
Keisha kini sudah sampai di depan Paud Aliza yang nampak sudah ramai dengan anak-anak seumuran dengan Aliza.
"Belajar yang baik yah sayang." Keisha mencium kening sang putri yang nampak tersenyum.
"Jangan lupa menjemput Aliza yah Mami," ucap nya.
"Iyah sayang, pasti Mami akan jemput kok," balas Keisha.
"Emm, kalau begitu Liza masuk yah Mami! Dadah!" Aliza berlari masuk ke dalam sedangkan Keisha hanya melihat putri nya itu tampak begitu gembira dengan bertemu teman-teman sebaya nya.
Senyuman Keisha seketika hilang, hilang setelah mengingat jika Aliza kini mulai mencari keberadaan sang Ayah. Inilah yang Keisha takutkan dari dulu, ketika putri nya sudah mulai mencari sosok yang pernah menyakiti nya dulu.
Tanpa banyak pikir Keisha segera pergi dari sana menuju halte bus untuk pergi ke toko bunga nya.
Dalam perjalanan Keisha terus termenung, akankah Aldrich mengambil Aliza setelah mereka bertemu?
Pikiran negatif terus memenuhi pikiran Keisha yang membuat wanita itu tidak menyadari jika dia sudah sampai di halte tujuannya.
Hingga Keisha sadar jika dia sudah melewati halte bus membuatnya langsung menghentikan bus tersebut sebelum semakin jauh membawanya.
"Stop!" Keisha segera turun setelah menyuruh supir bus untuk menghentikan busnya. Membuat wanita itu kini harus berjalan beberapa meter dan untungnya dia tidak terlalu jauh dari tokonya.
Setelah berjalan beberapa menit akhirnya Keisha sampai namun langkah nya terhenti melihat Gilbert tengah menunggu nya di depan toko bunganya yang nampak masih tertutup.
"Hai Chelsea!" sapanya yang mendapati Keisha sudah datang.
Keisha hanya tersenyum membalas sapaan Gilbert yang nampak begitu senang melihatnya.
"Kenapa kau datang dari sana?" tanya Gilbert yang melihat Keisha datang dari arah lain.
"Ah, aku tadi melamun dan lupa untuk turun di halte bus. Jadi begini lah, aku harus berjalan kaki beberapa meter dari sana," ucap Keisha.
"Emm begitu yah."
"Ayo masuk, di luar sangat dingin. Apakah kau sudah begitu lama menunggu ku?" tanya Keisha yang nampak segera membuka pintu toko nya membiarkan Gilbert masuk untuk menghangatkan tubuhnya.
"Tidak, sekitar 10 menit yang lalu aku tiba di sini," jawab Gilbert.
Keisha hanya mengangguk menandakan jika ia mengerti.
•••
Sedangkan di sisi lain nampak Aldrich tengah sibuk dengan segudang berkas dan dokumen yang harus segera di selesaikan. Menjadi pemilik perusahaan tidak membuat Aldrich duduk dengan tenang. Nyatanya pria itu yang paling sibuk di kantor nya, bukannya tidak percaya dengan semua karyawannya hanya saja Aldrich menjadikan pekerjaan nya sebagai pelarian di kala dirinya begitu merindukan sosok istrinya.
__ADS_1
Hans baru saja masuk melihat pemandangan biasa di saat Aldrich bahkan tidak menyadari kehadirannya.
"Tuan?" panggil Hans namun Aldrich yang begitu larut dalam pekerjaan seolah di buat tuli sehingga tidak mendengar suara Hans.
"Tuan?" panggil Hans kembali kali ini membuat Aldrich sadar akan keberadaan nya.
"Ah Hans, kau sudah pulang ternyata."
"Iyah tuan, maaf saya terlambat masuk hari ini," ujar Hans tak enak.
"Aku memaklumi nya, jadi kapan kau akan melamar kekasihmu?" tanya Aldrich yang kembali fokus pada pekerjaan nya.
"Kekasih? Maksud tuan---"
"Kau sudah tidak perlu menutupinya Hans, aku tahu kau pergi ke Belanda mengambil cuti untuk menemui kekasihmu kan?" balas Aldrich yang terlihat lelaki itu nampak menunjukkan aura bahagia namun tidak dengan senyuman.
"Kekasih? Tuan, saya pikir anda salah paham. Sayah sama sekali belum memiliki kekasih. Beberapa tahun ini saya memang sering mengambil cuti, tetapi bukan untuk menemui kekasih saya tetapi menemui keluarga saya yang kebetulan tinggal di sana," jelas Hans yang membuat perubahan mimik wajah Aldrich.
"Ah begitu yah? Aku kira kau memiliki kekasih. Tetapi apakah kau tidak berniat menikah dalam waktu dekat ini atau kah kau sudah memiliki wanita idamanmu?" tanya Aldrich.
"Untuk menikah saya masih belum memikirkan nya tuan," jawab Hans seadanya karena memang dirinya masih belum ada niat ke jenjang yang lebih serius dengan seorang wanita.
