
Niat yang ada di dalam hati Regina tidak semudah untuk diucapkan. Regina mencari kata kata yang pas untuk memberikan kejadian malam itu tapi otaknya buntu. Dia tidak mendapatkan kata kata itu. Yang ada sekarang, Regina merasakan dadanya berdebar dua kali lipat dari biasanya.
Regina memandangi jalanan untuk menenangkan hatinya. Dia berusaha menulikan tellinganya akan kata kata romantis dari dua insan yang duduk di hadapannya. Tidak bisa dipungkiri, kata kata dan sikap romantis dari dua insan itulah yang membuat otak Regina blank.
"Bawa secepatnya laki laki itu ke hadapan papa Re. Kalau kamu masih menganggap laki laki tua ini papa kamu. Kalau tidak, kamu bisa mencari jalan lain. Yang pasti, papa tidak mau menanggung malu karena kamu hamil tanpa pertanggungjawaban laki laki itu.".
Regina menarik nafas panjang membaca ulang pesan dari pak Bayu. Sebenarnya hatinya sangat lelah memikirkan kejadian malam itu hingga kehamilan ini. Kedua orangtuanya seperti tidak ingin memberikan waktu untuk berpikir kepada dirinya. Bagi pak Bayu dan ibu Siska. Menikahkan Regina dengan laki laki penanam benih itu adalah solusi yang terbaik.
Regina juga meyakini apa yang dipikirkan kedua orangtuanya itu adalah solusi terbaik. Tapi itu jika laki laki yang penanam benih itu mencintai dirinya. Bagi Regina. Solusi itu salah tempat. Kevin tidak mencintai dirinya. Jangan kan mencintai melihat dirinya juga tidak ingin.
Bagaimana jadinya jika dua manusia yang tidak saling mencintai disatukan dalam ikatan pernikahan. Pasti Regina yang paling menderita. Regina menyadari hal itu sehingga menawarkan untuk membuang janin itu saja. Solusi kedua yang bisa menjauhkan mereka dari aib. Tapi tanggapan kedua orangtua Regina di luar perkiraan. Pak Bayu dan Ibu Siska marah besar mendengar keinginan Regina itu. Bagi kedua orang tua Regina. Jalan satu satunya hanya dengan menikahkan Regina dengan laki laki itu.
Regina sadar jika niatnya itu jahat karena janin itu tidak berdosa sama sekali. Tapi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menghindarkan dirinya dari aib itu. Regina membenci masalah yang menimpa dirinya itu. Andaikan kedua orangtuanya tidak mengetahui kehamilannya itu. Mungkin Regina sudah mengambil tindakan. Tapi kenyataan berkata lain. Kedua orangtuanya Regina mengancam jika terjadi sesuatu dengan kehamilan itu. Kedua orangtua Regina tidak ingin Regina melakukan dosa yang lebih besar lagi. Sedangkan Regina merasa apa yang terjadi di malam itu kepada dirinya bukan keinginannya.
Menyadari dirinya sudah jahat, Regina merasa bersalah. Dia mengelus lembut perutnya itu seakan meminta maaf kepada janinnya itu. Di dalam mobil Kevin. Rasa untuk janinnya itu mulai tumbuh meskipun pertanggungjawaban dari Kevin belum jelas.
Apa yang dilakukan oleh Regina itu ternyata diperhatikan oleh Melati. Sebagai wanita yang dewasa, Melati tentu saja merasa curiga melihat kondisi Regina dan sikap sahabatnya itu. Bukan kali ini saja, dirinya melihat Regina mengelus perutnya. Terkadang di dalam ruangan juga. Melati tidak bertanya lebih jauh karena tidak ingin sahabatnya itu tersinggung. Dia sangat yakin jika suatu nanti sahabatnya itu butuh teman curhat. Itu dengan dirinya.
