
Brenda mengibaskan bajunya yang terkena air liur Belle. Mantan kekasih William itu memindainya dengan pandangan menyelidik.
"Mau kemana kamu buru-buru?"
"Apa pedulimu, tak ada untungnya aku memberitahumu." sahut Sarah sekenanya.
"Dasar pela cur!" umpat Brenda sebelum pintu lift menutup dengan sempurna.
"Hinalah aku sepuasmu, sebentar lagi mungkin kamu akan menangis karena kehilangan pekerjaan." Sarah berteriak sendiri di dalam lift.
Setelah melampiaskan kekesalannya dengan berteriak, ia baru menyadari arti dari teriakannya tadi. Jika Brenda kehilangan pekerjaannya karena perusahaan ini akan bangkrut, maka itu juga berlaku untuk William dan keluarganya.
Sarah gamang seketika. Ia berada di tengah keputusan yang sulit. Masalah hati dan orangtua, sangat sulit untuk memihak. Jika ia ungkap semua pada suaminya, nyawa Papa akan menjadi taruhannya.
Di dalam bis menuju titik temu, Sarah membuka kembali berkas yang baru saja ia ambil dari lemari berkas milik suaminya. Ia membolak-balik lembar demi lembar semua kertas yang ada di sana. Pengetahuan yang minim tentang seluk beluk perusahaan serta perjanjian bisnis, membuatnya tak mengerti sama sekali isi di dalamnya.
Ia hanya mencocokan dengan apa yang William ceritakan dengan apa yang tertulis. Kerjasama itu benar antara kedua orangtua mereka. Bahkan di sana ada surat yang ditandatangani oleh pejabat daerah yang mengijinkan mereka untuk mengelola sumber daya yang ada di sana.
Sebelum berhenti di titik temu, Sarah menyempatkan mampir dulu menemui Mona, wanita penghibur yang menolongnya pertama kali.
"Kamu ini tiba-tiba menghilang tiba-tiba muncul. Kenapa aku tidak boleh tahu kamu tinggal di mana sekarang?" desak Mona dengan wajah cemberut.
"Bukan tidak boleh, tapi belum saatnya. Lagipula mungkin sebentar lagi aku akan kembali kemari, jadi Mba Mona tak perlu tahulah aku tinggal di mana sekarang."
"Kamu yakin mau kembali kemari? Kalau dilihat dari penampilanmu, Belle semakin sehat dan montok berarti hidupmu sudah makmur, buat apa kembali miskin? Dasar bodoh, apa jangan-jangan kamu jadi simpanan pria tua hidung belang ya, lalu sekarang istri sahnya tahu dan kamu diusir?"
"Ssstt, ngaco. Aku tidak punya waktu banyak, Mba. Gimana sudah siap yang aku minta kemarin?"
"Sudah. Tidak rugi punya kenalan di semua bidang. Buat apa sih itu?"
"Panjang ceritanya." Sarah memeriksa apa yang diberikan Mona padanya lalu ia memberikan sejumlah uang yang telah ia janjikan sebelumnya.
"Banyak banget, jadi curiga deh kerjaanmu apa sekarang. Kasih info dong, jangan pelit." Sarah hanya menjawab dengan senyuman penuh arti.
__ADS_1
Seperti biasa Sarah dijemput dengan sebuah mobil dan mengenakan penutup mata sepanjang perjalanan. Kali ini ia mencoba lebih peka lagi dengan daerah yang dilewati. Sarah memasang telinga dengan baik setiap mendengar suara khas jalanan yang ia lewati.
Tiga puluh menit perjalanan, penutup matanya dibuka dan ia digiring lagi masuk ke dalam gedung. Kali ini tidak menuju ke ruang perawatan Papanya, tapi menemui pria berwajah bengis di ruangannya.
"Sudah kuduga, kamu anak yang cerdas. Bagaimana mudah bukan?"
Saat pria bengis itu akan mengambil berkas dari tangan Sarah, gadis itu mundur dan mendekap berkas itu dengan erat.
"Katakan padaku dulu, setelah mendapatkan apa yang anda inginkan, apa Papaku akan segera dibebaskan dan hutang yang aku tanda tangani lunas?"
