
Sepanjang perjalanan menuju daerah B, William berusaha mengalihkan perhatiannya dari rasa rindu akan wanitanya, beralih ke permasalahan pelik yang akan dihadapinya nanti. Ia membuka dan mempelajari isi dokumen dan mendengarkan pemaparan team yang menyertainya.
Sama dengan Sarah, ada rasa sesal ia tidak menghabiskan waktu tekun mempelajari seluk beluk permasalahan yang dihadapi perusahaan keluarganya. Sebelum ini hidup dan perhatiannya ia fokuskan pada Brenda, wanita yang dulu pernah dicintainya hingga ia lupa diri.
"Dua jam lagi kita sampai, Pak," lapor asistennya. William mengangguk samar.
Perjalanan tempuh lebih dari seharian melalui udara, darat, membelah lembah dan menyusuri sungai membuatnya lelah serta jenuh. Semakin dalam daerah yang mereka tuju, signal ponsel semakin tenggelam. William mendesah untuk kesekian kalinya ketika tak mendapati garis signal di ponselnya.
"Sebentar lagi sampai perbatasan kota, biasa akan ada signal di siang hari," ujar salah satu anggota teamnya.
"Sudah ada kabar dari kedua orangtuaku di sana?" William memasukan ponsel ke dalam sakunya, ia kembali memusatkan perhatian pada permasalahan yang sebentar lagi akan ia hadapi.
"Berita terakhir yang kami terima dari informan di sana, kedua orangtua Pak William sedang ditahan di kantor polisi daerah sana. Ada bentrok antara kubu dari kepala dusun dengan warga pihak kita, tapi jangan khawatir sekarang sudah reda teratasi," tambah orang kepercayaan William cepat.
"Setelah kita sampai di sana, apa yang harus kita lakukan?"
"Menemui Baron, tapi harus bersama dengan aparat. Permasalahannya aparat di sana berpindah pihak karena ada dana segar dari investor baru."
William memijat keningnya kalut. Ia yang tidak punya pengalaman sedikitpun untuk mengatasi keruwetan pekerjaan, tidak dapat menemukan jalan keluar.
Rombongan yang membawa William diantaranya, mulai memasuki area kota terbuka. Signal ponsel perlahan mulai terbaca. Riuhnya suara pesan masuk berebutan masuk di ponsel mereka masing-masing. Balasan pesan dari nama yang disematkan menjadi perhatiannya.
Senyum geli William terkembang membaca pesan masuk dari Sarah, 'Kapan kembali?'
Sampai saja belum sudah ditanya kapan kembali, ingin rasanya ia terbang melintasi hutan dan sungai hanya untuk sekedar mengatakan sabar, sayang lalu mengecup bibir kekasihnya.
'Secepatnya, Sayang.' Tak mau menambah beban pikiran Sarah, ia hanya sanggup mengirimkan pesan singkat untuk menenangkan kekasihnya.
Satu pesan dari nomer asing, menarik perhatiannya. Nomer asing itu mengirimkan sebuah video, ia segera memutar dan menajamkan penglihatan dan pendengarannya. Walaupun tak nampak wajah dan wujud sang pengirim, ia tetap dapat mengenali suara di balik video itu. Video itu menampilkan pemandangan dari atas bukit.
"Cuacanya cerah di sini, Pak William. Kapan anda sampai? Kami sudah lelah dan suntuk menanti anda di sini."
__ADS_1
"Mona?" Alis mata William tertaut, "Coba kamu lihat, ini di mana?" William memperlihatkan video yang ia dapat pada orang kepercayaannya.
"Perbukitan daerah B."
"Masih jauh dari tempat kita?"
"Itu di pinggir kota dekat jembatan dan monumen yang dibangun oleh perusahaan Pak William. 30menit lagi kita sampai di sana."
"Kita langsung kesana," ucap William tegas setelah membalas pesan pada pengirim video itu.
Sampai di bukit yang dituju, William melihat dua buah mobil jeep terparkir di bawah kaki bukit.
"Siapa mereka, Pak?" Orang kepercayaan William ikut mengawasi dari bawah. Beberapa orang di puncak bukit, tampak memperhatikan sesuatu dengan teropong yang mereka bawa.