__ADS_1
Hingga Mobil Kevin sudah mendekati alamat rumah Melati. Regina belum menemukan kata kata untuk mengungkapkan keinginannya berbicara dengan Kevin. Di hatinya memang berharap semoga Kevin bersedia memberikan tumpangan kepada dirinya hingga di persimpangan jalan ke arah rumahnya. Karena kantor Kevin dan persimpangan jalan itu searah. Hanya dengan seperti itu dirinya mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Kevin. Untuk mengungkapkan kehamilan itu di hadapan Melati dan Kevin rasanya tidak mungkin karena Regina tidak tega melihat hati sahabatnya terluka.
Apa yang diinginkan oleh Regina tidak sejalan dengan kenyataan yang terjadi. Karena Kevin sama sekali tidak bersedia dengan dirinya dalam satu mobil tanpa Melati.
"Mas Kevin, kalau kamu langsung ke kantor. Boleh tidak sahabatku diantarkan sampai rumahnya. Melati kurang sehat mas."
"Maaf sayang. Sebenarnya aku lelah dan ingin beristirahat di rumah kamu sebentar. Pesankan saja taksi online mengantarkan dia pulang."
Entah mengapa, Regina merasakan hatinya berdenyut nyeri mendengar kebaikan sahabatnya dan penolakan halus dari Kevin itu. Regina bisa menangkap jika kata kata yang diucapkan oleh Kevin itu bukan karena benar benar lelah melainkan karena ingin menghindar dari dirinya. Merasakan hal itu, Regina marah. Andaikan bukan sahabatnya yang menjadi kekasih laki laki itu bisa dipastikan dirinya akan mengatakan apa yang terjadi di malam itu jauh jauh dari hari ini.
"Re, tidak apa apa kan kamu naik taksi?" tanya Melati.
"Bisa donk Re. Aku malah senang kalau kamu mau melihat mama ku," jawab Melati dengan tersenyum.
Di balik kemudi. Kevin berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya. Dia sangat yakin bahwa Regina ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya dan Kevin tidak ingin mendengar apapun dari wanita itu. Dia mencari cara supaya tidak ada celah untuk wanita itu berbicara dengan dirinya.
"Sayang, aku lupa. Ulang tahun mama kan satu minggu lagi. Kamu mau tidak menemani aku mencari kado?"
__ADS_1
Akhirnya Kevin menemukan cara itu untuk menghindar dari Regina.
"Sekarang?"
"Iya.'
"Katanya tadi lelah."
"Aku baru ingat sayang. Lagi Pula dengan kamu menemani, aku kan bisa bersantai. Dan aku tidak mempunyai waktu yang banyak untuk mencari kado itu. Dan sepertinya selama satu minggu ini aku tidak bisa antar jemput kamu sayang. Tidak apa apa kan?"
"Tidak apa apa donk mas. Ya uda deh. Aku akan menemani kamu. Re, kamu jadi singgah di rumah ku?. Kami akan langsung pergi soalnya?" tanya Melati. Regina tidak tahu harus menjawab apa selain menganggukkan kepalanya. Dia terlalu malu jika harus mengikuti sepasang kekasih itu mencari kado.
Kevin menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Melati.
Regina yang memang mempunyai maksud dengan menumpang di mobil laki laki itu terlihat berat untuk turun.
"Re, sudah sampai. Tolong ingatkan Bibi untuk mempersiapkan mama nanti sore untuk berobat ya Re. Karena setelah mencari kado. Aku dan mas Kevin akan membawa mama ke rumah sakit."
__ADS_1
Regina menatap wajah sahabatnya sebentar kemudian menoleh ke Kevin. Dia berharap, laki laki itu bisa melihat jika perubahan yang terjadi dalam dirinya yang sedang mengandung benihnya. Mendengar Kevin berdecak kesal karena dirinya tidak kunjung turun membuat Regina akhirnya membuka pintu mobil itu kemudian turun. Demi apapun. Regina merasakan hatinya sangat sakit melihat sikap Kevin itu.