
Suara bel apartemen nya berbunyi saat pembicaraan nya dengan Rainer belum selesai dengan terpaksa Aliza meletakkan ponselnya kembali di atas meja dekat sofa setelah meminta izin kepada Rainer untuk membuka pintu terlebih dahulu.
Aliza membuka pintu apartemen nya melihat siapa yang malam-malam begini masih saja bertamu.
"Liza," panggil Kenzo yang ternyata orang dari balik pintu apartemen Aliza.
"Pak? Lho kenapa? Bukannya udah di bicara 'in yah?" tanya Aliza heran.
"Bukan itu, kamu sudah makan?" tanya balik Kenzo dengan refleks Aliza menggeleng pelan sembari terus menatap ke arah Kenzo.
"Ayo keluar makan," ajak Kenzo yang langsung menarik tangan Aliza keluar.
"Ehh bentar pak, masa saya pakai baju ini? Kan nggak enak kalau bau keluar makan sama bapak," ungkap Aliza tak enak masalahnya dia bahkan belum membersihkan dirinya sampai sekarang.
"Nggak papa, saya nggak masalah sama penampilan kamu," balas Kenzo santai.
"Tapi bisa 'kan pak saya tutup pintu apartemen saya?" tanya Aliza yang membuat Kenzo segera menoleh dengan cepat pria itu langsung menutup pintu apartemen Aliza dan otomatis terkunci.
"Ayo!" Kenzo berjalan duluan sedangkan Aliza mengekori pria itu yang terlihat memakai kaos polos berwarna navi yang di padukan dengan celana pendek berwarna brown.
•••
Di sinilah mereka di warung bubur ayam yang berjarak cukup dekat dengan gedung apartemen mereka.
"Apa cocok kalau makan bubur malem-malem kek gini pak?" tanya Aliza masalahnya Kenzo seperti tidak niat mengajaknya makan. Aneh bukan bubur ayam yang biasanya di nikmati sebagai sarapan pagi kini di makan saat waktu makan malam bahkan hampir lewat.
"Cocok-cocok aja, lagipula saya biasa makan di sini. Mau malam atau pagi sama-sama saja," balas Kenzo yang segera menarik kursi yang membuat Aliza ikut menarik kursi di depan Kenzo sehingga mereka duduk saling berhadapan.
"Yah nggak gitu juga sih pak, kan ini namanya melawan hukum persekte an bubur sebagai sarapan---"
"Kita mau makan malam, jadi jangan berdebat soal bubur ayam," potong Kenzo yang tak lama setelahnya dua porsi bubur ayam telah tersaji di depannya.
Sama-sama tim aduk keduanya langsung mengambil seporsi untuk diri sendiri, air liur Aliza hampir menetes melihat bagaimana nikmat dan menariknya bubur ayam di depannya.
"Sebentar pak!" Aliza menghentikan Kenzo yang hampir mengaduk buburnya membuat Kenzo langsung menatap Aliza yang menggangu nya.
"Ini ada kacang, kenapa tadi nggak di kasih tahu mamangnya sih? Hampir aja kemakan," ucap Aliza yang menyendok kacang itu dari mangkuk Kenzo.
"Kenapa?" tanya Kenzo yang membuat Aliza tersenyum menatap pria itu.
"Aku tetap masih ingat Ken, bagaimana dulunya kita sering makan di pinggir jalan saat itu kau tidak sengaja memakan kacang dari bubur ayam mu bukan? Kau terlihat begitu lucu dengan bintik merah di wajahmu saat itu," jelas Aliza yang terkekeh kecil.
"Kau menertawai ku?" tanya Kenzo yang menyipitkan matanya menatap tajam Aliza yang langsung menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya sedang melakukan---"
"Aku melihat mu tertawa tadi, apa kamu mengira aku ini buta? Jelas-jelas tadi kau tertawa," sinis Kenzo.
"Baiklah, ayo makan Ken. Kacang nya sudah aku singkirkan," ucap Aliza yang tersenyum manis.
Kenzo diam dan sejenak menatap kembali Aliza yang sudah mulai menyantap makanannya.
"Apakah kau yakin dengan keputusan mu?" tanya Kenzo secara tiba-tiba.
"Tentu saja pak, saya sudah memikirkan nya dengan sangat matang," jawab Aliza.
"Kamu tidak takut jika nanti saya---" Kenzo menerima penawaran Aliza, tentu saja dengan niat yang sama Kenzo juga ingin lepas dari belenggu perjodohan yang mengikatnya selama ini.
"Jika nanti pak Kenzo ingin bercerai dengan saya, saya akan kabulkan dengan syarat jika kontrak kita benar-benar sudah mencapai waktu 3 tahun," balas Aliza.
"Tapi jika waktunya belum selesai dan ada permasalahan yang harus membuat kita bercerai bagaimana?" tanya Kenzo.
Lagi dan lagi Aliza menghentikan kegiatan makannya menatap intens pria di hadapannya ini. "Itu tidak akan terjadi, apapun yang akan terjadi kedepannya sesuai dengan penawaran saya pak. Jika saya akan jadi istri yang baik yang akan menemani pak Kenzo kalah susah maupun senang," ungkap Aliza.
"Kenapa pak Ken, overthinking banget? Bapak juga nggak akan minta cerai kan sama saya cuman gara-gara bosen?" tanya Aliza.
