
Sarah terkejut dengan mata membesar ketika mulut William menyambar bibirnya. Gerakan itu sangat cepat, ia sempat tak menduganya. William menekannya ke arah sandaran sofa, membuatnya tak bisa menghindar lagi. Lebih tepatnya ia yang tidak ingin menghindar.
Mata Sarah yang terbelalak perlahan menutup sayu. Bibir hangat William sudah menguasai penuh mulutnya. Ciuman bergelora yang diberikan William menunjukan betapa rindunya pria itu padanya.
Sarah melingkarkan kedua tangannya di leher William. Tubuhnya lemas dan pasrah dalam dekapan dan himpitan pemuda itu. Tangan William menyusup ke tengkuk Sarah dan menariknya semakin lekat memperdalam ciumannya. Hisapan lembut berubah menjadi lum atan panjang disertai gigitan lembut. Keduanya semakin terbuai dan melayang tak mengingat lokasi saat ini
"Kenapa ga di kamar aja sih!"
Umpatan serta langkah kaki yang sengaja di hentakan hampir membuat William terguling jatuh dari sofa. Kedua adik perempuannya berjalan melewati mereka dengan pandangan malas dan sinis.
"Kenapa baru pulang?" tanya William seraya berdiri menghampiri kedua adiknya, sedangkan Sarah memilih tetap duduk dengan wajah ditutupi bantal.
"Dari kampus, biasa juga pulang jam segini," ucap Kanaya seraya menunjuk jam yang tergantung di dinding.
"Ngapain malam-malam di kampus."
"Alaaahh, basa-basi aja, pengalihan isu. Ini loh masih jam sembilan. Kak Willi aja yang salah pilih tempat dan waktu," ujar Kanaya.
"Eh, kamu sini. Kakaknya baru datang bukannya di sambut, malah ditinggal pergi." William menunjuk Maura yang sudah bersiap naik di bawah anak tangga.
Keduanya mendekat lalu bergantian memberikan pelukan untuk kakak sulung mereka.
"Bagaimana aman?" tanya William pada kedua gadis di hadapannya.
"Sudah diperiksa belum, ada lecetnya ga?" celetuk Kanaya sembari melirik Sarah yang masih menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Aku juga menanyakan keadaan kalian," cetus William kesal.
__ADS_1
"Aman. Bodyguard yang Kak Willi sewa itu hebat. Mereka juga rutin mengirimkan laporan dari polisi terkait pencarian Belle dan Papanya Kak Sarah lewat email. Semua sudah aku simpan, Kak Willi bisa lihat nanti," papar Maura sedikit berbisik.
"Kirim semua ke emailku sekarang," titah William. Merasa mendapat ijin kabur, Maura secepat kilat melesat menaiki tangga di susul oleh Kanaya.
"Kak Willi, jangan lupa upah kami menjaga Kak Sarah loh." Kanaya berteriak sebelum sampai di lantai dua.
"Kamu minta mereka menjaga aku? Kayak barang titipan aja. Seharusnya aku yang menjaga mereka, aku ini lebih tua dari adik-adikmu loh," protes Sarah.
"Itu alasan aja biar mereka ga keluyuran," elak William. Ia kembali duduk di samping Sarah ingin melanjutkan aktifitas panas mereka, tapi urung karena bunyi email masuk di ponselnya, "Kamu istirahat aja dulu ya, besok pagi kita jalan," ucap William seraya mencubit belahan dagu Sarah.
Ia lantas bergegas mengambil tasnya dan masuk ke dalam kamar tamu. Tanpa mengganti pakaiannya, ia lalu membuka laptopnya. Surel yang baru dikirimkan Maura, langsung ia buka dan baca.
Foto, video serta lampiran keterangan yang menjelaskan aksi dari para penjahat itu tersusun rapi di layar laptopnya. Di sana diterangkan kalau Papa Sarah masih menjadi tahanan mereka, disatukan dengan sekelompok orang yang tak dikenal.
"Perdagangan manusia secara ilegal?" William berdesis tak percaya membaca laporan dari agen rahasia yang ia sewa.
William membuka satu persatu foto dan video yang diterimanya. Foto serta video yang diambil dengan kamera jarak jauh memperlihatkan dengan jelas kumpulan orang pria dan wanita berbagai usia, dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah gedung yang jauh dari pemukiman.
Foto serta video selanjutnya menunjukan beberapa truk tertutup datang dan pergi bergantian membawa sebagian orang dari sana.
