Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
mengobati


__ADS_3

"Sedikit lagi. Biarkan aku bantu kamu mandi, kamu masih lemah berdiri aja sempoyongan." William mengangkat kepalanya dan menatap wajah Sarah yang merah merona. Wajah istrinya itu sudah tak pucat lagi seperti di awal ia menggendongnya dari dalam mobil detektifnya.


Dengan sangat perlahan dan hati-hati sekali, William mengusap tubuh Sarah. Sesekali istrinya itu mengernyit kesakitan saat luka di tangan dan kakinya terasa perih terkena air sabun.


"Maaf, tahan sedikit ya," ujar William.


Sarah hampir gila dibuatnya. Rasa sakit tak berarti apa-apa baginya dibanding rasa malu dan hasrat yang mulai terpancing.


"Renggangkan sedikit, Sarah, aku kesulitan membersihkannya." Tangan William terjepit di antara kedua paha Sarah.


"Ga perlu, kalau di sana aku bisa sendiri, Wil!" seru Sarah gemas.


"Aku hanya mau membersihkan kakimu, bukan 'itu'." William menunjuk dengan tatapan matanya. Sarah hampir menendang dagu William dengan lututnya karena kesal.


"Nanti saja, kamu keluar saja, aku sudah kedinginan." Sarah semakin merapatkan dekapan di dadanya dan kedua pahanya.


"Baiklah, tapi jangan kunci pintunya ya. Aku khawatir kamu pingsan di dalam."


William berdiri lalu berjalan mundur. Matanya tak lepas dari Sarah seolah tak rela meninggalkan pekerjaannya yang menyenangkan tadi.


Begitu William keluar dan menutup pintu kamar mandi, Sarah mencoba berdiri dari duduknya. Benar kata William, ia masih terlalu lemah apalagi rasa bergetar terkena sentuhan tangan seorang pria di tubuhnya semakin menambah lemas seluruh sendinya.


Sarah berjalan menuju shower dengan bertumpu menjalar pada dinding kamar mandi. Ia menyalakan air dan membasuh sisa sabun di tubuhnya. Bulunya meremang saat mengingat bagaimana William menyentuh kulitnya dengan penuh perasaan.


"Dasar mesum!" umpatnya dengan wajah memerah.


Sembari menunggu Sarah menyelesikan mandinya, William kembali menghubungi orang suruhannya. Dengan telepon di telinganya, mata William mengawasi tajam pintu kamar mandi.


"Bagaimana, apa ada perkembangan?" tanya William dengan suara sedikit berbisik.

__ADS_1


"Sampai detik ini kami masih memantau, Pak."


"Apa lagi yang kalian tunggu!" seru William geram.


"Kami khawatir kalau menyerang sekarang, orang yang ditawan di dalam akan disiksa atau bahkan dihabisi."


William menyugar rambutnya bingung. Ia sendiri juga belum yakin apakah teman Papanya ada di dalam gedung itu bersama bayi kecilnya, dan apakah Sarah serta Papanya tidak berada dalam skenario ini.


Semua masih berada dalam situasi abu-abu. Ia dan orangtuanya tentu masih harus waspada akan kemungkinan yang terjadi. Faktanya, surat perjanjian itu hilang dan orang yang paling mencurigakan adalah Sarah.


"Baiklah, terus awasi dan pantau. Fokus kalian adalah membawa Tuan Anderson dan anakku pulang dengan selamat."


William memutus sambungan telepon, tepat saat itu suara air di dalam kamar mandi dimatikan. William berjalan mendekati pintu dan menanti Sarah keluar dari dalam sana.


"Ah, Wil!" Sarah terkejut mendapati pria itu berada tepat di depan pintu kamar mandi.


"Mau apa?" Sarah protes, ia menolak William akan membuka bajunya lagi.


"Aku hanya ingin mengoleskan salep pada punggungmu. Aku tadi lihat punggungmu kebiruan." William tetap memaksa. Sarah mengalah, karena tentu tak mungkin ia mengoles bagian punggung sendirian.


"Apa di sana kamu dipukul?" tanya William sembari mengoleskan salep di punggung Sarah. Gadis itu mengernyit ngilu, ia sendiri baru sadar kalau punggungnya terluka.


Sarah teringat bagaimana ia menjalani tiga hari dalam masa penyekapan di gedung itu. Sebenarnya ia tidak perlu mengalami luka tersebut, tapi karena ia selalu memberontak dan mencoba melawan para penjaga tak segan memukul dan menendangnya.


Sarah kembali menangis mengingat itu semua. Tiga hari lamanya bagaikan setahun. Ia sempat mengira akan mati membusuk di dalam ruangan sempit itu.


"Sudah tak apa, kamu sudah aman bersamaku." William menyudahi pengobatan Sarah. Ia merengkuh bahu gadis itu lalu membawanya ke dalam pelukan.


"Tapi Papa aku dan Belle masih ada di sana, Wiiil!"

__ADS_1


"Papa? Bukannya kamu anak yatim piatu?" pancing William pura-pura tidak tahu.


Sarah menangkupkan kedua tangannya di wajah. Ia menangis sejadi-jadinya, seolah menumpahkan rasa dan pikiran yang selama ini membebaninya. Setelah menjalani tiga hari yang menakutkan, ia sudah lebih siap menghadapi kemarahan William serta keluarganya. Ia sudah siap menerima resiko atas apa yang sudah ia perbuat.


Namun mendekam di balik jeruji besi, tentu tidak lebih menderita dari pada di benci dan dilupakan oleh William. Menyadari hal itu, Sarah kembali menangis.


"Tidak apa-apa, kamu boleh nangis selama apapun, tapi setelah itu tolong ceritakan padaku semuanya." William berusaha bersabar menunggu Sarah kembali tenang. Ia membutuhkan keterangan dari wanita itu untuk membongkar kejahatan di balik ini semua.


Setelah beberapa saat lamanya, tangis dan isakan Sarah mulai mereda. Ia menolak saat William akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, tapi teh hangat yang disodorkan William ia teguk sampai habis.


"Wil, apa yang aku sampaikan ini, aku tidak akan memintamu untuk memaafkan aku. Aku sudah siap kalau kamu akan memenjarakanku, tapi aku minta satu hal padamu. Tolong selamatkan Papa dan Belle," ucap Sarah dengan mata berkaca.


William mengusap kepala Sarah, ia kecup kening gadis itu lalu berkata dengan sangat lembut, "Aku sangat mencintaimu. Kamu tentu tahu orang yang mencintai itu akan berbuat apapun demi orang yang dicintainya bahagia."


...❤️🤍...


Kakak, adek, Om, Tante, mohon maaf kalau lama up nyaa 🙏🙏🙏


Jangan kapok ikuti novel ongoingku yaa semua pasti tamat, hanya soal waktu saja 🙏😁


Cerita mungkin sudah banyak yang lupa, bisa dibaca ulang 😛


Mampiiir juga karya ke delapanku. Masih sekuel dari novel pertama, ini kisah Maura adik dari William.


Biar tidak bingung penggambaran situasinya, kalo digabung kira-kira kisah Maura ini terjadi kurang lebih saat William juga mengalami masalah.


Jadi makanya mereka sedikit banget ketemu di dalam cerita masing-masing dan pas Maura juga ngungsi ke apartement, begituuu preen


__ADS_1


__ADS_2