Mendadak Menikahi Pria Cacat

Mendadak Menikahi Pria Cacat
#Ending|•Aku Mencintaimu•|


__ADS_3

Di sini lah Aldrich sekarang, berdiri di depan pintu gudang tua di tengah hutan belantara. Aldrich datang menuruti perintah Tina agar dirinya datang sendirian.


Dengan perasaan campur aduk Aldrich masuk ke dalam gudang tersebut di saat itulah dirinya di sambut oleh pria yang tadinya menculik Aliza.


Tentunya Aldrich tidak datang tanpa sebuah rencana, beberapa menit lagi Hans akan datang membawa orang-orang nya untuk membasmi mereka.


"Di mana putriku?!" tanya Aldrich.


"Wah! Wah, kakak ipar? Rupanya kau sudah datang," ucap Tina yang terlihat menggendong Aliza yang nampak begitu ketakutan.


"Papi!" teriak Aliza yang menyadari kedatangan Aldrich.


"Papi datang nak, Papi akan bawa Liza pulang," jawab Aldrich yang berusaha menenangkan sang anak dari jauh.


"Hei kalian! Bawa pria itu kemari!"


•••


Keisha tersenyum bahagia mengelus-elus pelan perutnya yang menang nampak agak membuncit. Dia kira mungkin karena dirinya terlalu banyak makan ternyata ada sebuah kehidupan baru di dalam sana.


Saat ingin bertemu dengan Aldrich, Hans menelpon jika Aldrich tengah datang menemui Tina yang menculik Aliza. Keisha kembali mengingat bagaimana putrinya di ambil paksa oleh sekelompok orang tak di kenal.


Wanita itu kembali menangis di dalam kamar rumah sakit. Dirinya sendirian dan tak ada yang menemaninya di sana.


"Ku mohon Tuhan, tolong jaga putriku dan suamiku," lirih Keisha berdoa. Dirinya benar-benar punya firasar yang buruk sekarang dan hanya berdoa yang bisa menghalau firasat buruknya.


"Aku ingin mereka pulang ke dalam pelukan ku sekarang, ku mohon lindungi mereka di manapun kini mereka berada," gumam Keisha.


Di sisi lain Aldrich kini tengah duduk saling berhadapan dengan Tina yang nampak masih menggendong Aliza.


"Aku ingin ke Papi," ucap Aliza yang mata berkaca-kaca.


"Diam lah bocah!" bentak Tina yang membuat Aldrich seketika menggeram.


"Hei! Kenapa kau membentak putriku! Apa sebenarnya yang kau inginkan, hah?! Cepat katakan!" balas Aldrich tak tahan. Dirinya benar-benar sudah tidak tahan melihat Aliza begitu ketakutan dan tersiksa berada di sisi Tina.


"Ck! Kenapa buru-buru kakak ipar? Seharusnya kita meminum segelas teh atau kopi sebelum ke inti pembicaraan," ujar Tina.


"Aku tidak suka orang yang bertele-tele, cepat katakan apa yang kau ingin kan dan serahkan putriku kepadaku!" berang Aldrich. Dan jika saja memungkin dirinya ingin sekali membuat wanita di hadapannya ini menghilang.


"Baiklah, baiklah. Syaratnya sangat lah mudah, cukup serahkan semua harta yang Keisha ambil dariku, mudah bukan?" ujar Tina yang membuat Aldrich melihat keningnya frustasi.


"Itu sulit Tina, Keisha tidak ada di sini sekarang. Jangan minta itu, minta lah yang lain. Kau ingin apa? Uang, perusahaan? Atau salah satu perusahaan cabang milikku? Akan ku berikan sekarang dan setelah itu aku tidak akan mengganggu mu lagi," jelas Aldrich yang bukannya membuat Tina senang malah membuat wanita itu semakin kesal.


"Tidak! Aku hanya ingin itu! Aku sama sekali tidak berminat dengan harta mu itu!" pekik Tina emosi.


"Aku ingin milik Keisha!" lanjutnya kekeh.


"Apa kau gila?! Itu sulit! Aku tidak ingin membawa Keisha kemari hanya untuk hal sepele itu!" balas Aldrich.


