
Dengan diiringi tatapan banyak pasang mata, Sarah turun ke lantai karyawan lalu menyusuri koridor kantor yang menuju ke arah pantry. Kasak -kusuk tak jelas mampir di pendengarannya. Mau mencoba tak acuh, tapi cukup membuatnya menoleh kala para karyawan memberikan tatapan sinis.
"Maaf, pantry sebelah mana ya?" Sarah bertanya pada seorang wanita yang bersandar di salah satu kubikel. Karyawan wanita itu hanya memberikan petunjuk dengan ujung dagunya, "Terima kasih." Andaikan ia masih menjadi anak seorang bos besar, ia pasti sudah memecat karyawan model seperti ini.
Sarah membuka pintu yang bertuliskan pantry dan kantin karyawan. Seorang wanita tengah baya menyambutnya dengan senyuman.
"Selamat siang, Bu. Mau masak apa, biar saya bantu," ucapnya ramah. Rupanya William sudah mengabarkan maksud kedatangannya.
"Mmm, sebenarnya saya tidak pandai memasak." Sarah memilin kedua telapak tangannya. Jangankan pandai, masuk ke dalam dapur sejak ia lahir pun bisa dihitung dengan jari.
"Kalau begitu yang cepat dan mudah saja ya, karena saya dipesankan sama Pak William tidak boleh membantu sama sekali."
Sarah berdecak kesal dalam hati, terlebih ia menangkap beberapa CCTV di sudut ruangan.
"Di lemari pendingin hanya ada sayur sawi dan ikan siap digoreng," ucap wanita itu tanpa berniat mengambilkan benda yang dimaksud untuk dirinya.
"Baiklah, lalu ini selanjutnya bagaimana?" Sarah meletakan ikan dan sayur yang masih mentah di atas meja pantry.
"Ikannya digoreng, sayurnya dipotong, Bu." Lagi-lagi wanita itu hanya bercakap tanpa membantunya sama sekali.
Sarah meringis berulang kali ketika minyak panas meletup mengenai tangannya. Ia hampir saja menyerah, tapi ia merasa CCTV di pojok ruangan sama seperti mata William yang sedang mengawasinya.
Setelah bergelut dengan wajan, minyak, ulekan, pisau serta beberapa bahan makanan, Sarah memandang puas hasil masakannya. Wanita tengah baya itu baru beranjak mendekatinya dari tempatnya berdiri.
"Enak," ucapnya puas setelah mencicip oseng sayur sawi serta ikan rica buatan Sarah.
Wanita tengah baya itu lalu membantu Sarah membawa hasil masakan, nasi serta peralatan makan ke ruang William. Lagi-lagi ia harus melewati deretan karyawan yang menatapnya ingin tahu serta merendahkannya.
__ADS_1
Senyum bangganya surut saat membuka pintu ruang kerja William. Brenda duduk di sofa bersama William yang memangku Belle.
"Aah, ini kamu yang memasak? Benar rupanya kata Willi, kamu ke pantry belajar masak. Untung ada aku yang menemani William mengasuh Belle." Brenda menghampirinya yang sedang mengatur sajian bersama karyawan pantry.
"Terima kasih sudah ditemani." Harapannya Brenda tahu diri dan keluar dari ruangan William bersama karyawan pantry, tapi wanita tak tahu malu itu malah mengambil piring yang disediakan untuknya dan William.
Brenda mengisi dua piring itu masing-masing dengan nasi dan lauk, lalu memberikannya satu pada William dan satunya lagi ia santap sendiri.
"Kamu pasti sudah makan di pantry," ucapnya tak peduli, "Sebelum kehadiranmu di sini, kami berdua selalu makan siang bersama. Jadi kalau tidak ada salah satunya, pastj terasa hampa. Pasti William sudah memberitahumu, terima kasih ya."
"Iya," sahut Sarah tercekat. Perutnya yang lapar tiba-tiba terasa penuh dan sesak. Ingin ia merampas piring di hadapan Brenda, tapi apa yang sudah ia ucapkan saat pertama kali datang bahwa ia tidak akan mengganggu kebersamaan William dan kekasihnya membuat mulut dan tubuhnya terkunci rapat.
