
"Benar Mba Mona ngomong seperti itu?" Tak tahan dengan pikirannya yang liar, Sarah kembali mengungkit percakapan terakhir yang terjadi di dalam kos Mona tadi.
"Eh? Omongan Mba Mona yang mana?" William yang sedang berkonsentrasi mengemudi dan memikirkan rencana selanjutnya menoleh kebingungan.
"Yang dia ajak kamu check in." Sarah menelisik perubahan wajah William. Seketika pemuda itu tergelak, tapi tak berniat menimpali pertanyaan Sarah.
"Kamu lapar? Tadi habis mandi belum sempat makan loh." Bukannya menjawab, William malah mengalihkan pada topik yang lain.
"Nanti saja," sahut Sarah malas. Ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu membuang pandangannya ke jendela.
Ia kecewa, tapi juga paham kalau tidak ada haknya untuk marah dan melarang William melakukan apapun karena mereka memang tak pernah terikat hubungan apapun. William pun tentunya juga sudah tahu kalau pernikahan mereka selama ini tidak sah, jadi bebas bagi pria itu melakukan apapun tanpa seijin dirinya.
"Kita makan dulu ya, sekalian kita bahas langkah selanjutnya." William menepikan kendaraannya pada sebuah rumah makan yang melayani 24jam.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, William membuka berkas milik Papanya dan memeriksanya kembali.
"Asli dan masih lengkap," ujarnya puas, "Aku mungkin besok harus segera bawa berkas ini ke daerah B dan membantu Papa menyelesaikan permasalahan di sana. Untuk Papamu jangan khawatir, aku sudah utus team untuk mengawasi dan menjaga keselamatan Papamu dari jauh. Kita selesikan semua permasalahan ini satu persatu."
Sarah hanya mengangguk-angguk kecil mendengarkan penjelasan William. Ia sekarang merasa posisinya hanyalah seorang gadis biasa putri dari Tuan Anderson, yang terkait lagsung dengan konflik perusahaan keluarga William. Tidak lebih dari itu.
"Ada yang kamu pikirkan lagi?" William menyentuh lembut tangan Sarah yang saling menggenggam di atas meja. Kepalanya menunduk ke bawah, mencoba melihat raut wajah Sarah yang tertutup dengan rambut panjangnya.
"Bagaimana dengan Belle? Aku kangen dia." Dalam situasi seperti ini, tiba-tiba ia merasa rindu yang begitu hebat pada bayi mungil itu.
__ADS_1
Belle yang selama ini menjadi teman curhatnya. Meski tak bisa membalas perkataanya, Belle seperti mengerti semua perasaannya. Dengan tangannya yang mungil, Belle menghapus air matanya. Senyumnya yang menggemaskan mampu membuat Sarah tertawa dalam tangisnya.
"Termasuk Belle. Kita akan cari dia, Sarah. Kamu jangan khawatir, aku tidak akan melewatkan dan melupakan dia. Belle anak kita, bukan?" William mengusap air mata Sarah yang terus berjatuhan. Ungkapan anak kita pada Belle, membuat hati Sarah sedikit menghangat.
Besok harinya setelah mengurus segala persiapan keberangkatannya di kantor serta membentuk team yang akan berangkat bersama dengan dirinya ke daerah B, William membentuk dan mengatur team untuk mengawasi rumah yang akan ia tinggali dalam beberapa waktu ke depan.
"Kenapa malam sekali baru pulang?" Sarah menyambut kepulangannya di ruang tamu.
"Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah jam dua pagi, Sarah."
"Kamu yang kenapa baru pulang, padahal besok pagi katanya sudah harus berangkat?" Sarah mengambil jas serta tas dari tangan William.
"Banyak yang harus dipersiapkan sebelum berangkat ke sana. Kamu kalau ngomel gara-gara aku pulang terlambat seperti ini, kayak istri beneran." William tertawa mengamati Sarah yang mondar mandir mempersiapkan teh hangat, handuk serta pakaian ganti untuknya.
"Sarah, duduk di sini dulu temani aku ngobrol malam ini. Mungkin besok pagi, aku tidak sempat berpamitan. Kita juga mungkin tidak bisa bertemu dalam waktu yang cukup lama."
"Bisa 'kan bangunkan aku dulu sebelum berangkat," protes Sarah. Hatinya mulai gundah dengan topik percakapan malam ini. Namun William hanya menanggapinya dengan senyuman tanpa mau menyanggupinya.
"Selama aku tidak ada di rumah, bantu aku awasi dan temani kedua adikku. Aku harap, kalian saling mengawasi dan melindungi. Aku juga sudah berpesan yang sama dengan mereka, tapi hanya bisa lewat pesan ponsel karena sulit bertemu. Untuk kamu aku ingin mengatakannya secara langsung." William mengusap pipi Sarah dengan pandangan menerawang. Berat rasanya harus meninggalkan gadis ini, padahal belum lama juga mereka bertemu setelah hilangnya Sarah.
"Jangan pergi keluar kalau tidak ada yang penting. Kalau memang terpaksa harus keluar, hubungi nomer ini dulu dan tunggu jawabannya." William memberikan nomer ponsel kepala bodyguard yang ia sewa.
"Satu lagi, mungkin kamu akan susah menghubungi aku karena signal di sana kurang begitu baik, tapi tenang saja semua aman jadi tak perlu khawatir," lanjut William.
__ADS_1
"Berapa lama?" tanya Sarah dengan suara yang mulai serak menahan tangis.
"Secepatnya ... Aku harap secepatnya, aku dapat kembali pulang dan menikahimu secara resmi," jawab William dengan lembut dan air mata merebak.
"Kita akan menikah lagi? Kamu mau menikahi aku?" Air mata Sarah menetes tak sanggup ia tahan.
"Tentu. Bukannya sudah pernah aku bilang? sebelum ini kita pernah sepakat rasanya, Sarah. Mengapa kamu tanyakan lagi?" William menangkup wajah Sarah dan menariknya semakin dekat.
"Jangan pergi." Sarah memeluk erat tubuh William dan berbisik lirih, karena ia tahu permintaannya itu akan sulit dipenuhi William. Ia hanya merasa bahagia, William tak mempersoalkan dirinya yang berasal dari lingkungan yang kotor.
"Sabar, Sayang. Aku pasti pulang. Sekarang kamu tidur dulu ya, aku juga harus siap-siap untuk besok."
"Aku bantu ya?"
"Kalau kamu ikut masuk ke dalam kamarku, aku ga yakin mau mengijinkanmu keluar lagi." William menggeleng seraya tersenyum. Semenjak sadar kalau pernikahan mereka tidak sah, William memintanya untuk tidur bersama salah satu adik perempuannya.
Esok harinya sebelum matahari sama sekali terlihat sinarnya, William sudah keluar dari rumah dengan rombongan yang menjemputnya.
Sarah yang memang tidak dapat memejamkan mata sejak masuk ke dalam kamar, meneteska air matanya di atas bantal saat mendengar suara mobil yang membawa William pergi ke daerah B.
...❤️🤍...
Maaf ya lama updatenya, karena baru pulih dari sakot seminggu lebih 🙏 semoga tidak bosan menunggu kelanjutan ceritanya ya 🥰😘
__ADS_1