
"Kamu temani Sarah dulu, dia pasti lagi shock mendengar ucapan tadi. Kamu coba tenangkan dia, biar Papa yang lanjutkan pembicaraan dengan mereka." Papa berbisik pelan.
William mengetuk pintu kamarnya yang sekarang digunakan oleh Sarah. Tak ada sahutan, ia memutuskan untuk mengetuk sekali lagi sambil memanggil nama gadis itu, "Sarah, boleh aku masuk?"
Tak berapa lama, Sarah membuka pintu lalu kembali duduk di tepi ranjang. William ikut masuk ke dalam dan membiarkan pintu kamar terbuka sedikit. Ia mengambil kursi rias lalu menariknya ke hadapan Sarah.
"Maaf kalau kamu harus mendengar hal itu tadi. Itu hanya dugaan, bukan berarti benar. Kamu tidak perlu khawatir, Papamu dan Belle pasti selamat," ujar William sembari memegang tangan Sarah yang terasa dingin.
"Harusnya malam itu aku tidak meninggalkan mereka di sana. Harusnya aku bisa menyelamatkan mereka juga, bukannya malah lari sendiri. Aku merasa jahat dan egois sekali, Wil." Sarah melepas genggaman tangan William lalu mendekap erat tubuhnya sendiri.
Ia merasa sangat bersalah sekali. Bagaimana bisa dia makan dan tidur dengan nyenyak selama ini, sementara Papanya dan bayi mungil itu dalam situasi antara hidup dan mati.
"Kamu sudah melakukan yang semestinya. Kalau kamu bertahan di sana, situasinya akan semakin kacau. Kalaupun kamu bersikeras menyelematkan keduanya saat itu, bisa jadi nyawa Papamu dan Belle malah terancam. Kalian bertiga bisa langsung dibunuh malam itu juga. Papamu sudah melakukan hal yang luar biasa agar kamu bebas dari sekapan mereka. Sekarang aku yakin Papamu lebih tenang, karena beliau tahu kamu sudah berada di tempat yang aman." William mengusap-usap lengan Sarah dengan sedikit penekanan.
"Wil, mereka akan menyelamatkan Papa dan Belle 'kan?" Sarah mengangkat kepalanya. Wajahnya penuh dengan air mata.
"Tentu. Mereka orang profesional. Aku sangat yakin mereka bisa membawa pulang Papamu dan Belle. Aku yang menjamin." Tak ada kalimat lain yang bisa ia ucapkan, walau ia pun tidak sepenuhnya yakin situasi akan sesuai dengan apa yang diinginkannya.
"Sekarang yang bisa kita lakukan adalah terus berdoa agar semua lancar agar Papamu serta Belle dapat kembali berkumpul dengan kita." William mengangkat kedua tangan Sarah dan mengecupnya lembut.
"Kamu ... tidak akan pergi lagi 'kan?" tanya Sarah ragu-ragu.
"Pergi kemana yang kamu maksud? Kalau maksudnya pergi dari hatimu, itu tidak akan terjadi selama kamu tidak mengusirku dari sana." William menunjuk dada Sarah seraya memasang wajah sedih.
__ADS_1
"Wil, aku serius." Sarah merenggut kesal.
"Pergi kemana sih?" William mengulas senyum tipis.
"Kamu nanti ikut mereka melakukan aksi penyelamatan, seperti waktu kamu pergi ke pelosok menyelamatkan orangtuamu?"
"Memangnya kenapa kalau aku ikut, lebih bagus 'kan biar lebih cepat." William mengangkat kedua alis tebalnya bersamaan.
"Ga usah," cicit Sarah.
"Apa kamu sedang mengkhawatirkan aku? Atau aku yang terlampau GR? Sarah, sampai saat ini aku belum tahu isi hatimu yang sebenarnya. Jika Papamu kembali, apa kamu masih di sini atau akan pergi meninggalkanku?" William menatapnya intens.
Mata Sarah mengerjap-kerjap beradu dengan mata coklat William yang memandangnya tajam. Tak mendapat jawaban yang diinginkan, William berdiri dari duduknya.
"Dasar William bodoh! Apa dia kira aku pasrah mau dicium, dipeluk bukan karena suka? Atau jangan-jangan dia masih mengira aku wanita bayaran? Kenapa juga kalau berhadapan dengan dia mulut ini ga bisa bicara yang benar!" Sarah memukul bibirnya sendiri.
