Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Meringkus Baron


__ADS_3

William merasa kesal sekali kepala penyelidikan terus mencekal tangannya. Ia cemas dengan keselamatan kedua orangtuanya di tengah suasana yang semakin tak terkendali. Ia yang berdiri di tepi lapangan, hanya bisa memandang dari kejauhan.


"Pak, kenapa kita tidak langsung menyergap saja? kalau orang tua saya terluka dan saya hanya diam di sini tanpa berbuat apapun, saya akan sangat merasa bersalah," keluh William.


"Kamu tenang, Wil. Jangan gegabah. Kalau kamu ikut masuk dalam kekacauan di sana dan sesuatu terjadi pada kamu, entah kamu terluka atau mungkin kamu yang melukai orang lain, situasinya malah tidak menguntungkan pihakmu dan itulah yang mereka incar." Pak Suntoro semakin mengeratkan pegangan tangannya.


Ia sangat mengerti kondisi emosional William. Sebagai anak muda yang penuh tenaga dan semangat melihat orang tersayangnya dalam kesulitan pasti ingin bergerak maju. Namun sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kasus ini, dia tahu apa yang terbaik.


"Ingat, negara kita memang negara hukum, tapi hukum juga melindungi hak asasi pelaku. Bisa-bisa kamu yang menjadi terdakwa kalau terjadi sesuatu, bisa sia-sia perjuangan Papamu. Coba lihat, semua sudah terkendali tak perlu kamu kotori tanganmu hanya untuk menghajar penjahat kelas teri itu. Urusanmu bukan dengan mereka, ada saatnya nanti kamu tunjukan pada mereka siapa kamu." Pak Suntoro menepuk punggung William.


William memperhatikan situasi di tengah lapangan. Benar apa kata Pak Suntoro, suasana yang riuh sudah terkendali. Ternyata banyak polisi yang menyelinap diantara warga, jadi keributan tadi memang seperti perkelahian antar warga dengan anak buah Baron, tapi yang sebenarnya adalah sedang meringkus penjahat.


"Sejak kapan mereka ada di sana?" tanya William heran. Ia tidak menyangka pria-pria yang berpenampilan seperti warga pada umumnya itu, adalah polisi yang bertugas.


"Mereka sudah melebur bersama warga sejak satu bulan yang lalu. Kami sudah lama mengamati pergerakan Baron dan Tuan Marvel."


William mengamati bagaimana satu persatu anak buah Baron ditangkap dan diikat menjadi satu. Sedangkan Baron serta Tuan Marvel sudah lebih dulu dibawa pergi menggunakan mobil.


"Temui orangtuamu." Pak Suntoro menepuk pundak William.


Tak perlu diminta dua kali, William segera berlari mendekati orangtuanya yang duduk di tanah sambil merangkul satu sama lain.


"Paa ... Maa." William menghambur ikut memeluk keduanya.

__ADS_1


"Kamu di sini, Wil? adik-adikmu?" Mata Mama mencari-cari dibalik punggung putra sulungnya.


"Mereka aman di rumah. Papa dan Mama ada yang terluka?" Mata William mengamati tubuh keduanya.


Hatinya trenyuh melihat kondisi kedua orangtuanya yang biasa tampil sempurna, sekarang sangat tidak terawat dan menyedihkan. Baju yang entah sudah berapa lama mereka gunakan, tampak lusuh dan kotor. Tubuh keduanya kurus dengan mata cekung yang kurang istirahat. Di wajah, tangan serta kaki Papanya pun tampak banyak bekas luka lebam.


"Mama baik-baik saja?" tanya William beralih pada Mamanya dengan suara tercekat.


"Mama baik-baik saja. Ada Papa yang melindungi Mama," jawab Mama seraya tersenyum menenangkan.


Nanti akan ada waktunya ia ceritakan pada semua anak-anaknya, bagaimana hebatnya Papa mereka melindungi Mamanya. Tiap kali anak buah Baron ingin menyakiti atau bahkan ingin melecehkannya, suaminya itu rela pasang badan agar tangan kotor penjahat itu tak menyentuhnya sehelai rambut pun.


