
"Kenapa kau begitu lama?" tanya Tina yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Saqila di salah satu cafe terdekat tempat perusahaan ayahnya.
"Kau bisa mengerti sedikit tidak? Aku baru saja pulang dari rumah sakit untuk mengecek keadaan ku," balas Saqila yang terlihat ketus.
"Well? Kekasihmu itu kenapa lagi? Apakah dia mencoba bunuh diri?" tebak Tina. Dan tepat sasaran.
"Dia hampir membun*hku! Kau tahu, lihat ini!" Saqila langsung melepaskan syal yang dia pakai tadi. Meskipun bukan musim dingin Saqila harus tetap memakai nya untuk menutupi memar di lehernya akibat ulah dari Aldrich.
"Oh my god!" Tina menutup mulutnya menatap ngeri memar di leher Saqila.
"Dan ini sangat menyakitkan! Aku berhenti Tin! Aku berhenti, lagi pula apa gunanya bersama dengan pria yang udah mau m4ti kek dia?!"
"Aku udah nggak sanggup lagi ngikutin sandiwara kamu. Dan yah Kakak tiri mu juga meninggal jadi, aku memutuskan untuk berhenti di sini," final Saqila memang benar awalnya dia ingin kembali dengan Aldrich namun setelah mendengarkan jika Aldrich sudah menikah membuat semangatnya untuk menemuinya hilang sudah tetapi Tina datang dengan permohonan agar Saqila mau membantunya untuk merusak kebahagiaan Keisha dengan merebut Aldrich dari sisinya.
Awalnya Saqila segan untuk melakukan hal itu, terlebih lagi itu bukan lah hal yang patut di lakukan sesama wanita. Tetapi dengan berbagai alasan Tina mampu membujuknya, dia mengatakan jika mereka akan sama-sama di untungkan dengan Saqila yang mendapatkan Aldrich kembali dan Tina yang dapat menghancurkan kebahagiaan Keisha. Benar-benar impas bukan?
Namun dengan meninggalnya Keisha membuat Saqila benar-benar di rundung rasa bersalah. Awalnya dia memang menikmati nya namun tindakan nekat Tina membuat Saqila sadar. Dia salah kali ini dia salah telah mendengarkan perkataan sahabatnya ini.
"Aku seharusnya nggak masuk ke kehidupan Al dam Keisha Tin. Kita benar-benar salah besar," ujar Saqila.
"Awalnya aku kira Aldrich bakalan sama kayak dulu. Mencintai aku dengan segenap hatinya dan.... "
"Dan perkiraan ku itu salah, Aldrich malah sudah jatuh hati pada istrinya. Dia sudah mencintai Keisha sebelum aku datang Tin," lanjut Saqila.
"Ada baiknya kita hentikan ini sekarang, aku nggak mau terlibat lebih jauh lagi Tin," kata Saqila yang menunduk.
"Nggak! Nggak bisa dong Sa! Kita udah sejauh ini, kita belum mencapai apa yang kita mau!" cecar Tina.
"Ini salah Tin! Kamu sadar nggak, yang kita lakuin ini tuh salah!" balas Saqila.
"Apa yang salah sih Sa? Kamu udah bahagia sama Aldrich jadi kamu nggak bisa ninggalin rencana kita yang bahkan belum selesai ini!" pekik Tina.
__ADS_1
"Bahagia?! Siapa yang bahagia?! Kamu nggak lihat luka ini?! Kamu kata aku bahagia?! Dengar ini Tina. Aku dan Aldrich sudah putus! Dia memutuskan ku!" tukas Saqila.
"Aku capek Tin, sandiwara terus-menerus! Jika kita teruskan ini bisa-bisa bukan cuman kita yang dapat imbasnya tetapi juga keluarga kita!" ujar Saqila yang membuat Tina diam sejenak.
Saqila menarik napasnya dalam-dalam berusaha menetralisir keadaan sekitar dengan tidak ikut terbawa emosi sebab mereka hampir jadi tontonan pengunjung cafe di sana.
"Aku berhenti Tin, aku harap dengan bantuan ku kali ini jadi yang terakhir. Kita seharusnya nggak berbuat sejauh ini." Setelah mengatakan hal itu Saqila pergi dari sana meninggalkan Tina yang nampak diam di tempat.
"Nggak, aku bisa berhenti di sini. Langkah ku sudah terlalu jauh jika harus berhenti di tengah jalan,"
•••
Keadaan Aldrich kini masih sama. Masih dalam keadaan berkabung dan melamun tak jelas. Dia sudah sadar dan Daniel mengatakan jika mereka harus sering mengajak Aldrich mengobrol untuk membuat pria itu jauh lebih baik.
"Al?" panggil Selena yang kini mengusap pelan tangan Aldrich.