"Apakah kau trauma melihat ku gagal dalam pernikahan Hans? Aku harap tidak begitu," ujar Aldrich.
"Aku kira seperti itu, sudahlah. Tolong kau atur jadwal ku bertemu dengan Pak Vincent untuk membicarakan kontrak bulan lalu," titah Aldrich.
"Baik tuan, segera saya laksanakan," balas Hans yang kemudian pergi dari sana.
Hans keluar dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat. Dirinya hampir terkena serangan jantung saat mendengar Aldrich mengatakan jika dia pergi menemui seorang wanita selama cutinya.
Hans tidak boleh salah langkah kali ini, dirinya harus benar-benar waspada karena ketika dirinya bergerak mencurigakan maka di saat itu Aldrich semua rahasia nya dengan Keisha akan terbongkar.
Kini waktu makan siang telah usai dan saat nya Aldrich mengadakan pertemuan dengan Vincent salah satu kolega yang ingin bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
"Selamat siang tuan!" sapa Vincent yang nampak berdiri menyambut kedatangan Aldrich di ruang rapat.
"Duduklah," ucap Aldrich yang segera membuat Vincent ikut duduk dengannya.
"Sebuah kehormatan karena tuan sudi untuk mengundang saya kembali ke sini dan membicarakan kontrak kita lebih dalam," kata Vincent.
"Yah, aku harap kerja sama ini dapat berjalan dengan baik. Dan yah satu hal yang harus kau ingat, tidak boleh ada pengkhianatan antara kita," tekan Aldrich yang kemudian langsung menandatangani kontrak di depannya.
"Of course tuan! Itu semua tidak akan pernah terjadi," balas Vincent dengan senyuman.
__ADS_1
Di sisi lain Keisha nampak sibuk melayani para pembeli nya sedangkan Gilbert masih tetap di posisinya memandangi Keisha yang nampak begitu cantik di matanya.
"Apakah kau akan terus di situ seharian Gil?" tegur Keisha yang berusaha acuh tak acuh dengan keberadaan Gilbert yang sedari tadi terus memandangi nya.
"Aku rasa yah, akan sangat di sayangkan jika aku melewatkan momen sedetik untuk tidak memperhatikan mu Chelsea," ujar Gilbert dengan senyuman membuat Keisha memutar bola matanya dengan malas.
"Hentikan gombalan mu dan pergi lah bekerja Gil. Kau seperti pengangguran sekarang ini," ungkap Keisha yang membuat Gilbert terkekeh.
"Kau tenang saja, model pengangguran begini uang akan tetap masuk meskipun aku bermalas-malasan," balas Gilbert.
"Ck, ck! Baiklah tuan property!" balas Keisha yang memang tahu jika Gilbert adalah seorang pengusaha yang bergerak di bidang properti.
"Aliza akan marah padaku jika aku terlambat menjemput nya, apakah kau bisa menjaga toko ku selagi aku pergi menjemputnya?" tanya Keisha yang hampir lupa dengan keberadaan anaknya.
"Tentu, pergilah! Biar aku menjaga toko mu, jangan biarkan gadis kecil itu menunggu terlalu lama," jawab Gilbert.
"Terima kasih Gil, kalau begitu aku pergi dulu." Setelahnya Keisha langsung pergi dari sana.
Hingga beberapa menit setelah Keisha pergi nampak seorang pria masuk dengan suara bel yang berbunyi begitu nyaring.
"Apakah kau menjual bunga mawar putih?" tanya Elvano. Yah itu Elvano yang tengah mencari bunga untuk Deana.
"Tentu pak, aku akan membawamu untuk melihatnya," jawab Gilbert segera.
Elvano mengikuti langkah Gilbert yang masuk lebih dalam hingga Elvano di suguhkan dengan mawar putih yang nampak tumbuh begitu subur di sana.
"Aku akan membelinya dengan potnya, apakah bisa?" tanya Elvano yang langsung mendapatkan anggukan oleh Gilbert.
"Tentu pak, dan untungnya kau ingin membeli dengan potnya jika saja kau meminta di rangkai kan maja aku tidak bisa melakukan nya sebab pemilik toko bunga nya baru saja pergi untuk menjemput putrinya," jelas Gilbert yang entah mengapa berbicara begitu panjang dengan orang asing.
"Ah begitu, baiklah aku beli satu," balas Elvano.
Segera Gilbert membawa bunga mawar putih itu ke kasir dan melakukan pembayaran di sana. Namun Elvano salah fokus pada sebuah foto anak kecil yang nampak sangat begitu mirip dengan kakaknya.
"Apakah dia putri pemilik toko bunga ini?" tanya Elvano di tengah-tengah saat Gilbert tengah membungkus pesanannya.
"Yah pak, dia begitu cantik dan imut," puji Gilbert dengan senyuman.
"Kau benar. Aku jadi teringat kakakku saat melihat anak kecil ini. Mereka benar-benar sangat mirip," ungkap Elvano.
"Pasti kakakmu sama cantiknya dengan anak itu," balas Gilbert.
"Kakakku laki-laki,"
__ADS_1
...#bersambung...