Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Dia benar anakku


__ADS_3

"Apalagi kalau bukan untuk kebutuhan wanita, Wil. Pertanyaanmu ini ada-ada saja." Sarah terkekeh menutupi rasa gugupnya.


"Kebutuhan wanita seperti apa? Kamu kira aku tidak tahu berapa besar pengeluaranmu selama ini, tapi tak satupun aku lihat benda yang kau beli sesuai dengan pengeluaranmu. Ini apa? Aku bukan pria bodoh yang tidak tahu bagaimana kualitas popok sekali pakai." William memegang popok Belle yang sudah terisi penuh. Popok yang dibeli Sarah memang sangat tipis, tidak seperti merk kenamaan lainnya.


"Kamu mau bilang apa? baju? Meskipun aku tidak pernah berbelanja di babyshop, tapi aku tahu kalau baju yang Belle pakai ini harganya sangat murah."


"Baju murah tidak selamanya jelek, Wil."


"Aku tidak bilang ini jelek, yang aku tanyakan kau buat apa kelebihan uang yang kuberikan untukmu?"


"Apa pantas seorang suami mempertanyakan kemana perginya uang yang sudah diberikan untuk istrinya?"


"Tak ada masalah bagiku jika uang itu untuk kau gunakan sendiri, tapi jika untuk menghidupi pria lain aku tidak bisa memaafkan kamu, Sarah. Aku masih menanti penjelasanmu tentang foto yang diambil oleh Brenda." William mengunci bola mata Sarah dalam tatapannya.


"Aku gunakan untuk bayar hutang," ucap Sarah sembari memalingkan wajah. Ditatap sedekat ini oleh pria yang menikahinya, cukup membuat hatinya bergetar.


"Hutang? Bukannya temanmu yang berhutang padamu?"


"Iya, tapi aku juga ada hutang dengan orang lain."


"Berapa hutangmu?"


Sarah kembali melihat ke arah William, apakah ia harus mengatakan jumlah hutang Papanya? bagaimana kalau suaminya ini pingsan mengetahui istrinya mempunyai hutang sebegitu besar.


"Tak banyak."


"Berapa? Lunasi semua, aku tidak ingin kamu menemui orang asing di belakangku. Kamu jangan salah sangka, aku berbuat seperti ini bukan karena peduli padamu," ucap William dengan wajah memerah, "Aku hanya tidak mau ada kolega perusahaan ini melihatmu atau bahkan tahu kamu berhutang pada orang lain. Mau taruh di mana mukaku, jika istri dari pemilik perusahaan ini masih mempunyai hutang," lanjutnya.


"Nanti aku lunasi. Maka dari itu aku ingin segera kerja dan punya penghasilan sendiri. Aku tidak mau membebanimu dengan hutang masa laluku."


"Sebutkan berapa sisa hutangmu, nanti aku lunasi. Anggap saja kamu berhutang padaku."

__ADS_1


Sarah menggigit bibir bawahnya, ia menimbang-nimbang permintaan William. Sebenarnya ini kesempatan bagus, setidaknya ia bisa keluar dari jeratan mafia. Namun ia juga sadar kalau niatan mafia itu tak hanya mengeruk keuntungan darinya, tapi mereka memanfaatkan dirinya untuk menjatuhkan bisnis keluarga William. Melunasi hutang papanya sekaligus, bukan berarti mereka akan dengan mudahnya melepaskan dia dan Papanya dari cengkraman mafia. Bisa saja akan menimbulkan masalah baru.


"Tulis di sini." William memberikan selembar cek ketika Sarah tak kunjung menyebutkan jumlah hutangnya.


Ia akhirnya menuliskan nominal yang tidak ada separuhnya dari hutang papanya pada mafia itu.


"Banyak sekali? Kamu berhutang apa pada orang itu?" William mengernyitkan keningnya melihat angka yang dituliskan Sarah pada selembar kertas cek miliknya. Benar saja, itu baru seperempat dari sisa hutang keluarganya, tapi William sudah terkejut apalagi kalau ia tulis seluruhnya pasti akan membuat William semakin mencurigainya.


"Aku berhutang untuk pengobatan papaku." Setidaknya ia tidak sepenuhnya berbohong, "Tapi aku masih tetap boleh bekerja di sini 'kan?"


