Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Lelah hati


__ADS_3

Sarah pulang dengan hati gamang. Ada rasa takut, khawatir, marah berkecamuk tak karuan di dalam hatinya. Air matanya tak berhenti mengalir meski indera penglihatannya tertutup oleh selembar kain. Untunglah Belle tertidur selama di perjalanan, jadi ia tidak perlu kerepotan menata hati sekaligus mengawasi bayi ini.


"Turun." Orang yang membawanya tadi melepas kain yang menutup mata. Awalnya ia takut dan ngeri jika dijemput oleh kawanan penjahat itu, tapi sekarang ia malah enggan turun dari mobil.


Sarah membuka malas pintu mobil lalu membiarkan kendaraan itu meninggalkannya kembali di terminal bersama dengan seorang bayi. Hari sudah gelap, situasi terminal sudah mulai sepi tidak seperti sore tadi.


Sarah berjalan pelan menekuri jalanan berkerikil yang ia lewati. Ia mencoba mengingat-ingat percakapan searah antara Papanya dengan pria berwajah bengis tadi. Benar apa yang selama ini ia duga, semuanya berkaitan. Ia, William dan Belle semua sudah diatur sedemikian rupa. Siapa dalang dibalik semua ini, mengapa sebegitu menakutkannya situasi ini?


Sarah sudah berdiri hampir satu jam di depan terminal, tapi tak ada satupun ojek yang melintas di depannya. Ponselnya kehabisan daya, ia tidak bisa memesan angkutan online saat ini. Pilihan terakhir jatuh pada bis umum yang tampak berjubel penumpang di dalamnya.


Sarah segera ikut berdesakan dengan beberapa penumpang yang akan naik dan turun. Tak ada pilihan ia harus bisa naik, karena kernet bis itu sudah berteriak jika ini adalah bis terakhir yang akan melintas di terminal itu.


Sarah beruntung ada seorang yang baik hati tak tega melihatnya berdiri sembari menggendong bayi dan memberikannya tempat duduk. Jam yang tergantung di atas sopir bis, nyaris menunjukan pukul sembilan malam. Andaikan tidak mempunyai misi, ia memilih tidak pulang ke rumah William selamanya.


Sarah melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam komplek perumahan William, menggunakan ojek yang menunggu penumpang di depan perumahan elit tersebut. Sampai di rumah William, ia disambut dengan pekikan lega Kanaya, adik William.


"Kak Saraaah!" Gadis yang hampir sebaya dengannya itu langsung menghambur memeluknya. Belle yang terkejut sempat menggeliat dan merengek, "Dari mana sajaaa?! Sudah hampir tengah malam baru pulang, ponsel tidak bisa dihubungi, kami semua panik mencarimu!" Mulut gadis itu terus merepet tak terkendali.


"Kanaya, kamu punya uang untuk bayar ojek? Aku pinjam dulu, kasihan Bapaknya nungguin."


"Eh? Sebentar." Gadis itu melongok sebentar keluar lalu berlari ke kamarnya mengambil uang. Ia sendiri juga yang keluar rumah membayarkan ojek yang ditumpangi kakak iparnya.


Sarah mengedarkan pandangannya, tak nampak sedikitpun kehadiran William. Apa pria itu belum pulang? Sarah sedikit lega mengetahui jika William tak memergokinya pulang selarut ini.


"Ayo cerita, Kak Sarah dari mana semalam ini sama Belle?" Kanaya masih ingin menginterogasinya.


"Mm, tadi ketemu sama teman terus ngobrol sampai lupa waktu. Batrai ponsel juga habis, maaf ya. Tolong jangan bilang kakakmu. Aku naik duluan sebelum kakakmu melihat aku dan Belle di sini."


"Astaga, Kak Willi!" Kanaya menepuk dahinya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kak Willi baru aja pergi ke kantor polisi." ucap Kanaya panik sembari mencoba menghubungi kakaknya melalui ponsel.


"Kantor polisi? Memang ada apa?" Sarah tak kalah paniknya.


"Kok ada apa? Ya gara-gara Kak Sarah, pergi sampai malam bawa bayi ga bisa dihubungin lagi. Kak Willi ngomel panik aku yang jadi sasaran," umpat Kanaya sembari menunggu kakaknya menjawab panggilannya, "Halo Kak Wili, pulang segera, Kak Sarah sama Belle sudah pulang nih."


