
"Aahhh, akhirnya bisa pulang kembali ke rumah." Papa William turun dari mobil lalu merenggangkan kedua tangannya. Pria bertubuh besar itu memandang penuh kelegaan dari halaman depan rumahnya.
"Aku kira sudah tidak bisa menginjakkan kaki ke rumah ini lagi." Mama William memeluk erat tubuh suaminya.
"Syukurlah kita masih diberi umur panjang." Papa William balas mengusap punggung istrinya.
Para pekerja rumah tangga satu persatu keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan tuan mereka sebelum membantu memasukan barang bawaan ke dalam rumah.
"Mana Maura dan Kanaya?" Mata Papa William memicing ke arah pintu rumah. Di saat semua orang yang tinggal di dalam rumah menyambut kedatangannya, kedua putrinya tak nampak batang hidungnya.
"Eh, mungkin Kanaya kuliah dan Maura ... Kuliah juga," sahut William cepat. Ia merutuk dalam hati, mengapa saat di jalan tadi lupa mengabarkan pada dua adiknya untuk tidak kemana-mana dulu.
Namun Papa William sudah tidak tertarik dengan jawaban William, matanya menatap tajam pada seorang wanita yang berdiri mengintip malu-malu dari balik pintu, "Siapa dia?" Mata Papa William mengering menggoda.
"Istriku, Pa," sahut William kesal. Ia tahu Papanya sedang menggodanya.
"Iya, Papa tahu dia istrimu tidak perlu kamu tegaskan lagi. Papa juga sudah tahu dia anaknya Anderson, tapi Papa lupa namanya," sahut Papa William ikut kesal.
"Sudah, masuk rumah aja belum, sudah ribut lagi" timpal Mama William jengkel. Wanita dewasa bertubuh mungil itu berjalan cepat meninggalkan dua pria dibelakangnya.
"Tante, selamat datang syukurlah sehat." Sarah mengambil tangan Mama William lalu menciumnya.
"Sarah, kamu baik-baik saja?" Mama William balas memeluknya.
"Baik, Tante." Meski sedang berbicara dengan Mama William, mata Sarah berusaha mencuri-curi pandang ke arah William.
"Sarah, kamu sehat, Nak?" Ganti Papa William mendekati Sarah.
"Sehat, Om."
"Syukurlah. Wil, taruh dulu semua berkas di ruang kerja Papa. Jangan kamu suruh Mang Udin, dia ga tahu nanti bisa salah." Sebelum William berhasil mendekati Sarah, Papanya lebih dulu memberi tugas padanya. Alhasil keduanya hanya bisa memandang dan bertukar senyum dari jauh.
"Bagaimana keadaan Papamu, Sarah?" Papa William menggiring Sarah duduk di.sofa ruang tamu.
"Papa masih belum ada kabarnya Om. Terakhir kabar dari kepolisian, komplotan itu masih dalam pengintaian.
"Mmm, benar. Komplotan yang menahan Papamu itu juga bagian dari Tuan Marvel, orang asing yang ingin menguasai daerah pelosok yang kita kembangkan. Tuan Marvel sendiri sudah di deportasi ke negara asalnya dan akan menjalani hukuman di sana, jadi komplotannya di sini tentu sedang lemah karena kehilangan donatur besarnya dan terdesak oleh kepungan polisi. Kamu sabar saja, nanti saya yang akan tanyakan perkembangannya."
__ADS_1
"Sarah, di mana Belle?" Mama William tergopoh-gopoh keluar dari dalam. Nafasnya terengah-engah karena berjalan cepat memasuki semua kamar untuk mencari bayi mungil yang membuatnya ingin segera pulang.
"Belle ...." Sarah sontak berdiri dari duduknya. Tangannya saling meremas gelisah dan matanya menatap William meminta agar pria itu bantu menjelaskan.
Sampai hari ini, selain mencari Papanya ia juga tersiksa dengan rasa kehilangan Belle. Tiap malam harus ia lalui sendiri dengan rasa kesendirian menanggung rindu pada tiga sosok yang sudah menguasai hati dan pikirannya.
"Belle juga masih menjadi tawanan, Ma. Saat Sarah melarikan diri, dia tidak sempat menyelamatkan Belle," ucap William pelan.
"Kalian sudah mencarinya? Dia masih bayi, Wil. Bagaimana keadaannya sekarang ditangan para penjahat itu?" Mama William jatuh terduduk di sisi suaminya.
