
'Brukk!'
Aldrich langsung berlari memukul Hans hingga pria itu tersungkur ke samping sofa. Aldrich dengan mata yang masih memerah menatap tajam Hans. Dirinya dengar semuanya.
"Ternyata kau yang telah menyembunyikan Keisha!" Aldrich kembali melayangkan dia pukulan ke pipi kiri dan kanan Hans.
"Hentikan Tuan!" teriak Keisha yang terkejut dengan kedatangan Aldrich. Bagaimana, bagaimana pria ini bisa tahu di mana dirinya tinggal.
"Apa kau tahu bagaimana menderita nya aku gara-gara kau si4lan! Hah?!" Aldrich lagi dan lagi memukul Hans sesekali juga pria itu menendang perut Hans. Pria itu sudah terlukai lemas.
"Hentikan! Ku mohon hentikan tuan!" ucap Keisha melemah dirinya lagi-lagi tak tahu harus bagaimana.
"Hans! Tuan hentikan! Kau hampir membunuhnya tuan!" teriak Keisha, melihat bagaimana Hans sudah hampir kehilangan kesadaran nya.
"Jangan hentikan aku Keisha! Aku akan membunuh bedebah ini di sini!" ungkap Aldrich yang membuatnya semakin brutal memukuli Hans.
"Tu---an ku mohon jangan, jangan lukai Hans lagi tuan! Ini bukanlah kesalahan Hans tapi kesalahan ku tuan!" balas Keisha yang membuat Aldrich menghentikan tindakannya dan berbalik menatap Keisha yang nampak menangis di sana.
"Aku yang sudah merencanakan ini semua tuan, Hans hanya membantuku sedikit," lanjut Keisha.
•••
Kini mereka sudah berada di rumah sakit, tempat di mana Hans di bawa oleh Keisha. Jangan lupa Aldrich kini sedang duduk berdampingan dengan Aliza dan Keisha.
"Paman?" panggil Aliza yang membuat Aldrich menoleh dan tersenyum manis padanya.
"Iyah girl, ada apa?" tanya Aldrich yang membuat fokus Keisha teralihkan.
"Paman---"
"Jangan berbicara dengan orang asing Liza," potong Keisha cepat yang membuat Aldrich menatap Keisha kebingungan. Aku? Orang asing?
"Tapi Mami, dia paman baik kok," balas Aliza yang mendongak menatap Keisha yang nampak balik menatap Aldrich.
"Kita tidak boleh menilai orang hanya dari luarnya saja Liza, sifat juga penting dalam penilaian!" cibir Keisha.
"Tapi Mami, gulu Liza---"
"Sejak kapan Liza membangkang begini? Turuti saja ucapan Mami," potong Keisha dengan cepat dan lalu kembali lagi menatap Aldrich.
Aldrich tersenyum menatap Aliza yang menggulum bibirnya menatap Aldrich juga. Rasanya Aldrich ingin membentangkan kedua tangannya menarik gadis kecil itu ke dalam dekapannya. Aldrich ingin memeluk anaknya sekali lagi, darah dagingnya yang begitu dirinya rindukan.
"Turuti saja kata Mami mu, kau tidak ingin jadi anak durhaka kan?" tanya Aldrich yang membuat Aliza mengangguk cepat.
Dokter pun keluar dari ruangan Hans membuat Keisha segera berdiri mendekat kearah dokter dan mengendong Aliza kembali. Begitu pun dengan Aldrich, nampak masih belum puas memukuli Hans.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Keisha yang terlihat begitu khawatir.
__ADS_1
"Tidak ada masalah yang serius bu, dia hanya menderita patah tulang tangan bagian kiri dan beberapa bagian tubuhnya tidak memiliki luka bagian dalam," jelas dokter.
"Syukurlah, apakah saya bisa masuk melihatnya dokter?" tanya Keisha kembali.
"Tentu bu, tetapi saya ingin bertanya satu hal. Apakah dia habis di pukuli? Nampaknya semua luka yang berada di sekujur tubuhnya bukanlah luka biasa seperti orang baru saja di pukuli secara brutal."
"Yah, saya tadi menemukannya sudah seperti itu dok," jawab Keisha yang melirik ke arah Aldrich yang nampak memasang wajah datar.
"Kalau begitu saya permisi dulu bu, pak!" Dokter tersebut langsung pergi dari sana. Keisha kembali menatap tajam Aldrich.
"Jangan masuk jika kau ingin kembali menambah lukanya," kata Keisha yang kemudian pergi dari sana. Masuk ke dalam ruangan yang kini di tempati Hans. Nampak pria itu masih bisa tersenyum dengan kondisi muka yang bengkak serta lebam.
"Lihat kondisi mu Hans." Keisha menatap jega Hans yang nampak terkekeh di depannya.
"Berhenti tertawa," ujar seseorang di belakang Keisha membuat kekehan Hans berhenti dan langsung berubah menjadi wajah ketakutan.
"Bisa-bisa nya kau terkekeh di depan ku!" ucap Aldrich.
"Paman? Kenapa paman pada pada Uncle?" tanya Aliza yang menatap Aldrich.
"Begini---"
"Sudah Mami bilang kan? Kalau paman yang kau sebut baik ini belum tentu baik Aliza," potong Keisha.
