
"Aliza!"
"Kenapa diam saja di sana! Apakah kalian tidak melihat ada seseorang yang pingsan?! Cepat panggil ambulans!" teriak Kenzo yang membuat mereka yang awalnya sudah panik semakin panik saat melihat Kenzo mengamuk.
Kenzo langsung mengangkat Aliza ala bride style keluar dari lift itu dan segera menuju ke arah pintu keluar. Kini mereka menjadi pusat perhatian, Kenzo yang di kenal anti wanita itu kini tengah membawa seorang gadis di dalam dekapan nya. Acapkali wajah Kenzo berubah menjadi begitu khawatir.
Tak berselang lama ambulans datang, segera beberapa petugas medis di sana keluar. Membawa tabung oksigen dengan alat bantu pernapasan.
"Kenapa kalian keluar?! Kau tidak lihat dia tidak sadarkan diri?!" amuk Kenzo.
"Dia hanya pingsan karena syok dan menghirup banyak karbon di oksida pak, jadi tidak perlu khawatir," ujar sang petugas.
"Awas saja jika kalian membuatnya semakin buruk!" Kenzo langsung meletakkan Aliza di atas brangkar. Membuat para petugas media itu segera memasangkan alat bantu pernapasan pada Aliza.
Kenzo terus menatap wajah Aliza yang terlihat pucat pasi dengan tangan yang terus menggenggam seolah tidak ingin ia lepaskan.
"Kenapa dia belum sadar?!" tanya Kenzo panik.
"Tenang pak, mungkin sebentar lagi bel---"
"Ugh, aww." Aliza bangun dengan tatapan mata yang kabur serta kepala yang terasa sakit. Gadis itu kembali ke kesadarannya.
"Aliza!" Kenzo berseru gembira dalam hatinya serta bernapas lega. Rasanya jantungnya kembali berdetak, melihat Aliza sudah kembali sadar. Kini Kenzo benar-benar menjadi pusat perhatian. Banyak yang tak percaya dengan apa yang di lihat pagi ini.
"Apakah kalian akan berdiri menonton seperti itu tanpa ingat pekerjaan kalian?! Apakah kalian ingin di pecat?!" murka Kenzo yang membuat para karyawannya kocar-kacir pergi dari sana.
"Apakah ada bagian lain yang sakit?" tanya salah satu petugas media pada Aliza.
Aliza dengan lemah menggeleng. "Aku sudah baik-baik saja, terimakasih."
"Kami akan melepas oksigennya setelah dia 20 menit, berbaring lah sebentar!" ucap petugas media tersebut.
Aliza mengangguk. Atensinya kembali teralih kan pada Kenzo yang nampak tak berhenti menatapnya sedari tadi.
__ADS_1
"Apakah kau sudah bisa bernapas dengan baik?" tanya Kenzo.
"Aku sudah baik-baik saja, terimakasih juga karena kau---"
"Tidak perlu berterima kasih, aku juga tidak melakukan banyak hal untukmu," potong Kenzo.
Aliza tak membalasnya dan lebih memilih untuk diam. Menunggu sampai pernapasan nya kembali normal.
20 menit berlalu dan setelah itu para petugas media akhirnya pulang setelah membantu Aliza melepaskan alat bantu pernapasan yang melekat pada tubuhnya.
Kenzo tentu saja pria itu terus berada di sisi Aliza sampai gadis itu selesai. "Ayo, kita naik bersama ke lantai 35," ucap Kenzo.
"Aku takut, nanti lift nya rusak lagi," adunya.
"Tidak akan lagi, aku janji." balas Kenzo.
"Eh baiklah." Aliza mengikuti langkah besar Kenzo.
Melihat punggung kokoh Kenzo yang berjalan di depannya membuat Aliza langsung mengingat apa yang di katakan nya beberapa jam yang lalu.
"Apakah kau akan terus berdiri sana?" Pertanyaan Kenzo langsung menyadarkan nya melihat Kenzo sudah masuk ke dalam lift biasa sedangkan lift eksekutif itu tengah proses perbaikan.
