
"Bik, tolong masukan makanan ini ke dalam kotak ya. Saya mau siapkan Belle dulu," pinta Sarah sembari mengangkat Belle dari kursi bayi.
"Loh, Belle juga di bawa, Non? Tapi bocahnya belum selesai makan."
"Tak apa, nanti saya suap lagi di kantor. Bibik tolong siapkan saja bubur bayinya, saya bersihkan dulu badannya." Sarah tetap membawa Belle masuk ke dalam kamar, meski bayi itu memprotes karena waktu makannya terganggu.
"Belle, apapun yang terjadi kita harus kuat ya. Momi akan berusaha terus menjagamu. Kita akan terus bersama-sama," ucap Sarah sembari mengganti pakaian Belle dengan mata berkaca.
Sarah membawa Belle ke kantor William dengan menenteng tas berisi makanan. Siang ini sebenarnya William tidak mengajaknya makan siang bersama, karena ia selalu menolaknya. Kalau bukan karena perintah dalam pesan singkat itu, ia juga malas bertemu dengan karyawan William yang memandangnya remeh.
"Sarah? Kenapa tidak bilang mau datang kemari?" William yang baru saja menyelesaikan rapatnya, terkejut senang mendapati Sarah ada di dalam ruangannya bersama dengan Belle.
"Mau kasih kejutan." Sarah tersenyum lebar.
"Kamu berhasil, aku memang terkejut." William mengecup puncak kepala Sarah dan pipi Belle.
"Aku harap kamu tidak banyak kerjaan hari ini."
"Mm, sebenarnya aku ada kunjungan ke kantor cabang siang nanti, tapi ... aku bisa tunda besok kalau kamu ingin ditemani."
Sarah tersenyum trenyuh, William yang dulu jauh berbeda dengan yang sekarang. Pria yang dinikahinya itu sekarang menjadi suami yang lembut dan selalu berusaha ingin menyenangkan istri dan anaknya.
"Jangan, Wil. Tetaplah ke kantor cabang, mereka membutuhkanmu."
"Kamu tidak membutuhkanku?" pancing William seraya berjalan mendekat ke arah Sarah dengan senyuman nakal.
"Aku membutuhkanmu untuk menghabiskan makanan ini," ujar Sarah seraya berjalan memutari meja sengaja menjauh dari jangkauan tangan William.
"Tentu saja." William tersenyum tipis walaupun hatinya sedikit kecewa dengan penolakan istrinya.
Sarah menatap William yang sedang menikmati makan siang dengan tatapan sedih. Ia tak sampai hati menyakiti pria ini. Kalaupun Papanya pernah dikhianati, tapi bukan karena suaminya melainkan orangtuanya.
"Kamu tidak makan?"
__ADS_1
"Sudah makan tadi sebelum kesini."
"Makanlah lagi, aku tidak enak sedang makan, kamu lihat seperti itu. Ada apa? Apa masih karena urusan ranjang kamu masih merasa bersalah? Sudah tidak usah terlalu dipikirkan, aku tidak apa-apa. Kalau kamu sudah siap, kita bisa mulai pelan-pelan." Sarah hanya tersenyum tipis tak menanggapi.
"Papa dan Mamamu kapan pulang?"
William menarik nafas panjang sebelum menjawab, "Aku juga kurang tahu, sepertinya di sana mereka sedang mengalami kendala."
"Mm, sepertinya proyek besar ya?"
"Bisa dibilang seperti itu, yang aku tahu proyek ini adalah proyek yang tertunda cukup lama. Perusahaan kita menangani pembangun jembatan yang menghubungkan daerah ABC dan daerah XYZ. Negosiasinya dulu cukup alot, karena daerah XYZ awalnya tidak mau dengan mudahnya terhubung dengan daerah ABC. Daerah XYZ kaya akan lokasi wisata yang masih asri, tidak mau jika orang kota ABC datang dan merusak daerah mereka. Papaku dan temannya, Om Anderson berusaha melunakan para tetua di daerah XYZ lalu akhirnya pemerintah kota ABC dan tetua daerah XYZ mempercayakan pada mereka, untuk membangun jembatan serta mengelola sumber daya alam serta titik wisata yang ada di dua daerah tersebut," jelas William panjang lebar. Dada Sarah berdetak lebih kencang mendengar nama Papanya disebut.