"Makanlah, aku mau menyiapkan bubur untuk Belle." Sarah mengambil Belle dari pangkuan William lalu ia masuk ke dalam kamar dan mengurung diri di dalam sana.
Entah mengapa hatinya merasa nyeri melihat William duduk berdua dengan Brenda dengan Belle sebagai pelengkapnya. Seolah ia melihat masa depan yang akan terjadi. Apakah posisinya akan tergeser ketika William dan keluarganya tahu apa yang akan dilakukannya pada perusahaan ini?
Terdengar perdebatan kecil di luar sana. Sarah tak mau ambil pusing, ia menggendong Belle dengan sebelah tangan lalu menyiapkan bubur tim yang ia bawa dari rumah.
"Tidak usah memikirkan aku, Will. Makanlah dan habiskan, aku penuh perjuangan membuat itu semua untukmu," ujar Sarah tanpa membalikan badan.
"Aku tanya kamu sudah makan atau belum, bukan prosesmu memasak," tandas William kesal.
"Belum," ucap Sarah pelan.
"Lalu kenapa kamu tidak bilang saat Brenda mengatakan kamu sudah makan?" tanya William dengan suara keras.
"Aah, sudahlah Wil hal kecil tak perlu dibesarkan. Itu hanyalah soal makanan. Aku pun sudah merasa kenyang saat masak tadi." Sarah menoleh sekilas lalu kembali fokus membujuk-bujuk Belle agar membuka mulutnya.
__ADS_1
"Makanlah dulu." William menaruh piring miliknya di atas nakas.
"Aku tidak mau, bosan lihatnya saat masak tadi. Lagipula itu spesial karena Brenda mengambilkannya untukmu."
"Aku bilang makan! Aku tidak mau kerepotan mengurus orang sakit sementara ada bayi yang harus diurus juga," ucap William tegas.
"Nanti aku makan setelah Belle, kamu makanlah dulu tak usah memikirkan aku. Kekasihmu pasti menunggumu di luar, kalian biasa makan siang berdua kalau tidak ada salah satu pasti terasa hampa." Sarah mengulang kalimat yang diucapkan Brenda, menegaskan bahwa ia cukup tahu diri bukan siapa-siapa diantara mereka.
"Perempuan banyak bicara," umpat William kesal. Ia mengambil piring dan menyendokan nasi serta lauk lalu menyuapkan ke dalam mulut Sarah, "Kunyah dan telan!" ancam William dengan mata membesar.
Lalu pria itu menggiring Sarah duduk di tepi ranjang. Masih dengan tatapan mengancam, William mengambil nasi lagi lalu memaksakan sendok yang ia pegang masuk ke dalam mulut Sarah.
"Jangan hanya kamu yang makan, suap Belle juga," titah William. Bak robot, Sarah menuruti perintah pria itu. Jadilah mereka saling menyuapi. Sarah memberi makan Belle, sementara dengan sendok yang sama William menyuap Sarah bergantian dengan dirinya sendiri.
"Ini semua kamu yang masak sendiri?" tanya William di sela-sela ia menikmati masakan Sarah.
"Hemm," sahut Sarah singkat. Ia terlalu malu untuk bercakap lebih.
Belle pun seperti menikmati peran yang dimainkan kedua orangtua asuhnya. Bayi berusia enam bulan itu tersenyum melihat Papanya menyuapkan makanan sementara Mamanya menyuapi dirinya.
"Enak. Nanti malam dan besok aku ingin kamu yang memasak untukku," ujar William.
"Aku tidak pandai memasak, Wil. Itu tadi dibantu sama karyawanmu."
"Kamu bisa belajar, buktinya ini enak."
"Tapi aku ingin bekerja seperti pada umumnya di kantormu."
__ADS_1
"Memasak juga bekerja, aku akan membayarmu lebih dari pada hanya sekedar bekerja di depan laptop. Itu 'kan yang kamu inginkan? Bayaran lebih, diluar nafkah yang kuberikan sebagai istri. Aku sangat penasaran, untuk apa uang yang kau dapat selama ini, Sarah?" William menatapnya tajam.
...❤️🤍...