"Wil, biar Papa dan Mamamu beristirahat dulu. Masih ada sesuatu yang harus kamu lakukan." Pak Suntoro mendekati mereka dan membantu kedua orang tua William untuk berdiri.


"Terima kasih, Pak sudah mendengarkan laporan saya." Papa William menjabat tangan Pak Suntoro.


Di tengah kebingungannya dengan percakapan Pak Suntoro dan Papanya, beberapa warga mendekat dan menawarkan bantuan untuk merawat kedua orang tua William yang tampak lemah.


"Ayo, ada yang harus kita selesaikan. Jangan khawatir kedua orang tuamu aman di sini." Pak Suntoro menggiringnya masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, Pak Suntoro menunjukan padanya berkas serta kumpulan bukti berupa foto yang dikumpulkan oleh Papanya.


"Sekarang semua ada di tanganmu. Kamu hanya perlu membeberkan bukti agar dapat membawa Baron serta Marvel untuk menjalani persidangan di kota. Inilah alasan kenapa saya melarang mu terjun langsung dalam penangkapan tadi, kalau kamu berbuat kesalahan itu akan menjadi senjata mereka untuk menyerang balik."

__ADS_1


William menganggukkan kepala berulangkali menanggapi penjelasan Pak Suntoro. Di kepalanya penuh dengan penyesalan akan masa mudanya dulu. Melihat bagaimana Papanya bekerja penuh resiko hingga berhadapan langsung dengan bahaya semacam ini, membuatnya merasa malu.


Sebelum ini, ia selalu enggan jika diajak belajar mendalami bisnis. Ia masih ingin bersenang-senang dengan masa mudanya. Berkencan dan menghabiskan waktunya sepanjang hari dengan Brenda adalah kegiatan rutinnya. Uang yang diberikan oleh Papanya, ia gunakan untuk menuruti permintaan Brenda yang terkadang tidak masuk akal.


"Wil, kamu dengar saya?"


Williame mengangguk gugup.


"Saya yakin kamu sanggup, ini hanya penyelesaian kecil saja. Bukti sudah lengkap mereka tidak akan bisa berkutik lagi."


Pak Suntoro membawanya ke kantor kepala desa, tempat Baron bekerja. Di dalam sana sudah menanti Tuan Marvel serta Baron yang duduk diapit petugas polisi yang bertubuh besar.


Begitu melihat kedatangan William, Baron langsung berdiri dan mendekatinya, "Untunglah anda belum pergi, tolong bebaskan saya. Ini salah paham, saya benar-benar tidak tahu ada sesuatu di balik pergantian antara proyek Papamu dan dia." Baron melirik pada pria berwajah asing yang memandang dirinya dengan tatapan tajam.


"Kembali duduk, Pak Baron. Ada beberapa hal yang harus anda lihat dan jelaskan pada saya dan para warga," ujar William geram.


William membuka satu persatu berkas serta lembaran foto yang diambil oleh beberapa para warga secara sembunyi. Foto itu memperlihatkan bagaimana kedekatan antara dirinya dan Tuan Marvel.


Bukan Baron jika tidak mengelak, tapi begitu William memutar video dan rekaman suara yang disadap di ruang kerja serta telepon selularnya, pria berkulit gelap itu diam tak bersuara lagi.


"Diamnya anda ini sudah cukup bagi kami untuk membawa kasus anda dan Tuan Marvel, untuk ditindak lanjuti di pemerintah pusat," ujar William sembari menutup semua berkas miliknya.


"Tolong ampuni saya, Bos. Saya dijebak, saya tidak bisa berbuat apapun karena saya diancam oleh pria asing itu." Baron berlari dan berlutut sembari memegang lutut William.

__ADS_1


Geram rekan bisnisnya memfitnah dirinya terus, Tuan Marvel mendekati Baron lalu menariknya berdiri dan memberikan dua buah pukulan keras di wajah serta tubuhnya.


...❤️🤍...


__ADS_2