Mendadak Menikahi Pria Cacat

Mendadak Menikahi Pria Cacat
Part_38 |•Kebahagian Elvano•|


__ADS_3

Hari ini adalah hari bahagia Elvano dimana pria itu akan segera melamar sang pujaan hati setelah beberapa bulan ini Selena terus memaksa Elvano untuk segera memperjelas hubungannya dengan Deana.


"Kau terlihat sangat gagah El," puji William yang menepuk baju Elvano yang nampak sudah sangat tampan dengan balutan jas berwarna navi dengan tuxedo berwarna senada dan tak lupa gaya rambut yang kini bermodel slickedback undercut membuat auranya semakin terpancar.


"Santai saja lah El," ucap Aldrich yang baru saja datang dengan menggendong Aliza dan menggandeng tangan Keisha.


"Al, sudah datang rupanya kau, aku akan memanggil Mama dulu!" ucap William yang menyadari kedatangan Aldrich.


"Aku terlalu gugup Kak! Entah kenapa tangan ku terus saja gemetar," ungkap Elvano yang menghapus keringat dinginnya.


"Lemah sekali kau ini! Cobalah untuk rileks sedikit," balas Aldrich.


"Selangkah lagi kau akan mengikat putri orang lain El, Kakak harap kamu bisa menghargai tunangan mu nanti. Jangan jadikan kebodohan kakak mu ini sebagai acuan mu di masa depan," ujar Aldrich.


"Aku tahu Kak, terimakasih. Kakak bahkan terlihat sangat bahagia daripada aku hari ini," kata Elvano.


"Yah kau tahu, kebahagiaan ku sudah ada di mereka. Jadi untuk apa lagi aku bersedih," jelas Aldrich yang tersenyum sembari mencium tangan Keisha yang dirinya genggam.


"Paman sangat tampan sekali," puji Aliza nampak gadis kecil itu terlihat sangat manis dengan balutan dress berwarna sage yang senada dengan warna dress yang juga di kenakan oleh Keisha.


"Terimakasih sayang, keponakan ku juga terlihat sangat cantik malam ini. Aku sampai lupa jika harus bertunangan setelah melihat gadis cantik seperti mu," celetuk Elvano yang membuat Aldrich dan Keisha terkekeh.


"Tentu saja! Aku cantik karena Mami ku sangat-sangat lah cantik!" puji Aliza.


"Betulkan Papi?"


"Of course! Mami sangat-sangat lah cantik!" jawab Aldrich yang melirik Keisha yang tengah tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dasar tingkah anak dan ayah ini.


"Ah menantu dan cucuku sudah datang rupanya!" Selena terlihat langsung memeluk Keisha dan tak lupa memberikan Keisha kecupan.


"Kemari Liza." William mengambil Aliza dari gendongan Aldrich dan segera memeluk erat Aliza yang nampak sangat gemas.


"Lihat dia Selena, cucu kita sudah sangat besar dan berat sekarang," ungkap William yang mengecup pipi Aliza.


"Kakek, Liza tidak gemuk!" tekan gadis itu terlihat berkacak pinggang menatap kesal William.


"Kakek mu ini memang tidak bisa menjaga mulutnya. Siapa yang bilang jika cucuku ini gemuk? Kau tetap langsing Liza, dan semakin cantik!" puji Selena.


"Tentu saja!" jawab Aliza dengan nada yang cukup sombong membuat mereka yang berada di sana terkekeh.

__ADS_1


•••


Mereka kini telah menginjakkan kaki di rumah Deana di mana tepat acara pertunangan Elvano dan Deana berlangsung. Bukannya tak ingin menyewa sebuah gedung mewah untuk acara penting ini namun Deana bersikeras agar tidak terlalu mengadakan nya secara besar-besaran cukup dengan sederhana namun sangat hikmat.


Dan Elvano tentu saja menyetujui hal itu, dia tahu karakter dan sifat Deana yang di kenapa sebagai orang gadis sederhana dan senantiasa memperhitungkan segala apa yang akan dirinya lakukan. Bisa di katakan jika kekasihnya adalah orang yang sangat teliti.


Di sini lah Elvano berdiri berhadapan dengan Deana yang nampak mengenakan kebaya berwarna senada dengan Elvano. Make up yang cukup natural namun tetap membuat perbedaan di wajahnya dan juga model rambut modern updo membuatnya terlihat berbeda.


Elvano menghela napasnya dengan pelan mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat menatap sang pujaan hati yang nampak tersenyum manis.