"Saya nggak mau cerita lama bakal terulang lagi yah pak, bosen tahu."
Kenzo diam seperti pikirannya melayang saat ini, menerawang ke depannya apa yang akan terjadi.
"Iyah terserah kau saja," balas Aliza yang kemudian mereka melanjutkan kegiatan makan malam mereka. Hanya selang beberapa saat itu juga seorang pria datang dan langsung memukul Kenzo dari belakang.
'Brukk'
Kenzo tersungkur dari sana, Aliza kaget bersamaan dengan itu tatapan Aliza langsung melayang pada sesosok Rainer yang terlihat begitu marah.
"Kenzo!" Aliza langsung menghampiri Kenzo yang terlihat kesakitan dengan luka memar yang ada di pipinya itu.
Kenzo menatap tajam Rainer dengan sigap Kenzo membalas pukulan Rainer dengan bogem mentah hingga darah mengucur keluar dari sudut bibirnya.
"Bajingan!" Belum juga Rainer mengembalikan kesadaran nya Kenzo sudah langsung memukul nya kembali. Suasana semakin kacau saat Rainer mencoba memukul Kenzo kembali.
"Kenzo! Stop!" teriak Aliza yang melihat kebrutalan keduanya membuatnya semakin cemas.
Tak ada yang berani mendekat melihat dia pria yang sama kuat tengah adu kekuatan. Semuanya hanya diam menonton saja membuat Aliza bingung harus bagaimana.
"Mati kau!" Kenzo hendak memberikan pukulan kembali pada Rainer saat pria itu sudah hampir tak sadarkan diri. Seperti kerasukan setan membuat Kenzo bagai hilang di telan amarah.
__ADS_1
"Kenzo! Hentikan, kumohon!" Aliza langsung memeluk Kenzo berharap pria itu menghentikan niatnya. Dirinya tidak bisa lagi melihat semuanya dan benar saja perkelahian itu terhenti, Aliza yang memeluk Kenzo dari belakang merasakan bagaimana napas pria itu memburu.
"Hentikan Ken, sudah cukup," lirih Aliza yang semakin mengeratkan pelukannya.
Tanpa aba-aba Kenzo mengeluarkan uang segepok dari dompet yang dia bawa membuangnya tepat di depan wajah Rainer yang nampak sudah tak berdaya.
"Bawa orang gila ini pergi dari sini!" Setelah mengatakan hal itu Kenzo langsung menarik Aliza pergi dari sana. Tak peduli jika dia juga terluka karena perkelahian tadi meskipun tak separah Rainer.
Aliza diam mengikuti tarikan Kenzo yang kembali membawanya ke daka gedung apartemen. Dan setelah nya mereka sampai di lantai di mana apartemen mereka berada di sana. Sayangnya Aliza masih belum tahu jika dia dan Kenzo bertetangga.
"Masuklah dan ganti pakaian mu," titah Kenzo yang melepaskan genggaman tangannya saat mereka sudah sampai di depan pintu apartemen.
"Tidak! Ayo masuk dulu, aku akan mengobati lukamu," jawab Aliza.
"Tidak perlu, ini hanya luka biasa dan aku bisa---"
"Please, listen to me Ken. Kamu terluka dan aku ingin mengobati nya." Tanpa jawaban dari Kenzo Aliza langsung menarik Kenzo ke dalam dan membuat pria itu duduk di sofa ruang tengah.
Aliza dengan sigap pergi ke dapur membuka kulkas miliknya untuk membawa air dingin dan juga handuk kecil tak lupa pula dengan kotak P3K.
Dia meletakkan semuanya di atas meja dekat sofa menatap Kenzo yang terlihat menatapnya.
Dengan cekatan Aliza mulai membasahi handuk itu dengan air dingin kemudian memerasnya. Tangan itu terangkat menyentuh pipi Kenzo yang nampak lebam, Kenzo menutup matanya saat dinginnya air menjalar ke seluruh bagian lebam pipinya.
"Apa sakit?" tanya Aliza yang segera di balas gelengan oleh Kenzo. Pria itu masih terpejam saat mulai terdengar isakan membuatnya langsung membuka matanya.
"Maafkan aku," lirih Aliza yang sudah mengeluarkan air matanya. Sorot matanya nampak begitu bersalah dengan keadaan Kenzo.
"Pasti Rainer berbuat seperti itu mengira aku tengah tidak baik-baik saja," ucap Aliza.
"Kenapa kau menangis, hmm?" tanya Kenzo yang memegang lembut dagu Aliza agar sorot mata keduanya bertemu.
"Lihat aku, di sini kau sama sekali tidak memiliki kesalahan Aliza," kata Kenzo lembut yang semakin membuat Aliza menangis.
"Jangan coba membohongi ku Kenzo, jelas semuanya salahku!" ujar Aliza.
"No, kau tidak ada hubungannya dengan semua ini. Okay? Jadi berhenti merasa bersalah," jawab Kenzo.
"Kenapa kau jadi cengeng begini? Hanya melihatku terluka begini kau jadi menangis? Kemana Aliza yang kukenal?"
"A--aku,"
"Shutt, berhenti menangis okey? Kau terlihat begitu jelek dengan air mataku itu," ungkap Kenzo.
__ADS_1
"Ihh Kenzo!"
...#bersambung...