
Sarah menceritakan awal mula bagaimana ia bisa terdampar di rumah bordil, dan bagaimana ia bertemu dengan William lalu berakhir menikah dengan pria itu. William mendengarkan dengan sabar. Ia sendiri sudah sedikit tahu perjalanan hidup Sarah, walau ada beberapa hal yang mengganjal pikirannya.
"Yang aku heran, kehadiran Belle kenapa bisa pas waktunya. Apa kita sudah dipantau ya?" Sarah terpekur sedih rindu akan bayi perempuan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Bisa jadi, tapi seingatku sesaat sebelum aku bertemu denganmu aku sedang bertengkar hebat dengan Brenda. Tidak ada yang merancang saat itu, keinginanku sendiri datang ke klub malam itu. Mungkin saja salah satu dari mereka, ada di sana malam itu dan situasi kita di sana memberikan mereka ide untuk menjebak kita."
"Ya, aku juga sama. Aku datang ke klub malam itu untuk bekerja tidak ada yang menyuruh. Aku sendiri yang menginginkannya. Tamu pertamaku itu kamu juga karena aku yang mau, bukan mami yang menyuruhku."
"Apa itu berarti kita memang berjodoh?" William menempelkan kening mereka berdua. Sarah menunduk tersipu. Saat William ingin meraih bibirnya, Sarah memundurkan kepalanya.
"Wil, aku belum selesai cerita."
"Baiklah, lanjutkan."
__ADS_1
Sarah kembali melanjutkan ceritanya bagaimana ia mendapatkan teror dari kelompok mafia itu dan di bawa menemui Papanya dengan mata tertutup.
"Papamu di sana bagaimana, apa beliau sehat?"
"Papa tidak seperti saat masih tinggal bersamaku di rumah. Papa sakit, banyak alat bantu pernapasan di sekitar ranjangnya. Papa sakit, tapi masih bisa bantu aku hingga bebas. Aku khawatir keadaan Papa, Wil. Pasti Papa sekarang disiksa gara-gara bantu aku kabur."
"Aku mengerti, Papamu pasti juga akan segera bebas. Orangku sedang memantau gedung itu sekarang, tapi kita harus tetap berhati-hati karena mereka bukan orang sembarangan. Di belakang mereka ada orang yang ingin menghancurkan Papamu dan Papaku di dunia bisnis."
"Ah, Wil surat itu!" Tiba-tiba Sarah teringat sesuatu.
"Bukan, Wil. Surat itu belum dipegang mereka." Sarah menggoyang-goyangkan lengan William dengan keras.
"Maksudmu? Kamu bilang tadi, kamu dipaksa mereka untuk mengambil berkas perjanjian proyek daerah B dan memberikanya pada mereka?"
__ADS_1
"Iyaaa, tapi aku tidak menyerahkannya pada mereka, yang aku berikan itu berkas palsu."
"Palsu? Bagaimana bisa Sarah, berkas di dalam lemari kantor sudah tidak ada. Brenda juga mengatakan kalau kamu terlihat menyembunyikan sesuatu saat keluar dari kantor."
"Itu benar, Wil. Aku memang mengambilnya, tapi aku menggantinya dengan yang palsu. Sebelum aku mencurinya, aku pernah mengambil foto berkas yang ada di dalam lemari kantormu dan aku kirimkan foto itu ke Mba Mona. Aku minta agar ia membantuku untuk membuat salinan yang sama persis dengan yang aku kirimkan."
"Lalu di mana berkas itu sekarang, Sarah?" William mengguncang lengan Sarah.
"Aku titipkan pada temanku. Sebelum aku pergi menemui mereka, aku mampir dulu ke rumah susun Mba Mona. Aku tukar berkas itu di sana."
"Kita harus segera mengambilnya, Sarah, sebelum para bajingan itu mengetahui kalau yang mereka bawa itu palsu, lalu mendahului kita mengambilnya dari temanmu." William segera berdiri dari atas ranjang.
"Sebentar aku hubungi Mba Mona dulu." Sarah tampak mencari-cari sesuatu, tapi ia kembali duduk dan mendesah kecewa begitu teringat kalau ponselnya sudah tidak ada ditangannya lagi, "Ah, tapi ponselku diambil mereka."
__ADS_1
"Aku langsung kesana saja. Kalau kita terlambat, temanmu juga dalam situasi berbahaya." William menyambar jaketnya dan langsung mengenakannya.