"Berikan dulu padaku, bagaimana aku bisa menjawab jika belum melihatnya." Pria berwajah bengis itu berdiri dari duduknya lalu berjalan pelan mendekati Sarah.
"Aku tidak akan memberikannya padamu jika tidak ada jaminan Papaku akan dibebaskan!" Sarah berteriak seraya berjalan mundur.
"Aku tidak sedang meminta apalagi memohon agar kamu memberikan berkas itu. Jangan uji kesabaranku, Nona. Berikan!" Suara menggelegar pria itu membuat Belle menangis ketakutan.
"Apa susahnya mengatakan yang sebenarnya? Apa jangan-jangan sejak awal kalian tidak ada niat untuk membebaskan Papaku?!" Sarah berusaha mempertahankan berkas itu dalam dekapannya.
Dua orang bertubuh besar masuk ke dalam ruangan. Hanya dengan kode mata, pria berwajah bengis itu memerintahkan anak buahnya untuk melakukan tugasnya.
Tangis Belle yang memekik ketakutan membuat Sarah bingung akan menyelamatkan yang mana dulu, bayinya ataukah berkas milik William.
Setelah berkas berpindah tangan ke pria berwajah bengis, kedua tangan Sarah akhirnya dilepaskan. Gadis itu langsung mengejar pria yang membawa Belle.
"Kemarikan anakku!"
"Dia bukan anakmu, Sayang. Tugasnya sudah selesai."
Sarah berteriak memanggil nama Belle ketika bayi itu dibawa keluar ruangan. Suara tangisan Belle yang menyayat masih terdengar kencang di ujung lorong.
"Kalian mau apakan dia!"
"Bukan urusanmu," ucap pria berwajah bengis itu sembari membaca isi berkas milik perusahaan William dengan wajah puas.
__ADS_1
"Kamu sudah mendapat apa yang diinginkan. Tolong bebaskan Papa dan anakku," pinta Sarah memohon.
Pria berwajah bengis itu tersenyum sinis dan sekali lagi dengan kode matanya, ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Sarah keluar dari ruangan.
"Jangan pegang!" Sarah berontak begitu merasakan ada tangan yang menariknya, tapi dua orang bertubuh besar itu tanpa rasa iba menariknya paksa keluar dari ruangan.
"Ba jingan! Bang sat! Lihat kalian akan menerima akibatnyaaaa!" Sarah terus berteriak-teriak melampiaskan emosinya.
"Gadis bodoh!" Pria berwajah bengis itu tersenyum penuh kemenangan. Ia mengambil ponsel lalu menghubungi orang yang telah membayarnya.
"Sudah di tangan saya, Bos. Kapan saja anda bisa ambil."
"Tak perlu, musnahkan saja."
"Mudah sekali. Jangan lupa pembayaran terakhirnya, Bos. Soal memusnahkan sesuatu itu keahlianku."
Pria berjas hitam di seberang sana tertawa sinis, "Baiklah, simpan itu baik-baik seperti nyawamu. Setelah pria sombong itu kalah telak dan dana subsidi pembangunan dialihkan pada Tuan Marvel kita akan mendapat bagiannya."
"Baik, Tuan."
Pria yang dipanggil Tuan itu lalu menghubungi Tuan Marvel, pengusaha besar namun licik yang akan mengambil alih semua proyek yang dipegang oleh kedua orangtua William dan Sarah.
"Selamat siang, Tuan Marvel."
"Hmm, aku harap kamu menghubungiku membawa kabar baik dan bukan omong kosong."
Tuan Baron, penjabat rakus itu tertawa senang, "Tentu saja tidak. Kunci sudah saya pegang, tinggal anda memainkannya."
"Benarkah? Semudah itu?"
"Anda bisa buktikan omongan saya."
Tuan Marvel menyeringai, di kepalanya penuh dengan rencana kotor. Proyek besar yang sudah dijalankan oleh perusahaan Papa William dan Papa Sarah selama sepuluh tahun terakhir dengan satu jentikan jari akan beralih ke tangannya.
__ADS_1
"Aku akan berterima kasih pada Tuan Raymond dan Tuan Anderson, telah menyiapkan proyek ini hingga 90% dan aku hanya meneruskan sisanya." Tuan Marvel tertawa licik.
...❤️🤍...