
"Jadi menurutmu aku tak pernah baik padamu hmm?" William memutar kursinya menghadap ke arah Sarah. Ia mendekapkan kedua tangannya di dada dengan mata menyipit.
"Aku masih ingat rasa sakit di lenganku ini saat tanganmu mencengekramnya." Sarah menunjukan pergelangan tangannya. Tak ada bekas apapun di lengannya, tapi rasa sakit itu membekas pada hatinya. Sorot mata William yang mengecam marah serta hardikannya di depan Brenda saat itu, masih tertinggal di ingatannya.
"Mana?" William meraih tangan Sarah lalu mengamatinya dari jarak dekat, "Aku tak melihat apapun. Tangan dan jarimu masih terpasang dengan baik ditempatnya." William menarik tangan Sarah hingga tubuh gadis itu tertarik ke arah William.
"Sudah sembuh, tapi rasa sakitnya masih terasa," ucap Sarah ketus. Ia mencoba menarik tangannya, tapi cengkraman tangan William pada pergelangan tangannya membuat tubuhnya semakin mendekat ke arah pria itu.
"Masih sakit? Mana? Jika aku yang membuatmu sakit, biar aku coba sembuhkan." William mengusap pergelangan tangan Sarah. Ia tak peduli dengan raut wajah Sarah yang merah padam karena jarak kepala mereka sangat dekat sekali.
"Sudah sembuh." Sarah mencoba menarik tangannya lagi.
"Benarkah? Tadi bilangnya masih sakit?" William menengadahkan kepalanya. Ia menatap sendu mata Sarah yang menunduk kearahnya. Gadis itu hanya sanggup menggeleng dengan wajah merona.
"Kamu kenapa diam?" William berdiri masih dengan memegang tangan Sarah.
"Lepas, kamu malah menyakitiku." Sarah berusaha menarik tangannya. Wajahnya tertunduk memandangi pergelangan tangannya yang masih dalam genggaman William.
"Kenapa kamu gugup, Sarah? Bukannya berdekatan dengan seorang pria seperti ini merupakan keahlianmu?" William menekan Sarah terus merapat ke arah lemari berkas.
"Kamu kenapa sih!" Sarah berusaha meloloskan diri saat tubuhnya terhimpit antara lemari berkas dengan tubuh William.
"Apa jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta padaku, Sarah?" William mengangkat dagu Sarah hingga gadis itu menengadah dan mata mereka saling bertautan.
"Kamu mabuk, Wil!"
"Apa aku terlihat mabuk?" William mendekatkan wajahnya ke arah Sarah.
__ADS_1
"Ya! Kamu mabuk nafsu sama kekasihmu itu, tapi kamu terlalu gengsi untuk menunjukannya sama dia dan sekarang kamu mau melampiaskannya padaku?"
"Untuk apa aku menginginkan wanita yang bukan siapa-siapa untukku? Lantas apa fungsinya kamu sebagai istriku?" William menyeringai.
"Jangan kurang ajar, Wil! Pergi sana temui kekasihmu!" Sarah mendorong dada William panik.
"Mengapa kamu harus ketakutan, Sarah? Bukannya ini suatu hal yang biasa untukmu? Bahkan mungkin kamu yang lebih menguasai ranjang dibanding tamumu. Seperti malam itu, hmm you're so hot, Sarah!"
Sarah bergidik mendengar suara William yang terdengar berhasrat.
"Ya, aku banyak melayani berbagai macam hidung belang. Apa kamu tidak takut tertular penyakit, Wil?" Sarah memandang William dengan tatapan mengancam.
"Kita bisa menggunakan pengaman."
"Aaah, sudahlah Wil. Cukup bercandanya!" Sarah mendorong lebih keras lagi dada William, tapi tubuh pria itu tak bergerak sama sekali.
Tatapan mata William yang seperti menelanjangi tubuhnya itu, bagi Sarah seperti bentuk pelecehan sek sual. Ia merasa terhina, tak ada harganya dan seperti barang dagangan.