"Apa?! Sepele?! Sepele katamu?! Kau ingin melihat putri mu mati di sini, hah?!" tanya Tina yang bersiap menembak Aliza dengan pistol yang dirinya ambil di sela sofa yang di duduki nya.


"Papi!" Aliza menjerit melihat tingkah gila Tantenya sendiri.


"Tidak! Ku mohon jangan sakiti putriku! Aku mohon jangan," kata Aldrich.


"Kalau begitu cepat kembali dan bawa Keisha kemari!" perintah Tina.


"Tetapi---"


"Putri mu mati atau bawa Keisha kemari," potong Tina yang menarik pelatuk pistolnya yang membuat Aliza semakin menangis di pangkuan Tina.


"Baik, baiklah! Setengah jam! Aku akan kembali ke sini setengah jam!" jawab Aldrich.


"Deal, jika terlambat semenit pun maka nyawa putri mu akan melayang!" final Tina yang segera di angguki oleh Aldrich. Segera dengan langkah bergetar Aldrich keluar dari salah satu ruangan di gudang itu dan berjalan keluar dari gudang.

__ADS_1


Jantung nya berpacu cepat, keringat dingin membasahi keningnya. Ujung jarinya terasa begitu dingin. Merasa sangat ketakutan melihat putri nya yang benar-benar tersiksa di sana.


Aldrich segera masuk ke dalam mobilnya namun belum juga dirinya meninggalkan lokasi gudang tersebut mobil yang sangat Aldrich kenali mendekat dengan beberapa mobil turut ikut di belakang.


"Hans!" Senyuman Aldrich mengembang kebetulan pula para penjahat suruhan Tina tengah tidak ada di luar.


"Tuan!" Hans berlari keluar dan langsung menghampiri mobil Aldrich.


"Bagus Hans! Kau datang tepat waktu!" ucap Aldrich.


Aldrich memutuskan untuk bertindak tanpa melibatkan Keisha sama sekali. Pria itu sama sekali tidak meninggalkan lokasi gudang itu dan tetap berada di sana. Selama setengah jam itu dia mengatur rencana dengan para bawahannya.


"Sekarang waktunya kita mulai." Entah sengaja atau memang bodoh Tina bahkan tidak menaruh curiga dengan Aldrich saat pria itu datang dengan kertas-kertas yang tentu saja itu semua palsu. Bahkan wanita itu sama sekali belum menyadari jika sekarang gudang yang di tempatnya terkepung oleh orang-orang Aldrich.


Salah satu penyebab nya mungkin karena kurang nya anak buah Tina. Dan juga tidak adanya penjagaan di luar dan hanya ada di dalam. Membuat Aldrich leluasa untuk bergerak.


"Wah, tepat waktu sekali." Tina melihat Aldrich sudah datang dengan beberapa kertas di tangannya.


Tina melihat ke belakang, namun sayangnya dirinya tidak menemukan Keisha sama sekali di sana.


"Dimana Keisha?! Kau mencoba membohongi ku?!" tanya Tina.


"Tidak! Memang Keisha tidak ada di sini, tetapi aku membawa semua yang kau butuhkan di kertas ini," jawab Aldrich sembari mengangkat kertas itu ke depan Tina.


Tina tersenyum penuh kemenangan di depan Aldrich. "Sekarang aku sudah membawa hal yang kau minta jadi berikan putriku sekarang untukku!"


"Tentu saja." Dengan mudah Tina menurunkan Aliza dari gendongannya. Sebaliknya Aldrich langsung menarik Aliza ke dalam pelukan nya dan memberikan kertas tersebut ke Tina.


"Hans!" Dengan satu panggilan nama seketika seluruh bawahan Tina tertembak di sana. Suara tembakan membuat Tina seketika sadar dan juga melihat isi di mana kertas yang di berikan oleh Aldrich hanya kertas kosong.


"Sialan! Kau membohongi ku!" berang Tina yang melihat orang-orang Aldrich telah mengepung mereka.


"Aku tidak membohongi mu, hanya saja kau yang mudah di bodohi!" balas Aldrich dengan senyuman smrik.


