
"Kamu tunggu di sini!" William tersentak kebelakang saat sebuah tangan mencekal dan menarik lengannya keras. Pak Suntoro, kepala penyelamatan waktu di daerah B menatapnya penuh peringatan.
"Bapak ngapain di sini?" tanya William heran. Sepengetahuannya polisi tidak tahu menahu perihal aksi penyergapan malam ini, karena misinya bersama orang suruhannya hanya menyelamatkan Papa Sarah dan bayi angkatnya.
"Seharusnya saya yang tanya kamu, ngapain kamu ada di sini?" Pak Suntoro balas bertanya tanpa menatapnya. Mata Pak Suntoro memicing di antara rerimbunan dahan dan daun, mengawasi gedung kosong yang terbengkalai di tengah hutan kota.
"Sa-saya ...." William terbata memikirkan jawaban yang tepat dan aman untuk dirinya.
"Berusaha melakukan aksi ilegal ... Lagi?" Ujung mata Pak Suntoro melirik sekilas.
"Ilegal?" ucap William dengan nada tak terima karena merasa disudutkan.
"Tetap di sini!" ucap Pak Suntoro tegas seraya berjalan maju.
"Tung ----" Kalimat William terhenti karena dua orang polisi bertubuh besar menariknya paksa dan menutup mulutnya, "Hei, kalian tidak berhak menahan ku di sini!" William berontak tapi kekuatannya kalah kuat dibanding kedua polisi itu.
"Diam lah, jangan menambah tugas kami lagi. Kami memang tidak bisa menahan mu, tapi atasan kami bisa menahan mu di dalam sel dengan pasal berlapis," ujar salah seorang polisi sembari memaksa William masuk ke dalam mobil dan menutupnya dari luar.
"William, Williaaam, ketemu lagi kita di sini." Mona kawan Sarah yang menyamar sebagai PSK bersandar di pintu mobil yang kacanya sedikit terbuka.
"Kamu ngapain di sini, Mon?" Pertanyaan sama yang ia lontarkan pada Pak Suntoro.
"Sama dengan Pak Suntoro, 'kan dia komandanku." Mona menyeringai mengejek.
"Kenapa kalian tidak bilang kalau mau ada aksi penyergapan malam ini?" protes William.
"Hei, anak manja. Justru karena kamu yang sok ingin jadi pahlawan, aku yang seharusnya menikmati libur panjang, karena habis menangani kasus Papamu di tanah Hulu selama hampir sebulan, harus kembali bertugas dan berada di tengah hutan malam ini!" seru Mona jengkel.
"Aku ga minta." Kepala William menggeleng tak bersalah.
"Papamu yang minta, beliau takut anak kesayangannya digoreng para bandit," cetus Mona seraya berjalan menjauh.
"Hei, hei Monaa!" panggil William dari celah jendela yang terbuka.
__ADS_1
"Ssstttt! Apa harus kami masukan kamu ke dalam bagasi mobil?!" Mona berbalik cepat, "Satu lagi jangan panggil aku Mona, namaku Mira!"
"Maaf, aku boleh ikut? Aku janji tidak akan mengacau. Aku hanya ingin memastikan mertua dan anakku selamat," ucap William memohon.
Mirna alias Mona tak menjawab, wanita yang merubah rambutnya menjadi cepak itu hanya memberi kode pada kedua polisi yang berjaga di samping mobil untuk lebih mengawasi William agar jangan sampai keluar dari mobil.
"Papa!" Merasa rayuannya tak berhasil, William menggeram gemas sembari menekan nomer di ponselnya. Panggilan di seberang sana tak terjawab, ia lantas mengakhiri usaha menghubungi Papanya.
William bersandar pasrah di mobil polisi yang biasa digunakan untuk membawa tahanan, sementara orang yang berusaha dihubunginya tadi berhasil memejamkan mata dengan senyum lebar di bibirnya.
"William sebenarnya ada di mana, Pa?" Lea, Ibu William bertanya pada suaminya yang tampak tenang setelah menerima panggilan dari seseorang.
"Camping sama temannya," jawab Papa William asal.
"Kok Sarah ditinggal gitu aja tanpa kabar, ga betul ini."
"Sudah, tak usah mencampuri urusan anak muda. Mungkin mereka berdua sudah saling menghubungi satu sama lain." Papa William mematikan lampu meja lalu meraih istrinya ke dalam pelukan.
