisha benar-benar berguna.
"Syukurlah, jika tuan merasakan sakit kembali maka saya akan kembali memijit kaki tuan," kata Keisha yang tersenyum mendongak ke atas menatap wajah Aldrich.
"Tidak usah, saya juga tidak ingin bantuan dari orang lain," ucap Aldrich yang begitu sulit menerima tawaran dari Keisha. Tinggal mengatakan iya saja itupun selesai.
"Orang lain? Tuan saya istri anda, yah walaupun saya tidak tahu jika anda mau benar-benar mengakui nya tetapi saya akan melakukan kewajiban saya sebagai seorang istri dengan cara seperti ini salah satunya," balas Keisha yang membuat Aldrich bungkam.
"Tuan mobilnya sudah siap," sela Hans yang baru saja masuk melihat posisi keduanya membuat Hans terdiam.
"Tadi tuan merasakan sakit pada kakinya, jadi saya berjongkok untuk memijat nya dan itu berhasil menghilang rasa sakitnya," jelas Keisha yang nampak tak ingin ada kesalahpahaman lagi.
"Eh benarkah nona? Kebetulan juga hari ini tuan juga harus cek up ke rumah sakit," kata Hans yang membuat dirinya mendapatkan pelototan dari Aldrich.
"Hmm," jawabnya yang kemudian memundurkan kursi rodanya dan pergi dari hadapan Keisha yang nampak masih berjongkok.
Keisha yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Dirinya kini bertekad mendapatkan hati Aldrich jika Aldrich tidak bisa mencintai nya maka Keisha akan berusaha untuk di hargai oleh Aldrich.
Setelah mereka pun bergegas pergi menuju ke rumah sakit seperti sata sekarang ini saat Hans sudah selesai membantu Aldrich masuk mobil tinggal menunggu Keisha keluar dari rumah.
"Maaf aku sedikit lamban karena ada beberapa hal yang harus ku bawa," ujar Keisha yang keluar dari rumah dengan sedikit berlari.
"Tidak apa nona, mari kita berangkat!" ajak Hans yang kemudian Keisha pun ikut masuk ke dalam mobil dengan duduk di kursi depan samping Hans.
"Kenapa duduk di sana?" tanya Aldrich yang membuat Keisha menghentikan dirinya yang sudah sebagian besar masuk ke dalam mobil.
"Maaf tuan, saya hanya tidak ingin anda terganggu dengan saya duduk di dekat anda," ujar Keisha.
"Tidak, duduk lah di dekat ku. Jangan sampai orang-orang mengira kau istrinya Hans bukan istri dari ku," balas Aldrich yang membuat Keisha mematung tanpa mengedipkan matanya. Hah? Istriku?
"Ingin ikut atau tidak?" tanya Aldrich yang membuat kesadaran Keisha kembali lagi.
__ADS_1
"Tentu tuan," jawab Keisha secepatnya dan kemudian dirinya pun berpindah tempat menuju ke belakang bersama dengan Aldrich.
Kini Keisha sudah duduk di dekat Aldrich, suasana nya sungguh sangat berbeda. Aura mengintimidasi Aldrich lebih kuat saat kita begitu dekat dengannya. Membuat Keisha merasa dirinya terlalu kecil berada di samping Aldrich.
Mobil pun meninggalkan kediaman mereka menuju rumah sakit seperti awal tujuan.
•••
Mereka pun turun setelah Aldrich sudah menduduki kursi roda nya dan siap memasuki rumah sakit.
Hans berjalan di belakang mereka saat Keisha beralih mendorong kursi roda Aldrich memasuki rumah sakit. Semua mata kini tertuju kepada mereka, hal yang paling mengejutkan adalah Aldrich yang terkenal tidak memiliki kekasih itu mendadak membawa wanita asing bersama dirinya sekarang.
"Tuan, mereka menatap kita," adu Keisha yang terlihat sangat gelisah.
"Tidak perlu pedulikan hal yang tidak penting," jawab Aldrich bagaikan sudah terbiasa mendapatkan tatapan tersebut.
Mereka pun kini sudah memasuki ruangan dokter Daniel sekaligus sahabat dekat Aldrich yang kebetulan juga keluarga nya lah yang memiliki rumah sakit tempatnya bekerja.
"Pagi Pak Daniel," sapa Hans terlebih dahulu sembari membuka kan pintu untuk Aldrich dan Keisha.
"Pagi...," Sungguh pemandangan yang indah yang di lihat Daniel pagi hari ini.
"Al? Wah!" Daniel berdiri menyambut kedatangan sahabatnya bersama dengan sang istri sembari bertepuk tangan dengan riangnya.
"Kenapa kau heboh sekali bod0h?!" tanya Aldrich dengan sinis.
"Hahaha, tidak hanya saja kalian benar-benar terlihat sangat serasi, seperti kataku Al istrimu benar-benar sangat cantik," ucap Daniel yang kemudian mendekatkan mulutnya di dekat Aldrich.
Dan berkata "Apakah tawaran mu yang dulu masih berlaku? Aku rasa aku cukup tertarik dengan tawaran tersebut, dan tak ada salahnya jika menikahi seorang janda bukan?"
Mendengar hal tersebut membuat Aldrich langsung menghunuskan tatapan tajam kepada Daniel dan langsung menarik kencang kerah baju milik Daniel.
"Kau ingin m4ti, hah?!" teriak Aldrich tepat di depan wajah Daniel yang nampak tersenyum geli.
"Hei, aku hanya bercanda kawan, sensi sekali kau ini. Mana mungkin aku berani mengambil hak milikmu?" ucap Daniel yang perlahan-lahan Aldrich mulai melepas cengkraman kerah miliknya.
...#bersambung...
__ADS_1