
"Rainer?" Aliza berbalik menatap pria yang tadinya memanggilnya adalah pria yang dulu pernah dekat dengannya namun tidak sampai berpacaran.
"Liza! Hai!" Rainer langsung berhamburan memeluknya sekaligus memeluk wanita yang beberapa tahun telah mengisi hatinya itu.
"Kamu apa kabar?" tanya Rainer.
"Aku baik, kalau kamu?" tanya Aliza yang sembari melepas pelukan Rainer darinya.
"Of course, aku baik. Kenapa kamu di sini? Apakah kamu di tinggal di sini?" tanya Rainer.
"Yah begitulah, kalau kamu? Apakah kamu juga tinggal di sini?" tanya Aliza.
Rainer menggeleng. "Tidak, aku hanya mampir sebentar di apart temanku," jawabnya.
"Ah begitu yah?" Rainer mengangguk membenarkan.
"Apakah kamu sibuk?" tanya Rainer.
"Hmm, aku cukup sibuk akhir-akhir ini. Banyak pekerjaan yang di berikan oleh atasanku untuk aku kerjakan segera," ujar Aliza.
"Kenapa bekerja di perusahaan orang lain, aku pikir Kakek mu itu punya perusahaan," balas Rainer.
"Aku memang ingin bekerja di sana, namun Kakek ku mengatakan jika aku harus bekerja di perusahaan itu sebelum aku mulai bekerja di perusahaan nya lebih tepatnya perusahaan Papiku," jawab Aliza.
"Oh begitu yah, kalau begitu semangat." Rainer tersenyum penuh arti hingga suara berat menyapa telinga Aliza kembali.
"Liza!" Aliza langsung menoleh ke arah belakangnya lebih tepatnya ke arah pintu lobi.
"Kenzo?" Yah itu Kenzo yang tengah berdiri menatap tajam Aliza yang sedari tadi asik mengobrol dengan seorang pria.
Kenzo melangkah cepat, dengan gerakan cepat dia menarik Aliza mendekat ke arahnya.
"Eh pak!" Aliza langsung membentur dada bidang Kenzo yang tampak memakai pakaian olahraga. Sepertinya Kenzo baru saja pulang dari gym.
"Liza!" Rainer ikut menatap tajam Kenzo saat tatapan pria itu mulai mengintimidasi nya.
__ADS_1
"Siapa kau?! Seharusnya---"
"Seharusnya apa?! Anda ingin mengatakan seharusnya apa, hah?! Jangan mengambil kesempatan untuk mendekati gadis ini!" kata Kenzo posesif.
"Pak! Ih apaan sih?! Deketin apa?! Dia itu temen saya!" jawab Aliza kesal.
"Teman? Ck! Kamu pikir saya percaya kalau dia sama sekali tidak punya perasaan padamu? Caranya menatapmu saja sangat berbeda!" tekan Kenzo.
"Sengaja datang kemari hanya untuk ini?" tanya Kenzo yang membuat Rainer cukup bingung.
"Tidak usah di jawab, alasan datang kemari karena ada teman mu yang tinggal di salah satu apartemen bukan? Saya bahkan bisa membeli seluruh gedung apartemen ini dan mengusir teman mu itu, jika memang ada!" jelas Kenzo. Entah mengapa Kenzo benar-benar melihat ada kejahatan di sini. Dan dia tidak suka ada yang mendekati Aliza.
"Pak! Bapak ini kenapa sih?! Bisa tidak omongannya di jaga! Dia teman saya dan seharusnya pak Kenzo nggak ikut campur di sini! Apalagi nuduh dia sembarangan!" pekik Aliza yang langsung melepaskan secara kasar pegangan tangan Kenzo pada lengan mungilnya.
"Maafkan aku Rain, aku nggak bermaksud buat kamu malu di sini. Aku minta maaf sekali lagi, aku pergi." Aliza langsung pergi dari sana masuk kembali ke dalam lift meninggalkan Kenzo dan Rainer di sana.
Kenzo melangkah mendekat ke arah Rainer yang tengah menatapnya. Ada aura permusuhan di sana, aura yang menandakan jika mereka tengah mengibarkan bendera permusuhan satu sama lain.
