
"Mari saya undang semua warga daerah B yang terhormat untuk memberi masukan, hukuman apa yang pantas untuk kedua orang yang telah mengobrak-abrik tempat tinggal kita yang tercinta ini." Tuan Baron memberi kode dengan matanya kepada orang-orang kepercayaannya, untuk mendekat dan berbaur ke dalam kerumunan masyarakat.
Orang-orang bayaran Tuan Baron, sudah dikenal oleh warga kalau mereka itu manusia yang sangat kejam. Di dalam baju dan jaket mereka, selalu ada benda tajam untuk mengancam warga kecil. Terkadang mereka tanpa belas kasih menyiksa para lanjut usia, mengambil anak gadis atau istri yang masih muda jika tidak mau menuruti apa yang mereka inginkan.
Beberapa warga tampak mengkerut dan menunduk ketakutan, tapi mereka tak dapat lari bahkan menghindar karena para penjahat itu pasti akan mendatangi rumah mereka satu persatu.
"Baiklah, jika semua mempercayakan pada saya untuk memberi hukuman pada mereka, saya putuskan un ---"
"Saya mau memberi pendapat." seorang tetua memotong perkataan Tuan Baron tiba-tiba muncul dari antara para warga.
Mata Tuan Baron melotot melihat pria tua yang masih tampak tegap tubuhnya itu berdiri dengan gagahnya. Dengan ekor matanya, ia memerintahkan orang bayarannya untuk mendekat dan memberi peringatan pada tetua itu.
Baron mendadak panik, karena selama ini a sudah memastikan kalau para tetua ataupun perangkat desa yang dapat mengancam posisi dan menghambat ambisinya, sudah ia jadikan tahanan rumah.
Para tetua dan orang penting itu selama ini terpaksa menurut karena keselamatan anggota keluarga mereka yang menjadi taruhannya.
Namun saat orang bayaran Tuan Baron akan mendekat, empat pemuda dengan penampilan seperti rakyat pada umumnya berdiri mengitari tetua itu. Dengan tatapan mengancam serta tangan di balik saku yang memperlihatkan jika mereka menyimpan senjata api di balik sana. Salah seorang diantaranya sedikit menyingkap kaosnya dan memperlihatkan lencana polisi pada para penjahat itu.
Orang bayaran Tuan Baron perlahan mundur tiga langkah dari posisinya. Kepala mereka tertunduk dalam, takut akan pihak berwajib sekaligus takut pada orang yang membayar mereka.
"Keputusan sudah diambil," ucap Tuan Baron panik. Ia berusaha memberi kode pada orang bayarannya agar segera bertindak. Namun sialnya mereka seolah tak menghiraukan bahkan diantaranya menghilang diantara para warga yang semakin berdesakan.
"Biarkan dia berbicara!" seru salah seorang pemuda. Para warga ikut berseru setuju. Mereka sudah mulai berani membuka suara karena melihat tetua desa muncul di tengah-tengah mereka.
"Lepaskan Pak Raymond serta istrinya, mereka tidak bersalah," ucap tetua itu singkat.
"Mereka bersalah dan harus segera dihukum dengan peraturan desa setempat," putus Tuan Baron tegas. Ia memberi kode pada bawahannya yang berdiri bersamanya di atas panggung, agar membawa Papa William serta Mamanya kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Rencananya semula menjadikan warga sebagai kambing hitam atas kesalahannya menghukum orang tua William, berantakan seketika.
"Kita adakan pengambil keputusan terbanyak, begitulah cara kami mengambil keputusan sejak dulu," ucap tetua itu lagi.
"Keputusan sudah diambil!" seru Tuan Baron marah. Tak sabar menunggu bawahannya membawa orang tua William ke dalam mobil, ia mengambil alih tangan Raymond lalu menyeretnya turun dari panggung.
"Jangan kasar pada suamiku!" Dengan geram Mama William menendang kaki Tuan Baron.
"Perempuan sial!" desis Tuan Baron geram. Ia merasa malu diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita di depan orang banyak.
"Aku ikuti apa maumu, tapi jangan sekali-kali kau sentuh istriku," bisik Raymond berganti mencengkram tangan Baron yang sempat terlepas.
