Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Lari


__ADS_3

Tertatih dan tersandung, Sarah terus berlari sekuat tenaganya, sedangkan pria itu semakin cepat mendekatinya.


"Tolooong ...." Sarah terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Kakinya terkilir, ia tidak sanggup berdiri lagi. Dengan sisa tenaganya ia menyeret tubuhnya dengan susah payah.


"Sssttt! Jangan bersuara!" Tangan kasar pria itu membekap mulutnya. Sarah tak dapat melihat jelas wajah pria itu karena gelap dan linangan airmatanya menutupi pandangannya.


"Tolong jangan sakiti saya." Di sela-sela tangan pria itu Sarah masih bisa berbicara lirih.


"Sudah dibilang diam! Jangan bergerak dan bersuara!" hentak pria itu dengan suara berbisik.


Pria itu menekannya ke tanah tenggelam di antara rumput yang tinggi. Sarah sungguh sangat ketakutan. Di benaknya sudah tergambar jika pria asing itu akan berbuat yang tak senonoh padanya.


Pria itu terus membekap mulutnya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sarah yang tergeletak di atas tanah. Sarah meraung tanpa suara. Mata pria itu menatapnya tajam memberi peringatan.


Seberkas cahaya senter berlari-larian di sela pohon dan dedaunan. Pria itu semakin membenamkan Sarah di tengah rerumputan yang tinggi.


"Cari di sana, kita harus segera menemukan perempuan itu!"


"Dia tidak akan bisa lari jauh."


"Cepat kamu kesana, aku cari di sebelah sini!"


Suara marah serta panik mengiringi cahaya senter yang semakin mendekat ke arah mereka. Pria itu berkata pelan dan mengancam, "Jangan bergerak dan bersuara sedikitpun."


Sarah diam tak bergerak dan hampir tak bernafas selain karena takut dan sesak karena tekanan tangan pria itu. Perlahan-lahan suara-suara itu terdengar semakin jauh. Tak ada lagi cahaya senter yang saling beradu, suasana kembali menjadi gelap gulita.


"Aku akan lepas tanganku dan jangan berani bersuara kalau kamu tidak ingin disekap oleh mereka lagi." Pria itu perlahan-lahan melepaskan tangannya dengan mata masih mengawasi pergerakan Sarah.


Pria itu mengambil alat komunikasi dari dalam bajunya lalu berbicara sembari mengawasi Sarah, "Merak sudah di tangan. Elang dan kelinci tidak terlihat."


"Bawa ke titik 0." Suara di seberang sana menyahut.


"Siap, laksanakan." Pria itu memasukan alat komunikasi ke dalam bajunya, lalu menarik tangan Sarah agar berdiri, "Ayo."


"M-mau kemana?"


"Cepat dan terus menunduk." Pria itu mendorong kepala Sarah agar tak melebihi tinggi rumput ilalang di sekitarnya.

__ADS_1


Setelah setengah jam berjalan kaki melintasi hutan dan padang rumput, mereka akhirnya sampai di tepi jalan yang sangat sepi. Pria itu menggiring Sarah ke arah mobil yang terparkir di sudut gelap jalan itu.


"Masuk." Pria itu membuka pintu tengah mobil dan mendorongnya masuk ke dalam.


"Ga mau." Sarah menolak untuk masuk. Di dalam mobil itu ada dua pria lagi yang duduk di kursi bagian depan.


"Masuk!" Pria itu mendorong Sarah lebih keras.


"Jangan terlalu kasar, bisa tidak cair komisimu kalau wanita ini mengadu pada bos," ancam pria lain yang duduk di dalam mobil.


"Maaf, dari tadi sedikit merepotkan. Dia hampir saja tertangkap lagi."


"Mari segera masuk, Bu Sarah kami datang untuk menyelamatkan anda." Pria di dalam jauh lebih santun dan sabar.


Mata Sarah mengawasi satu persatu pria di sekitarnya dengan waspada. Ia masih trauma naik mobil bersama orang asing dan ditutup matanya. Pria yang berdiri di belakangnya mendorongnya masuk ke dalam mobil, ketika terdengar suara orang saling berteriak dan gesekan daun dari jauh.


