Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Berbohong kesekian kalinya


__ADS_3

William terus berusaha melakukan pendekatan secara fisik pada istrinya. Ia ingin pernikahan ini berlangsung normal seperti pasangan lain.


Usahanya sejauh ini cukup membuahkan hasil. Sarah tak canggung lagi jika dipeluk secara tiba-tiba dan tak menghindar lagi jika ia mencium dengan panas sekalipun. Sarah pun selalu bisa mengimbangi cumbuannya. William merasa sangat yakin, jika rasa cinta Sarah padanya sudah mulai bertumbuh.


Tentang masa lalu Sarah, ia tak ambil peduli. Baginya adalah saat ini. Sarah yang bersamanya sekarang adalah Sarah yang baru. Lagipula selama hidup bersama, Sarah sama sekali tak mencerminkan bahwa dia berasal dari wanita nakal dan liar. Jika ia mahir karena terbiasa bercumbu dengan Brenda, tapi Sarah yang notabene sehari-hari bertemu dengan berbagai macam pria malah seperti gadis remaja yang malu-malu bahkan terlampau polos dibanding dirinya.


Hanya satu yang belum terwujud keinginan William. Sebagai pria normal, ia tentu ingin merasakan indahnya pernikahan di atas ranjang pengantin. Ia sangat ingin mewujudkannya tanpa harus memaksa, agar menjadi kenangan yang indah untuk pertama kali bagi dirinya.


"Apa ini?" Sarah mengernyitkan kening melihat William mendatangkan orang yang memasang box bayi.


"Ranjang untuk Belle," ucap William bangga. Ia mengawasi dua pekerja merangkai box bayi berukuran besar berwarna merah muda.


"Untuk apa?"


"Ya untuk Belle, Sayang. Dia sudah besar, sukanya berguling-guling bahaya kalau dia di ranjang yang tidak ada pembatasnya. Dia juga bisa belajar berdiri di sini, coba kamu lihat." William menunjukan pagar box bayi yang tinggi.


"Tapi dia masih kecil, Wil. Dia tidak bisa tidur kalau tidak memegang jari salah satu dari kita."


"Tidak apa-apa nanti juga terbiasa, harus bisa dilatih sejak dari kecil. Biar saja awalnya dia tidur sama kita, kalau sudah nyenyak bisa diangkat masuk ke dalam boxnya, biar antara kamu dan aku tak ada lagi pembatas," tambah William sembari berbisik di telinga Sarah.


Sarah bergidik merasakan hasrat dari nada suara suaminya. Ia jelas tahu apa yang diinginkan William dari dirinya.


"He? Hehehe." Sarah tertawa garing.


Sejak adanya box bayi di kamar utama, hati Sarah menjadi tak tenang. Ia selalu berusaha agar Belle tak terlelap lebih cepat. Berbagai cara ia lakukan agar Belle tidur larut, seperti menidurkannya di sore hari, mengajaknya bermain hingga larut. Sampai ikut terlelap sebelum bayinya sendiri tertidur.


"Sarah, ini sudah malam," tegur William. Sudah pukul sepuluh lewat tapi bayi tujuh bulan itu masih terkikik dengan mata seterang lampu.


"Dia belum mau tidur, Wil."


"Coba kamu beri susu."


"Sudah habis." Sarah menunjukan botol susu yang sudah kosong.

__ADS_1


"Apa dia bangun tidur terlalu sore lagi?" keluh William.


"Iya, mungkin semakin besar pola tidurnya berubah."


"Belle, tidur sama Papa yuk." William berdiri dan mengulurkan tangannya. Bayi perempuan itu dengan cepat merangkak dengan ceria menyambut uluran tangan Papanya.


William lalu mematikan lampu kamar dan menimang Belle sembari bersenandung. Sarah resah ketika bayi itu semakin merasa nyaman di pelukan Papanya. Belle tampak diam tak bergerak, sepertinya William telah berhasil menidurkannya.


"Sudah tidur," ucap William dengan gerakan bibirnya.


Tangan Sarah tertaut saling meremas di balik selimut. Alasan apa yang bisa ia berikan untuk menolak William meminta haknya? Sesuatu yang seharusnya belum menjadi hak William sepenuhnya.


Suami di atas kertasnya itu menaruh Belle di dalam box bayi, lalu berjalan pelan dan naik ke atas ranjang dengan senyuman penuh arti.


"Kemari." William merentangkan tangannya. Sarah menurut, ia beringsut mendekat dan jatuh dalam pelukan suaminya, "Akhirnya di atas ranjang ini tidak ada yang menghalangi lagi."