"Sstt, Bang ... Bang!" panggil William pada seorang polisi yang sedang menjaganya. Polisi berkaos hitam itu melirik sekilas lalu kembali berkonsentrasi mendengarkan suara dari saluran radio panggil yang terhubung langsung ke telinganya, "Bang, bagaimana kondisi di sana?" tanya William.
"Anggota sudah mulai menyelusup masuk bersama team yang anda bayar," ucap polisi itu waspada.
"Kenapa sepi?" tanya William sembari melongok kan kepalanya dari balik jendela.
"Lebih suka ramai dengan suara tembakan dar der dor?" sindir polisi satunya, "Kalau bisa meringkus dengan tangan, kenapa harus dengan senjata yang resikonya lebih besar?"
William menganggukkan kepala sedikit tak peduli dengan penjelasan polisi itu, yang ia khawatirkan dan tunggu hanyalah kabar Papa Sarah serta bayi angkatnya selamat.
Setengah jam kemudian, tampak dari kejauhan beberapa polisi menggiring para pelaku dengan tangan di atas kepala mereka.Tampak juga beberapa korban berlarian dengan baju lusuh tapi wajah mereka berbinar lega. Sebagian menangis haru dan mengucap syukur berulangkali.
William mengambil kesempatan keluar dari dalam mobil, ketika polisi yang bertugas menjaganya fokus membantu kawannya. William menyelusup di antara para korban mencari sosok pria dengan berbekal selembar foto di tangannya.
"Bos!" panggil salah seorang bayarannya. Pria bertubuh tinggi besar itu sedang menuntun seorang pria tua berkaos putih lusuh. Di belakang orang bayarannya, tampak Pak Suroso berjalan tergesa dengan ponsel di telinganya.
__ADS_1
"Om Anderson?" William berjalan cepat menjemput pria tua yang di duga ayah dari Sarah.
Dari banyaknya tawanan berjenis kelamin pria, William sangat yakin pria yang dituntun orang bayarannya ini adalah Tuan Anderson. Walau penampilannya lusuh, raut wajahnya berwibawa serta memiliki rambut pirang blasteran mirip rambut panjang Sarah.
"Benar ini, Bos?" tanya orang bayarannya memastikan. William mengangguk yakin, sedangkan Tuan Anderson hanya diam pasrah memindai wajah William.
"Ray," ucap Tuan Anderson lirih. Tangan keriputnya membelai rahang William.
"Saya putranya," ucap William sembari mengambil alih menuntun ayah Sarah.
"Wil!" Baru saja William membantu ayah Sarah duduk di dalam salah satu mobil ambulans yang menolong para korban, Komandan Suroso memanggilnya.
"Tunggu sebentar ya, Om. Jangan khawatir, Om sudah aman. Putri Om, Sarah juga aman dan baik-baik saja," ucap William seraya menepuk tangan keriput yang menggenggam erat tangannya.
"William!, cepat kemari!" Komandan Suroso berseru tak sabar.
"Ada apa?"
"Kamu tidak ada merasa yang kurang?" tanya Komandan Suroso, "Anakmu belum ditemukan, Wil," ucap Komandan Suroso saat William terlihat bingung.
"Kita terlambat. Semua anak-anak di bawah 10tahun sore tadi sudah dibawa keluar dari sini, termasuk anakmu," tambah Komandan Suroso.
William mengedarkan pandangannya. Ia baru sadar semua korban berusia dewasa dan kebanyakan pria. Ia juga tidak mendapati wajah pelaku utama penyekapan. Pelaku yang ditangkap hanyalah anak buah yang bertugas menjaga, itu juga tidak banyak jumlahnya. Pantas saja polisi dengan mudahnya menyergap dan meringkus mereka.
"Lalu dibawa kemana anak-anak itu?"
"Anak-anak dan wanita remaja, informasi yang di dapat sedang dalam perjalanan menuju luar negeri," ucap Komandan.
"Aku ikut apapun yang akan anda lakukan!" ujar William tanpa berpikir panjang, "Anda pasti akan merencanakan penangkapan dan penyelamatan 'kan? Kapan?" kejar William memastikan.
"Malam ini juga, sebelum mereka diselundupkan di dalam kapal secara ilegal."
...❤️🤍...
__ADS_1