"Kami mau adakan lagi jajak pendapat!"
"Lepaskan Pak Ramond dan istrinya!"
"Orang asing itu yang harus pergi dari sini!"
Warga semakin berani. Mereka berteriak-teriak kencang saling bersahutan, yang awalnya diam dan takut mulai mengeluarkan suaranya.
Tuan Baron tak menghiraukan teriakan para warganya, ia tetap menggiring Papa William turun dari panggung kayu dengan mata mencari-cari sosok orang yang turut mendanai rencananya.
"Pak! kami warga asli daerah ini, tolong hargai pendapat kami!" Seorang pemuda gagah menghadang langkah Tuan Baron.
Penjabat daerah yang rakus itu tak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia membiarkan orang tua William diambil oleh mereka. Pemuda itu dan para tetua naik ke atas panggung menggantikan dirinya, sedangkan Tuan Baron hanya memandang cemas dari kaki panggung.
"Para warga daerah B yang terhormat, saya Pak Suhadi sudah 85tahun menetap di sini mewakili tetua desa yang lain, meminta sedikit waktu pada para warga untuk memberikan masukan terkait kedua tamu kita yang datang ingin membangun daerah kita. Siapakah yang anda inginkan untuk mengembangkan desa kita, Pak Raymond ataukah Pak Marvel, pria asing yang berdiri di sana."
__ADS_1
Tetua itu menunjuk sekutu Tuan Baron yang berdiri di ujung lapangan. Kulitnya yang putih pucat semakin tampak pias karena dikelilingi oleh pihak berwajib yang mengenakan pakaian seperti warga desa kebanyakan.
"Kami ingin Pak Raymooond!" seru para warga serempak.
"Anda sudah dengar sendiri permintaan warga, Pak Baron." Tetua itu menoleh pada Tuan Baron yang berada di bawahnya.
Baron yang belum menyadari jika banyak petugas polisi yang menyebar siap menyergap dirinya serta semua orang yang terlibat, bergerak cepat naik ke atas panggung dan berbisik pada Pak Suhadi yang memegang pengeras suara.
"Pak, Tuan Marvel sudah mengeluarkan dana yang sangat banyak untuk desa ini. Selain itu dia sudah menyiapkan dana untuk kesejahteraan masyarakat, jika sudah selesai akan segera dibagi-bagikan. Untuk Bapak dan para tetua lainnya, adalah bagiannya lebih dari cukup untuk beli tanah serta sawah yang luas." Baron mengedipkan sebelah matanya pada Pak Suhadi. Jari jempol serta telunjuk ia gesekan, memberi kode pada tetua itu tentang uang yang akan di dapat.
"Anda ingin menyogok saya, Pak Baron?" Kening Pak Suhadi semakin berkerut mendengar perkataan Baron.
"Ow bukan, ini hanyalah bentuk penghargaan dan ucapan terimakasih untuk para tetua."
"Ow, begitu? baiklah." Tetua itu menganggukkan kepala sedangkan Baron tersenyum lega, "Para warga sekalian yang saya kasihi, saya mendapatkan kabar gembira kalau Tuan Marvel dan Pak Baron yang baik hati ini akan memberikan saya dan para tetua lainnya sejumlah uang. Bagaimana apakah saya harus terima?" Tanpa di duga, tetua itu mengangkat pengeras suara lalu menyampaikan sesuatu yang membuat mata Baron hampir keluar.
"Penyuaaap!"
"Itu sogokan! kami tidak mau."
"Tangkap!"
"Penjarakan!"
Teriakan warga semakin kencang. Mereka bahkan berjalan maju mendekati panggung. Baron segera turun dan berniat melarikan diri. Namun Papa William yang berdiri di bawah panggung, segera mencekal lengannya dan menariknya kembali.
"Kamu lihat? kekuatan warga yang bersatu tidak akan bisa dipatahkan," ucap kepala penyelidik pada William.
__ADS_1
Ia sejak tadi berusaha menahan dan menenangkan William yang sudah akan melompat ke arah panggung, saat melihat kedua orang tuanya di perlakukan dengan kasar oleh Baron.
...❤️🤍...