"Jika saya melihat mu sekali lagi di sini, maka saya tidak akan segan membuatmu lenyap dari muka bumi ini, ingat itu!" tekan Kenzo yang kemudian pergi dari sana.
"Sialan!"
•••
Aliza masuk kembali ke dalam apartemen nya, merasa moodnya benar-benar hancur. Hancur karena Kenzo.
"Kenapa harus ketemu dia sih?! Kenapa harus di apartemen ini dia tinggal?! Kenapa!!" Aliza mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Kalau begini lebih baik gw tinggal sama Mami! Tapi apartemen nya udah keburu gw beli! Argghhh sialan!" umpat Aliza.
"Takdir brengsek!"
Sedangkan Kenzo langsung masuk ke dalam apartemen nya. Dengan melepaskan segala baju yang penuh dengan keringat itu menempel di badannya untuk segera mandi.
Segera pria itu membersihkan dirinya, memang benar dirinya baru saja selesai berolahraga di saat dia mendapatkan Aliza tengah berbincang dengan pria lain membuatnya langsung panas.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Kenzo keluar dengan handuk yang hanya melilit tubuh bagian bawahnya dan membiarkan dada bidangnya terekspos.
Hingga ponsel yang berada di atas nakasnya itu kembali berdering.
"Ada apa lagi," jawabnya dengan malas.
"Cepat pulang! Papa ingin bicara dengan kamu!" titah perempuan di balik sana.
"Aku sibuk, dia bisakan menelpon ku saja. Dan untuk apa kau marah-marah? Membuang tenaga saja," balas Kenzo santai.
"Kau tahu kan kalau Papamu itu tidak suka di bantah, jadi sebaiknya kau menurutinya."
"Kalau aku tidak mau bagaimana? Kalian mau apa, hah? Mengancamku?" tanya Kenzo seolah tengah memancing Ibu tirinya itu untuk semakin marah padanya.
"Kenzo! Kenapa semakin hari semakin kurang ajar sekali kau?! Apakah ini yang ibumu ajarkan padamu, hah?!" bentaknya.
"Jangan bawa-bawa ibuku dalam perkataan tidak berguna mu itu! Kau bahkan tidak bisa menyebut inuku setelah apa yang kalian berdua lakukan padanya!" pekik Kenzo.
"Cih, anak dan ibu sama saja---"
"Katakan pada pria tua itu jika aku tidak akan datang! Meski dia memaksa atau pun dia ingin aku menghancurkan segalanya jika dia tidak mau mendengar kan aku! Karena semua harta yang aku kalian klaim sebagai milik kalian adalah harta milik mendiang ibuku yang kalian curi, jadi jangan coba-coba berbuat di luar kendali kalian. Karena aku akan membuat kalian miskin dalam sekejab," jelas Kenzo yang kemudian mematikan panggilan tersebut.
Matanya menajam, menatap ke arah jendela kamarnya yang memperlihatkan kota yang begitu luar dan di padati dengan bangunan pencakar langit.
Inilah sisi kehidupan Kenzo, hidup di antara tiga manusia serakah. Hidup dalam kegelapan selama 10 tahun lamanya. Kenzo di tinggal mati oleh sang ibunda pada umurnya yang masih berusia 13 tahun.
Saat itu dunianya benar-benar runtuh. Dunia bahagianya terengkut begitu saja, meninggalkan segala kepedihan saat itu. Dan di tambah lagi saat belum juga 1 hari meninggal nya sang ibu, Ayah nya sendiri pulang membawa seorang wanita dengan anak laki-laki berumur 1 tahun lebih mudah darinya.
Ayahnya mengatakan jika dia sudah menikah dengan wanita itu saat ibunya masih sakit-sakitan. Kenzo tentu saja marah pada saat itu, bahkan dia menyumpai Ayahnya tanpa sadar serta mengibarkan bendera kebencian pada mereka.
Sejak saat itu hubungan antar Ayah dan anak itu berubah menjadi hubungan permusuhan. Tak ada kata damai selama 10 tahun ini dan tak ada kata maaf dari mulut Ayahnya yang ingin Kenzo dengar selama ini.
"Karena pengkhianat tetaplah pengkhianat,"
...#bersambung...
__ADS_1