Sarah gemas pada dirinya sendiri, mengapa bisa kehilangan kata-kata saat berhadapan muka dengan William. Padahal di awal dulu, ia tak gentar menghadapi pemuda itu, tapi mengapa begitu ada rasa yang berbeda, semuanya berubah. Lututnya terasa lemas hanya karena dipandangi oleh William. Debar jantungnya meningkat berkali lipat ketika pria itu tersenyum padanya. Bulu halusnya meremang hanya karena sentuhan kecil dari William.
"Aaahhh, Sarah!!" Sarah menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Sesaat ia lupa dengan rasa sedihnya.
William kembali ke teras menemui Papanya, tapi ia tidak menemui ketiga tamunya, "Mereka kemana?" tanyanya.
"Sudah pulang. Papa sudah menandatangani surat persetujuan untuk penyelamatan Tuan Anderson dan bayi itu," ujar Papa.
__ADS_1
"Loh, kenapa Papa yang tanda tangan? Seharusnya aku, mereka aku yang panggil dan sewa," protes William.
"Aksi penggrebekan ini ilegal, mereka tidak dapat ijin dari pihak berwajib. Jadi jika terjadi sesuatu tentu harus ada yang bertanggungjawab."
"Tapi ini keputusanku untuk menggunakan mereka, Pa. Dalam aksi ini mereka akan menyelamatkan Papa Sarah dan bayi yang sudah aku anggap anakku sendiri. Jadi ini tanggungjawab ku." William memeriksa berkas di hadapannya dengan resah. Di sana jelas tertera nama dan tandatangan Papanya.
"Lalu kenapa kalau Papa yang bertanggungjawab? Kamu anak Papa, selama belum berkeluarga, kamumasih dalam pengawasan dan tanggungjawab Papa. Apa menurutmu Papa sanggup melihat kamu mendekam di penjara jika aksi ini gagal? Jangan kamu kira Papa tidak tahu resikonya, Wil. Dengan menandatangani surat itu, Papa tahu akan tanggungjawab atas apapun yang terjadi nantinya, termasuk jika ada nyawa yang hilang. Baik itu korban atau orang bayaran kita." Papa melirik putranya tajam.
William melempar berkas yang tadi dipelajarinya ke atas meja. Ia merasa kecolongan, tak menyangka Papanya tahu resiko di balik keputusannya menyewa orang bayaran.
"Bagaimana dengan Sarah?" Papa mengalihkan pembicaraan.
"Dia sudah tenang," jawab William tak bersemangat, "Kapan aksi mereka dimulai?" William kembali mengalihkan ke pembicaraan semula.
"Nanti malam," ucap Papa setelah menimbang sejenak, "Jangan punya pikiran bodoh, Wil," ucap Papa tajam seolah mengerti dengan isi kepala putranya. William hanya mengangguk samar. Sebagai orang yang merasa bertanggungjawab atas semuanya ini, tentu dia tidak dapat hanya diam berpangku tangan menanti kabar.
Pak Raymond, Papa William berdiri di depan pintu rumah yang terbuka lebar dengan kedua tangan di belakang tubuhnya. Sudah lewat jam sebelas malam, William belum pulang sejak siang hari tadi. Ponsel putra sulungnya itu tidak bisa dihubungi. Jelas ia tahu kemana perginya William. Putra sulungnya itu benar-benar mewarisi darah mudanya dulu.
"William belum pulang, Bang?' Pertanyaan sama yang sudah berulang kali dilontarkan oleh istrinya. Pertanyaan itu mewakili kegundahan Sarah yang malu untuk menyampaikan sendiri. Gadis itu duduk di depan televisi tapi dengan pandangan kosong.
"Ini malam minggu. Biar saja, lama di desa mungkin dia rindu berkumpul dengan teman-temannya. Aku tadi cuman cari angin segar saja, ayo tidur," ucap Papa William sembari menutup pintu rumah, "Kamu tidurlah, Sarah, tak perlu menunggu William. Dia sering seperti ini, jangan khawatir," ujar Papa William saat melewati Sarah.
Kalimat terakhir Papa William malah membuat pikiran Sarah semakin kalut. Mengapa harus ada kata jangan khawatir seolah menegaskan sesuatu.
__ADS_1
...❤️🤍...