
Hari-hari berlalu setelah kematian Keisha, Aldrich nampak slalu murung bahkan pernah sekali dirinya tidak makan selama 4 hari lamanya dan hanya meminum sedikit air itupun di paksa oleh Selena yang mendapatkan laporan dari Bi Sakina.
"Tuan?" panggil Sakina yang kini tengah membawa sebuah nampan berisikan sarapan untuk Aldrich.
"Biarkan aku saja Bi," ujar Saqila yang entah dari mana dia muncul. Dan langsung mengambil nampan itu dari tangan Sakina.
Sakina nampak sinis melihat Saqila yang sudah beberapa hari ini sok berkuasa di mansion Aldrich.
"Kenapa liat-liat?! Mau gw congk3l mata lu?!" tanya Saqila.
"Maaf nona, kalau begitu saya permisi." Sakina segera pergi dari sana meninggalkan Saqila yang masuk tanpa mengetuk pintu kamar Aldrich.
Nampak kamar itu sudah tak berbentuk lagi, bisa di katakan jika kamar Aldrich benar-benar seperti kapal pecah.
"Babe? Aku membawakan mu sarapan," tutur Saqila yang perlahan-lahan meletakkan makanan itu di atas meja dan berjalan mendekat pada Aldrich yang nampak menatap kosong ke arah luar jendela.
"Babe? You listen me?" tanya Saqila lagi.
"Keluar," kata Aldrich tanpa menatap Saqila.
"What? Babe, aku datang ke sini---"
"Keluar!" Nada Aldrich tiba-tiba saja meninggi menatap nyalang pada Saqila yang nampak terkejut.
"Why?! Kenapa kau menyuruhku keluar Al?" tanya Saqila.
"Jika aku mengatakan kelaur maja keluar Saqila! Apakah kau tidak punya telinga?!" bentak Aldrich yang nampaknya baru saja menangis.
"Al! Aku ini kekasihmu---"
Aldrich berdiri dan langsung membanting tubuh Saqila ke kasur dengan mencek*k leher jenjang Saqila.
"Kekasih? Kata-kata itu yang dulu melukai Keisha! Kau datang seolah-olah tidak ada yang terjadi di masa lalu! Apakah kau sadar jika kau telah membun*h istriku!" pekik Aldrich yang mengeratkan cek*knnya pada Saqila membuat Saqila semakin sesak dengan wajah yang sudah memerah.
"Al---Aldrich...."
"Dan kau! Kau bahkan yang membuatku menyakiti istriku sendiri! Kau jal4ng! Kau hanya ingin harta ku kan?! Kau hanya ingin kekuasaan yang aku miliki sekarang kan?! Dasar wanita ul4r!"
"Sa---kit Al---"
"Enyah kau! Pergi dari hadapan ku!" Aldrich langsung sadar dan langsung menghentikan aksi gil4 nya membiarkan Saqila menghirup udara dengan rakus.
__ADS_1
'Uhhuk!'
Saqila tak berhenti nya terbatuk-batuk dengan leher yang mulai memar. Saqila menatap tajam Aldrich yang nampak menatapnya juga.
"Are you crazy?!" tanya Saqila yang berteriak tepat di depan wajah Aldrich.
"Ya! Aku memang sudah gil4! Kau tidak akan memacari pria gil4 bukan? Jadi mulai detik ini dan hari ini kita putus!" final Aldrich yang membuat Saqila gegelapan.
"No! No! Babe, aku--- aku..."
"Shut up! Dan keluar jal4ng!" usir Aldrich yang membuat Saqila mematung di hadapannya.
"Keluar sebelum aku melubangi kepala mu!" ancam Aldrich dengan terpaksa Saqila pergi dari sana dan tentunya gadis itu sudah di buat menangis oleh Aldrich dan Aldrich tidak peduli akan hal itu.
Sakina yang melihat Saqila berlari keluar dari dalam lift dengan kondisi kacau semakin membuat nya was-was.
"Apa terjadi sesuatu dengan tuan?" tanya Sakina yang mendongak melihat lantai tiga.
Dengan tangan gemetar Aldrich mencari obat penenangnya. Obat yang selama beberapa hari ini menemani dan menyembuhkan sebentar luka dalam hatinya.
Aldrich mendapatkan obat itu, dengan cepat dia membuka penutup nya dan langsung melahap semua nya. Yah Aldrich sudah waktunya dia menyusul Keisha dan anaknya.
