Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Mona


__ADS_3

"Siapa? Ganteng banget." Mata Mona menjelajahi William dari ujung kaki hingga kepala, "Pelanggan baru?" tebak Mona.


"Bukan," sergah Sarah cepat. Ia merasa malu kawannya berkata seperti itu di depan William.


"Kalian mau main di sini? Kenapa ga sewa hotel?" bisik Mona masih melanjutkan pertanyaannya. Matanya mengerling menggoda ke arah William.


"Mba Mona! Dia itu---"


"Saya suaminya, kami kemari mau mengambil kembali berkas yang dititipkan Sarah di sini," ujar William lugas.


"Su-suami? Kamu sudah menikah?" Mata Mona beralih pada Sarah.


"Nanti aku ceritakan, Mba. Berkas yang di duplikat kemarin mana, Mba mau aku bawa kembali."


Seketika raut wajah Mona berubah menjadi serius. Senyum jahil di wajahnya menghilang. Ia berjalan mendekati pintu lalu menguncinya. Ia juga menutup gorden, memastikan tidak ada celah di jendelanya.


"M-mba ada apa?" Sarah dan William saling berpandangan bingung.


"Hanya memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan kita. Kalian yakin kemari tidak ada yang membuntuti?" tanya Mona dengan pandangan menyelidik.


Sarah memandang kawannya itu dengan pandangan aneh. Mona yang ia kenal sebelumnya dapat berubah dalam sekejap.

__ADS_1


"Kurang tahu, Mba. Sepertinya tidak ada ya?" Sarah menoleh pada William memastikan kalau apa yang ia katakan itu benar.


"Anda sebenarnya siapa?" Tak menanggapi pertanyaan Sarah, William mengajukan pertanyaan pada Mona dengan mata memicing waspada.


Mona tertawa kecil sembari membuka lemari bajunya lalu mengambil sesuatu dari sana, "Saya di pihakmu, jangan khawatir." Mona menaruh berkas asli milik William serta lencana miliknya di atas meja.


"Po-polisi. Mba Mona polisi?!" seru Sarah terkejut.


"Sssttt! Suruh diam istrimu, kalau perlu bungkam dengan bibirmu," sergah Mona kesal. William langsung menarik tangan Sarah dan menyembunyikan gadis itu di balik tubuhnya.


"Saya sudah bertugas di sini selama lima tahun. Kamu tahu banyak kejahatan di lingkungan yang saya geluti dan tugas saya sebagai mata-mata, bukan eksekutor. Satu tahun terakhir saya mendapat tugas mengawasi salah satu pemimpin gembong mafia yang sering datang ke tempat saya bertugas." Mona mengeluarkan sebuah foto dari dalam berkas milik William.


"Aku tahu orang ini. Dia yang menahan Papaku." Sarah menunjuk foto pria bengis bertatto yang ditunjukan Mona dengan semangat.


"Mba Mona tahu semuanya?" Tak habis-habisnya Sarah terkejut dengan kenyataan baru ini.


"Kamu kira aku kebetulan menemukanmu yang sedang kedinginan dan kelaparan di dalam gang yang sempit?"


"Aku kira Mba Mona benar baik sama aku. Lalu kalau benar Mba Mona polisi, kenapa tega menjerumuskan aku jadi pekerja **** komersial juga?" sembur Sarah kesal. Ia lupa ada William di sebelahnya.


"Loh, aku ga pernah menyarankanmu jadi pelacur, bukannya yang minta kerjaan waktu itu kamu sendiri? Lagian, aku tidak melakukan seperti yang kamu pikirkan. Dengar ya anak kecil, tugasku hanya mengawasimu soal kamu mau rusak atau tidak, itu bukan urusanku. Untung dia yang menyewamu, mungkin takdir sudah digariskan antara kalian," ujar Mona acuh sembari meyalakan sebatang rokok.

__ADS_1


"Aku ga yakin Mba Mona polisi." Sarah melipat kedua tangannya di dada dengan wajah tertekuk.


"Terserah, bukan urusanku kamu mau percaya atau tidak. Sampai di sini tugasku mengawasi kamu sudah selesai, tinggal pria itu yang menjadi urusanku." Mona menunjuk foto pria bengis yang berada di atas meja.


"Satu lagi, Sarah jangan karena penampilanku dan duniaku ini kamu memandang sebelah mata. Kamu yang anak manja, tidak akan tahu bagaimana rasanya bertugas di tempat semacam itu." Mona menunjuk Sarah dengan rokok di tangannya, "Lagipula kamu yang memutuskan pergi dari sini tanpa memberitahuku."


"Sudah, sudah. Maafkan Sarah, Mba, dia memang belum paham dan mungkin masih bingung dengan situasi yang terjadi." William memisahkan Sarah dan Mona dengan menarik tangan Sarah dan menyembunyikan gadis itu di balik tubuhnya.


"Ambil berkas milikmu dan hati-hatilah mulai dari sekarang."


"Bagaimana dengan Mba Mona, setelah ini pasti Mba jadi incaran mereka," ucap William sembari mengambil berkas miliknya dari atas meja.


"Kamu ga usah mikirin aku, di luar sana banyak yang memantau rumah susun ini." Mona tertawa geli "Kamu harus segera membawa berkas ini ke Papamu, Wil, beliau hanya mengandalkan ini agar bisa keluar dari sana dengan selamat."


"Baik, Mba terima kasih kami pulang dulu," ucap William seraya menggamit tangan Sarah.


"Tunggu dulu." Mona memberi kode dengan jarinya pada William agar mendekat, "Jaga baik-baik gadis bawel itu, karena dia kelemahanmu dan Tuan Anderson. Kalau dia sampai tertangkap lagi, aku yakin kamu dan Papanya tidak akan bertahan," bisik Mona. William hanya mengganguk dan menggumamkan kata terima kasih.


"Ngomongin apa?" tanya Sarah curiga.


"Aku bilang sama suamimu, kalau bosan denganmu dan butuh kehangatan bisa datang kemari," ucap Mona tergelak.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2