Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Ijin bekerja


__ADS_3

William mengambil ponsel yang di pegang Sarah, ia membuka isinya dan sesekali melirik wanita yang terpekur dengan tatapan kosong. Ada berbeda setelah Sarah pulang dari menagih utang temannya.


"Siapa nama teman yang berhutang padamu? Kenapa tidak ada nama siapapun di ponselmu ini? Apa tidak ada yang mau berteman denganmu?" ejek William.


"Iya, tidak ada yang mau berteman denganku lagi," ucap Sarah sendu. Niatnya memancing kemarahan Sarah, wanita itu malah semakin mengundang rasa penasarannya.


Tadi pagi saat Sarah bergegas pergi menemui kawannya untuk menagih hutang, William segera menyusulnya. Sebelumnya ia menitipkan Belle pada perawat dan memaksa adik bungsunya untuk menjaga Belle di rumah sakit.


Sayangnya ia kalah cepat dengan mobil hitam yang membawa Sarah pergi. Motornya terhalang bus yang memotong jalannya dan berhenti di halte tepat dihadapannya.


Sejak semalam Sarah menerima telepon dari seseorang dengan berbisik-bisik, ia sangat penasaran dan yakin ada hal yang disembunyikan oleh wanita yang ia nikahi itu. Dan rasa penasarannya kini semakin memuncak ketika ia tidak menemukan satupun kontak yang tersimpan di ponsel milik istrinya.


"Bagaimana, apa kamu berhasil menagih hutang temanmu itu? Dari wajahmu sepertinya tidak berhasil ya? Aah, sayang sekali padahal aku berharap kamu yang melunasi biaya rumah sakit ini," ujar William setelah menyalin nomer ponsel Sarah ke dalam ponsel miliknya.


Disinggung lagi masalah biaya, Sarah seolah kembali kesadarannya. Ia memandang penuh rasa kecewa dan sakit hati pada William.


"Aku tidak pernah meminta pelayanan mahal untuk Belle, tapi tak apa aku tetap berterima kasih padamu sudah memberikan yang terbaik untuk anakku. Aku memang miskin, tapi tak perlu kamu khawatir aku akan melunasi semua biaya rumah sakit ini." Sarah memberi penekanan pada kata anakku.


Ia ingin mengatakan pada William, kalau memang pria itu sudah muak dengan kehadirannya ia akan pergi setelah semua tugasnya terpenuhi. William sedikit terperangah, ia tak menyangka Sarah akan semarah itu. Padahal biasanya wanita itu berlaku seenaknya untuk masalah keuangan. Apa yang terjadi padanya di luar sana?


"Sesuai arahan Papamu, tolong ijinkan aku untuk bekerja di perusahaanmu. Tentunya dengan status sebagai istrimu, kamu tidak akan memberikanku pekerjaan rendahan di kantormu bukan?"


"Aku belum bilang menyanggupinya." William membuang muka. Ia sedikit kesal dengan sikap arogan Sarah. Ia lebih suka dengan Sarah yang pertama kali ia temui. Sarah yang bergantung padanya.


"Tapi Papamu yang meminta aku unt----"


"Kamu istriku jadi aku yang menentukan, bukan Papa!" seru William seraya berdiri dari duduknya. Matanya menatap tajam pada Sarah yang terdiam menatapnya bingung.


"Aku hanya ingin bekerja, bukan meminta uang darimu."


"Selama Papa pegang proyek di luar kota, aku yang bertanggungjawab di kantor. Selain itu selama kamu masih tercatat resmi sebagai istriku, tiap langkahmu harus sepengetahuanku!"

__ADS_1


"Sejak kapan kamu mengakui aku istrimu?"


Mulut William terbuka dan menutup tanpa suara. Ia bingung jawaban apa yang akan ia berikan untuk pertanyaan Sarah. Sejak kapan ia menganggap wanita ini istrinya? dan mengapa ia harus kecewa saat Sarah mengatakan Belle itu hanya anaknya?


"Karena di agama dan surat nikah, namamu tertulis sebagai istriku," ucap William cepat.


"Apa kamu akan merasa terganggu dengan kehadiranku di kantor? Mungkin kamu tidak bisa leluasa menjalin hubungan dengan Brenda jika aku ada di sana. Jangan khawatir, aku akan tutup mulut. Aku hanya bosan di rumah, aku ingin bekerja." Sarah bersikeras.


