
Pagi hari di negara asing sangatlah memusingkan bagaimana suara kendaraan yang bisa di katakan masih pagi ini sudah sangat memekakkan telinga Aldrich yang baru saja selesai bersiap itu dan hendak keluar dari dalam kamar hotelnya itu di hentikan oleh suara sering ponselnya yang berada di saku celana kainnya sekarang.
"Halo Hans."
"Halo tuan, tuan ada di mana sekarang?"
"Ah aku ingat, pasti kau sudah mendengar nya dari Bi Sakina bukan? Biar ku pertegas lagi jika aku sekarang berada di Belanda."
"Kau boleh menyusul jika kau mau, tahu tahu nanti aku membutuhkan mu," lanjut Aldrich yang berjalan kembali menuju lift.
Hans tidak menyahut sama sekali seolah-olah pria itu tenggelam dalam keterkejutan nya.
"Hans! Apakah kau mendengarkan ku?!"
"Eh---maaf tuan---saya tadi melamun, ba---baik saya akan segera menyusul tuan," jawab Hans.
"Dan satu hal lagi yang ingin ku katakan padamu Hans." Mendengar kalimat itu Hans dengan susah payah menelan saliva nya dengan keringat dingin yang sudah mengucur keluar dari pelipisnya.
"Kau seharusnya mengecek handphone mu agar tidak kehabisan baterai, itu sangat menyusahkan jika aku ingin menghubungimu," ungkap Aldrich.
"Ap---apa tuan? Sa---ya tidak mendengar nya?"
"Aku bilang jangan sampai handphone mu mati lain kali!"
"Kau kenapa Hans, dari tadi cara bicaramu seperti orang ketakutan saja! Atau kau sedang sakit sekarang? Jika iya makasih kau tak usah pergi---"
"Tidak tuan, se---segera saya akan memesan tiket untuk berangkat!" potong Hans cepat.
"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu nanti." Aldrich langsung menutup telponnya membuat Hans gegelapan mencari nomor Keisha di sana.
Kali ini Hans tidak boleh kecolongan lagi, bagaimana bisa pagi-pagi ini Hans sudah mendapatkan kabar tak enak jika Aldrich sekarang berada di Belanda. Yah Belanda tempat Keisha hidup sekarang.
"Nona,"
Hans mondar-mandir tak jelas di mansion Aldrich berharap Keisha segera mengangkat telponnya namun sayangnya nihil hanya keterangan memanggil di sana.
Hans kembali mencoba namun tidak tersambung lagi. Kali ini Hans kembali mencoba dan hasilnya tetap sama hingga pria itu memutuskan untuk mengirimkan pesan pada Keisha sebelum dia berlari masuk ke dalam mobilnya menuju bandara.
"Tuan datang nona,"
•••
Aldrich keluar dengan pakaian tebal yang menutupi pakaian formalnya nampak sudah Vincent tengah menunggunya dengan senyuman khas miliknya.
__ADS_1
"Pagi tuan Aldrich," sapanya dengan ramah.
"Pagi juga Vincent," balas Aldrich yang segera masuk ke dalam mobil sebelum dirinya semakin di selimuti dingin. Pasalnya cuaca hari ini sangatlah dingin.
Mereka pun pergi menuju lokasi proyek yang Vincent janjikan. Buat yang nanya Vincent kok tiba-tiba ada di Belanda sih? Kapan pergi dan sampainya? Gini Vincent pergi ke Belanda pas setelah dia rapat sama Aldrich nah di situ juga di perjalanan Vincent nelpon Aldrich kalau sanya Aldrich harus ke Belanda untuk ninjau langsung proyek dan Vincent cepet karena dia makai jet pribadi dan plus nungguin Aldrich di bandara deh. Gitu yah. Oke kembali ke topik!
Setelah 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai pada sebuah lahan kosong sangat luas. Vincent turun terlebih dahulu kemudian di susul oleh Aldrich.
Mata Aldrich menyapu tempat itu, sesekali dirinya juga melihat kearah sekitar yang nampak agak ramai dengan warga yang tengah berjalan kaki dan beberapa dari mereka juga menggunakan kendaraan umum.
"Di sini tuan, kita akan membangun hotel mewah sesuai dengan kesepakatan kita. Dengan dana yang sudah kita setujui hotel akan siap di bangun beberapa minggu ke depan mengingat jika barang-barang keperluan pembangunan masih belum ada sepenuhnya dan---"
"Akan sangat bagus jika kau meninjau dan menekan sedikit pembangunan agar kiranya hotel dapat berdiri dengan waktu yang sudah kita sepakati," potong Aldrich.
"Tentu tuan, akan saya lakukan."
"Dan satu hal lagi, aku ingin model dan desain yang kau berikan harus sama persis. Awas saja jik asa kecacatan," tambah Aldrich.
"Tentu tuan, semuanya akan sesuai dengan ekspetasi anda," balas Vincent.
•••
Di sisi lain Keisha yang tengah mengotak-atik ponselnya itu yang nampak enggan menyala sebab tadi pagi tanpa Aliza sengaja dia menumpahkan segelas susu panas di atas ponsel milik Keisha.
"Astaga, bahkan sangat susah mendapatkan uang untuk membeli ponsel ini," lirih Keisha yang nampak sudah hampir menyerah.
