Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Mengambil berkas


__ADS_3

"Tunggu aku ganti baju dulu, Wil."


"Kamu tunggu di rumah," ucap William tegas.


"Ga mau, aku mau ikut. Mba Mona juga ga bakalan kasih berkas itu kalau bukan aku yang meminta."


William berdecak kesal, tapi setelah itu ia mengganggukan kepala, "Baiklah." Sebenarnya ia tidak sampai hati melihat kondisi Sarah yang terluka dan masih lemah harus keluar rumah lagi.


"Wil, aku minta maaf ya," ucap Sarah setelah mereka berada dalam mobil menuju rumah susun Mona.


"Apalagi? Apa masih ada yang belum kamu ceritakan sama aku?" Sarah menanggapi dengan anggukan kecil, "Apa?" tanya William.


"Aku ambil uangmu cukup besar untuk biaya duplikat berkas itu," cicit Sarah.


William terkekeh geli, "Justru dengan caramu ini, aku dan Papa pasti berterima kasih sekali padamu, Sarah. Papamu pasti bangga punya anak cerdas seperti kamu. Tanpa kamu sadari, kamu sudah menyelamatkan kedua orangtuaku dan perusahaan keluarga kita. Kamu juga menyelamatkan penduduk kota A dan daerah B dari pemimpin zolim yang hanya akan mengeruk keuntungan dari wilayah yang mereka kuasai." Sarah melongo mendengar paparan William.


"Yang dipikiranku saat melakukan itu, karena aku takut kamu akan marah besar sama aku."

__ADS_1


"Kenapa kamu takut kalau aku marah sama kamu? apa di antara kita masing-masing sudah ada perasaan?" Saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah, William menoleh dan menatap Sarah dengan senyum teduhnya.


Putri tunggal Tuan Anderson itu tak sanggup membalas tatapan mata William. Ia memalingkan kepalanya ke arah jendela. Dalam hatinya saja ia berani menjawab, 'Sepertinya benar, Wil. Aku mulai menyukaimu.'


"Kita sudah sampai, semoga temanmu itu ada di rumah, karena waktu terakhir aku kemari untuk mencarimu dia sedang tidak ada di rumah."


"Kamu cari aku sampai kemari?" Sarah yang sudah hendak membuka pintu mobil urung lalu kembali menoleh ke arah William.


"Ya, aku mencarimu di sini, di terminal tempat kamu dijemput mafia itu, juga di halte tempat kamu menunggu mobil hitam yang menjemputmu."


"Bukan, aku mencari istriku. Aku khawatir kalau berkas itu dapat mencelakaimu."


Bibir Sarah bergetar menahan haru. Di saat ia memikirkan kepentingannya sendiri dan berniat menghancurkan William beserta keluarganya, pria yang belum sah menjadi siapa-siapanya ini malah memikirkan keselamatannya.


"Aku sayang kamu, Wil." Sarah tak bisa menahan perasaannya lagi. Ia menghambur memeluk William.


"Aku lebih dari sayang. Aku cinta kamu, Sarah. Kamu istriku," bisik William di telinga Sarah.

__ADS_1


Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan keras, "Pernikahan kita tidak sah, maafkan waktu itu aku membohongimu dan keluargamu. Aku hanya ingin Belle mendapatkan hidup yang layak bukan dari hasil menjual diri."


William semakin memeluk gadis itu dengan erat. Bagaimana bisa ia tidak bersyukur dapat memiliki Sarah, gadis yang bahkan belum menikah dan mempunyai anak, tapi sudah dapat menyayangi bayi yang bukan siapa-siapanya bahkan mau mengkorbankan harga dirinya.


"Sudah jangan menangis lagi, kita harus segera menemui temanmu." William menangkup pipi dan mengusap airmatanya lalu mengecup bibir Sarah lembut.


Keduanya turun dari mobil dan berjalan dengan cepat sembari mengawasi sekitar mereka. Hingga yakin tak ada orang yang sedang memantau mereka, William mendekati pintu kamar Mona. Pria itu mengetuk pintu papan itu dengan tak sabar.


"Mbaa, Mba Mona," panggil Sarah.


Tak butuh waktu lama, wanita berambut panjang itu membuka pintu kamarnya. Wajah yang mengantuk serta mata menyipit menyambut kedatangan mereka.


"Sarah, ngapain malam-malam begini kemari. Eh, ini siapa kayak pernah lihat." Mona menunjuk William dengan seringian di bibirnya.


"Ssstt, aku masuk dulu." Sarah menyelinap masuk sembari menarik tangan William dan menutup pintu kamar.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2