"Sekarang mereka ada di daerah XYZ?" pancing Sarah.
"Hanya Papa dan Mama saja yang melanjutkan proyek ini. Om Anderson tahun lalu tiba-tiba menghilang bersamaan hilangnya dana yang seharusnya dipergunakan untuk mengganti kerugian warga XYZ yang pemukimannya di gusur."
"Menghilang bersama dengan sejumlah dana? Maksudmu orang yang kamu sebut Om Anderson itu pencuri?" Nada suara Sarah meninggi dua kali lipat.
"Kamu yakin bukan Papamu yang membawa uang itu?"
William tertawa miris, "Kalau mau, mungkin keluarga kami sudah kaya raya tak terhingga, Sayang."
"Barangkali." Sarah tak bisa menyembunyikan sikap sinisnya. William tergelak, ia menganggap sikap istrinya itu hanya sekedar reaksi wanita yamg sedang merajuk.
"Ayolah, kamu makanlah keburu Belle bangun."
"Jadi perjanjian kerjasama Papa kamu dan Om Anderson itu masih berlangsung?" Sarah tak mengindahkan ucapan William. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi menurut versi William.
"Tentu, maka itu Papa ada di sana sekarang. Proyek itu sudah 90% rampung dan sudah memasuki tahap akhir. Jika lancar, tahun depan jembatan penghubung akan diresmikan dan akhirnya penduduk dari kedua daerah itu tidak harus memutar atau menyeberangi sungai."
"Pasti Papa kamu akan menuai keuntungan besar dari proyek ini."
"Keuntungan? ...." William memiringkan kepalanya heran. Ia hendak menimpali ucapan Sarah, tapi dering telepon dari sekretarisnya menyela mengingatkannya akan waktu kunjungan ke cabang, "Oke, terima kasih, Fir." William menutup teleponnya.
__ADS_1
"Kamu harus pergi sekarang?" tebak Sarah sebelum pria itu mengatakan sesuatu.
"Kamu tidak mau ikut denganku? Hanya sebentar, lalu setelah itu kita bisa jalan-jalan." Masih berat rasanya meninggalkan istri dan anaknya di saat langka mereka datang untuk makan siang bersama.
"Lain kali saja aku ikut kalau Belle sudah besar dan bisa ditinggal."
"Baiklah, aku jalan dulu. Kamu mau tunggu aku kembali atau mau pulang?"
"Aku pulang saja."
"Baiklah, nanti kamu pulang sama sopir kantor saja ya."
"Jangan khawatirkan kami. Cepatlah berangkat, kamu sudah ditunggu karyawanmu." Sarah dengan cekatan membantunya mengemasi berkas yang tercecer.
"Aku pergi dulu, jika ada apa-apa segera hubungi aku." Sarah mengangguk cepat. Ia berdiri di depan meja William, menanti pria itu keluar dari ruangan dan meninggalkannya sendiri.
Sarah mengintip dari jendela kaca yang memperlihatkan halaman depan kantor. Ia ingin memastikan kalau mobil suaminya itu telah keluar turun ke jalan.
Ponselnya kembali berdering menampilkan nomer asing yang selalu berubah-ubah.
'Aku sudah membawanya keluar dari kantor, sekarang giliranmu. Sekarang atau tidak sama sekali.'
Hanya percakapan satu arah. Sarah tak diberi kesempatan menjawab, sambungan telepon langsung diputuskan.
"Bahkan kunjungan William ke cabang juga mereka yang rancang."
Sarah langsung menuju lemari berkas yang sebelumnya pernah ia temukan surat kerjasama antara Papanya dan Papa William dengan kepala daerah XYZ dan ABC. Tak membutuhkan tenaga dan waktu banyak, ia langsung menemukan apa yang dicari.
Satu map penuh berisi pasal kerjasama itu berpindah ke tangan Sarah. Ia langsung mengangkat Belle yang masih tertidur dan memesan taxi online. Setelah di rasa tak ada yang tertinggal, Sarah langsung keluar dari ruangan William.
Terlalu buru-buru hendak masuk ke dalam lift, ia bertubrukan dengan Brenda yang akan keluar, "Shi t! Punya mata ga sih kamu!"
...❤️🤍...
__ADS_1