"Maafkan saya tuan," lirih Hans yang membuat ketiganya langsung fokus kembali pada Hans yang nampak begitu menyedihkan.
"Sudah aku katakan kan, jika semua ini adalah rencana ku," sela Keisha.
Seolah tidak peduli Aldrich melangkah mendekati Hans yang nampak ketakutan sekarang ini.
Aldrich meriah kerah baju Hans membuat pria itu tertarik ke arah Aldrich lebih dekat. Mata Aldrich menatap Hans penuh dendam tidak menyangka orang yang dirinya percayai setengah m4ti ini berkhianat padanya.
"Ini masih belum ada apa-apa nya Hans, jika Keisha tidak menghentikan aku maka ku pastikan may4t mu akan ku beri kepada Harimau peliharaan ku," tekan Aldrich yang membuat Hans menelan saliva nya dengan kasar.
"Tuan! Hentikan perilaku anda, apakah anda tidak melihat bagaimana anda melukai bawahan anda sendiri?!" teriak Keisha yang membuat Aldrich langsung melepaskan Hans dan berbalik menatap Keisha.
"Ayo kita bicara," ajak Aldrich.
"Saya tidak berminat dengan ajakan anda," balas Keisha cuek.
"Kalau begitu siapa ayah dari Aliza?" tanya Aldrich spontan yang membuat Keisha nampak diam dan menatap Aliza yang nampak ikut menatapnya.
"Tuan---"
"Diam Hans! Kau tidak di ajak dalam pembicaraan ini," potong Aldrich.
"Aku tanya sekali lagi Keisha, siapa ayah dari Aliza?" tanya Aldrich yang meskipun sudah tahu jawabannya tetapi dia ingin mendengar jawaban itu sendiri dari mulut Keisha.
__ADS_1
"Itu bukan urusan anda, dan yang terpenting ayah nya bukan anda!" jawab Keisha.
"Ck! Oh yah?"
"Liza? Paman tanya siapa ayah mu sayang? Apakah paman bisa bertemu dengan ayahmu?" tanya Aldrich yang balik menatap Aliza yang nampak ketakutan di dalam dekapan Keisha.
"Mami..."
"Berhenti menanyakan kehidupan pribadi saya tuan, sebaiknya anda pergi dari sini!" usir Keisha.
"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaan ku! Aku tidak beranjak dari tempat ini sebelum kau menjawab nya," putus Aldrich dengan kekeh.
"Kalau begitu biarkan saya saja yang pergi!" Keisha langsung melangkah keluar dari sana meninggalkan Aldrich yang juga langsung mengejar Keisha.
Keisha mempercepat langkahnya saat Aldrich ikut mengejarnya, hingga wanita itu tidak sengaja menabrak seseorang.
'Brukk!'
Keisha sedikit terdorong kebelekang tetapi itu tidak membuatnya bersama dengan Aliza terjatuh.
"Chelsea? Kau tak apa?" tanya Gilbert yang sebuah kebetulan bertemu dengan Keisha di sini. Pria itu memegangi bahu Keisha.
"Ah Gilbert, aku tak apa. Eh tolong bawa aku pergi dari sini Gil!" ucap Keisha yang membuat Gilbert nampak kebingungan.
"Kenapa? Kamu di kejar sama orang jahat?" tanya Gilbert yang melihat Keisha ketakutan. Hingga tanpa sadar seorang pria mendekat ke arah Keisha. Menarik Keisha ke sampingnya dengan memeluk erat pinggang nya dengan posesif. Itu Aldrich.
"Jangan mendekati wanitaku," ujar Aldrich yang menatap tak suka Gilbert.
"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" teriak Keisha yang berusaha melepaskan dirinya dari Aldrich namun tenaganya kalah banyak dan hal itu pun menjadi sia-sia saja.
"Jangan memaksa nya Tuan, saya bisa melaporkan anda atas tindak kejahatan yang anda lakukan," balas Gilbert.
"Ck! Kejahatan? Kau tidak salah bicara, hah?! Sebaiknya kau bercermin dulu," jawab Aldrich dengan santainya.
"Untuk apa saya bercermin tuan? Saya tahu anda orang punya kuasa tetapi tidak baik menggunakan kuasa anda untuk menekan orang lain," nasehat Gilbert.
"Lucu sekali, kau menasehati ku? Atau kah menceramahi ku? Terdengar begitu bod0h, right?"
"Dan yah, kau pasti pria yang mengejar nya kan? Tatapan mu saja membuktikan jika kau menyukai nya," kata Aldrich dengan santai membuat Keisha membulat kan matanya. Mana mungkin Gilbert menyukainya. Tidak mungkin.
"Itu bukan urusan anda tuan! Sebaiknya anda melepaskan nya atau---"
"Atau apa, hah?! Kau ingin memukuli ku? Jika kau berniat begitu maka aku duluan yang akan menghancurkan kedua tanganmu," potong Aldrich.
"Sombong sekali anda, benar-benar manusia yang lupa akan dirinya sendiri. Memangnya anda ini siapa? Pacarnya? Atau---"
"Dia Istriku! Kau dengar? Dia istri dari Aldrich Xavier Rodriguez! I-S-T-R-I-K-U!" ungkap Aldrich.
__ADS_1
...#bersambung...