"Eh tidak pak." Aliza langsung mempercepat langkahnya masuk ke dalam lift kemudian berdiri samping Kenzo yang langsung menekan tombol 35.
Dengan perasaan was-was Aliza melirik ke arah Kenzo yang tampak sangat tenang. Bahkan pria itu beberapa kali terpejam. Terlihat wajahnya menyimpan banyak keresahan di sana. Seperti banyak beban yang dia tanggung sekarang.
"Apa---kau baik-baik saja?" tanya Aliza.
Membuat Kenzo membuka matanya dan langsung menoleh ke arah samping kanannya tepat di mana Aliza berdiri sekarang.
Kenzo tak menyahut hanya sekilas menatap Aliza lalu kembali menatap ke depan. "Kembali lah bekerja, jika kau merasa tidak baik. Maka kau bisa pulang," jelas Kenzo yang kemudian pergi dari sana saat lift sudah mulai terbuka.
Aliza mengerutkan keningnya. Secepat itu kah dia berubah? Kemana Kenzo yang peduli itu berada?
__ADS_1
Aliza menghela napasnya, bisa-bisanya dia berharap jika Kenzo masih memiliki perasaan padanya. Aliza melangkah keluar melihat Kenzo yang sudah berada di dalam ruangannya terlihat begitu fokus seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ayolah girl, dia hanya peduli karena kau karyawan nya bukan sebagai mantannya. Bodoh," gumam Aliza.
•••
Arsenio tampak sedang bersama dengan Keisha yang tengah menyirami tanaman. Wanita paruh baya itu terlihat begitu menikmati kegiatan nya sekarang.
"Mami, apakah Papi tahu aku?" tanya Arsenio yang membuat fokus Keisha langsung beralih pada putra bungsunya itu.
"Arsen? Kau ini bicara apa sayang? Tentu saja Papi mu tahu kau," jawab Keisha yang duduk di samping putranya itu.
"Papi meninggalkan kita saat aku masih berada di dala kandungan kan Mami? Sedangkan Kak Liza masih umur 4 tahun. Aku dengar jika sebelum Papi meninggal Mami bahkan belum memberitahu kepada Papi jika Mami sedang---"
"Kenapa kau mendengar kan cerita orang lain Arsen? Mami---"
"Tapi itu benarkan Mami? Benarkan cerita orang itu?" tanya Arsenio.
Keisha menarik tangan Arsenio ke dalam genggaman nya. Menatap dalam putranya itu dengan senyuman Keisha berkata. "Memang benar, tetapi Papi mu sudah pasti tahu sekarang. Dia bahkan melihat kita dari atas sana sayang. Jadi Arsen tidak perlu merasa bahwa Arsen bukan anak yang di kenal Papi, karena sanya semua orang tua itu menyayangi anaknya, begitu juga Papi yang menyayangi Arsen walaupun tidak pernah bertemu dengan Arsen."
Tangan Keisha mengusap pelan surai hitam miliknya anaknya itu. "Mami sangat menyayangi Arsen, jadi jangan pernah berpikir hal negatif tentang apapun yah?" lanjut Keisha.
"Marahnya Mami terhadap Arsen bukan karena Mami tidak sayang dengan Arsen, Mami amat sayang terhadap anak-anak Mami. Mami marah karena tidak ingin Arsen tumbuh dengan didikan yang salah sayang. Meskipun Mami merawat mu tanpa sosok Papi, tetapi Mami berharap jika kamu bisa tumbuh sebagai seorang pria bertanggungjawab seperti Papimu kelak," jelas Keisha yang membuat Arsenio berhamburan memeluk ibunya itu.
"Maafkan Arsen Mami, maaf karena terkadang membuat Mami marah," ucap Arsenio.
"Mami akan slalu memaafkan kesalahan anak Mami, sebesar dan sekecil apapun itu," jawab Keisha.
"Arsen sayang Mami. Dan Arsen rindu Papi."
...#bersambung...
Maaf yah kalau alurnya berantakan dan agak nggak nyambun jadi ngelag otak saya. Maaf yah
__ADS_1
jngn lupa buat mampir ke cs baru author ok