Tujuannya saat ini bertambah selain mencari tambahan uang untuk melunasi hutang Papanya, ia harus mencuri berkas milik perusahaan keluarga William.


William memicingkan mata, ia berpikir keras. Ada baiknya wanita itu selalu ada di dekatnya. Dengan bekerja di kantor miliknya, ia dapat mengawasi Sarah dan mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang telah ia nikahi.


"Baiklah, kalau itu maumu."


"Terima kasih. Andaikan kamu tetap ingin menjalin hubungan dengan kekasihmu, aku janji tidak akan mengatakan pada Papa dan Mamamu." Sarah membuat kunci di bibirnya.


William menyeringai diiringi dengusan kesal. Ia merasa Sarah sedang mengejeknya. Ketegangan mereka terurai saat dokter di dampingi perawat masuk ke dalam kamar inap Belle.


"Permisi, Bapak, Ibu. Saya mau menyampaikan hasil cek darah adek Belle pagi tadi. Syukurlah darah putihnya sudah normal, panas juga turun dan kondisinya juga stabil. Jadi besok sudah bisa dibawa pulang ya, Bapak, Ibu."


"Ahh, Belle akhirnya kita pulang." Sarah memeluk dan mencium pipi Belle yang sudah terlihat sehat merona.


"Kamu tak bisa kerja dulu sampai Belle benar-benar sehat," celetuk William seraya merebahkan tubuhnya di ranjang penjaga pasien.


"Tumben perhatian sama Belle."


"Orangtuaku yang minta." William berbalik memunggungi Sarah. Wajahnya yang putih tidak dapat dikondisikan jika memerah karena malu.


"Jika nanti aku kerja, aku tetap akan bawa dia ke kantor. Kata Papa ruang kerjamu ada kamar, jadi Belle bisa tidur di sana."


William tak menanggapi ia memejamkan mata pura-pura tak mendengar. Bahkan ketika Sarah menggoyangkan bahunya agar ia sebaiknya pulang ke rumah, tak dihiraukannya. Hampir sebulan berbagi kamar dengan seorang wanita dan seorang bayi, membuat tidurnya tak nyenyak jika sendirian.

__ADS_1


Keesokan harinya William langsung bersiap membawa pulang Sarah serta Belle ke rumahnya.


"Aku pulang naik taxi online saja, kamu naik motor 'kan?"


"Mobil," sahut William singkat.


"Bukannya kemarin ketemu di halte, kamu naik motor?"


"Anak buahku kemarin ambil mobil dari rumah lalu ganti dengan motor yang kubawa," ucap William sombong. Ia ingin menunjukan pada Sarah, bahwa dirinya punya kuasa penuh di perusahaan milik keluarganya.


"Kapan aku mulai bekerja? Dan berapa gajiku?" tanya Sarah saat mereka sudah ada di dalam perjalanan menuju rumah.


"Bisa berhenti menanyakan itu? Kamu sudah mengulangnya puluhan kali sejak semalam." William memandang Sarah gemas.


"Kamu belum menjawabnya."


"Tunggu Belle benar-benar pulih kataku, dan untuk gaji ... Ckk, sangat tidak pantas kau menanyakan hal itu."


"Perlu aku ingatkan, gajiku sebagai karyawan berbeda dengan nafkah yang kuterima sebagai istri." Sarah menyunggingkan senyum penuh arti.


"Ternyata kau memang wanita mata duitan!" umpat William.


'Aku terpaksa, Wil. Harga diriku kugadaikan demi Papaku'


Label yang disematkan William untuk dirinya sebagai wanita yang haus akan uang sungguh menyakitkan hatinya, tapi memang harus seperti itulah suaminya itu menilainya agar rencananya lancar tanpa mengundang rasa curiga.


Ia juga harus menjaga jarak dan perasaan agar mereka tidak saling jatuh cinta. Mungkin bagi Sarah bisa diatasi, karena ia tahu kebenarannya. Namun bagi William yang mengira bahwa pernikahan ini sah, bisa mendatangkan masalah bagi Sarah.


Pria itu sewaktu-waktu bisa meminta haknya sebagai suami, dan Sarah tak bisa membiarkan itu terjadi karena baginya pernikahan mereka tidak sah. Papanya masih hidup dan hanya Papanya yang berhak menikahkannya dengan siapapun pria yang akan menjadi pendampingnya di masa depan.


'Maafkan aku, William.'

__ADS_1


...❤️🤍...



__ADS_2