"Masuk cepat!"


"Jalan, Meng!" Pria di depan menepuk bahu sang sopir.


Kendaraan itu melaju kencang menyusuri jalan raya lintas kota yang sangat sepi.


Sarah bergeming duduk di pojok sembari melipat kedua tangannya di dada. Matanya terus mengawasi tiga pria yang berada dalam satu mobil dengannya. Lelah selama tiga hari dalam penyekapan dan sepanjang malam berlarian di dalam hutan yang dingin, membuat Sarah tak dapat menahan kantuk yang menyerangnya.


Matanya yang terasa berat perlahan terbuka ketika tubuhnya terasa melayang di udara. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah orang yang sangat dirindukannya.


"Wil," panggil Sarah lirih.


William yang sedang menggendong Sarah menunduk dan tersenyum, "Kita pulang, Sarah."


William menaruh istrinya di bangku depan mobil dan memasangkan sabuk pengaman. Sebelum ia menutup pintunya, William mengecup pipi dan kening Sarah dengan lembut.


"Maaf, Bos kami belum dapat menjemput Tuan Anderson dan bayi itu." Orang bayaran William memberikan laporan pengamatannya.


"Apakah mereka ada di sana?"


"Kalau Tuan Anderson saya yakin ada, tapi kalau bayi itu sepertinya sudah dibawa ke tempat lain, Bos."

__ADS_1


"Kamu yakin?"


"Saya akan perluas lagi pencarian, jangan khawatir."


"Awasi terus gedung itu, jangan lengah. Tak perlu menyerang, karena sebentar lagi polisi yang akan bergerak. Tolong temukan saja bayi itu di bawa kemana."


"Saya mencurigai kalau bayi itu akan dijual ke luar negeri."


"Cepat temukan!" Rahang William mengeras.


"Siap, Bos."


William menarik nafas panjang dan menampilkan wajah tenang sebelum masuk ke dalam mobil.


"Tidurlah lagi, kamu aman sekarang." William mengusap rambut Sarah.


"Wiil, aku minta maaf." Sarah menggapai tangan William dan menciumnya sembari menangis.


"Tenanglah, Sarah. Semua akan baik-baik saja, kamu istirahat saja dulu. Nanti di rumah kamu boleh cerita apa saja."


William tak membuang waktu, ia langsung melarikan mobil menuju rumahnya. Ia tidak tega melihat keadaan fisik Sarah yang terlihat sangat berantakan dan penuh luka di sekujur tubuhnya.


Sampai di rumah, William kembali menggendong istrinya naik ke atas kamar. Tanpa berkata apapun dan meminta ijin terlebih dulu, William membuka seluruh pakaian Sarah tanpa tersisa sehelai benang pun.


"Wil!" seru Sarah kaget. Namun dengan kondisi yang masih sangat lemah, ia tak sanggup menghentikan niat suaminya.


Sarah merapatkan kedua kakinya serta menyilangkan kedua tangannya untuk menutup dadanya. William pergi meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Hanya sebentar, William kembali lagi menghampiri Sarah yang duduk di tepi ranjang. Sekali lagi pria itu mengangkatnya dan membawanya ke dalam kamar mandi. William mendudukannya di atas kloset dan membasuh tubuh dan rambut Sarah dengan air hangat.


Tanpa bersuara, William membasahi dan menyabuni tubuh polos istrinya yang belum pernah ia sentuh bahkan lihat sejelas ini. Bulu tubuh Sarah meremang tiap kali kulit tangan suaminya menyentuh kulitnya yang telanjang.


Sarah membuang pandangannya ketika melihat ada yang bergerak menggembung di balik celana William.


"Tenanglah, aku tidak setega itu menyerangmu dalam kondisi seperti ini." Rupanya William tahu kemana arah lirikan mata Sarah.


"Sudah cukup," ucap Sarah lirih. Ia masih dalam posisi awal. Kaki yang rapat serta tangan menutupi dadanya.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2