Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Jerat


__ADS_3

Entah sudah berapa kali William mengulang menekan nomer ponsel Sarah, tapi tetap saja tidak ada yang respon yang melegakan. Sudah hampir pukul sembilan malam dan menurut pekerja rumah tangganya, Sarah belum pulang. Dia sendiri masih bertahan di ruangan kantornya, berharap Sarah kembali menemuinya di kantor.


"Kenapa? Istrimu lari?" Brenda berdiri bersandar di meja kerja William.


"Ada apa kau kemari, Brenda. Waktu kerja sudah berakhir sejak tadi. Pulanglah." Tanpa melihat pun William sudah tahu mantan kekasihnya itu berjalan mendekatinya. Ia tetap tekun mengetik pesan pada Sarah meski tak ada tanda-tanda akan dibaca.


"Seharusnya kamu curiga sejak awal. Dia itu asalnya sudah tidak jelas, tinggalnya pun di tempat semacam itu. Coba kamu cek hartamu, barangkali dia sudah membawa lari semuanya tanpa kamu sadari. Jaman sekarang jangan terkecoh dengan wajah polos, Wil."


"Kamu bisa diam? Kalau tidak ada urusan di sini, silahkan keluar." William memberikan tatapan peringatan.


"Aku sarankan kamu cek semua surat penting yang ada di ruanganmu, karena tadi aku bertemu istrimu di lift dan ia menjatuhkan beberapa lembar berkas. Sayangnya aku tidak sempat membacanya. Semoga belum terlambat kamu untuk menyesali semuanya, Wil." Brenda berjalan keluar ruangan, dengan melenggak lenggok sembari melambaikan tangannya.


'Surat penting? Apakah ... semoga tidak, Sarah.'


William bergegas membuka lemari berkas dan memeriksa di sana.


'Ah, Sarah!'


William mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya sejak kepergian Sarah pertama kali menemui komplotan itu, ia sudah menaruh curiga pada Sarah. Sayangnya saat ia mengikuti istrinya yang menunggu seseorang di halte, sebuah bus melintas dan berhenti di depan motor besarnya sehingga ia tidak dapat mengikuti mobil hitam yang membawa Sarah pergi.


Sejak itu ia menyewa orang untuk memata-matai Sarah dan mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang ia nikahi. Jejak digital tak pernah gagal, dibantu dengan nama istrinya ternyata asli tidak sulit mecari tahu siapa Sarah. Walaupun semua akun media sosial pribadi Sarah telah dibajak dan dihapus komplotan mafia, tapi akun teman yang menyebut nama Sarah Anderson dan menampilkan wajah istrinya, telah tersebar tanpa bisa dihentikan oleh komplotan mafia bayaran itu.


Sikap William yang melunak dan berbalik semakin mencintai Sarah, bukan suatu kebetulan. William sudah tahu jika Sarah adalah putri tunggal dari sahabat Papanya yang menghilang dan diduga sudah meninggal. Setidaknya ia lega tidak menikahi wanita asing.


Sejak mengetahui latar belakang Sarah, William langsung menceritakannya pada Papanya yang berada di daerah B. Papa memintanya untuk tetap berpura-pura, guna menjaga keselamatan Sarah. Papanya menaruh curiga ada kekuatan besar di belakang semua ini, hingga seorang putri pengusaha besar bisa tersasar di rumah susun.


Saat Sarah membongkar lemari berkasnya, William juga sempat melihat apa yang istrinya amati. Namun mengikuti permintaan Papanya, ia menahan diri untuk bertanya. Sebaliknya, Sarahlah yang memancing dengan pertanyaan menyelidik.


"Pa, sepertinya yang Papa khawatirkan benar." William menelepon Papanya dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Kenapa, Wil?"


"Sarah menghilang dan tidak bisa dihubungi. Ia membawa Belle bersamanya dan surat itu ... Juga lenyap."


"Abaikan surat itu. Sejak kapan Sarah menghilang? Kamu sudah lapor polisi?"


"Belum ada 24jam, Pa."


"Bagaimana dengan orang yang kamu bayar. Mereka sudah dapat menemukan tempat di mana Sarah pergi bersama komplotan itu?"


"Sudah seminggu ini aku hentikan, karena Sarah beberapa hari ini selalu di rumah atau pergi jika bersamaku saja. Tapi siang ini ia tiba-tiba muncul di kantor tanpa kuminta. Aku masih menunggu kabar dari mereka untuk melacak keberadaan Sarah dan Belle."