Tatapan pria itu kosong dan enggan menjawab panggilan dari Selena. William dan Hans sudah menghilang entah kemana sejak tadi sedangkan Elvano sedari tadi hanya duduk diam di sofa dengan sesekali melirik pada Kakak nya yang nampak tertimbun penyesalan.
"Al? Aldrich?" panggil Selena lagi.
"Berita si4lan macam apa ini?!" gumam Elvano dengan rahang mengeras. Meski pun masih ada rasa benci dan kekecewaan pada Kakak nya tetapi Elvano juga tidak akan terima jika ada berita yang sengaja di buat-buat untuk membuat nama Aldrich jelek di mata masyarakat.
"El, Mama bisa minta tolong untuk panggilkan Daniel?" tanya Selena yang menoleh ke belakang melihat Elvano tengah menahan kemarahan nya sekarang.
"Yah Ma." Elvano langsung berdiri dari sana dan segera keluar untuk melaksanakan perintah Selena.
Setelah beberapa menit menunggu Daniel datang tapi tidak dengan Elvano pria itu sudah menghilang setelah dia keluar memanggil Daniel.
"Kenapa tante?" tanya Daniel yang membuat Selena segera sadar akan kehadirannya.
"Tante khawatir Nil, kenapa Aldrich sama sekali tidak mau berbicara?" tanya Selena yang hendak akan menangis.
__ADS_1
Daniel menoleh ke arah Aldrich yang nampak benar-benar.... Menyedihkan.
"Al, kamu tahu nggak kalau Keisha itu sering banget nelpon aku buat curhat loh," ujar Daniel. Dan memang benar adanya, sering kali Keisha mencuri-curi waktu untuk berbicara dengannya melalui telpon rumah. Sebab dulunya Aldrich melarang keras Keisha untuk menggunakan ponsel pribadi. Entah apa alasannya.
Aldrich menoleh mulutnya terbuka sedikit untuk mengatakan satu kata. "Be---benarkah?" tanyanya dengan nada bergetar.
Selena tersenyum, akhirnya dia bisa mendengar suara putranya lagi. Suara yang dulunya begitu berat kini menjadi samar-samar untuk di dengar.
"Yah. Kau tahu kadang dirinya mengomel padaku jika kau terus-menerus marah dan bentak nya," jelas Daniel yang membuat senyuman kecil nan samar terbit di bibir kering nan pucat Aldrich.
"Dan dia juga sering mengatakan jika kau kadang memperlakukan nya seperti benar-benar seorang istri tetapi kadang-kadang juga tidak," lanjut Daniel.
Aldrich tersenyum, bahkan terlihat dengan jelas dia begitu terhibur dengan apa yang di katakan Daniel.
"Dan satu hal yang terakhir kali dia sampaikan pada saat malam di mana kau membawa Saqila bertemu dengan mu. Dia sempat menghubungi ku pada saat dia berada di rumah sakit, kalau tak salah ingat dia memakai nomor Hans." Daniel menjeda kalimatnya. Ekspresi wajahnya nampak berubah.
"Dia mengatakan, jika dia sudah salah berharap dan menaruh rasa padamu Al. Pada saat itu aku sudah tahu jika dia sudah memiliki rasa padamu," ungkap Daniel yang membuat Aldrich kembali di hantui rasa sesal. Pria itu kembali menangis entah sejak kapan Aldrich menjadi begitu emosional.
"Cukup di sayangkan jika Keisha yang dulunya begitu mencintai mu tetapi kau tanpa sadar telah membuat cinta nya tertolak tanpa pernah dia ungkap kan terlebih dahulu. Dengan kata lain dia patah hati sebelum dia memulainya Al," lirih Daniel.
"Aku memang benar-benar bod0h Nil, jika saja aku menyadari perasaan terlebih dahulu dan mencoba keluar dari jerat masa lalu. Mungkin, mungkin saat ini dia pasti sudah berada di sisiku, menemani hari-hari ku sama seperti dulu," balas Aldrich.
"Tapi semua kini sudah berakhir, kini wanita yang paling penting dalam hidupku sudah tak ada di sisi ku sekarang dan selamanya," ucap Aldrich lagi.
"Mungkin hukuman yang pantas untukku memanglah kematian. Kematian untuk menebus semua dosa-dosa ku Daniel."
Daniel menggeleng dengan pelan. " Ada satu hal lagi yang belum aku sampein sama kamu Al, ada pesan terakhir yang bisa ngebuat kamu bisa punya semangat hidup lagi."
"Keisha mengatakan jika kamu harus bahagia, bahagia walau tanpa dia. Jangan biarkan dirimu terjerat alur yang sama seperti di masa lalu."
"Walaupun tidak dengannya Al, kamu berhak bahagia. Dari hari ini Keisha pasti mengharapkan mu bahagia walau tanpa dirinya, dan ingat betapa sedihnya Keisha di sana saat tahu kamu jadi seperti sekarang ini."
__ADS_1
"Kamu berhak bahagia Al," final Daniel.
...#bersambung...