"Tidak! Ini tidak adil!"


"Kau mau kemana?! Tak kan ku biarkan kau pergi hidup-hidup dari sini!" Tanpa sadar Tina mengeluarkan pistol miliknya membuat Aldrich tak sempat menghindar.


'Dor'


'Dor'


'Dor'


Tiga peluru melesat keluar dari pistol mengenai jantung Aldrich membuat pria itu masih berpikir melindungi putrinya dengan membelakangi Tina. Dan detik itu juga dua peluru menembus punggung Aldrich.


"TUAN!"


•••


Hans kembali ke mansion dengan beberapa orang pengawal yang datang bersama nya. Bersama dengan Aliza dan Aldrich.


Keisha yang mendengar kepulangan Aldrich dan Aliza merasa sangat lega. Membuat wanita itu cepat-cepat datang menghampiri keduanya.


Keisha membuka pintu utama Mansion dengan perasaan bersemangat. Terbuka nya pintu itu, pemandangan yang Keisha lihat di mana Hans tengah menggendong Aliza yang nampak menangis sesegukan.


"Putriku, Aliza!" Keisha langsung mengambil alih Aliza dari gendongan Hans memeluk dengan erat gadis kecilnya itu.


"Terimakasih! Terimakasih telah membawa pulang putriku Hans!" ucap Keisha.


Hans tak menyahut tampak ada air mata yang di tahan oleh Hans di sana. Membuat senyuman Keisha seketika menghilang dan mulai bertanya-tanya.


"Ada apa Hans? Dan di mana Mas Al?" tanya Keisha.


Hans seketika itu menangis dan membuat Keisha benar-benar kebingungan.

__ADS_1


"Ada apa Hans?! Kenapa kau menangis?!" Perasaan Keisha mulai bercampur aduk melihat Hans yang tiba-tiba saja menangis.


Hans menyamping kan badannya ke samping kiri dan seketika itu juga tatapan Keisha langsung tertuju pada semua sekelompok orang berbaju putih dengan membawa tandu di tangan mereka. Dan tentu saja di atas tandu itu terbaring seorang yang darahnya merembes keluar.


"Apa ini Hans?! Aku tanya di mana Aldrich?!" tanya Keisha sekali lagi.


"Mami---papi kenapa berbaring di sana?" tanya Aloza yang seketika membuat Keisha bagaikan di sambar petir.


"MAS! MAS AL!"


•••


Suasana duka menyelimuti pagi hari ini. Dunia Keisha hari ini telah menghilang selamanya terbawa pergi bersama dengan jasad Aldrich.


Yah pria itu sekarang sudah tenang di atas sana. Meninggalkan cinta, putri dan calon anaknya yang bahkan belum lahir.


"Kenapa kau meninggalkan aku Mas! Mas Al! Bangun Mas!" jerit Keisha yang benar-benar terpukul dengan kepergian Aldrich. Sedangkan Selena terus menerus pingsan. William dan Elvano hanya bisa menerima kenyataan jika sekarang Aldrich benar-benar sudah tiada.


"Mama! Mama, Mas tidak ingin bangun Ma! Ku mohon bangun kan dia Ma! Bangun kan suamiku!" ucap Keisha.


"Kak---Kak, ku mohon tenang dan ikhlaslah. Kak Al sudah tiada Kak," balas Elvano menenangkan.


"Tiada apanya El! Kau ini bicara apa?! Mana mungkin Aldrich meninggalkan aku?! Dia bahkan berjanji akan hidup selamanya bersamaku! Mana mungkin dia melanggar janjinya!" jelas Keisha yang membuat tangisan Elvano semakin menjadi-jadi.


"Kak---"


"Mas! Bangun Mas, ALiza membutuhkan mu Mas! Kau bahkan akan segera mempunyai anak kembali! Aku hamil Mas, ku mohon bangunlah! BANGUNLAH MAS!"


"Bagaimana aku bisa hidup Mas! BAGAIMANA AKU BISA HIDUP TANPA KAU DI SISIKU! BAGAIMANA AKU MEMBESARKAN KEDUA ANAK KITA JIKA KAU BAHKAN SUDAH MENINGGALKAN AKU SELAMANYA, BAGAIMANA BISA!"


