Mendadak Punya Bayi

Mendadak Punya Bayi
Tugas pertama


__ADS_3

"Apakah hanya itu yang ada di dalam otakmu?" balas William ketus. Lirikan sinis ditujukan pada Sarah yang tampak tenang dengan sindirannya, "Apa hanya dengan melihat ranjang kamu dapat berfantasi dengan para tamumu?" tambah William. Ia yang sudah terlanjur kesal dan sakit hati tak mempedulikan perasaan Sarah. Baginya wanita ini tak lebih dari pekerja sek s komersial pada umumnya.


"Berfantasi? Apa maksudmu?" Sarah menoleh ke arah William yang melipat tangan di dadanya. Jika sindirian pertama tak dihiraukannya, tapi kalimat selanjutnya sudah menyentil harga dirinya.


"Kamu tahulah. Oh ya, jangan lupa kamu punya hutang denganku. Malam itu aku membayar lebih tapi tak mendapatkan apapun, sekarang aku malah menanggung biaya kehidupanmu. Tapi tak masalah, sekarang aku bisa mendapatkan pelayananmu kapanpun aku mau, karena sekarang statusmu adalah istriku." William menyeringai lebar. Bukan seringaian senang, tapi meremehkan Sarah.


"Kenapa tidak melakukan dengan kekasihmu saja? Dia lebih cantik dan sexy," cetus Sarah. Hatinya berdenyut merasakan tatapan William yang memindai seluruh tubuhnya dengan pandangan merendahkan.


"Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?"


"Kalau aku tidak mau?"


"Kembalilah ke lingkungan tempat kerjamu, di mana kamu bisa berganti-ganti pasangan sesuka hati. Bagi kamu yang pecinta uang, pasti senang bekerja semacam itu. Hanya dengan membuka kaki, uang akan mengalir dengan sendirinya."


Plaakk!


Tanpa mengatakan pembelaan apapun, ia menampar William. Tamparan itu sebagai bentuk protes dan luapan emosinya, tapi tidak menampik apa yang William sematkan tentang dirinya. Airmata Sarah mulai menetes. Dalam hati ia bersumpah akan menghancurkan William hingga ke dasar.


"Aku kemari untuk bekerja. Bukan untuk kau hina. Aku istrimu, apakah tak pantas jika aku ingin memperbaiki hidupku dengan bekerja di tempatmu?" Bola mata Sarah bergetar menahan riak air mata yang berkejaran ingin mengalir. Namun ia tahan, ia tak ingin terlihat lemah di depan William.


William berjalan mundur perlahan, lenyap sudah perbendaharaan kata untuk mencecar Sarah. Ia ingin wanita itu tertekan dan tahu poisisinya, tapi mengapa situasinya jadi terbalik.


"Hai." Masing-masing mundur selangkah melihat Brenda menyela muncul dari balik pintu kamar, "Semoga aku tidak mengganggu kalian," ucapnya sembil tersenyum.


"Aku sedang tidak bersemangat, Brenda," ujar William malas.


"Aku kemari ingin bertemu dengan Sarah, bukan denganmu," ucap Brenda seraya berjalan mendekati Sarah, "Kamu sudah makan siang?" lanjutnya dengan bibir tersenyum.


William dan Sarah saling bertukar pandang waspada.

__ADS_1


"Belum, ini masih pagi," ucap Sarah sembari memalingkan wajahnya kembali fokus dengan Belle.


"Cantik sekali, aku penasaran apakah nanti mirip Papa atau Mamanya." Brenda ikut duduk di samping Sarah dan memegang-megang kaki bayi itu.


"Keluarlah, Bren nanti dia terbangun," ucap William. Ia tidak suka Brenda dekat dan menyentuh kaki Belle.


"Lucu ya, Wil. Aku tidak tahu sesenang ini ternyata melihat bayi apalagi memilikinya."


"Ini masih jam sepuluh, kamu tidak bekerja, Brenda?" usir William halus.


"Ooww, mengapa kamu sekarang dingin, Wil. Apa karena ada dia di sini?" Brenda melirik malas ke arah Sarah.


