Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Melarikan diri


__ADS_3

Raymond mendegus geram melihat video yang diputar Baron di ponselnya. Video itu menunjukan beberapa gelintir orang berteriak-teriak sembari mengacungkan spanduk. Ada juga kaum wanita yang menangis seraya memukul-mukul dadanya.


"Saya tidak yakin mereka penduduk asli daerah B. Selama lima tahun berada di sini, saya tidak pernah melihat wajah mereka." Raymond menggeleng tak yakin. Sambutan masyarakat selama ini pada proyek yang digarapnya sangat hangat dan menerima dengan tangan terbuka.


"Terserah bagaimana tanggapan anda, saya selaku pemimpin daerah ini hanya ingin melindungi hak warga saya."


"Apa yang anda mau?" Mata Raymond memicing sinis.


"Hanya bukti jika proyek yang anda jalankan ini legal."


"Jika tidak?"


"Jika tidak, dengan sangat menyesal proyek ini akan kami hentikan dan anda akan dikenakan sanksi denda dan mungkin kurungan penjara seperti yang sudah saya jelaskan tadi."


"Proyek ini sudah hampir rampung. Tinggal penyelesaian saja. Bahkan jadwal peresmian sudah diajukan ke pemerintah pusat, apa tidak sayang jika hatus dihentikan begitu saja?"


"Yaah, mau bagaimana lagi. Mungkin jika saya beruntung ada investor baru yang mau meneruskan proyek ini."


Raymond mendecih sinis. Pancingannya tepat pada sasaran. Pemimpin rakus dan licik itu, telah memakan umpannya.


"Siapa yang membayar anda?" Dengan berani Raymond bertanya sembari memajukan tubuhnya dan bertumpu di meja kerja Baron.


"Apa maksud anda? Anda mau menyogok saya? Hati-hati kalau bicara dengan aparat negara, Pak, anda bisa kena pidana." Baron terbelalak kaget.


"Saya hanya bercanda, kenapa harus panik? Apa saya terdengar akan menyogok Pak Baron? Saya hanya bertanya siapa yang membayar anda? Tentu saja masyarakat dari pajak mereka, termasuk saya. Tentu saya harus menaati perintah negara. Benar?" Raymond tergelak puas melihat pemimpin rakus itu panik dengan ucapannya, "Baiklah, saya akan coba berikan bukti yang anda minta."


"Saya tunggu, Pak Raymond." Baron tersenyum penuh arti.


Sekembalinya Papa William dari kantor kepala daerah B, beliau langsung menghubungi anak sulungnya.


"Bagaimana, Wil, kamu sudah menemukan di mana istri dan anakmu?"


Sengaja Papa William tidak menceritakan perihal ancaman kepala daerah padanya. Ia tidak mau putranya semakin merasa tertekan dan bersalah. Sebenarnya ia sendiri ikut andil dalam situasi ini, karena memaksakan pernikahan William dan Sarah tanpa menyadari bahwa itu termasuk dalam strategi musuhnya.

__ADS_1


"Belum, Pa, tapi orang suruhanku sudah mendapat rekaman mobil yang membawa Sarah dan Belle sering melintas di jalan trans antar kota. Mobil itu terlalu mencolok sering menjadi perhatian warga sekitar, karena terlalu mewah dan sangat laju.


"Bagus."


"Papa dan Mama baik-baik saja di sana?" William mendengar sirat nada putus asa dari Papanya.


"Papa dan Mama baik-baik saja di sini, kamu jaga diri juga di sana. Segera temukan Sarah dan Belle, Wil. Papa yakin dia anak yang baik."


"Iya, Pa." Jari William mengusap foto Sarah dan Belle yang diambilnya secara diam-diam, 'Di mana kamu, Sayang.'


Sementara itu Sarah yang sudah terkurung selama tiga hari dalam kamar kecil berukuran 2x2, tampak memandang jendela kecil yang berada di langit-langit. Langit malam itu sangat jernih, hanya ada satu bintang yang terlihat dari tempatnya duduk bersandar di pojok kamar.


Airmatanya sudah kering. Tangannya memerah dan bengkak, karena sering digunakan untuk menggedor pintu. Suaranya parau terlalu lelah menangis, berteriak bahkan merutuk para bodyguard yang berjaga di depan pintunya.


"Kangen ...."


"Maaf ...."