"Jadi maksudmu, Belle penghalang?"


"Bukan begitu." William mengecup pipinya gemas. Sarah merinding dibuatnya. Kecupan itu berubah menjadi pagutan di leher dan tengkuknya.


"Hmmm?" Tak berhenti, bibir William berpindah di daun telinga Sarah.


"Aku takut kamu terluka lagi, Wil." Susah payah Sarah menahan bobot tubuh William yang hampir menindihnya.


"Terluka?" William mengangkat wajahnya dari ceruk leher Sarah. Keningnya terlipat, lalu ia tersenyum geli, "Maksudmu akan ada yang terjepit lagi? Tenang saja, aku hanya menggunakan celana kolor dan kamu tahu di dalamnya tidak menggunakan apa-apa," bisik William dan dengan sengaja menempelkan miliknya di kaki Sarah.


Sarah terkesiap ketika merasakan sesuatu yang kenyal namun keras menekan kakinya. Tidak perlu di lihat lagi, ia tahu apa dibalik celana kolor milik William.


"Tapi kamu benar, Sayang. Milikku pasti akan terjepit lagi, tapi kali ini aku yang memberikannya untuk dijepit." William menyeringai senang. Ia sengaja melontarkan kata-kata nakal untuk memancing Sarah, karena yang ia tahu wanita yang bekerja sebagai kupu-kupu malam terbiasa dengan ucapan semacam itu.


Sarah ingin menjerit, ia sungguh takut dan tidak siap mendapat serangan William malam ini. William yang lembut dan sopan mendadak liar di atas ranjang.


"Ta-tapi aku belum siap, Wil."

__ADS_1


"Kenapa, Sayang? Apa karena kamu belum merasakan cinta padaku?" William memandangnya kecewa. Sarah sungguh tak tega, mana mungkin tak ada rasa cinta pada pria yang demikian tulus seperti William.


"Bukan. Ada yang belum aku ceritakan. Aku ... Aku punya trauma masalah hubungan intim jadi aku harus benar-benar siap untuk melakukannya."


"Bagaimana bisa? Bukankah kamu ...."


"Ya, benar aku seorang pelacur, tapi setiap aku selesai melakukan itu aku merasa sakit dan ... Ingin bunuh diri." Sarah memaksa otaknya untuk berpikir dengan cepat.


"Benarkah? Mengapa kamu baru menceritakannya sekarang, Sarah?" William mendekap istrinya dalam pelukannya.


"Maafkan aku ... Maafkan aku, Wil." Sarah menangis di pelukan suaminya, bukan karena tak bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, melainkan karena telah berbohong lagi untuk kesekian kalinya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Bukan salahmu, hal ini tidak penting. Maafkan, aku mungkin sudah membuatmu takut." William mengecup kepala Sarah berulangkali membuat gadis itu di dera rasa bersalah yang semakin besar.


Semenjak itu, William tak lagi meminta apalagi memaksa Sarah melakukan hubungan intim. Seolah ada tembok yang terpasang, William menjaga agar ia tak terlalu ada kontak fisik yang berlebihan dengan istrinya dan itu membuat Sarah semakin sakit.


...❤️...


Pagi itu Sarah menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Rasanya ingin menghilang saja tapi jelas tidak mungkin. Pesan tak diharapkan, baru saja masuk di ponselnya.


'Saya sudah menunggu terlalu lama, Cantik. Papamu di sini sudah sangat menderita membayangkan putrinya yang tersayang hidup bersama dengan keluarga pengkhianat.'


Sarah segera bersiap, ia berencana akan makan siang di kantor bersama William. Waktu yang ada, akan ia gunakan untuk mencari berkas yang diinginkan pria berwajah bengis itu.


Ketika ia sedang menyiapkan makan siang yang akan dibawanya, ada sebuah pesan lagi masuk di ponselnya, 'Jika sudah kau temukan, bawa kemari beserta bayi itu.'


Sarah menoleh pada Belle yang sedang menikmati makan siangnya sendirian di atas kursi bayi. Sarah menggigit bibirnya, walaupun Belle bukan siapa-siapa baginya, ia tetap tidak rela jika bayi sekecil itu turut terlibat dalam masalah sepelik ini.


'Aku tidak bisa bergerak bebas jika bayi itu ikut bersamaku,' balas Sarah mencoba bernegosiasi.


'Perintah tetaplah perintah, lakukan seperti yang kuminta.'


Permintaan yang tidak bisa ditawar apalagi ditolak. Ia tahu jika berani membangkang, ada harga yang harus dibayar.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2