"TUHAN MERENGGUT SEGALANYA! DUNIAKU! SUAMIKU, CINTAKU DAN KEBAHAGIAAN KU! SEMUANYA! DIA MEMBAWA MU MAS!"


Menyedihkan, memang sangat menyedihkan. Janji Tina telah tertepati di mana dia benar-benar sudah memengambil orang tersayang Keisha. Bahkan telah membuat dunia Keisha menggelap selamanya.


Sedangn Tina ikut tiada setelah di hujani tembakan oleh Hans. Namun tiadanya wanita itu bahkan tidak akan mengembalikan nyawa Aldrich yang telah dirinya renggut.


Tidak ada yang bisa mengetahui takdir Tuhan. Manusia memang bisa berencana namun Tuhan yang menentukan. Bisa saja hari ini kau berjanji akan hidup selamanya namun esok nya kematian sendirilah yang menjemput mu lebih awal.


Keisha, wanita itu mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa Aldrich suaminya kini benar-benar telah meninggalkan dirinya selamanya. Di usia muda dan di usia pernikahan yang sangat muda pula.


Janji Aldrich untuk slalu hidup bersama dengan Keisha itu terlanggar sudah. Dengan kematian yang memeluknya terlebih dahulu sebelum Keisha menggapai tangannya.


Dan di sini lah Keisha, duduk di atas tanang kuburan yang bapak begitu basah dengan guyuran air hujan. Tatapannya kosong menatap nisan Aldrich yang beberapa jam yang lalu selesai di makam kan.


"Keisha, ayo kita pulang nak," ajak William yang memeluk baju Keisha agar wanita itu sadar.


"Tidak Dad, aku ingin tetap di sini menemani suamiku," jawab Keisha dengan nada bergetar.


"Kau bisa saja sakit jika terus kehujanan begini nak, ingat Keisha ada kehidupan di dalam perutmu sekarang," balas William.


"Aku bahkan tidak bisa hidup barang sedetik pun jika aku benar-benar pergi dari sini Dad," ungkap Keisha yang kini benar-benar menyerah dengan hidupnya.


"Apa yang kau katakan Keisha? Kau harus kuat nak, ini demi Aldrich. Demi anak-anak kalian," jelas William.


Keisha menggeleng pelan. "Sudah tidak ada lagi harapan ku untuk hidup jika saja duniaku telah pergi hari ini. " Bahu Keisha bergetar tangisannya kembali pecah seiring dengan air hujan yang membasahinya.


"Daddy mohon nak, Aliza masih sangat kecil dan dia masih butuh dirimu. Jangan berpikir tidak ada alasan untuk hidup, ingat Aldrich bagaimana dia mengorbankan nyawanya demi anak kalian. Maka dari itu, tetap hidup dan bernapas untuk cucuku," kata William yang membuat pikiran Keisha kembali jernih.


"Kau benar Dad, aku kasih punya putri kecil. Aku masih punya kenangan bersama dengan suamiku," lirih Keisha. Membuat William tersenyum.


Tangan Keisha terangkat mengusap pelan nisan Aldrich. Air matanya tersapu air hujan saat itu, dia tersenyum. "Mas, aku akan hidup. Hidup dengan putrikita dan calon anak kita. Aku akan hidup sebagaimana mestinya. HIDUP DALAM CINTA YANG KAU TINGGALKAN UNTUKKU. SELAMA NYA AKU AKAN SLALU MENCINTAIMU."


"AKU MENCINTAI MU MAS, SANGAT MENCINTAIMU."


\#SELESAI

__ADS_1


Terima kasih telah membaca cerita ini sampai tamat. Ending yang saya nggak tau buat kalian nangis atau nggak. Tapi Terima kasih lagi untuk semua dukungannga selama ini. Dan maaf jika selama ini cerita saya membuat teman-teman bosan. Karena saya juga bukan penulis hebat. Dan nantikan kembali cerita Aliza yaitu Saquel cerita ini.


See you next semuanya


__ADS_2