"Terserah kamu," ujar William sembari menghubungi sekretarisnya menggunakan telepon yang ada di dalam kamar.


"Hubungi orang yang kau hutangi, kita akan sama-sama menemuinya untuk membayar sisa hutangmu."


"Tidak usah, biar aku sendiri." Sarah menolak dengan panik.


"Kenapa? jangan-jangan benar dia kekasih gelapmu."


"Oke, baiklah. Aku harap setelah ini kamu tidak menyembunyikan sesuatu di belakangku. Aku sedang mencoba percaya padamu, Sarah."


Sarah mengangguk lemah. Hatinya resah. Ia tidak ingin mengkhianati kepercayaan William, tapi ia juga harus melakukan apa yang diminta mafia itu agar dapat menyelamatkan papanya.


"Rupanya kamu benar-benar bekerja keras saat di pantry." William terkekeh sembari mengamati tangannya. Sekali lagi ia menghubungi sekretarisnya yang berada di luar sana.


Tak berapa lama, pintu kamar terdengar di ketuk dan wajah sekretarisnya muncul dari balik pintu, diikuti oleh Brenda di belakangnya setelah William mempersilahkan pintunya dibuka.


"Permisi, Pak. Ini yang Bapak minta." Sekretrisnya itu memberikan sebuah amplop coklat berukuran besar serta kotak P3K, lalu segera pamit undur diri kembali ke tempatnya bekerja.


"Wil, kamu kenapa lama sekali sih." Brenda mengeluh manja. William tak menanggapi ucapan Brenda, ia membuka kotak P3K lalu meraih tangan Sarah dan mengobati luka tangan istrinya yang terkena cipratan minyak panas serta goresan pisau.


"Astaga, manjanya. Mau cari perhatian ceritanya, nih?" ejek Brenda.

__ADS_1


"Kamu sudah selesai makan, Brenda?" tanya William tanpa menoleh.


"Sudah, Wil," sahut Brenda dengan intonasi suara yang lembut mendayu.


"Kamu boleh kembali ke ruang kerjamu. Ini sudah lewat jam istirahat, Bren tolong jangan beri contoh yang kurang baik pada karyawan lainnya."


"Wil!"


"Aku masih atasanmu, Brenda. Tolong hargai aku." William membalikan badan lalu menatap mantan kekasihnya itu dengan tajam.


"Tapi, Wil. Aku masih ingin bersamamu."


"Tidak kah kamu lihat di sini ada istriku?"


"Ow, maksudmu kita akan mencari waktu yang lain?" Brenda terpekik senang.


"Tidak Brenda. Maksudnya aku sudah menikah dan sejak aku mengucap janji pernikahan, aku sudah tidak mau mempunyai hubungan apapun dengan wanita lain."


"Omong kosong! Kau pernah bilang padaku, kalau pernikahan kalian terjadi begitu saja tanpa ada rasa. Kamu dipaksa menikah dengannya oleh Papamu, dan secepatnya akan meninggalkan dia! Kau juga bilang kalau anak itu, bukan anakmu. Kamu hanya korban di sini! Itu yang kamu bilang padaku, Wil. Mengapa sekarang berubah? Apa dia yang sudah mempengaruhimu?!" Brenda berteriak histeris. Ia tidak terima, kalau William yang sangat mencintainya dan menerima apapun kelakuannya melepasnya begitu saja.


"Iya, iyaa! Aku pernah mengatakan itu semua padamu. Itu karena aku sempat shock, tapi sekarang aku sadar akan tanggung jawabku. Apa yang aku ucapkan saat menikah itu bukan main-main."


Sarah semakin tak tenang. Bagaimana jika William tahu kalau pernikahan mereka sebenarnya tidak sah. Entah berapa kebohongan yang sudah ia ciptakan. Ia tidak menyangka kalau William setulus ini menanggapi pernikahan mereka.


"Jangan bilang kalau anak itu benar anakmu?" Brenda menunjuk Belle yang tercenung ketakutan melihat orang dewasa yang saling berteriak.


William menoleh dan menatap Belle, ia jelas yakin kalau bayi itu bukan miliknya. Namun rasa sayang dan memiliki Belle sangat kuat, apa ini juga boleh dinamakan sebagai ikatan orangtua dan anak?


"Iya, dia anakku," ucap William yakin.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2