Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
MPB 54


__ADS_3

"Ayo!" Dengan bersemangat William hendak beranjak meninggalkan Pak Suroso, "Tunggu apa lagi?!" William gemas melihat komandan polisi itu masih diam tak bergerak dari tempatnya berdiri.


"Tujuanmu sudah selesai sampai di sini, Wil. Orang tua kekasihmu sudah selamat, bawalah beliau pulang," ujar Pak Suroso bijak.


"Anakku belum ketemu, Pak. Bapak sendiri yang bilang anakku salah satu dari korban yang akan di perdagangkan di luar negeri!"


"Dia bukan anakmu, bayi itu salah satu korban penculikan saat baru lahir di rumah sakit. Memang ada sindikat yang sengaja menculik bayi-bayi untuk diperdagangkan di dalam maupun luar negeri atau untuk tujuan kejahatan lain."


"Iya saya tahu, tapi dia sudah menjadi bagian dari keluarga saya, Pak. Bayi itu memang belum tercatat sebagai anak saya, tapi pasti akan saya urus kok. Kenapa harus dipersulit sih!" seru William mulai emosi.


"Biarlah ini menjadi urusan kepolisian, kamu tidak perlu ikut. Bisa panjang urusannya kalau warga sipil yang tidak ada kaitannya ikut operasi ini."


"Anda tidak bisa menahan saya, Pak!" tolak William tegas. Ia lalu berjalan cepat menuju ke mobilnya. William berencana akan langsung menuju ke pelabuhan, kalau perlu dia yang akan mengambil Belle langsung dari tangan sindikat itu.


"Wil!" panggil Pak Suroso sembari mengangkat ponselnya, "Papamu telepon!"


William menarik dan menghembuskan nafasnya dengan keras, ia sudah menduga apa yang akan Papanya katakan.


"Halo." William meraih ponsel dari tangan komandan berkepala licin itu.


"Wil, laporan dari Pak Suroso, Om Anderson sudah berhasil diselamatkan?"


"Sudah, Pa. Om Anderson sedang di bawa ke rumah sakit untuk pemulihannya," jawab William dengan mata menatap tajam ke arah Pak Suroso.


"Baiklah. Segera pulang dan bawa Om Anderson kemari."


"Maaf Pa, aku belum bisa pulang dulu. Belle masih dalam bahaya."


"Bayi itu urusan polisi, tidak ada tanggung jawabmu untuk menyelamatkannya. Lagipula kasus ini sudah naik tingkatan bahayanya, cepat pulang." Suara Papa semakin terdengar tegas.

__ADS_1


"Belle anakku, Pa, dia tanggung jawabku."


"Tanggung jawab apa, kamu belum menikah dan bayi itu bukan anakmu." Suara Papa semakin meninggi.


"Maaf, Pa," jawab William dan langsung memutus sambungan telepon. Alhasil Papanya di seberang sana mengomel tak jelas.


"Semakin keras kepala sekali anak ini!" ujar Papa William sembari mengusap wajahnya kasar.


"Ada apa?" Mama ikut berdiri di samping suaminya.


"William belum mau pulang, dia masih mau mengejar penjahat itu, padahal Papa Sarah sudah selamat. Untuk apa dia masih ngotot mencari bayi yang bukan siapa-siapanya itu?"


"Belle? Bagus dong, berarti dia sudah punya rasa tanggung jawab," bela Mama.


"Bayi itu bukan anaknya. Mereka juga belum menikah, nanti kalau sudah menikah bakal punya anak sendiri. Biarlah bayi itu jadi urusan polisi, toh asalnya juga bukan mereka yang ambil, tapi keberadaannya karena ada kaitannya dengan kasus perusahaan kita."


"Mungkin sudah ada ada ikatan batin antara William dengan bayi itu."


"Pa, tega kamu bicara seperti itu. Bayi itu belum mengerti apa-apa, dia tidak salah. Mau macam apa orang tuanya, dia juga tidak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, bayi itu tidak berdosa. Jangan-jangan pikiranmu seperti itu saat melihat Maura dulu?" Mama menatap suaminya itu dengan mata penuh luka.


"Eh, itu beda, Sayang. Kamu salah paham, kenapa kamu menyamakan dengan Maura?" Pria bercambang lebat itu tersadar dengan ucapannya. Ia lalu berusaha mengejar istrinya yang berjalan cepat ke arah kamar.