"Aku juga kurang yakin." Mata William memicing mencoba mengenali salah satu orang diantaranya, "Aku naik dulu, kalian tunggu di bawah."
"Hati-hati, Pak."
"Mba Mona?" Mata William membesar melihat penampilan Mona yang begitu berbeda. Biasa tampil seksi dengan baju minim, teman Sarah itu sekarang jauh berbeda. Kemeja lengan panjang dengan celana kain dan rambut diikat tinggi dilengkapi topi yang menutup kepalanya.
"Ah, tuan muda akhirnya sampai juga." Mona mendahului teman-temannya mendekati William, "Kenalkan ini atasanku, Pak Suroto. Kami semua satu team yang akan menangkap Baron serta kaki tangannya."
Mulut William yang terbuka kembali menutup. Ia tertawa kecil menyadari kebodohannya, "Saya sempat lupa kalau Mba Mona ini polisi. Jadi Mba Mona di sini mau membantu saya?"
"Tidak juga, kami hanya menjalani tugas yang diberikan. Jika itu sejalur dengan tujuanmu datang kemari, lebih baik kamu dan orang-orangmu menurut apa kata kami," ujar Pak Suroto atasan Mona.
"Baiklah, tapi kapan kita akan bertindak karena orangtua saya sekarang sedang ditahan oleh polisi setempat."
"Itu juga termasuk tugas yang harus kami selesaikan segera, memberantas petugas yang menyelewengkan jabatannya," timpal Mona dengan kekehan khasnya lalu kembali fokus mengintip dari balik teropong.
"Pak William, kita langsung bergerak saja. Setelah ini dari team saya akan menemani Pak William menemui Baron dan investor barunya di monumen itu." Atasan Mona memberikan teropong pada William untuk ia lihat dari kejauhan.
__ADS_1
Di monumen yang belum sepenuhnya jadi itu, William dapat melihat seorang pria tampak menunduk-nunduk di depan pria satunya lagi yang tampak lebih berkuasa.
"Itu Baron dan investor barunya?"
"Ya, monumen itu sudah berdiri sebelumnya. Patung tetua daerah B, tapi mereka rubuhkan lagi dan akan diganti patung investor baru."
William tertawa sinis sekaligus geram dalam hatinya.
"Saya siap, mari kita temui mereka."
Dengan ditemani dua orang dari teamnya dan dua orang anak buah Suroto yang menyamar sebagai teamnya, William mendekati Baron serta investor baru itu.
"Selamat siang, Tuan Baron?" Tanpa basa-basi William menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Anda siapa?" Walau ragu, Baron tetap mau menyambut tangan William dan rombongannya. Sedangkan Tuan Marvel, investor baru itu hanya melirik tak acuh lalu kembali memusatkan perhatiannya pada pembangunan patung miliknya.
"Saya William Sanjaya, datang kemari ini melihat perkembangan pembangunan daerah B oleh orangtua saya."
"Sanjaya." Tuan Baron bergumam dengan wajah terkejut. Sedangkan Tuan Marvel menoleh cepat dan memicingkan matanya pada Baron.
"Iya, sudah sampai mana ya progress pembangunannya, karena kedua orangtua saya akhir-akhir ini sangat sulit dihubungi," ujar William santai.
"Ow, hehehe sepertinya anda terlambat menerima informasi, Pak William. Saya sangat menyayangkan dan menyesal, karena harus menahan kedua orangtua anda. Orangtua anda telah melakukan kejahatan besar, saya terpaksa bertindak karena situasi semakin tidak terkendali."
"Oh ya, kesalahan apa ya, Pak? Kenapa tidak dilimpahkan ke pemerintah pusat jika memang kesalahan besar dan fatal?" William menunjukan reaksi sangat terkejut.
"Maaf sebelumnya, Pak tapi tidak bisa. Penduduk sempat marah besar, mereka berdemo dan meminta agar Pak Raymond segera ditindak sesuai hukuman yang berlaku di daerah ini karena sudah menipu dan merusak daerah mereka tanpa ijin. Pak Raymond dan istri akan disiksa, dilempari batu oleh semua penduduk daerah ini."
Tangan William mengepal di dalam saku. Ingin rasanya ia menghajar wajah munafik dihadapannya.
...❤️🤍...
__ADS_1