Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Menolak cinta


__ADS_3

Sarah diam sejenak. Setelah merasa dapat menguasai perasaannya, ia membalikan badan menghadap William lalu tersenyum, "Coba saja. Memang tidak ada yang tak mungkin di atas bumi ini." Lalu ia segera kembali ke kamar dengan dada berdebar.


Tak bisa disangkal, hatinya sempat tergetar ketika William mengatakan cinta padanya. Ungkapan yang tak terduga sama sekali. Justru ia menduga kalau selama ini perasaannya bertepuk sebelah tangan. Iya benar, hatinya juga mulai bertabur rasa cinta yang berusaha ia tampik selama ini.


'Selesaikan tugasmu, lalu segera pergi!'


Wajah Papanya yang terkejut dan marah, terbayang ketika pria bengis itu mengatakan kalau ia menikah dengan anak dari Raymond Sanjaya. Sepertinya Papanya sangat membenci keluarga ini, mana mungkin ia benar-benar membangun rumah tangga dengan anak dari musuh papanya. Itu sama saja ia menyiksa Papanya jauh lebih kejam dari pada komplotan itu.


Sarah menutup matanya rapat saat mendengar langkah kaki mendekati kamar. Ia sengaja berbalik membelakangi Belle agar tak berhadapan langsung dengan William saat tidur.


Matanya terpejam semakin rapat saat ia merasa William bukannya naik ke atas kasur, malah memutari ranjang ke sisinya berbaring. Raganya serasa melayang saat bibir pria itu mengecup pelipisnya lembut. Tak lupa tangan William yang besar itu, mengusap rambutnya yang panjang.


Sarah sama sekali tak berani bernafas, apalagi bergerak dalam waktu yang cukup lama. Setelah yakin suami di atas kertasnya itu sudah tertidur pulas, ia baru berani membalikan badan. Luluh hatinya melihat dua manusia beda usia di belakangnya, tidur saling memeluk. Sarah tidur telentang, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


'Mengapa aku harus dihadapkan dengan situasi sulit seperti ini? Jauh lebih baik kamu jahat padaku dan Belle, Wil. Setidaknya aku ringan menjalani tugasku dan tak merasa bersalah mencuri berkas milik keluargamu.'


Hari-hari berikutnya, William tak membiarkan Sarah hidup lebih mudah. Pria itu berusaha membuktikan ucapannya. Ia menjadi suami dan Papa yang sangat baik sekali. Sarah harus berupaya lebih keras lagi untuk menolak semua pesona yang dipancarkan William.


Dimulai dengan bangun tidur, William selalu bangun lebih awal mengecup seluruh wajah Sarah dan diikuti Belle yang sejak subuh sudah mengoceh.


"Pagi, Sayang." Sarah tak bisa menghindar saat William menarik tubuhnya lalu mengecup pipi, kening serta bibirnya.


"Wiiil!" Sarah mendorong suaminya kesal. Hal ini sudah berlangsung tiap pagi sejak niat William diucapkan.


"Belle, bangunin mama cepat." William mengangkat Belle lalu mendekatkan bayi itu di depan wajah Sarah, "Bangun, Mama popok Belle penuh."


"Iyaaa," keluh Sarah. Ia berdiri dengan mata masih setengah terpejam.

__ADS_1


William memperhatikan wanita yang ia nikahi itu dengan masih duduk di atas ranjang. Sarah menggulung rambutnya keatas lalu berjalan mendekat akan mengambil Belle yang ia sedang bergelayut di tubuhnya. Namun belum sempat Sarah mengambil Belle, tangannya jauh lebih cepat menarik istrinya hingga jatuh kepelukannya.


"Wil! Aku belum sikat gigi." Sarah menutup mulutnya dengan tangan ketika William ingin menyambar bibirnya.


"Kalau sudah sikat gigi, boleh?"


"Apaan sih!" Dengan wajah memerah, Sarah mengambil Belle yang melongo menonton interaksi keduanya.


"Nanti makan siang sama-sama lagi, ya." William mencubit dagunya ketika suaminya itu pamit hendak berangkat kerja.