Sebelum mencapai kamar, keduanya sempat berhenti sejenak saat mendapati Sarah yang ternyata sejak tadi mendengarkan percakapan mereka. Mata Sarah pun tampak menyiratkan lukanya yang sama dengan Mama William.


Orang tua William tak mengatakan apapun, keduanya menunduk menghindari tatapan Sarah lalu melanjutkan langkah mereka masuk ke dalam kamar.


Mendengar percakapan kedua orang tua William, hati Sarah semakin gundah. Ia memeriksa ponselnya kembali, berharap ada kabar terbaru dari William. Namun pesan terakhir sejak semalam hanyalah permintaan William, agar ia tak perlu khawatir lagi karena Papa nya sudah aman.


Sarah dilema, ia senang William mau berkorban mencari Belle tapi dia juga takut kalau terjadi sesuatu pada William. Apa dia harus meminta agar William segera pulang dan menyerahkan semuanya pada polisi seperti permintaan Papanya, atau ikut dalam aksi penyelamatan Belle?

__ADS_1


Matahari sudah hampir terlihat sepenuhnya, tapi rombongan sindikat itu belum terlihat di pelabuhan. William dan Pak Suroso beserta timnya masih mengintai dari beberapa sudut.


"Pak, sepertinya pengintaian kita sudah diketahui mereka," bisik salah seorang petugas. Polisi muda itu memperlihatkan laporan investigasi tim lain.


"Hhhh, mereka tidak melalui jalur semestinya, tapi jalan jalur ilegal." Pak Suroso melempar berkas di tangannya.


"Bapak harus lihat ini." Polisi muda itu memutar sebuah video pendek yang sengaja dikirim oleh sindikat itu.


Di awal video itu memperlihatkan sekitar sepuluh anak gadis di bawah umur duduk meringkuk seperti di dalam sebuah container besar. Lalu Video berputar memperlihatkan seorang pria yang hanya terlihat di bagian dada sedang menggendong seorang bayi perempuan.


'Lucu bukan? Ini yang putra keluarga Sanjaya cari? Katakan padanya, silahkan jemput bayi ini sendiri di Negara X. Sebenarnya bayi kecil ini tidak terlalu berguna di sana, karena pelanggan saya lebih menyukai gadis ranum macam mereka.' Video berputar lagi memperlihatkan para gadis itu.


'Sebenarnya saya punya kandidat yang lebih pantas untuk menggantikan bayi ini, dan sepertinya gadis itu sudah menerima. Hitung-hitung harga gadis itu setimpal atas kerugian ku di daerah hulu akibat perbuatan keluarga Sanjaya! Jadi sampaikan pada mereka, silahkan jemput sendiri bayi ini'!'


"Apa-apaan! bagaimana bisa mengirim video ini?! Mereka meretas keamanan kita? Pantas saja pergerakan kita sudah diketahui!" Pak Suroso berjalan mengelilingi mobil dengan pikiran kalut.


"Mereka mengungkit tentang keluarga Sanjaya, Pak. Apa ada hubungannya dengan Tuan Baron?"


"Tuan Baron dan pengikutnya sudah diamankan polisi, sepertinya orang inilah yang menjadi dalang di balik semuanya. Kasus kemarin ternyata belum selesai, lantas apa yang harus aku sampaikan pada Pak Raymond?" Pak Suroso memutar kembali video di laptopnya.


"Apa yang harus disampaikan pada Papaku?" William yang awalnya ikut mengintai dari titik yang berbeda, ikut mendekat karena melihat gerak gerik Pak Suroso yang mencurigakan.


"Tidak ada." Pak Suroso dengan cepat mematikan video yang sedang berputar.


"Itu anakku! Itu Belle! Putar kembali!" pinta William tegas.


"Ini dokumen internal, warga sipil dilarang melihat." Pak Suroso bersikukuh melarang.


"Saya tidak peduli dengan dokumen instansi anda, tapi saya ada hak mengetahui apa yang terjadi pada anak saya. Saya bisa tuntut anda menghilangkan barang bukti. Putar kembali!" William menahan tangan Pak Suroso yang ingin menghapus video tersebut.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2