Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Ungkapan hati


__ADS_3

"Apa Papa salah, Belle kalau kamu dan perempuan yang kamu panggil Mama itu pulang larut malam tanpa mengabari dulu?" William bergumam sendiri sembari mengusap-usap punggung Belle. Ia tersenyum tipis ketika memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Papa.


"Anak siapa sebenarnya kamu?" Jari telunjuk William menyusuri kening lalu turun ke pipi Belle.


Ia tidak terlalu terkejut dengan ucapan Sarah bahwa bayi ini bukan anaknya, karena sebelumnya ia memang pernah mendengarnya dari bibir Sarah sendiri. Namun ucapan Sarah sebelumnya tidak terlalu dipikirkan olehnya, karena ia tidak menganggap kehadiran dua orang asing ini dalam kehidupannya. Sekarang ucapan penuh kemarahan Sarah tadi, menggelitik keingintahuannya.


Setelah memastikan Belle sudah terlelap, William keluar kamar hendak mencari Sarah. Ia merasa bersalah telah menyebut wanita itu bodoh. Berusaha berpikir positif, ia menduga kemarahan Sarah karena lelah atau masa period wanita yang sedang berkunjung.


William menemukan wanita yang ia nikahi duduk di dapur dengan lutut tertekuk melekat di dada. Mata Sarah tampak kosong menatap secangkir kopi yang sudah dingin.


"Sudah malam tak seharusnya kamu minum kopi." William mengambil cangkir milik Sarah lalu membuang isinya yang masih terisi penuh, "Aku buatkan susu hangat ya, sepertinya kamu lelah." Tanpa diminta dan menunggu persetujuan Sarah, William sudah menyeduh dua gelas susu coklat dan menaruhnya di depan Sarah.


Gadis itu tak bergeming. Pandangannya masih sama, kosong dan sedih.


"Maafkan kalau ada kalimatku yang menyakitimu. Sungguh aku tidak bermaksud mengatakan kamu bodoh. Aku hanya khawatir, karena kamu dan Belle sekarang adalah tanggungjawabku sepenuhnya.


"Berhentilah bersikap baik padaku, Wil. Aku lebih suka kamu yang dulu, jahat, ketus dan tak peduli," sahut Sarah datar. William menarik nafas panjang. Ia juga tak mengerti apa yang membuatnya berubah. Ia hanya ingin berubah baik dan lembut pada Sarah dan Belle, sudah itu saja.


"Aku hanya melakukan tugasku."


"Aku juga," timpal Sarah lirih.


"Apa?" William mengernyit heran dengan jawaban Sarah.


"Lupakan. Aku ke kamar dulu mau lihat Belle, tadi aku meninggalkannya menangis."


William menahan tangan Sarah yang sudah berdiri, "Habiskan susunya. Belle sudah tidur, kamu tak perlu khawatir. Duduk dulu, ada yang ingin aku tanyakan padamu." William menariknya hingga duduk kembali.


"Kamu bilang tadi Belle bukan anakmu, lalu dia anak siapa?" Sarah mendesah malas mendengar pertanyaan William.


"Aku bosan dengan topik ini. Dia memang bukan anakku, dia ... Anak temanku yang hamil di luar nikah." Sarah memalingkan wajahnya takut jika William bisa membaca kebohongannya.

__ADS_1


"Kemana orangtuanya?"


"Tidak tahu. Dia ditinggalkan begitu saja." Sarah menaikan kedua bahunya.


"Lalu kamu dengan sukarela mau merawatnya?"


"Mau bagaimana lagi? Apa iya aku harus meninggalkannya di pinggir jalan? Aku hanya berharap temanku akan datang dan mengambilnya kembali."


Ia memang berharap beban mengasuh Belle dan tugas yang diberikan komplotan itu segera terangkat dari pundaknya. Ia paham, kehadiran Belle hanya sebagai pengikat antara William dan dirinya.


"Kalau dia datang dan ingin mengambil Belle, akan kamu serahkan begitu saja?"


"Iya, kenapa?"


"Aku tidak setuju. Dia sekarang anakku. Aku akan segera membuat suratnya. Hal mudah untuk itu, aku punya banyak kenalan yang bisa membantuku mengurus berkas kita," ucap William bersemangat.