"Mau pulang ...."


"Wil ...."


"Belle ...."


"Papa ...."


"Tolong ...."


"Saraaah ...." Suara parau Papanya seperti terdengar menjawab panggilannya.


"Paaa ...." Sarah membalas panggilan Papanya masih dengan mata menerawang. Ia menganggap bahwa suara itu hanyalah ilusinya, karena ia terlalu rindu pada Papanya.


"Saraaahhh."

__ADS_1


Suara itu terdengar semakin jelas dan dekat walaupun lirih berbisik. Sarah tersadar jika itu benar suara Papa memanggilnya.


"Paa ... Paaaa ...." Sarah menempelkan telinga di pintu serta memanggil-manggil Papanya, "Sarah di sini, Paaa," ucap Sarah sembari mengetuk-ngetuk pintu ruangannya.


Terdengar anak kunci di masukan ke dalam lubang dan diputar secara perlahan. Sarah mundur dua langkah dengan hati berdebar. Begitu pintu terbuka dan ia melihat Papanya berdiri dengan tubuh setengah terbungkuk, gadis itu langsung menghambur dan memapah tubuh ringkih Papanya untuk duduk di lantai dan langsung menutup pintu ruangannya.


"Paa ... Papa bagaimana bisa sampai di sini? Di mana mereka semua?" Sarah mengintip dari celah pintu, memastikan tidak ada yang mengikuti Papanya dan mendengar pembicaraan mereka.


"Hampir semua dari mereka sedang pergi ke daerah B. Kamu tidak punya waktu banyak, cepat keluar dari sini, Sarah. Orang yang berjaga sudah Papa berikan obat tidur yang sering diberikan untuk Papa, tapi itu tidak akan lama. Cepat pergi." Tuan Anderson mendorong putrinya agar menjauhinya.


"Kalau begitu ayo kita lari, Pa." Sarah membantu Papanya untuk berdiri.


"Papa di sini, kamu saja yang pergi. Cepat."


"Sarah tidak mungkin tinggalkan Papa di sini. Ayo, cepat Paaa."


"Tidak, Sarah. Papa bisa menghambatmu. Cepatlah lari cari bantuan sebelum terlambat lalu bersembunyilah." Papa mendorongnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya hingga ia hampir terjatuh.


"Paaa, Sarah tidak mau." Sarah menggeleng dengan air mata berderai. Melihat Papanya yang tampak sangat tua jauh dari usia yang sebenarnya, membuat ia tidak tega meninggalkan Papanya.


"Pilihannya kamu lari sekarang atau kita berdua tertahan di sini sampai mati, Sarah."


Benar kata Papanya, kesempatan ini tidak akan terulang dua kali. Ia harus segera pergi dari sini dan meminta bantuan agar dapat menyelamatkan Papa serta Belle.


Sarah memeluk Papanya dengan erat dan berbisik, "Jaga diri, Pa. Sarah pasti kembali dan menyelamatkan Papa dan juga Belle." Setelah itu ia langsung lari tanpa sanggup menoleh lagi pada Papanya.


Dengan langkah tertatih Tuan Anderson kembali ke kamarnya, melewati beberapa penjaga yang tidur tergeletak di lantai. Ia mengembalikan kumpulan kunci yang dicurinya ke dalam laci, lalu naik ke atas ranjang dan berpura-pura tidur seperti biasanya.


Dengan tanpa alas kaki, Sarah berlari tanpa henti dan tanpa menoleh ke belakang. Setelah cukup jauh dari gedung penyekapan, ia memperlambat geraknya. Baru ia sadari kalau gedung ini berada di dalam hutan.


Suasana hening hanya terdengar suara burung malam dan serangga. Ia mengabaikan rasa sakit kakinya yang telanjang menginjak ranting serta bebatuan. Hawa dingin malam terasa menusuk, Sarah mulai menggigil tapi ia tetap berusaha melanjutkan perjalanannya menemukan untuk jalan utama.


Ketika hampir ingin menyerah dengan mata berkunang Sarah duduk di tanah dan bersandar di batang pohon besar, ia melihat seorang pria bertopi caping dengan cangkul di pundak berjalan mendekat kearahnya. Spontan dengan sisa tenaganya, Sarah berusaha lari menjauh dari sosok pria yang semakin dekat menuju kearahnya.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2