Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Di tengah lapangan


__ADS_3

Tuan Baron menoleh mengikuti arah William memandang. Dahinya berkerut, mata tuanya memicing melawan sinar matahari. Namun begitu rombongan itu semakin dekat dan jelas terlihat, wajahnya langsung berubah memucat.


"Tidak tahu, sa-saya tidak kenal." Tuan Baron menggeleng sembari berjalan mundur, "Permisi, saya masih ada urusan."


Pak Suroto menahan William saat pemuda itu akan mengejar Tuan Baron yang berlari menyusul Tuan Marvel, yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Biarkan saja dulu, mereka tak akan bisa kemana-mana. Setidaknya kita sudah tahu kebohongan mereka, dan para tetua desa dapat berani bersuara setelah selama ini dibungkam dalam ancaman dan tekanan mereka."


"Terima kasih, Pak. Selama ini kami bukan tidak mau mengeluarkan suara, tapi kami takut kalau anak, istri dan cucu kami yang akan jadi korban," ucap salah satu tetua sekaligus perangkat desa di sana.


"Sama-sama, Pak. Tidak mengapa, kami mengerti. Tenang saja, orang kami sudah menyebar di setiap sudut desa, jadi jangan pernah takut menyuarakan kebenaran." Pak Suroto beralih pada kumpulan tetua desa serta perangkat desa yang masih berpengaruh itu.


"Sekarang kita harus bagaimana, Pak?" tanya William tak sabar setelah rombongan tetua itu kembali memasuki desa.

__ADS_1


"Ikuti saya." William dan beberapa bawahannya berjalan mengikuti Pak Suroto. Mereka masuk ke dalam desa menuju ke arah alun-alun tempat biasa masyarakat berkumpul jika perangkat desa akan mengumumkan sesuatu, "Kita diminta menunggu, sekarang kita menunggu dan menanti apa yang akan terjadi," ujar Pak Suroto sembari tersenyum dan melipat tangan di depan dada.


Beberapa waktu kemudian tampak sekumpulan warga sedang mempersiapkan sesuatu di tengah lapangan alun-alun desa.


"Sedang apa mereka?" tanya William heran.


"Tunggu saja, biarkan warga asli yang menyelesaikan permasalahan mereka sendiri," ujar Pak Suroto. William memandang kepala penyelidik itu dengan bingung, tapi ia tetap diam dan mengamati kumpulan orang yang sedang bekerja menyiapkan sesuatu dari bawah pohon di tepi lapangan.


Sebuah mobil berhenti di tepi lapangan lalu mata William tiba-tiba membesar saat melihat siapa yang dibawa turun oleh orang-orang di sana.


"Itu orangtuaku." Hampir saja William berlari menghampiri kedua orangtuanya, tapi dengan cepat Pak Suroto menariknya untuk tetap berdiri di sebelahnya.


"Ya saya tahu. Ingat apa yang diminta oleh Tuan Baron, kita tidak boleh masuk ke dalam desa. Berdirilah di sini seolah kamu tidak ada di sini, sampai waktunya tiba kamu boleh menampakkan diri."

__ADS_1


William mengangguk patuh, tapi matanya menyiratkan rasa khawatir dan rindu pada kedua orangtuanya yang sedang digiring menuju ke tengah lapangan.


Sepasang suami istri itu tampak lelah dan pasrah berdiri di tengah lapangan bagai orang pesakitan. William tak sampai hati melihat keduanya menunduk kadang saling berpandangan.


Tak berapa lama, sebuah mobil lagi mendekat dan Tuan Baron serta Tuan Marvel turun lalu berjalan ke tengah lapangan.


"Sabar, atau semua akan berantakan," ujar Pak Suroto saat merasakan aura kemarahan dari William.


Tuan Baron mengambil pengeras suara setelah berbisik pada Tuan Marvel.


"Selamat sore, Bapak dan Ibu. Mohon maaf jika harus menyita waktu anda untuk berkumpul di lapangan ini. Sebenarnya penentuan hukuman bagi dua orang terdakwa ini akan berlangsung bulan depan, tapi karena banyaknya warga yang meminta agar di percepat, maka saya tentunya akan mengikuti apa kata warga," papar Tuan Baron dengan sisa wibawa yang ia miliki.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2