"Sudah, Ma. Orang yang aku suruh memantau pergerakan komplotan itu terus memberiku kabar," ucap William berusaha menenangkan semua orang.
"Sudahlah, percaya sama William. Dia sanggup menyelamatkan kita di pelosok, aku juga yakin dia juga sanggup menyelamatkan Belle dan Anderson," timpal Papa William.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, nanti aku dan William lanjut membicarakan hal ini," lanjut Papa William. Ia menggiring istrinya masuk ke dalam kamar, "Eh, mau kemana kamu?" Baru saja akan memasuki kamar, Papa William berhenti lalu menunjuk putranya yang sedang merangkul pundak Sarah.
"Istirahat," sahut William santai.
"Kamu istirahat di kamar tamu. Biar Sarah tidur sendiri di kamarmu," titah Papa tegas.
"Kalian belum resmi, tidak boleh satu kamar!"
"Loh .. Loh .. kita 'kan sudah meni---"
"Sudah menikah? Belum, pernikahan kalian yang kemarin tidak sah. Tuan Anderson masih hidup, beliau sendiri yang harus menikahkan putrinya."
Tangan William yang melingkar di bahu Sarah, spontan terlepas. Sarah sendiri mengambil jarak dua langkah menjauh dari William. Mata William memandang sedih pada Sarah, jarak sedekat ini ia tetap tak bisa melampiaskan rasa rindunya.
"Apa kalian sudah ... Ah, kita ikut berdosa." Mama William menutup wajahnya dengan tangannya.
"Belum, Ma." William menggeleng cepat.
"Masuklah ke kamar, Sarah. Kalau William datang mengetuk pintu kamarmu, jangan kau bukakan," ujar Papa William sebelum menutup pintu kamar.
Dua orang beda jenis yang saling merindu dalam diam itu, saling berdiri berhadapan tanpa berani saling menyentuh.
"Kamu sehat?" tanya William.
__ADS_1
"Sehat," sahut Sarah pelan, "Di sana ga sempat cukur ya, janggutnya tambah panjang." Sarah menunjuk dagu William.
"Iya, percuma tampil ganteng di sana, yang ingin dipikat ada di rumah."
"Gombal." Sarah menunduk tersipu.
"Kamu kenapa kok tambah kurus? Mau makan, malu karena ga ada aku?" William memindai tubuh Sarah yang terlihat semakin kecil.
"Gak nafsu makan, yang bikin semangat ga ada di rumah," balas Sarah.
"Alamaak!" William menutup wajahnya dengan tangan. Ia serasa ingin melayang terbang, tak menyangka Sarah akan membalas gombalannya.
"Istirahat dulu, kamu kelihatan capek sekali" ucap Sarah setelah tawa mereka mereda.
"Tadi di jalan, aku sudah membayangkan sebelum tidur dipijat dulu." William memasang wajah penuh harap.
"Bik Nah pintar pijatnya. Semoga dia belum tidur, sebentar aku panggil ya."
"Saraaaah, kamu pura-pura ga tahu atau memang ga ngerti sih?"
Sarah memiringkan kepalanya mencoba menelaah nada kekesalan William. Bukannya ia tidak mengerti, tapi ia tidak menyangka William berani se-terbuka itu padanya setelah lama tak bertemu.
"Ngerti kok, kamu mau aku yang pijat 'kan? tapi ga boleh sama Papa mu, makanya aku tawarkan pijat sama Bik Nah kalau memang capek sekali."
"Bedalah." Wajah William mengkerut kesal. Tangannya memijat-mijat sendiri pundaknya yang terasa berat.
"Aku pijatkan, tapi jangan di kamar. Di sini saja." Tangan Sarah melambai memanggil William untuk duduk di sampingnya.
Seperti anak kecil yang akan diberi permen, William dengan cepat merebahkan kepalanya di atas pangkuan Sarah. Sarah tertawa kecil sembari mengusap-usap rambut coklat William.
"Selama aku tidak ada di rumah, apakah kamu rindu padaku?" tanya William dengan mata terpejam menikmati sentuhan tangan Sarah di kepalanya.
"Kamu ingin aku jawab apa?"
William membuka matanya lalu kepalanya terangkat mendekati wajah Sarah, "Tak perlu dijawab, cukup perlihatkan."
...❤️🤍...
__ADS_1