
Hari demi hari terus berlalu dan kini sudah hampir 6 bulan kembalinya Keisha kepada Aldrich yang membuat keluarga kecil itu semakin bahagia. Ancaman Tina beberapa bulan yang lalu tak kunjung terjadi membuat Keisha merasa lega. Mungkin saja adiknya itu sudah menyerah.
Keisha harap itu terjadi. Dan kini mereka tengah bersiap melakukan sesi foto di suatu studio foto terkenal di sana. Keisha dan Aliza nampak begitu cantik dengan balutan dress putih couple begitu pun dengan Aldrich yang nampak begitu tampan dengan jas hitam, toxedo hitam yang membalut kemeja putih miliknya.
"Putri ku begitu cantik," puji Aldrich yang mencium gemas pipi chubby Aliza.
"Apakah istrimu ini juga cantik?" tanya Keisha yang membuat atensi Aldrich beralih ke sampingnya melihat Keisha yang nampak tersenyum manis.
"Always baby! Kau slalu cantik, aku hanya ingin melihat bagaimana nanti putriku memakai gaun pengantin nya dan menggandeng tangan pria pilihannya," ungkap Aldrich sembari mengecup kening Keisha.
"Yah, masa itu akan datang saat kita benar-benar sudah menua," balas Keisha yang menatap penuh cinta Aldrich begitu pula sebaliknya.
Sesungguhnya cinta memang tidak dapat kita utarakan beberapa dari kita memilih memperlihatkan nya lewat tindakan, lewat perhatian kecil yang membuat rasa yang ada pada diri kita sendiri semakin dalam saja. Itu lah definisi cinta yang sesungguhnya menurutku.
•••
Sesi foto selesai sekarang mereka hendak meninggalkan studio foto tersebut dengan Aliza yang nampak terus memohon kepada Keisha untuk membelikannya sebuah boneka beruang yang tak sengaja dirinya lihat di etalase toko boneka.
"Ayolah Mami, sekali ini saja! Liza ingin boneka itu!" mohon Aliza yang terus menarik-narik tangan Keisha pergi ke toko itu.
Sedangkan Aldrich baru saja keluar dari studio melihat Aliza tengah merengek di hadapan Keisha dengan wanita itu yang nampak berkacak pinggang dengan menatap tajam putrinya.
"Ada apa?" tanya Aldrich yang segera menghampiri keduanya.
"Ini lho Mas, Aliza merengek membeli boneka lagi!" jawab Keisha.
"Papi, Papi Liza ingin boneka itu!" ucap Aliza yang menunjuk pada sebuah toko boneka yang berada di seberang.
"Putri Papi ingin itu?" Aliza mengangguk dengan cepat menatap penuh harap Aldrich.
"Baiklah, permintaan terkabul!" balas Aldrich yang membuat Keisha mendengus kesal.
"Mas! Jangan turuti permintaan nya. Bisa-bisa Aliza akan tumbuh menjadi gadis manja! Aku tidak mau itu terjadi!" pekik Keisha kesal.
"Ku mohon kali ini saja, okay? Aku merasa harus membelikan hadiah itu untuknya sayang," kata Aldrich dengan wajah memelas. Lagi-lagi membuat Keisha semakin geram dengan tingkah keduanya.
"Aku jamin Aliza tidak akan tumbuh menjadi gadis yang manja," lanjut Aldrich percaya diri.
"Itu mustahil terjadi, lihat saja. Lihat saja bagaimana kau memanjakan putri mu sendiri dengan menuruti setiap kemauannya," balas Keisha yang membuat Aldrich gemas.
__ADS_1
"Sayang dengarkan aku---"
"Papi! Kapan aku bisa membelinya?" tanya Aliza tak sabaran dan juga muak dengan drama Papi dan Maminya yang slalu bertengkar.
"Hai kau! Bawa putriku membeli boneka apapun yang ada di sana," perintah Aldrich dengan salah satu pengawalnya.
"Tidak! Biarkan aku membawa Aliza sendiri kesana. Bisa-bisa dia membeli satu toko boneka karena aku tidak ada di sana," tutur Keisha mengalah. Yah kali ini dirinya harus mengalah demi putrinya sendiri.
"Ayo Mami! Ayo Papi!" ajak Aliza dengan semangat.
"Ayo---"
Tiba-tiba saja ponsel Aldrich berdering tanda jika sebuah panggilan masuk membuat atensi pria itu beralih pada tangannya yang di mana tengah memegang ponsel tersebut.
Siapa lagi jika bukan Hans yang begitu senang mengacaukan segalanya. Buru-buru Aldrich menggeser tombol hijau di sana namun sebelumnya pria itu kembali berkata.
"Duluan lah, aku akan menyusul setelah mengangkat telpon dari Hans."
