
"Tanpa ijin? Bukannya proyek pembangunan ini sudah berjalan lebih dari lima tahun? dan saya yakin kalau orang tua saya tak mungkin melakukan yang berpotensi melanggar hukum." William masih berusaha tenang dan mengontrol emosinya.
"Buktinya." Tuan Baron mengangkat kedua bahunya berlagak tak acuh. Hal ini semakin membuat emosi William menggelegak hampir tak terkendali. Kalau saja Pak Suroto tak memegang bahunya, ia mungkin sudah menghajar pipi cekung Baron.
"Bisa kami bertemu dengan Pak Raymond dan istrinya?" Pak Suroto mengambil alih pembicaraan.
"Mm, bagaimana ya. Saya ingin sekali membantu, tapi siapa lah saya tidak bisa melawan adat di sini, Pak.'" Baron menggaruk-garuk dagunya dengan mata melirik ke arah sekutunya, Tuan Marvel. Keduanya tampak saling memberi kode dengan mata mereka.
"Memang apa ada aturan yang mengatur terkait dengan menjenguk tahanan di sini? bukannya Tuan Raymond ditahan karena dugaan menyalahi peraturan pemerintah bukan adat?" tanya Pak Suroto lagi.
"Benar, tapi rakyat juga tersinggung, Pak karena orang tua anda dinilai tidak menghormati mereka sebagai orang asli di sini," ucap Baron memalingkan wajahnya, berpura-pura sibuk dengan pekerja di sana. Jelas sekali ia ingin menghindar dari pembicaraan ini.
"Kalau begitu temukan saya dengan perwakilan rakyat yang katanya tidak terima itu," ujar William.
"Pak William tenang saja, saya sudah mengatur semuanya. Rakyat itu nurut apa kata saya. Hanya mereka perlu pendekatan, tapi tidak dengan orang asing seperti Pak William dan rombongannya ini, bisa tambah marah mereka." Baron memandang remeh pada barisan orang di belakang William.
__ADS_1
"Lalu saya harus bagaimana?"
"Saran saya, Pak William kembali saja ke kota. Biar permasalahan di sini saya yang atur. Saya pastikan kedua orang tua Pak William tidak akan dihakimi massa. Pak William tahu, dengan saya menahan Pak Raymond dan istrinya, saya juga menyelamatkan orang tua Pak William dari amukan massa loh," ucap Baron bersemangat. Tuan Marvel yang berada tak jauh dari mereka pun ikut mengangguk-anggukan kepala.
"Masalah ini saya yakin akan mereda dengan sendirinya, tidak perlu dibesar-besarkan apalagi harus sampai ke telinga pemerintah pusat. Tambah rumit." Baron mengibaskan tangannya dengan bibir melengkung ke bawah meremehkan pemerintah pusat.
"Siapa beliau dan apa kepentingannya di sini?" William menunjuk Tuan Marvel dengan ekor matanya.
"Tadi sudah berkenalan bukan? dia Tuan Marvel, penyelamat dari situasi rumit ini. Kalau bukan karena beliau, hmm saya tidak tahu bagaimana jadinya." Baron menghampiri Tuan Marvel dan menepuk-nepuk lengannya dengan hidung terkembang bangga. Tuan Marvel hanya tersenyum dan mengangguk sekilas.
"Oh ya, ehm ... benar sekali. Ini bentuk ucapan terima kasih dari penduduk asli untuk beliau." Baron menggosok kedua telapak tangannya gugup.
"Sepertinya besar sekali jasa Tuan Marvel pada daerah ini ya? berupa apa itu, Pak? mediasi dan dialog atau berupa kucuran dana?" William mengamati para pekerja yang tampak letih karena sebagian dilakukan secara manual.
"Ke-keduanya," ucap Baron terbata. Sedangkan Marvel masih tetap diam dengan dagu terangkat angkuh.
__ADS_1
"Maaf, saya hanya penasaran saja. Apa pembangunan monumen ini punya ijin?"
"Tentu!" seru Baron tak terima dengan pertanyaan William, "Lagipula yang meminta dibangun adalah penduduk asli, tanah ini milik mereka sudah pasti ijinnya resmi," lanjut Baron menggebu-gebu.
"Saya jadi ingin bertemu dengan penduduk asli di sini. Hanya berdialog sebagai pendatang bukan sebagai anak dari Pak Raymond, boleh kan?"
"Lebih baik Pak William dan anak buah anda kembali saja ke kota. Lebih cepat lebih baik," ucap Baron ketus. Ia sudah semakin jelas memperlihatkan rasa tidak sukanya pada kedatangan William dan rombongannya.
"Kenapa kok saya merasa diusir? Apa daerah ini masih terbelakang sehingga sulit menerima orang dari luar, sepertinya tidak. Daerah ini sudah sangat maju." William mengedarkan pandangannya. Dari posisinya berdiri ia dapat melihat kemajuan daerah terpencil itu.
"Kalau anda memaksa, saya panggilkan beberapa perwakilan penduduk asli di sini. Asal setelah ini anda harus segera kembali dan jangan masuk ke tengah pemukiman, bisa bahaya untuk kedua orang tua anda sendiri," ucap Baron seolah peduli dengan keadaan keluarganya.
William menoleh ke arah Pak Suroto, meminta saran pada kepala divisi penyelidikan yang menemaninya. Pak Suroto mengangguk samar mengiyakan.
...❤️🤍...
__ADS_1