"Malas ah, nanti ketemu sama Brenda lagi. Kemarin dia sengaja mau buat aku jatuh, kakinya dijulurkan padahal aku lagi gendong Belle." Sarah mengadu kesal.


"Oh ya? Kok kamu ga bilang, aku bisa tegur dia langsung." Sebelah tangan William memegang pipi Sarah.


Gerakan-gerakan kecil yang dilakukan William selalu memberikan efek merinding yang dapat membuat lutut Sarah lemas.


"Biar aja aku terlambat, tidak ada yang berani tegur. Kiss Papa, Belle."


William menyodorkan pipinya ke depan wajah Belle, setelah bayi itu mengecup pipinya ia membalas dengan kecupan gemas ke seluruh wajah Belle.


"Mamanya?" Mata William mengerling dengan pipi disodorkan ke wajah Sarah. Kegiatan pagi ini sudah menjadi rutinitas saat William akan berangkat kerja dan pasti akan berakhir dengan ciuman yang panjang dan panas.


"Ckckck, kasihan betul kamu, Belle di dewasakan oleh pemandangan." Tautan bibir Sarah dan William terlepas mendengar sindiran Kanaya yang melewati mereka begitu saja.


"Aku berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa segera kabari." William mengakhiri interaksinya dengan mencium kening Sarah lalu ia menyusul adik bungsunya yang sudah menunggunya di dalam mobil.


"Bucin banget, Kak. Sudah menikmati jadi Papa dan suami ya." Lirikan Kanaya menggoda.

__ADS_1


"Kenapa memangnya?"


"Ya ga apa-apa, bagus aja dari pada Brenda, manequin berjalan itu lebih baik Kak Sarah lah." William tersenyum senang mendapat dukungan dari sang adik.


"Belle itu benar anak Kak Willi?" Kanaya bertanya dengan hati-hati sekali. Pembicaraan ini tidak pernah mereka bahas lagi setelah Kakaknya resmi menikah dengan Sarah.


Senyum William memudar, "Bukan. Menurut Sarah, Belle anak dari temannya yang hamil di luar nikah."


"Jadi, Kak Sarah juga bukan Mamanya si Belle? Berarti Kak Willi dan Kak Sarah, sama-sama masih ting-ting dong. Waah, di luar dugaan, Papa sama Mama pasti belum tahu." Kanaya menutup mulutnya takjub.


Tenggorokan William tercekat mengingat di mana ia bertemu dengan Sarah pertama kali. Tempat di mana wanita menjajakan tubuhnya untuk pria yang ingin menyalurkan hasrat.


'Mana mungkin Sarah masih gadis? Sudah berapa pria yang menjamah tubuhnya? ' Berbagai macam dugaan buruk berebutan masuk ke dalam kepala William.


"Jangan beritahu dulu sama siapapun tentang ini, termasuk papa dan mama," titah William pada adik bungsunya.


Di tempat lain, tempat persembunyian, Alfred kepala mafia yang mendapatkan tugas eksekutor skenario penculikan Tuan Anderson sedang menerima panggilan telepon dari orang yang membayarnya.


'Bagaimana?'


'Sudah setengah jalan, Tuan. Jangan khawatir semua berjalan sesuai rencana. Bahkan rencana kita dimudahkan oleh anak-anak muda yang bodoh.' Alfredo tersenyum bangga.


'Jangan lengah, bola panas sudah ditangan kita. Jangan terlalu lama bermain-main dengan gadis itu. Aku tidak ada waktu lagi di sini. Kamu harus segera mendapatkan surat perjanjian itu dan lenyapkan. Anderson dan Raymond sudah berhasil kita pisahkan, mereka dalam posisi lemah. Jika surat perjanjian itu tidak ada, aku akan segera mengalihkan proyek itu pada Tuan Marvel. Sekejap mata dana akan mengalir dan dengan dananya yang tanpa batas, dia siap mendukungku dalam pemilihan Gubernur selanjutnya. Kota ini akan ada dalam kendaliku."


Pria berpenampilan rapi dengan jas hitam membalut tubuhnya berkata dengan ambisus. Ia berdiri menghadap dinding kaca yang memberikan pemandangan perkotaan di bawahnya.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2