Mendadak Menikahi Pria Cacat

Mendadak Menikahi Pria Cacat
Part_18 |•Cinta dan Kecewa•|


__ADS_3

Pagi harinya.


Semua kini berkumpul melihat Keisha yang masih lelap dengan tidurnya membuat hati Selena dan William menghangat.


"Rasanya aku benar-benar masih tidak percaya, jika di depan kita ini seorang wanita yang begitu kuat," lirih Selena yang kembali menangis membuat William langsung menenangkan sang istri.


"Sudahlah Selena, aku tahu ini berat dan kita tidak boleh terlihat lemah di depan Keisha. Kita harus bisa menguatkan dia ingat itu," nasehat William yang berusaha menegarkan hati Selena.


"Aku tahu, tetapi air mataku ini slalu ingin keluar jika melihat nya. Bahkan dengan tertidur begini saja aku masih merasa kasihan," ungkap Selena.


Setelah beberapa menit saat Selena mulai menetralkan kembali perasaannya di situ pula Keisha sudah bangun dari tidurnya.


Tubuhnya menggeliat dan perlahan matanya terbuka melihat pemandangan pertama kalinya bagaimana dirinya di tatap penuh kasih sayang oleh Selena dan William.


"Kau sudah bangun nak? Apakah tidur mu nyenyak?" tanya Selena yang menghampiri Keisha yang nampak tersenyum dengan bibir pucatnya.


"Hmm begitu lah Ma, apakah kalian sudah sedari tadi menungguku?" tanya Keisha tak enak.


"Tidak nak, kami juga baru saja sampai," bohong Selena.


"Ah begitu rupanya, aku kira---"


"Sudahlah nak, aku membawaku bubur buatku sendiri. Kau harus sarapan sekarang, sedari tadi malam kau belum makan apa-apa. Jadi berhenti lah mengoceh dan makanlah, Mama akan menyuapimu," tutur Selena yang membuka kotak makanan yang sengaja dirinya bawa dari rumah.


Keisha tersenyum baru kali ini dirinya di beri kasih sayang yang melimpah saat sakit. Dari dulu saat Keisha sakit dirinya akan mengurung dirinya di kamar, meminum obat seadanya dan bahkan dirinya berpuasa karena terlalu sakit untuk bangun dan bergerak.


Dulu tidak ada yang peduli padanya, dulu tidak ada yang mau tahu apa yang Keisha rasakan dan dulu Keisha hanya bisa merasakan rasa sakit sendirian tanpa tahu di mana tempat dirinya bisa berbagi kesedihan nya.


Pedih, pilu dan kecewa sudah menjadi makanan sehari-hari Keisha. Bahkan saat setelahnya menikah pun dirinya masih di berikan rasa sakit yang begitu sakit bahkan rasanya Keisha ingin m4ti karenanya.


"Kenapa melamun nak?" tanya Selena yang sedari tadi melihat Keisha hanya melamun menatap keduanya yang nampak duduk di tepi ranjang rumah sakit.


"Tidak Ma." Dengan nada bergetar Keisha menjawab dan kali ini air matanya lolos begitu saja.


Keisha kira tidak akan ada yang peduli dengan keadaannya sekarang. Nyatanya kini berdiri dua orang yang berbeda usia dengannya menatapnya dan tersenyum begitu tulus untuknya.


"Hei, kenapa menangis sayang?" tanya Selena yang segera menyeka air mata Keisha.


Keisha terkekeh merasa lucu dengan apa yang membuat nya menangia sekarang ini. "Tidak Ma, hanya saja aku terharu ternyata masih ada orang yang peduli dengan wanita malang ini,"

__ADS_1


"Kau ini berbicara apa nak? Siapa yang malang? Kau bukan wanita malang tetapi kau adalah putri kami yang tersayang," ujar William yang mengelus lembut surai hitam milik Keisha.


"Cepat buka mulutmu dan makan ini," titah Selena.


•••


Kini sudah masuk jam makan siang, Selena pergi sebentar untuk memberi kan Keisha makanan. Awalnya Selena akan meminta seseorang menjaga Keisha namun wanita itu menolak dengan alasan dirinya kini sudah merasa baik-baik saja. Tak ingin memaksa Selena pun mengiyakan hal itu dan tetap meminta Keisha di jaga oleh dokter yang berada di luar.


Dan tentu William kini tengah berada di perusahaan menangani masalah yang di buah putranya. Untungnya William pintar menutupi masalah itu dengan bumbu-bumbu alasan yang dapat diterima secara logika.


Langkah kaki besar mendekat ke arah pintu kamar Keisha. "Apakah anda---" ucapan dokter itu terpotong melihat wajah pria yang baru saja dirinya ajak berbicara.


"Aku suami wanita di dalam," ujarnya dan tebak kan kalian benar. Itu Aldrich.


Aldrich masuk setelah mengatakan hal itu melihat Keisha yang nampak mengusap perutnya membuat Aldrich mengerutkan keningnya. Apa ini


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Aldrich yang mengagetkan Keisha sontak langsung menghentikan kegiatan nya mengusap perut.


"Tu---tuan?"


"Saya bertanya apa yang sedang kau lakukan tadi?" tanya Aldrich lagi.


'Jelas-jelas tadi dia mengusap perutnya, tidak mungkin dia hamil kan? Mana mungkin seseorang hamil jika mengkonsumsi obat kontrasepsi?' pikir Aldrich yang menepis pikiran jika wanita di hadapannya ini hamil.


