Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Tuan Baron 2


__ADS_3

"Baiklah, saya harus kemana?" William kembali menghadap Baron.


"Tetap di sini, tidak usah kemana-mana. Biar saya yang meminta mereka kemari. Maaf, saya hanya khawatir dengan keselamatan anda Pak William." Baron mundur menjauh dari rombongan William dan berbicara melalui ponselnya di bawah pohon. Sesekali pria berwajah tirus itu melirik ke arah William dengan pandangan geram.


Menyempatkan sela waktu Baron berbicara di ponsel dengan jarak yang cukup jauh, William dan Pak Suroto bergerak mendekati Tuan Marvel.


"Saya sepertinya tidak asing dengan anda, Tuan. Anda asli penduduk sini?" tanya Pak Suroto.


"Tidak, tapi saya cinta dengan keaslian daerah ini," sahutnya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.


"Ow, apa yang membuat anda tertarik? di sini hanya daerah kecil sepertinya tidak terlalu istimewa, apa anda punya kenangan di sini atau ada alasan lain seperti ... kekayaan alamnya yang tersembunyi?" William menelisik wajah pria berkulit putih itu.


"Saya tidak mengerti maksud anda." Tuan Marvel menggeleng lalu berjalan menjauh.


"Benar apa kata anda, Pak. Ada yang mereka incar di sini," ucap William pada Pak Suroto sembari memandang tubuh Tuan Marvel yang menjauh.


Percakapan mereka terhenti saat Baron berjalan mendekati mereka, "Tunggu sedikit lagi, mereka akan segera datang,"

__ADS_1


Tak berapa lama, beberapa orang datang mendekati mereka. Lima orang itu diantaranya pria dan wanita berpakaian sederhana layaknya penduduk asli. Namun ada yang aneh di mata William dengan sosok mereka.


"Mereka benar penduduk asli?" tanya William dengan berbisik pada Baron.


"Benar. Mereka sudah beranak cucu, mungkin jika sedikit berbeda itu karena beberapa orang tua dari mereka menikah dengan orang dari luar daerah."


"Baiklah, saya ingin berbincang sedikit." William tersenyum lalu maju mendekati kelima orang itu. Semuanya melongo dan saling bertukar pandang ketika William berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak mereka pahami.


"Kamu bicara apa?" Baron menarik lengan William.


"Saya hanya menyapa mereka," sahut William dengan wajah polos, "Tapi sepertinya mereka tidak mengerti bahasa yang dipakai orang tua mereka, bukannya itu aneh?"


"Saya hanya ingin menghormati beliau-beliau ini, Pak Baron. Biasa penduduk asli lebih senang kalau kita menghargai adat dan budaya mereka."


"Aah, mereka ini sudah modern," sergah Baron mulai panik.


"Berati mereka tidak bisa menjadi perwakilan dalam dialog ini, Pak. Saya ingin tetua atau warga asli daerah sini."

__ADS_1


"Maumu apa? kamu bilang tadi hanya ingin bertemu dan berbincang dengan penduduk asli. Mengapa sekarang berbelit?!" Baron sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Suaranya semakin meninggi dan tidak ada hormat menyebut William dengan kata kamu bukan anda lagi.


"Benar, saya ingin bertemu dengan penduduk asli. Bukan orang yang mengaku sebagai penduduk asli." William berbalik dan menghadap Baron langsung.


"Apa maksudmu. Kamu itu anak kemarin sore, tidak tahu menahu soal daerah ini! Saya pemimpin daerah ini, jadi saya lebih paham!sekarang kembalilah ke asalmu." Baron mengibaskan tangannya mengusir William dan rombongannya dengan tidak hormat.


"Saya pernah tinggal di sini selama berbulan-bulan. Saya kenal baik dengan kepala dusunnya, bahkan beliau saya panggil Ayah. Saya yakin jika kepala dusun serta tetua lainnya melihat saya, pasti mereka langsung mengenali saya. Kalau anda sudah berapa lama menjabat di daerah ini, Pak Baron?" William menoleh pada Baron yang keningnya mulai berkeringat.


"Mereka sudah tidak ada, percuma kamu mencari mereka," ucap Baron tanpa mau beradu pandang dengan William.


"Tidak ada maksudnya?" Kening William mengernyit.


"Sudah meninggal," ucap Baron pelan seolah takut ada yang mendengar.


"Anda yakin?"


"Yakin. Saya pemimpin di sini, kamu lupa?" Baron menoleh pada William dengan pandangan sewot.

__ADS_1


"Lantas itu siapa?" William menunjuk pada segerombolan orang yang berjalan mendekati mereka.


...❤️🤍...


__ADS_2