
"Apa-apaan ini. Sandiwara apa lagi yang kalian mainkan? Wil, tapi kamu ... kamu 'kan tidak mampu ...." Brenda kesulitan mengungkapkan maksudnya.
"Buktinya aku mampu," ucap William seakan dapat membaca pikiran Brenda.
"Tidak mungkin, kamu denganku ... kamu bohong, Wil. Mengapa denganku kamu tidak bisa melakukannya? Apa kurangku dengannya? Lihatlah, Wil aku lebih segalanya dibanding dia. Aku bisa memuaskanmu, mengapa kamu memintanya pada dia? Ow, atau kamu ingin balas dendam atas perbuatanku selama ini? Baiklah, Wil kamu menang. Aku akan memaafkanmu, kita baikan ya, Sayang. Aku akan setia hanya denganmu."
Brenda meracau kalap lalu memeluk tubuh William sangat lekat. Sarah hanya diam mengamati dengan wajah bingung. Ia belum memahami maksud dari kalimat Brenda, kepalanya beralih antara William dan Brenda berulang kali.
"Brenda, Brenda!" William mencengkram erat tangan Brenda yang sudah berani menjalar di antara kedua kakinya, "Hentikan, Brenda!"
"Kenapa, Wil? Apa kamu merasakan sesuatu?" Bukannya menarik tangannya, Brenda malah berupaya semakin berani. Sarah memalingkan wajahnya dan menutupi wajah Belle dengan tangannya.
"Ku bilang hentikan!" Sekali sentak, tangan Brenda terlepas dari area selang kangan William.
"Kamu memang cantik, kamu memang menarik, Brenda dan aku akui itu. Aku juga pernah mencintaimu dengan segenap hatiku, sampai aku rela menutup mata dari perbuatanmu di luar sana. Aku bukannya tidak bisa melakukannya denganmu, tapi aku tidak mau."
"Mengapa? Kamu bilang mencintai aku, mustahil kalau kamu tak menginginkanku!"
"Kita pasti sudah melakukannya dari dulu kalau kita sudah menikah, Brenda. Kamu selalu menolak lamaranku dan lebih senang berada di antara teman priamu!" seru William dengan rasa sakit hati.
Sejujurnya ia masih mencintai Brenda, tapi berkali-kali dibohongi dan dipermainkan ia merasa sudah cukup. Terlebih ada wanita dan seorang bayi yang menjadi tanggungjawabnya sekarang.
"Ow, karena itu. Kamu masih sama rupanya terlalu kolot dan kaku. Baiklah, aku akan tinggalkan mereka demi kamu. Awalnya aku sempat berpikir kalau kamu ada kelainan, Wil, tapi sekarang aku yakin kalau kamu normal karena sudah terbukti." Mata Brenda melirik Belle yang sedang menggigit jarinya memandang bingung kedua orang dewasa sedang bertikai.
"Aku terima lamaranmu, William. Kita akan segera menikah." Brenda berjalan mendekat kembali dan hendak merangkulkan tangannya ke leher William.
"Aku tidak sedang melamarmu, Brenda." William menepis kedua tangan Brenda, "Aku sudah menikah. Aku sudah memilik anak dan istri dan aku tidak berniat untuk menggantikan mereka," ucap William tegas.
__ADS_1
"Wil ...."
"Keluarlah, Brenda. Anakku harus istirahat dan aku ingin berdua saja dengan istriku."
"Ini bukan kamu, Wil." Brenda menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sarah dan Belle yang tetap duduk di atas ranjang, "Jangan senang dulu, aku akan cari tahu siapa kamu sebenarnya!"
Kalimat terakhir Brenda sebelum keluar dari ruangan William, membuat Sarah pening dan gemetar ketakutan. Jangan sampai penyamarannya terungkap sebelum ia berhasil membebaskan Papanya.
"Maafkan yang tadi, dia memang seperti itu sifatnya. Tidak pernah mau kalah jika berdebat," ujar William setelah memastikan mantan kekasihnya itu benar-benar keluar dari ruangannya.
"Tidak apa. Dia benar, harusnya kamu tidak perlu mengusirnya seperti itu. Khawatir dia sakit hati dan tidak mau kembali lagi denganmu."