"Mau dibawa kemana mereka?" William mendekatkan wajahnya ke layar laptopnya. Ia mencoba mencari sosok ayah mertuanya diantara puluhan orang yang memakai kaos putih yang sama.
Tak tahan dengan rasa penasaran dan khawatirnya, ia mengirim pesan pada orang bayarannya untuk segera mengatur pertemuan dengannya.
Besok paginya, tiga orang pria bertubuh besar dengan masker dan kacamata hitam, sudah berdiri di depan pintu rumah mereka.
"Den ... Den Willi, ada yang cari." Pekerja rumah tangganya mengetuk pintunya dengan sedikit panik. Ujung matanya terus mengawasi ketiga pria berotot yang duduk di teras depan.
__ADS_1
"Siapa?" William keluar dari kamar dengan mata masih setengah terpejam. Terlalu asyik memeriksa kiriman email, ia baru bisa terlelap satu jam yang lalu itupun di atas meja.
"Itu." Penjaga rumah tangga itu menunjuk dengan ujung matanya.
"Owh, tolong siapkan minum, Bik. Sama tolong panggilan Papa, bilang ada tamu." Setelah mengatakan itu, William langsung kembali masuk ke dalam kamar dan segera bersiap.
Saat ia keluar dari kamar menemui agen bayarannya dengan penampilan yang lebih pantas, ternyata Papanya sudah ada di sana sedang berunding serius dengan kepala agen.
"Selamat Pagi, maaf saya terlambat." William menyalami ketiga orang yang duduk di teras bersama Papanya. Ketiga orang itu bertubuh tinggi besar dengan pandangan datar tanpa ekspresi.
"Wil, mereka sudah menyampaikan pada Papa tadi keadaan Tuan Anderson dan bayi yang kau rawat itu. Menurut pengamatan mereka, keduanya dialihkan pada organisasi yang biasa menyalurkan tenaga kerja ke luar negeri secara ilegal." Papa William menyandarkan tubuhnya dengan nafas berat. Berkas yang tersusun rapi dalam satu amplop besar, ditaruhnya di atas pangkuan putranya.
"Ya, Pa aku juga sudah tahu. Semalam aku sudah baca laporan email yang di kirim oleh mereka." William menaruh amplop coklat itu di atas meja tanpa membukanya lagi.
"Kami tinggal menanti perintah dari Pak William dan Pak Raymond. Jika diijinkan saya akan mengirimkan anggota untuk menyelinap dan merancang aksi penyelamatan," ujar ketua agen.
"Bagaimana dengan polisi, bukankah perdagangan manusia ilegal menjadi tanggung jawab mereka?" tukas Papa William geram.
"Maaf, saya tidak dapat berbicara banyak untuk yang bukan kapasitas saya. Tujuan saya hanya yang diperintahkan Bapak pada saya, yaitu menyelamatkan Tuan Anderson dan adik Belle. Maaf juga saya harus mengabarkan ini. Mereka sedang menunggu giliran dan pesanan dari pemasok, kapan saja bisa diberangkatkan ke luar negeri jika Bapak lambat mengambil keputusan. Jika itu terjadi kita bisa kehilangan jejak. Perdagangan orang meliputi banyak macam, bisa untuk dipekerjakan secara paksa tanpa upah, pekerja s eks komersial sampai tumbal alat test bahan kimia. Dan untuk Tuan Anderson yang sudah lanjut usia serta bayi Belle tidak menutup kemungkinan akan menjadi korban jual beli organ tubuh."
Pyyaaarrrr!!!
Semua kepala yang sedang berbincang serius menoleh cepat ke arah pintu masuk. Sarah tampak pucat berdiri dengan tangan masih memegang nampan. Kedua tangannya bergetar hebat membuat sebuah cangkir jatuh dan pecah.
"Maaf kalau saya harus menyampaikan hal ini," ujar kepala Agen.
"Non, hati-hati. Biar saya saja." Bik Ina yang tadinya mengawasi dari belakang dengan sigap mengambil alih nampan yang masih dipegang Sarah. "Maaf Den, tadi Non Sarah minta sendiri yang bawa minum ke depan," bisik Bik Ina.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bik." William yang sudah berdiri, duduk kembali karena Sarah lebih dulu lari masuk ke dalam kamar sebelum ia menghampiri kekasihnya itu.
...❤️🤍...