Bukan itu yang saat ini penting untuk Aldrich pikirkan.


"Ngomong-ngomong kenapa tuan kemari?" tanya Keisha yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan melihat Aldrich yang sedari tadi diam.


"Aku kesini hanya ingin memberitahukan kepadamu tentang harta gono-gini. Tenang saja, aku akan memberi mu harta yang tidak akan membuatmu miskin selama 2 generasi, bagaimana?" tawar Aldrich seolah-olah tidak ada masalah apapun di antara mereka. Dengan berani dan tanpa rasa bersalah Aldrich kembali menorehkan luka untuk Keisha.


"Aku tahu jika kau pasti merasa pusing memikirkan bagaimana kehidupan mu selanjutnya kan? Tenang saja aku tahu setiap pemikiran wanita itu pasti tentang harta kan? Aku sudah memberitahu kan ini kepada Hans dan---"


"Cukup tuan! Cukup anda memperlakukan saya seperti ini! Saya tahu posisi saya, dan yah anda tidak perlu repot-repot memberikan saya harta anda yang mungkin tidak akan berguna untuk saya. Sebaiknya anda simpan baik-baik karena kekasih anda mungkin lebih membutuhkan harta anda di bandingkan saya yang sudah jadi mantan istri anda!" cecar Keisha yang kali ini dia akan melawan.


Aldrich menyinggung senyuman miring menatap remeh wanita di depannya ini. "Ck! Wanita rendahan! Aku sudah baik-baik datang ke sini untuk memberi mu kesempatan untuk---"


"Untuk apa tuan? Kesempatan untuk mempermalukan saya?! Kesempatan untuk menyakiti saya lagi, Iyah?! Apakah tuan tidak melihat diri anda sendiri, anda jauh lebih rendah dari pada saya!" hina Keisha yang membuat Aldrich langsung bungkam sekaligus geram.


"Tarik kata-kata mu itu! Apa kau pikir dengan adanya orang tua ku di belakang mu bisa membuatmu seenaknya saja dengan ku, hah?!" bentak Aldrich yang tangannya sudah melayang hendak menampar Keisha.

__ADS_1


Keisha menutup matanya sebelum itu Aldrich kembali di sadarkan. Tidak! Dia tidak bisa menyakiti wanita di depannya ini, melihatnya ketakutan saja sudah membuat pertahanan nya runtuh.


"Aku tidak menyakiti mu karena mengingat orang tuaku, jika saja tidak maka aku benar-benar akan melenyapkan mu sekarang ini. Dan yah satu hal lagi, jauhi keluarga ku karena kita sekarang sudah tidak ada hubungan," tekan Aldrich yang langsung pergi dari sana.


Aldrich menghilang dari balik pintu, Keisha menangis. Iya wanita itu menangis, membayangkan bagaimana dirinya menghina Aldrich membuatnya menyesal seharusnya dia tadi diam. Diam dan menerima hinaan Aldrich. Keisha merasa bersalah dengan hal itu namun juga sakit saat hinaan Aldrich juga terlontar dari mulutnya membuat nya juga ikut terluka. Sepertinya mereka impas.


"Ma---maafkan ibu nak, maaf karena telah menghina ayahmu di depanmu," lirih Keisha yang mengusap pelan perut nya dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


Selena baru saja sampai melihat Keisha menangis membuatnya langsung menghampiri Keisha yang nampak terpuruk kembali.


"Sayang, Keisha? Kenapa kau menangis nak?" tanya Selena dengan khawatir.


"Tidak Ma--- Keisha hanya merasa tidak enak badan," bohongnya.


"Dimana? Mana yang sakit, biarkan Mama memanggil dokter yah sayang." Selena hendak pergi memanggil dokter yang berada di luar namun segera di hentikan oleh tangan Keisha yang menahannya.


"Tidak perlu Ma, Keisha sekarang sudah baik-baik saja," kata Keisha.


Selena menghela napasnya dan tersenyum serta mengelus lembut pipi Keisha yang masih basah karena jejak air mata. "Sabar yah sayang, Mama tahu ini berat. Tapi Mama yakin kamu pasti bisa."


Keisha mengangguk pelan dan membalas senyuman Selena dengan senyuman manis. Sejujurnya hatinya ini benar-benar tidak rela melepaskan Aldrich, cintanya terlalu besar namun rasa sakitnya jauh lebih banyak dan mau tak mau dirinya harus memilih melepaskan cintanya.


William baru saja sampai di rumah sakit melihat pemandangan di maan Selena tengah memeluk erat Keisha yang nampak sedih dan terpuruk kembali.


"Kenapa dua wanita kesayangan ku ini?" tanya William yang berusaha mencairkan suasana.


"Will? Kenapa cepat sekali kau pulang?" tanya balik Selena yang segera melepaskan pelukan Keisha saat menyadari kedatangan William.


"Emm, aku sayang mengantarkan ini," jawab William yang menyodorkan sebuah surat. Yah tebakan kalian benar kembali. Itu surat cerai.


"Apa ini?" tanya Selena.


"Surat cerai Al dan Keisha," jawab William yang menatap Keisha yang tidak menunjukkan ekspresi nya.


"Sayang---"


"Maaf kan Keisha karena baru memberitahu kan hal ini kepada Mama dan Daddy. Tetapi Keisha sudah bercerai dengannya kemarin jadi Daddy tidak perlu repot-repot mengurusi perpisahan ku," balas Keisha dengan senyuman.


...#bersambung...

__ADS_1


__ADS_2