"Aku sudah tidak bekerja seperti itu lagi. Apa aku tidak boleh hidup lebih baik dari sebelumnya?" Sarah memalingkan wajahnya. Meski ia bukanlah wanita yang seperti digambarkan William, tapi ia dapat merasakan kepedihan para wanita panggilan yang terpaksa melakukan pekerjaan kotor itu.
"Bagus! justru kamu tidak boleh kembali kesana, Sarah karena kamu sekarang milikku. Hanya aku yang dapat menikmati tubuhmu. Yaah, anggap saja nafkah yang kuberikan padamu bayarannya. Sama saja 'kan?"
Sebuah tamparan kecil mendarat di pipi William. Sarah benar-benar muak dengan segala ucapan dan tatapan merendahkan dari William.
"Kamu menamparku, Sarah? Coba katakan di mana salahku? Harusnya kamu bersyukur aku angkat dari lembah hitam itu! Kalau tidak sampai detik ini kamu masih bergulung di atas ranjang dengan berbagai macam pria yang menjijikan!"
"Oke! Terima kasih! Terima kasih atas pertolonganmu Tuan William. Andaikan aku masih bergulung di atas ranjang dengan berbagai macam pria seperti katamu tadi, setidaknya mereka mungkin memperlakukan aku jauh lebih baik dari padamu seorang bocah yang masih bersembunyi di ketiak orangtua tapi sombong dan angkuh!"
__ADS_1
Rahang William bergemeletuk menahan emosi. Entah mengapa sejak kedatangan Brenda di ruangannya tadi, emosinya gampang terpicu. Di tambah tadi sebelum memasuki ruang rapat, Brenda kembali mendekatinya dan berbisik di telinganya.
'Ternyata wanita pilihanmu tak lebih baik dariku. Aku tahu dia pernah tinggal di kawasan tempat tinggal wanita penghibur. Apakah dia salah satu dari mereka? Hmm, pantas kamu berpaling padanya. Apakah goyangannya sehebat itu? Kamu tak mau membandingkannya dengan goyanganku, Wil? Hmm, kamu pasti ketagihan.' Brenda mengedipkan sebelah matanya dengan sensual.
Ucapan Brenda itu membuat seluruh otaknya kacau selama memimpin rapat. Bukan ia tergoda dengan penawaran Brenda, tapi membayangkan Sarah naik di atas tubuh pria lain dan dan menggoyang tubuh bermacam-macam pria membuat ia ingin muntah karena marah yang sangat hebat.
Lantas mengapa wanita ini marah saat ia mengungkit pekerjaan lamanya? Kemana reaksi agresif yang seharusnya ditunjukkan oleh wanita panggilan biasanya jika ada pria yang menggoda dan menawarkan imbalan?
"Jadi kamu lebih suka melayani mereka daripada aku, pria yang kamu nikahi?!" William mencengkram rahang Sarah.
'Aku bukan tidak mau melayanimu, Wil. Andaikan aku benar wanita yang kau nikahi secara sah, aku mau melayanimu. Pernikahan kita tidak sah, Wil! Maafkan aku yang terus membohongimu.' Sarah menjerit dalam hati.
"Karena kamu kasar!"
"Aku kasar? Seperti ini maksudmu?" William memagut bibir Sarah dan melu matnya dengan brutal, "Atau seperti ini yang kamu maksud kasar?" William kembali meraup bibir Sarah dan menambahkan gigitan di sela-sela pagutannya.
"Wil, sakit!" Sarah menangis saat berhasil melepaskan tautan bibirnya. Ciuman pertamanya terenggut dengan kasar, tak ada kesan indah sama sekali.
"Atau seperti ini." Suara William merendah. Ia memagut bibir Sarah dengan lembut dan halus. Tiap kecupan dan lumatannya seakan mengobati gigitan serta tindakannya yang kasar tadi.
Tak ada penolakan dari Sarah. Gadis itu sudah terbuai dan menikmati perlakuan bibir dan lidah William di dalam mulutnya.
"Kamu lebih suka diperlakukan lembut rupanya," ucap William di jeda ciumannya, tapi ketika ingin kembali menempelkan bibirnya suara tangisan Belle mengejutkan keduanya.
...❤️🤍...
Maaf ya, lagi tidak enak badan jadi lambat upnya 🙏
__ADS_1