Sakina dengan langkah cepat berjalan ke arah kamar Aldrich yang nampak terbuka lebar dan
'Deg!'
"Aaaa tuan!"
•••
Rumah sakit.
Entah mengapa tahun ini menjadi tahun terberat keluarga Rodriguez dari meninggalnya menantu sulung mereka dan kini anak sulung mereka tengah terbaring tak sadarkan diri di atas brangkar rumah sakit.
"Seandainya jika terlambat mungkin nyawa Al bisa melayang tante," lirih Daniel yang melepaskan stetoskop nya.
"Dan untungnya kalian cepat membawanya kemari, terlalu banyak obat penenang yang dia minum sehingga Al over dosis obat," jelas Daniel.
"Dan satu hal lagi jika sikis Aldrich benar-benar terganggu sekarang. Apalagi melihat kondisi nya sekarang, ada kemungkinan jika Aldrich mulai mengalami gejala gangguan jiwa," ungkap Daniel yang membuat William memejamkan matanya dengan keras.
"Entah mengapa nasih sial---"
__ADS_1
"Percaya tidak percaya mungkin ini karma Kakak Mam," potong Elvano yang sedari tadi hanya memerhatikan kondisi Kakaknya.
"Diam El, tidak seharusnya kau menghakimi kakakmu! Dia sedang sekarat dan kau malah mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu?" balas Selena.
"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya Mam," ujar Elvano yang tak mau kalah.
"Tetapi kau bis----"
"Sudah, hentikan perdebatan kalian! Kondisi Aldrich tidak akan membaik dengan kalian yang terus bertengkar!" lerai William segera.
"Daniel, carikan aku psikiater terbaik," ucap William yang membuat Daniel segera menatapnya.
"Baik om, aku harap Al bisa segera siuman. Panggil aku jika dia sudah sadar kembali, aku akan memeriksa." Setelahnya Daniel elegi dari sana.
Hans yang mendengar hal itu tidak melewatkan kesempatan dan segera pergi menuju rumah sakit setelah mendapatkan kabar jika Aldrich mencoba bunuh diri.
"Tuan?" Hans membuka pintu kamar Aldrich sehingga William, Elvano dan Selena yang berada didalam ruangan itu langsung menatap Hans.
"Masuklah Hans," titah William yang segera Hans patuhi dan masuk ke dalam.
"Bagaimana keadaan Tuan Al, tuan?" tanya Hans yang nampak begitu khawatir.
"Begitu lah Hans, kau bisa melihat nya sendiri. Tuan mu yang dulunya menjadi orang paling di takuti di dalam dunia klang minyak kini terbaring tak berdaya di atas ranjang kamar runah sakit," jelas William dengan senyuman penuh kesedihan.
Hans hanya bisa menatap iba Aldrich dirinya tak tahu harus bagaimana lagi sekarang ini.
Hening, tidak ada yang menyahut semuanya fokus pada Aldrich yang tertidur dengan damai. Walaupun sekarang dirinya nampak agak tak terurus, kumis dan janggut yang agak memanjang membuat penampilan nya berbeda.
Sudah tidak ada Aldrich yang memiliki badan atletis kini hanya Aldrich yang begitu kurus dan tak terurus. Sedangkan perusahaan nya tetap berjalan karena Hans yang mengambil alih sementara semua keputusan di sana.
William, lelaki itu memang nampak tenang. Tetapi otaknya benar-benar kacau sekarang ini. Kacau sekacau-kacau nya jika saja William bisa, maka William akan melepaskan sejenak otak nya yang sangat begitu berat dengan beban pikiran yang begitu banyak.
Namun bukan William Rodriguez jika dirinya tidak bisa menyelesaikan masalah, bahkan masalah tersulit pun seperti sekarang ini. Pertama-tama dirinya akan menghancurkan parasit yang selama ini menempel pada putra sulungnya. Yah Saqila Adithama.
William tidak akan tinggal dengan keluarga Adithama terutama Saqila. William akan membuat keluarga Adithama itu menghilang dan meleny4pkan setiap orang yang berkaitan dengan Keluarga Adithama.
"Akan ku hempas kan semua parasit yang menganggu hidup putraku," gumam William dengan tatapan tajam.
"Aku punya tugas untuk mu Hans," lanjut William.
...#bersambung...
__ADS_1