
Sudah hampir seminggu Sarah merawat dan menunggui Belle dalam masa pemulihan. Seminggu itu pula, pesan dan panggilan telepon terus berdatangan dari komplotan mafia mengingatkan dirinya untuk segera melakukan tugasnya.
Seperti siang ini Sarah mencoba mengabaikan panggilan telepon yang sudah dua kali berdering. Sarah memandangi layar ponsel yang berkedip dengan nomer asing tampak di sana. Tak mau jika mereka nekat datang menyatroni kediaman William, Sarah terpaksa mengangkat panggilan itu.
"Halo,"
"Hmm, sedang menghindar, Cantik?"
"Bayi yang kalian titipkan rewel," cetus Sarah.
"Mmm, kamu semakin pintar. Bagaimana, kapan aku bisa mendapatkan surat perjanjian itu?"
"Sudah ku bilang, bayi ini sakit! Aku tidak bisa memaksa, William bisa curiga." Sarah berbisik sembari menahan emosi.
"Ayahmu di sini juga sedang sakit, Sayang." Tanpa perlu mereka mengancam, Sarah tahu kalimat itu untuk menekannya.
"Tolong tunggulah sebentar lagi," ucapnya dengan menahan tangis. Tangisannya pecah begitu menutup ponsel. Sarah merasa frustasi, ia menjerit tertahan dan mengacak rambutnya.
"Aku bisa. Aku harus bisa." Sarah berdiri lalu berjalan hilir mudik mengelilingi kamar. Otaknya berpikir keras cara agar besok William mau membawanya ke kantor.
"Belle, tolong kerjasamanya ya. Jangan sakit lagi, kamu harus sehat ya bayi." Sarah naik keatas ranjang lalu menggenggam dua telapak tangan mungil itu.
Beberapa hari terakhir ini, adalah hari yang menyenangkan bagi William. Entah mengapa, ia merasa ringan menjalani rutinitas yang biasanya membosankan. Hidupnya sekarang seakan mempunyai tujuan. Pelajaran kehidupan yang diberikan orangtuanya ternyata sangat mempengaruhinya.
Berangkat kerja serasa ada yang kurang tanpa tangan dicium Sarah dan menggendong Belle walaupun sejenak. Itu sudah seperti keharusan yang tak tertulis. Pulang ke rumah menjadi lebih semangat, karena ada yang menantinya di dalam kamar. Semuanya terasa semarak.
Senyum William mengembang terus sepanjang perjalanan pulang dari kantor. Hari masih terang, matahari pun belum sepenuhnya terbenam. Biasanya ia menghabiskan waktu di cafe atau tempat kerja milik saudaranya, tapi beberapa hari terakhir tujuan terakhirnya di sore hari adalah rumah.
__ADS_1
Sampai rumah, tak biasanya William disambut Sarah di depan pintu.
"Hai," sapa Sarah sembari mengambil tas kerja William. Wanita itu biasanya ada di kamar atau di taman belakang bersama Belle.
"Hai?" balas William heran, "Mana Belle?"
"Di kamar." Seperti biasa, jika bayi itu tak terlihat bersamanya, William selalu menanyakannya. Sebenarnya ia sedikit kesal, mengapa selalu kalah pamor dibanding manusia yang panjangnya tak lebih dari seukuran lengannya.
"Apa ini?" tanya William tambah curiga ketika Sarah menggiringnya ke meja makan. Di atas meja itu sudah tersedia secangkir teh hangat serta beberapa potong cake.
"Aku tadi baru coba resep baru."
"Ini beli di supermarket depan perumahan," ucap William setelah mencicipi sedikit.
"Maksudnya tadi coba resep baru terus gagal, jadinya beli di depan saja," ujar Sarah terkekeh malu. Jarinya memilin ujung kaos gugup.
"Ada apa sih?"
William menarik nafas panjang lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar. Agak malas ia membahas pembicaraan ini, karena sejujurnya ia ingin Sarah seperti Mamanya yang selalu di rumah menyambut Papanya pulang kerja.
"Wiiil ...." Sarah merengek mengikuti langkah William masuk ke dalam kamar.