"Kalian berdua silahkan keluar makan siang atau apalah. Aku akan di sini dengan pintu tertutup, jadi tenanglah aku tidak akan dengar dan mencari tahu apa yang kalian lakukan di luar sana," ujar Sarah tak acuh.


"Enak saja, kamu aku bawa kemari untuk bekerja bukan bersantai di dalam kamar. Cepat keluar!" seru William.


"Dia kerja di sini, Wil?" Brenda berjalan mendekati William. Jari tangannya bermain di kancing kemeja pria itu.


Tak berapa lama terdengar pintu kamar tertutup. Sarah dapat menarik nafas lega. Suasana di ruang kerja William sunyi, tak terdengar percakapan apapun. Sarah juga tak ingin menguping dan mencari tahu apa yang terjadi di luar sana. Cukup lama ia berdiam diri di dalam kamar. Ia tidak ingin tiba-tiba keluar dan memergoki sepasang manusia yang bercumbu di atas meja kantor.


"Aku tidak membayar orang untuk bermalas-malasan di dalam kamar." Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan William masuk lalu langsung menyemburnya.


"Aku hanya menunggu bukan bermalas-malasan. Nanti kalau langsung keluar kamar lalu lihat kamu berciuman sama Brenda bisa sial aku," ucap Sarah sembari bangkit dari atas ranjang.


"Banyak alasan!"


"Sekarang bilang apa kerjaanku?" Sarah keluar dari dalam kamar meninggalkan Belle yang berguling-guling di atas ranjang yang sudah dibatasi guling serta bantal.


"Karena kamu belum punya pengalaman apapun, aku beri tugas yang mudah."

__ADS_1


Mata Sarah mengawasi ruang kerja William mengira-ngira di manakah dokumen yang dimaksudkan oleh komplotan mafia itu. Apakah di atas meja diantara kertas dan berkas yang menumpuk? Ataukah di rak yang berjajar mengelilingi dinding?


"Aku sedang tak ingin keluar siang ini. Tugas pertamamu adalah buatkan aku makan siang," ucap William meruntuhkan rencana Sarah.


"Masak?" Sarah membalikan badan menatap William dengan mata yang membesar, "Bagaimana bisa kamu menyuruh aku memasak di kantor? Apa kata karyawanmu?"


"Justru bagus untuk pencitraan yang diminta Papa. Apa salahnya seorang istri memasak untuk suaminya?"


"Tidak ada yang salah, tapi ini kantor tempatnya bekerja!" Sarah bersikeras, ia tidak ingin rencananya gagal total.


"Di pantry saat kamu memasak itu juga bekerja. Apa kamu kira, seorang koki dan pembersih datang ke kantor untuk bermain-main? Mereka kerja, Sarah." William tersenyum penuh arti. Ia tahu wanita yang bergelar istrinya itu sedang kesal pada dirinya.


"Aku tidak bisa memasak!" Sarah melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sedang melancarkan perang pada William.


"Di pantry ada karyawan yang biasa memasak untuk dijual di kantin, kamu tinggal minta bantuannya tapi bukan meminta untuk dibuatkan."


"Belle tidak bisa ditinggal terlalu lama, kalau dia jatuh gimana." Sarah masih mencoba bernegosiasi.


"Kamu lupa ada aku di ruangan ini? Aku sudah mahir menggendongnya, Sarah." William masuk ke dalam kamar lalu mengambil Belle dan membawanya ke hadapan Sarah. Ia memamerkan keakrabannya dengan bayi itu.


"Belle, sama momi yuk," rayu Sarah. Belle seperti pengkhianat, menepis tangan Sarah dan memilih bergelayut pada leher William.


"Lihatlah, dia lebih suka bermain denganku dari pada denganmu," ujar William bangga, "Cepatlah ke pantry, aku dan Belle sudah lapar."


Sarah menggerutu tak jelas ketika William menggiringnya keluar dari ruangan dan menutup pintunya begitu ia sudah berada di luar.


...❤️🤍...


Mampir juga ke karya pertamaku ya. Ini kisah Papanya William dan Ibu sambungnya. Semoga suka 🙏

__ADS_1



__ADS_2