"Aku tidak ada niatan kembali dengannya," ucap William tak acuh, "Tidurkan Belle saja dulu, dia sepertinya sudah ngantuk." William mengusap lembut kepala Belle. Bayi itu berulangkali menguap dan menggosok matanya.
"Setelah dia tidur, aku bisa ikut kerja membantumu?"
"Istirahatlah," ucap William sembari menutup pintu kamar.
Sepeninggal William, Sarah berusaha menidurkan Belle meskipun matanya pun terasa berat dan lengket. Setelah yakin Belle sudah terlelap dan pulas, Sarah berjingkat-jingkat membuka pintu kamar lalu menyelinap keluar.
Harapannya melihat suaminya duduk di kursi kebesarannya, tapi ruangan itu kosong. Sarah bersorak dalam hati, mengapa semuanya seperti dimudahkan untuknya.
Tanpa membuang waktu, Sarah mencari berkas itu di antara berkas lainnya yang menumpuk di atas meja William. Tidak menemukan apa yang ia cari, Sarah beralih ke rak buku dan lemari arsip yang berjajar.
Sesekali matanya melirik ke pegangan pintu. Ia sangat takut jika William tiba-tiba muncul di hadapannya. Matanya terpaku pada tumpukan kertas yang tersimpan di salah satu lemari arsip.
Lembar teratas tertulis dengan jelas nama dan tandatangan Papanya. Ada perjanjian tertulis yang di sepakati oleh dua belah pihak. Antara Papanya dengan Papa William. Sudah ia duga, Papanya pernah terlibat kerjasama dengan mertuanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu baca, Sarah?" Namun belum sempat ia membaca isi dari surat perjanjian itu, William sudah berdiri di sisinya.
Sarah terkesiap. Ia sama sekali tidak menyangka dapat tertangkap basah sedang membongkar arsip milik perusahaan. Bodohnya ia tidak mendengar sama sekali kedatangan William karena terlalu fokus dengan penemuannya.
"Ow, eh ini ... ingin cari tahu saja sebelum benar-benar bekerja. Maaf kalau sudah lancang, mungkin ini dokumen rahasia perusahaan." Tangan Sarah bergetar saat mengumpulkan kertas yang bertebaran di atas meja.
"Di sini tak ada yang rahasia, Sarah. Ini bukanlah perusahaan pemerintah ataupun kepolisian yang menyimpan dokumen negara." William terkekeh pelan, tapi tidak dengan Sarah. Baru mendengar William menyebutkan kepolisian saja sudah membuat lututnya terasa lemas.
"Sepertinya kamu sedang sibuk, Wil. Ada proyek besar yang sedang kamu tangani?" Mata Sarah tertuju pada layar tablet yang terbuka di tangan William.
"Mm, bukan murni proyekku sebenarnya. Ini proyek Papa dan aku diminta untuk menanganinya selama beliau pergi," ucap William sembari menekan-nekan layar datar tabletnya.
"Memang Papa sama Mama kamu kemana? Kok sepertinya tiba-tiba saja pergi?" Sarah berjalan mendekat dan mengambil posisi tepat di belakang kursi William.
"Mereka berdua pergi untuk tinjau proyek ini langsung ke lokasi. Beberapa hari yang lalu kepala divisi yang menangani proyek ini, menghubungi dan meminta Papa untuk segera datang kesana."
"Apa ada masalah?" Sarah menatap William khawatir.
"Masalah dalam pembangunan itu selalu ada, Sarah. Apalagi ini termasuk proyek besar berhubungan dengan pemerintah daerah, jadi ada prosedur yang harus di lewati," ujar William santai.
"Kamu sudah berhubungan dengan Papa dan Mama kamu di sana?" Ia tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Mm, terakhir dua hari yang lalu Papa memberi kabar dan menanyakan progress perijinan di sini setelah itu tidak ada. Mungkin terkendala signal. Hei, kenapa kamu terlihat begitu khawatir? Sebegitu sayangnya kamu sama orangtuaku?" William memutar kursinya dan menatap Sarah dengan takjub.
"Ehm, jelas. Apalagi mamamu, dia orang yang sangat baik untukku. Hanya dia yang ramah saat aku masuk ke dalam rumahmu." Sarah menutupi rasa ingin tahunya.
...❤️🤍...
__ADS_1