
Petugas keamanan dan masyarakat sekitar membiarkan keduanya saling menghajar satu sama lain. Bahkan mereka menonton aksi pertunjukan itu sampai Tuan Marvel dan Baron bergulung di atas tanah.
"Bawa pergi mereka dari sini, memalukan!" hardik salah seorang tetua di sana.
Baron dan Tuan Marvel di sidang di tempat terpisah, karena kepentingan yang berbeda. Tuan Marvel di pulangkan ke negara asalnya dan seluruh asset miliknya yang terbukti dimiliki secara curang di sita oleh negara. Sedangkan Baron, dipecat dengan tidak hormat dan menjalani hukuman sesuai peraturan yang berlaku.
"Kamu pulang saja dulu sama Mama, Papa masih harus di sini. Banyak yang harus Papa selesaikan sebe ---"
"Sampai kapan? berapa lama? Apa nanti aku harus kembali lagi kemari hanya untuk menjemput Papa yang terlibat masalah lagi? Atau bahkan aku harus membawa pulang tubuh Papa yang tak bernyawa?" William memandang mata Papanya dengan sedikit gentar.
Tak dipungkiri ia tetap merasa segan dan takut berkata seperti itu pada Papanya. Namun rasa kesal, lelah dan khawatir kehilangan orang yang di sayanginya mengalahkan rasa takutnya.
Papa William termangu mendengar ucapan putra sulungnya. Ia sempat terkejut dan menoleh cepat saat mendengar nada kemarahan yang dilontarkan William. Hampir saja ia menghardik putranya itu, tapi begitu melihat mata William berkaca dan bibir mengatup rapat menahan lonjakan emosi, Papa William tersenyum tipis.
Mamanya yang saat itu berada di kamar juga mendengar, langsung keluar dan hampir ikut menegur putranya, tapi dengan isyarat matanya, Papa William meminta istrinya itu untuk kembali masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu pada orangtuamu? Apa semenjak Papa dan Mama bertugas, kamu kehilangan sopan santun mu?" Papa William menatap putranya lurus. Ia tidak langsung memeluk William, walaupun rasanya terlalu ingin. Ia mencoba melihat seberapa jauh putranya berani menghadapinya.
"Aku hanya ingin Papa dan Mama pulang bersamaku," ujar William tegas.
"Kalau Papa tidak mau?" Mata Papa William membesar.
"Aku akan melakukan apapun agar Papa pulang bersamaku, kalau perlu aku akan menyeret Papa pulang. Kalaupun memang harus ada yang harus diselesaikan dengan tangan Papa sendiri, aku akan ikut menunggu sampai selesai." Bukannya takut, William malah berdiri semakin tegak dan menantang mata Papanya.
"Sudah berani rupanya kamu sekarang? Apa ini semua gara-gara wanita malam itu dan anaknya?" Papa William mulai berjalan mendekat.
__ADS_1
"Dia istriku dan anakku, Pa. Jangan panggil istriku dengan sebutan seperti itu," ujar William sembari memalingkan wajahnya. Ingin marah dan memukul lawan bicaranya, tapi yang mengatakan itu orang yang diseganinya.
William kembali menoleh dan menatap Papanya saat pria itu tertawa kecil, "Seingat Papa dulu kamu menolak mentah-mentah menikah dengan wanita itu. Sudah berubah pikiran rupanya?" William mendengus kesal mendengar nada ejekan dari pertanyaan Papanya.
"Kalau urusan Papa di sini selesai satu tahun lagi, bagaimana? Kamu mau menunggu di sini bersama Papa?" tambah Papa.
"Pa!" William semakin gusar dibuatnya. Sejak dulu, ia tidak pernah menang jika beradu pendapat dengan Papanya. Pria serupa beda usia dengannya itu, terlalu angkuh untuk terlihat lemah dihadapannya.
Tak mendapat kepuasan atas negosiasi yang diajukannya, William berdecak geram lalu berjalan keluar rumah dengan cepat. Pintu kayu yang ringkih sedikit berderit saat ia menutupnya dengan sedikit keras.