"Harusnya kamu lebih waspada, Wil. Di sini juga sering kedatangan orang asing yang sengaja mengganggu jalannya proyek dan mengancam serta menghancurkan property. Entah apa dan siapa yang ingin menggagalkan kita, Papa tidak peduli selama kita melakukan hal yang benar."


"Papa dan Mama hati-hati di sana. Jika memang berbahaya, lebih baik pulang dan lepaskan saja."


"Pa, bagaimana jika Sarah dan Papanya ada di balik usaha yang menggagalkan rencana proyek perusahaan kita?"


"Jika benar, tidak apa-apa. Papa ikhlas, karena proyek ini juga milik Om Anderson, Papa hanya meneruskan amanahnya. Jika dia ingin menggagalkannya, itu hak dia. Tak usah pikirkan urusan Papa dan Om Anderson, cari istrimu dan Belle karena mereka sekarang adalah tanggung jawabmu."


William sadar ia tidak bisa bergantung pada orangtuanya, karena Papanya di sana juga menghadapi situasi yang sama peliknya.


"Bagaimana?" sahut William cepat begitu orang yang ia bayar menghubunginya.


"Menurut orang yang kutaruh di rumah susun, istri bos siang tadi sempat datang dan menemui temannya, tapi tak lama lalu buru-buru pergi lagi tujuan terakhirnya terminal bus antar kota."


"Hanya segitu saja kalian berhasil menyelidikinya?" sembur William emosi.


"Maaf, Bos. Orang saya masih menyebarkan foto Bu Sarah di terminal dan saya masih menunggu informasi selanjutnya."

__ADS_1


Malam itu juga, William pergi ke rumah susun hendak menemui teman Sarah. Namun hingga pagi, Mona tidak terlihat. Profesinya sebagai wanita penghibur, tak mengenal jam kerja yang normal. Mona sedang melayani tamu di luar kota hingga beberapa hari.


Di daerah B, Tuan Raymond, Papa William dipanggil menemui pejabat daerah yang baru menjabat dua bulan ini, karena menggantikan posisi pejabat sebelumnya yang meninggal mendadak.


"Selamat siang, Pak Raymond silahkan duduk. Kenalkan saya, Baron Zeyn, Walikota yang baru menggantikan almarhum Bapak Sunarto."


"Yah, saya sudah tahu dan membaca dari papan nama anda." Raymond berkata malas sembari menyambut uluran tangan Baron. Pria berwajah licik itu menyeringai kesal, karena merasa tak dihormati oleh pengusaha yang duduk di depannya ini.


"Begini, Pak Raymond saya mendapat laporan bahwa pembangunan anda di daerah saya ilegal. Anda kabarnya memberi uang suap pada Pak Sunarto, agar mendapat proyek ini. Kalau benar begitu, maka dengan berat hati proyek anda harus di hentikan atau anda akan kena sanksi denda dan kurungan penjara."


"Info dari mana itu? Proyek ini sudah berjalan lima tahun lebih dengan perijinan yang lengkap dan hampir rampung. Bukti saya memberi suap mana?"


"Dari masyarakat, Pak. Mereka yang digusur merasa tak menerima uang ganti rugi."


"Omong kosong, saya punya buktinya berupa foto dan tanda tangan bukti penyerahan ganti rugi lahan yang digunakan. Dana itu juga bukan murni dari saya, tapi dari pemerintah pusat karena proyek saya ini juga bekerjasama dengan pemerintah pusat."


Raymond tahu kemana arah pembicaraan ini. Uang ganti rugi yang dikucurkan pemerintah tiba-tiba lenyap bersama dengan salah satu staff kepercayaannya dan sahabatnya Anderson. Namun agar proyek berjalan lancar, Raymond menggantikan uang ganti rugi itu dengan dana pribadinya.


"Kalau begitu, Pak Raymond bisa tunjukan pada saya dan pihak berwajib daerah ini semua bukti yang Bapak bilang tadi."


"Untuk apa? Berkas perijinan sudah beres sejak lima tahun yang lalu dan salinannya pasti juga ada di kantor Bapak."


"Sayangnya tidak ada."


"Ini lucu sekali, ada apa ini. Anda baru saja menjabat, tiba-tiba ingin menginterupsi pekerjaan yag sudah berjalan baik dan hampir selesai?"


"Maaf saya hanya meneruskan dari masyarakat yang merasa dirugikan." Baron menunjukan video protes beberapa masyarakat sekitar yang sudah ia bayar.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2