"Menyedihkan sekali hidup ku ini, ah dasar ponsel tidak berguna! Harga nya saja yang mahal tetapi ketahananya tidak lebih baik dari sebuah kaca!" pekik Keisha kesal sampai-sampai dia ingin membanting o oooooooo2h2 di depannya itu.
"Ayolah, menyalah! Please! Astaga, sebagiaon kehidupan ku ada di sini," gumam Keisha yang terus mengguncang ponselnya itu berharap dia bisa menyala kembali seperti sediakala.
Hingga Gilbert kembali datang kali ini tampak pria itu datang terlambat kali ini. Penghuni toko bunga Keisha akhirnya datang juga.
"Ada apa Chelsea?" tanya Gilbert mendekat ke arah Keisha yang nampak sibuk dengan ponsel nya.
"Ini, ponsel ku tidak mau menyalah," adunya yang terus memerhatikan ponselnya yang nampak sangat menyedihkan itu.
"Kenapa bisa?" tanya Gilbert yang kini mulai mengambil posisi tepat di dekat Keisha.
"Tadi pagi Aliza tidak sengaja menumpahkan susu panas ke atasnya. Dan sekarang ini hasilnya tidak mau menyalah bahkan harga saja begitu mahal hanya dengan tersiram sedikit susu panas sudah membuat nya terlihat tidak berguna!" omel Keisha yang membuat Gilbert menopang wajahnya dengan tumpuan kedua tangannya dan menatap Keisha dengan sangat dalam.
"Dan lagi mungkin untuk memperbaiki nya pasti butuh biaya yang mahal, ais ponsel ini sudah membuatku kesal dari tadi pagi!" tambah Keisha yang setelahnya menyadari jika Gilbert menatapnya dengan senyuman.
"Eh---kenapa kau menatap ku Gil? Apakah ada yang salah dengan wajahku?" tanya Keisha yang memegang wajahnya.
__ADS_1
Gilbert terkekeh melihat tingkah laku Keisha yang nampak sangat menggemaskan di matanya. "Tidak, kau terlihat sangat cantik Chelsea. Apalagi ekspresi mu sekarang membuatmu semakin imut saja!" puji Gilbert yang menarik pelan hidung Keisha.
Keisha memukul tangan Gilbert yang menarik pelan hidungnya hingga agak memerah. "Berhenti menggodaku bujang malas!" pekik Keisha yang membuat Gilbert semakin terkekeh.
"Entah mengapa aku sangat mengagumi janda satu anak ini," ungkap Gilbert.
Aliza nampak masih berada di Paud nya dan kini tengah bermain bersama dengan teman-temannya. Aliza sesekali mengejar teman nya yang jahil kepadanya karena terus menarik rambut yang sengaja Keisha kuncir.
"Belhenti! Ihh sakit tahu!" pekik Aliza yang kembali mengejar temannya yang jahilnya itu hingga tak sadar dan di luar pengawasan mereka berlari ke arah luar gerbang di mana pengendara motor dan mobil tengah padat-padatnya.
"Awas kau! Aku akan memukul mu jika aku menangkap mu!" Aliza terus mengajar anak laki-laki itu hingga tanpa melihat kiri dan kanan mereka terlihat mobil melaju kencang tanpa Aliza sadari dan
'Cittt!'
Bunyi ban beradu dengan aspal membuat Aliza langsung mematung di tempat. Tepat jarak 1 meter darinya ada mobil yang hampir menabrak berhenti tepat waktu.
Kaki Aliza bergetar dan pengemudi yang berada di dalam buru-buru keluar.
"Hai, nak?" Itu Aldrich bersama dengan Vincent yang hampir menabrak Aliza.
Aliza menatao Aldrich dengan mata yang sudah hampir menumpahkan air matanya. Aldrich yang entah mengapa langsung menggendong Aliza dan mendekapnya dalam pelukan.
"It's okay, it's okay. Apakah kau mendengarkan paman, hmm?" tanya Aldrich yang mengelus lembut punggung Aliza yang nampak memeluk erat padanya.
"Apakah saya perlu memanggil ambulans tuan?" tanya Vincent yang nampak ikut terkejut sedangkan teman laki-laki yang tadinya di kejar oleh Aliza itu langsung pergi untuk memanggil guru mereka.
"Tidak perlu, dia hanya terkejut saja," balas Aldrich.
"Nak? Apakah kau masih terkejut?" tanya Aldrich kembali kali ini Aliza hanya menjawab dengan anggukan kecil saja.
Tangan kecil Aliza memeluk erat leher Aldrich tanpa Aliza sadari jika kini dia sedang memeluk Ayahnya untuk pertama kalinya.
"Paman? Paman kenapa halum sekali?" Pertanyaan konyol itu keluar, nampaknya rasa terkejut gadis itu sudah berangsur-angsur menghilang.
"Benarkah? Apakah kau menyukai baunya?" tanya Aldrich yang ingin mencairkan suasana.
"Hmm, Liza sangat menyukainya paman!" jawab Aliza antusias membuatnya melepaskan pelukannya dan menatap Aldrich.
Aldrich tertegun menatap wajah anak kecil yang berada di dalam gendongan nya saya ini.
"Anak ini...
...#bersambung...
__ADS_1