"Itu tidak perlu. Aku kira, kamu punya pikiran yang sama denganku tentang pernikahan ini. Sejak awal pernikahan ini terjadi atas kesalahpahaman Papamu dan kita masing-masing tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga saat itu sedang membutuhkan banyak biaya dan keluargamu juga sedang berusaha menutupi aib di perusahaan gara-gara kamu mencoba bermain-main dengan wanita malam. Kita impas, Wil. Aku tidak berharap pernikahan ini akan berlangsung seperti pasangan pada umumnya, aku cukup tahu diri. Yaah, mungkin kita akan bersama seperti ini sampai isu di kantormu mereda dan aku dapat melunasi hutangku."


"Sakit, Wil!" protes Sarah.


"Apa salahnya jika pernikahan ini berlangsung selamanya. Aku orang yang anti memainkan janji pernikahan. Kalau di awal aku berlaku tak seharusnya, itu karena aku sedang menyesuaikan diri, tapi dalam pikiranku tak pernah terlintas akan mengakhiri pernikahan ini jika tak ada alasan yang jelas."


"Ada alasan yang jelas." Sarah membalas pandangan William, "Tak ada cinta diantara kita, Wil. Pernikahan itu dasarnya cinta. Alasan kita menikah kamu tahu sendiri apa, tak perlu dijelaskan lagi."


"Kamu salah. Pernikahan tidak hanya diasari oleh rasa cinta, tapi butuh komitment di antara dua orang untuk membangun hubungan yang sehat. Cinta bisa hilang seiring waktu, tapi komitment yang akan menyadarkan pentingnya arti pernikahan."


"Kamu ini bicara apa sih, pusing kepalaku." Sarah berusaha melepaskan tangan William.


"Kita bisa, Sarah." William tak membiarkan tangan Sarah lepas dari genggamannya.


"Bisa apa?!" seru Sarah gemas.

__ADS_1


William terdiam, ia menelisik wajah Sarah yang beberapa hari terakhir ingin ia lihat pertama saat bangun tidur di pagi hari, dan yang terakhir saat mengakhiri malam di atas ranjang.


"Aku rasa ... aku jatuh cinta padamu, Sarah," ungkap William.


"He? Kamu kenapa sih!"


"Pernikahan kita memang tidak terjadi normal seperti pasangan lain, tapi bukan berarti kita tidak bisa seperti pasangan lain. Kita bahkan bisa lebih dari itu, Sarah. Mari kita mulai dari awal." William berkata dengan semangat.


Sarah memundurkan tubuhnya saat William semakin mendekatkan wajahnya, ia menggelengkan kepalanya keras. Ini bukan seperti rencananya, harusnya William membencinya bukan sebaliknya.


"Kamu berkata seperti ini karena patah hati. Pikirkan baik-baik, kamu masih ada kesempatan untuk mendapatkan hati Brenda lagi, Wil. Tenang saja ini tidak akan lama, setelah gosip di kantor mereda lalu sebarkan berita tentang perpisahan kita kamu bisa kembali menjalin hubunganmu dengan Brenda. Semudah itu, Wil." Sarah berdiri lalu perlahan berjalan mundur dengan tangan terangkat seolah melarang William mendekat.


"Tanpa kamu minta, aku sudah memikirkan itu, Sarah, tapi jawabannya selalu sama. Aku mencintaimu dan menyayangi Belle. Aku tidak ingin kalian berdua keluar dari kehidupanku." William terus bersikeras dengan mata berbinar seolah ia sedang mengabarkan sesuatu yang luar biasa.


"Apa kamu pernah bertanya tentang perasaan dan keinginanku, Wil? Sejak awal kamu menyeretku dari tempat tinggalku lalu keluargamu memaksaku untuk menikah denganmu. Aku tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk mengutarakan pendapatku. Sekarang kamu juga ingin memaksakan keinginanmu? Dengar, Wil, aku tidak mencintaimu. Pernikahan ini hanya sementara, kita sama-sama saling diuntungkan sejauh ini. Jadi tolong jangan berharap lebih, karena ada saatnya aku dan Belle akan keluar dari rumah ini."


"Oke! Sampai saat yang kamu bilang tadi, aku akan membuktikan padamu tentang perasaanku dan dengar, Sarah aku juga akan memastikan kalau kamu juga akan merasakan hal yang sama denganku."


Ucapan William menghentikan langkah Sarah yang sudah hampir melewati pintu dapur.


...❤️🤍...


Terima kasih untuk yang sebar


Like, komen, gift dan Vote 🙏❤️


Yang punya media sosial, follow juga yuk


IG : ave_aveeii


FB : cerita aveeii

__ADS_1


Tiktok : Cerita Aveeii


__ADS_2