"Baiklah." Keisha segera menggendong Aliza dan menyebrang ke arah seberang jalanan.
Aldrich segera berbicara dengan Hans sedangkan Keisha dan Aliza segera ke toko boneka tersebut. Tanpa Keisha sadari sebuah mobil jeep hitam mendekat ke arah keduanya.
Pria berbadan besar segera keluar dengan beberapa temannya. Suasana lalu lintas yang sedikit padat membuat Keisha tak sadar jika dia dan Aliza tengah di dekati.
"Ahhh!! Mami!"
"Aliza!" Keisha menjerit di mana Aliza nampak tengah berada di tangan pria berbadan besar dengan tampang yang begitu asing.
Mendengar teriakan itu membuat penglihatan Aldrich langsung beralih ke tapi jalan. Matanya membulat melihat Keisha yang terjatuh ke aspal dan Aliza yang tengah menangis.
"Keisha! Aliza!" teriak Aldrich yang tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya padahal pembicaraan nya dengan Hans belum selesai.
"Lepaskan putriku!" Keisha mencoba bangkit namun lagi-lagi para pria itu menendang dada Keisha membuat Keisha seketika pingsan di sana.
Aldrich semakin panik melihat Keisha yang tak sadarkan diri. "Apa yang kalian lakukan?! Cepat selamatkan putriku!" bentak Aldrich yang membuat lalu lintas seketika berhenti saat para orangnya mulai menerobos.
Pria tadi langsung membawa Aliza masuk ke dalam mobil sebelum orang-orang Aldrich sampai ke sana.
Aldrich gelap mata melihat mobil Jeep itu melaju meninggalkan Keisha dan membawa putri nya. Tanpa peduli dengan kendaraan yang bisa saja menabraknya Aldrich berlari menerobos dan segera menghampiri Keisha.
__ADS_1
"Keisha! Cepat kejar mobil itu! AWAS SAJA JIKA PUTRIKU TIDAK KALIAN BAWA PULANG! AKAN KU PUTUSKAN LEHER KALIAN SEMUA!" perintah Aldrich yang membuat mereka segera bergerak cepat.
Dunia Aldrich terasa berhenti begitu saja. Aldrich segera sadar dan membopong tubuh Keisha ke seberang kembali dan akan membawanya ke rumah sakit.
•••
Kejar-kejaran terus terjadi, antara mobil sang penculik dengan mobil pengawal Aldrich. Seperti tak menghiraukan lalu lintas mobil Jeep itu terus melaju dengan kencang membawa Aliza yang nampak menangis histeris di sana.
"Mami! Om---jahat!! Di mana Mami?! Papi! Papi Liza takut!" tangis Aliza. Di kelilingi pria berbadan besar dan berwajah seram membuat mental Aliza benar-benar tertekan.
"Diam bocah!"
"Dia terus menangis! Berikan saja obat tidur atau obat bius sehingga bocah ini bisa berhenti menangis!"
"Tidak! Dia masih terlalu kecil, bagaimana pun Bis meminta kita membawanya tanpa lecet sedikit pun," balas salah satu pria itu.
Aliza menangis dan hanya itulah yang bisa dirinya perbuat tak ada yang bisa dirinya perbuat. Takdir baik tak berpihak pada Aliza membuat mobil pengawal Aldrich kehilangan mobil yang menculik Aliza. Kini mereka tinggal menunggu nyawa mereka di cabut satu persatu oleh Aldrich.
"Mereka kehilangan kita," ujar salah satu dari mereka.
"Bagus."
Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah gudang terbengkalai yang berada di tengah hutan kota. Membawa Aliza yang tanpa henti menangis membuat gadis itu sesegukan.
Seorang wanita menghampiri para penjahat itu sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Ah keponakan ku yang manis."
Aldrich berjalan tak tenang di depan pintu kamar yang sekarang Keisha tempati membuatnya semakin khawatir saat dokter tak kunjung keluar.
Hingga ponsel Keisha yang berada pada dirinya berbunyi nyaring. Aldrich segera merogoh saku celananya membuat keningnya berkerut melihat nama Tina terpampang jelas di sana.
"Halo Keisha, Aku hanya ingin jika keponakan ku alias putri mu yang tersayang sedang berada di tanganku sekarang."
"Sialan! Dimana kau membawa putriku, hah?!"
Dokter selesai memeriksa Keisha dan pada saat itu juga wanita itu sudah kembali sadar. Perlahan Keisha membuka matanya membuat dokter tersebut tersenyum dengan senang.
"Rupanya anda sudah sadar bu, anda benar-benar harus berterima kasih kepada suami anda karena membawa anda tepat waktu jika tidak maja kandungan anda benar-benar dalam bahaya," ungkap sang dokter.
__ADS_1
"Ka---kandungan?"
...#bersambung...