"Deana Arawinda, aku datang kemari sebagai seorang pria biasa saja yang mengajak keluarga nya bertemu keluargamu. Dengan maksud yang begitu baik dan tulus ingin meminang mu menjadi istriku," ucap Elvano dengan nada bergetar dengan Deana yang sudah menitihkan air mata kebahagiaan.


Acara itu berlangsung sangat hikmat dengan hidari hanya beberapa orang keluarga terdekat Elvano dan Deana.


Kini mereka terkah memasuki acara terakhir yang di mana terlihat mereka berkumpul satu sama lain dengan berbincang dan berbaur satu sama lain.


Terlihat Deana bersama Elvano yang tentu saja Aliza berada di tengah-tengah mereka. Bocah kecil itu slalu saja bisa membuat Elvano jegah dengan kehadiran nya yang slalu menempel dengan Deana.


"Kembali lah dengan Mami dan Papi mu Liza, kau menganggu paman dengan tante Deana," ucap Elvano yang membuat Aliza langsung menatap sedih Deana.


"Sudahlah El, Aliza sama sekali tidak menganggu kita kok. Aku malahan senang dengan kehadiran Aliza di tengah-tengah kita."


"Ck! Lihat lah kakak. Dia membuang anaknya di sini dan pergi entah kemana bersama dengan Kakak ipar," jawab Elvano dengan kesal.


"El, Aliza mendengar nya." Elvano langsung menatap Aliza yang nampak sibuk memakan kue.


"Tak apa Paman, kata Papi dia ingin membuat kan ku seorang Adik laki-laki!" ungkap Aliza yang membuat Elvano langsung tersedak air yang dirinya minum sebelum itu.


"Hahahaha! Apa? Apa yang di ucapkan Papi mu tadi? Astaga, benar-benar!" Elvano tertawa lepas mendengarkan penuturan Aliza yang terdengar menggelikan.


"El." Deana memegang tangan Elvano agar berhenti tertawa karena mereka sekarang jadi pusat perhatian. Membuat Elvano langsung menutup mulutnya dan menatap Aliza yang nampak tersenyum sinis padanya.


Sedangkan Deana hanya bisa menggeleng kan kepalanya. Bersiap dengan kehidupannya yang akan di sini dengan tingkah laku Elvano yang menurut nya sangat kekanakan.


"Dasar paman aneh," ucap Aliza.


Aliza tersenyum penuh kemenangan melihat wajah lesu Elvano yang hanya bisa mendengus kesal. Dasar gadis kecil licik.


Sedangkan di sisi lain Aldrich tengah menikmati waktu dengan Keisha sekarang ini. Tengah berjalan-jalan di taman rumah Deana yang cukup luas dengan bunga-bunga yang menghiasi setiap jalannya.

__ADS_1


"Udara malam ini sangat segar bukan?" tanya Keisha yang menoleh ke arah Aldrich yang menatap ke atas langit.


"Emm, sangat segar!" jawab Aldrich yang ikut menatap Keisha.


"Aku masih tidak percaya jika kau sekarang sedang berdiri di sisiku seraya ku menggenggam tanganmu," ucap Aldrich.


Tangan Keisha terangkat mengusap lembut rahang Aldrich. "Tentu saja kau harus percaya, karena kita selamanya akan terus bersama," balas Keisha.


"Yah ku harap begitu," jawab Aldrich yang membuat Keisha mengerutkan keningnya.


"Maksud---"


Tiba-tiba saja ponsel Aldrich berbunyi menbuat ucapan Keisha terpotong. Aldrich langsung mengambil ponsel yahh berada di dalam saku jasnya melihat nama yang tertera adalah Hans.


"Yah Hans,"


"...."


"Baguslah, aku kira akan selesai lusa ternyata kau cukup cepat bekerja yah,"


"...."


"Tak apa, tentu saja. Aku cukup puas dengan kerja keras mu di tengah-tengah tangan mu yang masih dalam kondisi pemulihan,"


"...."


"Aku tahu, baiklah. Istirahat lah, yah dia ada di dekat ku sekarang ini,"


"...."


Aldrich langsung menutup telponnya menatap Keisha yang bertanya-tanya.


"Hans hanya melaporkan jika salah satu tugas yang kuberikan padanya sudah selesai dia kerjakan," ujar Aldrich.


"Tugas?"


Aldrich tersenyum mengusap pelan tangan Keisha. "Tentang masa depan kita dan juga putri kita," kata Aldrich.


...#bersambung...

__ADS_1


__ADS_2