"Senang sekali kelihatannya?"
Papa William yang sedang mengulum senyum sembari mengintip putranya dari balik jendela, terkejut dan langsung terdiam saat istrinya tiba-tiba muncul dari balik tubuhnya.
"Kita baru saja melewati ketegangan, aku hanya ingin bercanda sedikit."
"Ya pulanglah, Sayang," ujar Papa William dengan senyuman yang terurai lebar.
"Ow, aku kira tadi Abang minta sama William pulang dulu sama aku, karena Abang masih belum puas lihat bidadari mandi di sungai." Selesai mengucap kalimat sindiran itu, Mama William melengos lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Usai ketegangan yang sengaja dibuat oleh Papa William, esok pagi saat matahari belum terbit sepenuhnya ketiga orang itu sudah berada di depan balai desa. Sebuah mobil besar sudah siap akan mengantar mereka menuju pelabuhan, lalu selanjutnya akan melanjutkan dengan penerbangan menuju ibu kota.
"Kami pamit, Pak. Mohon maaf jika kehadiran kami di sini menimbulkan permasalahan dan kesulitan bagi warga desa ini," ujar Papa William santun.
"Tidak, Pak Raymond. Justru kami sangat senang dan lega dengan masuknya perusahaan Pak Raymond membangun desa kami, fasilitas warga semakin terpenuhi dan desa kami dapat dilihat keberadaannya oleh dunia. Terima kasih juga sudah membantu mengusir para penguasa yang rakus itu," tambah tetua itu dengan geram.
__ADS_1
"Sama-sama, Pak. Saya juga berterima kasih sudah diberi kesempatan untuk membangun desa ini, tapi mohon maaf saya tidak bisa ada di sini sampai selesai karena keluarga kami menanti di rumah. Namun jangan khawatir, team saya sudah meluncur kemari untuk menuntaskan proyek ini." Papa William dan para tetua saling menggenggam tangan dengan erat.
Kepergian mereka diantar oleh lambaian tangan dari hampir separuh penduduk desa. William memandang penuh haru saat melihat kedua orangtuanya tampak dicintai oleh para warga.
Setelah warga tak terlihat lagi, Papa William menyandarkan tubuhnya lalu menoleh ke arah putranya yang berada di sampingnya.
"Papa sudah mengikuti maumu, pulang ke rumah meninggalkan pekerjaan Papa yang belum selesai." Senyum ramah yang tadi terkembang sempurna di bibir pria itu, lenyap saat berbicara dengan putranya.
Istrinya yang duduk di bangku belakang, melengos lalu memutar kedua bola matanya dengan malas mendengar drama suaminya. Sejatinya ia tahu kalau suaminya itu sangat menyayangi dan bangga atas perubahan putra sulungnya, tapi sulit untuk mengungkapkannya.
"Terima kasih," ucap William singkat. Ia memilih untuk tidak berdebat, karena perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama.
"Bagaimana keadaan kedua adikmu selama Papa dan Mama tidak ada di rumah?" Papa lanjut bertanya.
Menerima pertanyaan itu, William hanya menggaruk pelipisnya karena salah satu adiknya sedang dilanda masalah cukup besar saat ia akan berangkat menyusul Papanya.
"Baik ... Semoga," tambah William dalam hati. Setidaknya itu yang ia harapkan, karena ia pun tidak tahu menahu kabar kedua adik perempuannya karena sulit mendapatkan signal ponsel. Papa William mengangguk-angguk puas dengan jawaban putranya.
"Istri dan anakmu? bagaimana?" Papa William melirik dengan ujung matanya.
"Eh, bagaimana ... Apa maksudnya?" William tergagap.
"Apakah mereka baik-baik saja? Terakhir yang Papa dengar putri dari Tuan Anderson di sekap."
"Ow, baik. Mereka sudah ada di rumah sekarang bersama dengan Kanaya dan Maura," jawab William kikuk.
__ADS_1
Papa William tersenyum tipis, ia tidak sabar dan membayangkan bagaimana rumahnya terdengar semakin ramai.
...❤️🤍...