"Hai, Belle." Bukannya menanggapi Sarah, William lebih senang menyapa Belle yang sudah tengkurap di ranjangnya. Bayi itu tampak senang melihat Papa asuhnya muncul dari balik pintu, "Tunggu ya, Papa cuci tangan dulu."
Sarah meringis geli. Beberapa hari terakhir ini, William tanpa diminta memang membiasakan dirinya sendiri dengan sebutan Papa.
"Tuh, kamu lihat sendiri, Belle sudah sehat. Besok aku ikut ya, duduk saja lihatin kamu kerja juga tidak apa-apa. Kalau ada Brenda, nanti aku sembunyi dalam kamar atau pergi ke pantry."
__ADS_1
Setelah berulang kali Sarah mengejarnya dengan pertanyaan yang sama, William akhirnya mengalah, "Terserah kamulah."
Sarah menyunggingkan senyum kemenangan, sekaligus resah karena dengan ini rencananya sudah harus berjalan tanpa alasan.
Dan inilah saat yang ia tunggu. Ia berdiri di depan gedung tinggi bersama dengan Belle dan William. Sejak kakinya menapak pada lantai gedung bertingkat itu, semua mata terarah padanya yang berdiri di sisi petinggi mereka dengan bayi dalam gendongannya.
Pertama kali ia datang kemari dengan Mama William tidak terlalu menarik perhatian, karena kala itu penampilannya sangat sederhana. Namun kini ia tampil selayaknya sebagai istri dari William.
"Brenda di mana?" Pertanyaan pertama setelah mereka berada di ruangan William.
"Kamu mau bekerja atau bergosip?"
Entah bagaimana ia menunjukan pada wanita ini, kalau ia di didik menjadi pria yang bertanggungjawab serta memegang teguh komitment meski bertentangan dengan kata hati. Komitment itulah yang membuat William tak mampu melakukan hubungan intim meski dengan wanita yang dicintainya. Tiap kali Brenda mengajaknya melakukan hal yang jauh, rasa bersalah menghantuinya dan akhirnya selalu gagal sebelum memulai pergulatan di atas ranjang.
Tak dipungkiri, rasa cintanya pada Brenda masih ada dan tak semudah itu hilang. Brenda adalah wanita pertama yang mampu memesonanya dengan keanggunan serta mempunyai s ex appeal yang mampu memikatnya. Hanya sayangnya, wanita itu tidak pernah mau diajak ke jenjang yang lebih serius. Dengan alasan karir serta belum mau terikat pernikahan, Brenda selalu menolak lamaran William. Ia akhirnya berusaha mengalah dan mengerti dengan harapan Brenda akan bosan bermain-main di luar sana dan akan pulang kembali ke pelukannya.
Sekarang ia terikat janji pernikahan dengan wanita yang belum ia kenali seutuhnya. Bagaimana bisa cinta itu datang tiba-tiba?, tapi dia bukanlah pria brengsek yang sering ditemui di luar sana. Menikah tanpa cinta lalu bercinta dengan yang lain dengan dalih lebih cinta dari pasangan yang sah.
Ia akan memegang janji pernikahan dan komitmentnya, meski terlihat sulit dan tak mungkin. Terlebih banyak misteri yang disimpan oleh istrinya. Namun kehadiran sosok ketiga dalam rumah tangganya yang instan ini, yaitu Belle membuat semua terasa jauh lebih mudah. Nyatanya ia dapat melalui pernikahan ini yang ternyata sudah lewat satu bulan lebih dengan sangat baik. Ia semakin nyaman menikmati perannya sebagai ayah dan nantinya ia pasti akan belajar menjadi seorang suami.
"Tidurkan Belle di dalam. Aku tidak mau dia sakit karena mengikuti egomu," ucap William sembari menekan tombol di bawah meja. Sebuah pintu yang tersamarkan terbuka.
Sarah masuk ke dalam kamar rahasia itu. Ukurannya tidak seberapa besar, tak ada yang istimewa. Hanya sebuah ranjang cukup untuk dua orang, sofa dan meja yang sederhana. Kamar itu sangat rapi, sepertinya selalu dibersihkan secara berkala.
Sarah membaringkan Belle yang tertidur, lalu membatasinya dengan bantal dan guling.
"Aku harap sprei ini sudah diganti setelah kalian bercinta diatasnya," ujar Sarah pada William yang mengikutinya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
...❤️🤍...