Tak terdengar jawaban di seberang sana, Kanaya mengumpat kembali sembari melihat layar ponselnya yang sudah tak tersambung, "Dengar ga sih tadi, main tutup aja."


"Eh, aku ke kamar dulu ya, tidurin Belle." Sarah tak mau William mendapatinya di lantai dasar dengan penampilan tak karuan.


Sebelum pemilik kamar datang, Sarah segera membersihkan tubuh Belle dan memberikan susu hingga bayi itu tertidur. Lalu ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhnya yang aromanya campur aduk karena himpitan penumpang bis lainnya.


"Dari mana kamu." Sarah hampir saja terpeleset ketika mendengar suara dingin dan ketus William saat ia baru saja melangkahkan satu kaki keluar dari kamar mandi.


"Tadi ketemu teman, kami ngobrol sampai malam. Batrai ponselku habis." Sarah menunduk di depan William bagaikan murid yang tertangkap basah sedang mencontek, "Maaf," cicitnya.


"Siapa temanmu?"


"Kalau aku tidak kenal, maka kenalkan. Kamu tahu, aku baru sadar kalau aku sama sekali tidak tahu siapa dirimu, Sarah. Saat kamu tidak bisa dihubungi tadi, aku kebingungan mencarimu di mana. Aku tidak tahu satupun temanmu, bahkan aku tidak tahu saudaramu."


"Aku tidak punya teman akrab. Teman yang tadi kutemui juga hanya sekedar teman sekolah yang lama tidak bertemu. Kedua orangtuaku sudah meninggal dan mereka anak tunggal, jadi aku memang tak punya saudara lagi sekarang."


Sarah tak sepenuhnya berkata bohong, saat masih menjadi putri seorang pengusaha lingkup pertemanannya memang tidak luas. Ia yang arogan, membatasi pertemanannya hanya yang selevel dengannya.


Bahkan ia tak mau menemani Papanya dalam pertemuan dengan kolega bisnis, yang ia tahu Papanya rutin memberikan dana masuk ke rekeningnya untuk berfoya-foya. Saat Papanya jatuh, teman-teman yang dulu memujanya dan lekat dengannya dalam sekejap mata berpaling dan menatapnya dengan pandangan sebelah mata.


"Kata Kanaya kamu pulang naik ojek dengan penampilan kacau. Apa kamu tidak berpikir dengan kesehatan Belle saat memutuskan naik ojek malam seperti ini tanpa menggunakan jaket dan penutup kepala? Dia masih bayi, Sarah! Bagaimana kalau dia sakit lagi?"


"Sudah kukatakan, batrai ponselku habis. Aku tidak bisa memesan taxi online!" balas Sarah tak mau kalah keras. Ia mengangkat kepalanya dan membalas tatapan menghakimi William.


"Kamu bisa meminjam ponsel temanmu atau pengunjung mall lainnya hanya untuk sekedar memesan taxi online. Apa kamu terlalu egois atau bodoh sehingga mengabaikan keselamatan anakmu!"

__ADS_1


"Aku memang bodoh! Aku memang egois! Dan dia bukan anakku! dia juga bukan anakmu! Untuk apa kamu begitu mempedulikan dia!" Sarah berteriak histeris dengan telunjuk mengarah pada Belle di atas ranjang.


"Ngomong apa kamu ini?" William memandangnya heran.


"Jangan belagak sok baik dan perhatian, Wil. Kamu dan keluargamu tak sebaik itu," desis Sarah tajam. Ia keluar dari kamar mengabaikan Belle yang mulai terganggu tidurnya.


William terperangah bingung. Ia tak mengerti arah pembicaraan Sarah. Apa salah ia mengkhawatirkan wanita dan bayi yang sudah menjadi tanggung jawabnya sekarang? Apa ia terlalu berlebihan dan mengeluarkan kata-kata kasar hingga menyakiti hati Sarah.


William sudah ingin menyusul Sarah keluar kamar, tapi tangisan Belle mengurungkannya. Ia naik ke atas ranjang lalu memeluk Belle dan menenangkan bayi itu hingga kembali tertidur.


...❤️🤍...


visual :



Sarah Anderson



William Sanjaya



Belle


Yang punya media sosial yuk follow :


IG : ave_aveeii


Halaman FB : cerita aveeii

__ADS_1


Tiktok : Cerita aveeii


__ADS_2