
"Regina bangun!. Apa yang kamu lakukan di kamar ku?.
Kevin berteriak, Kevin tidak habis pikir mengapa Regina melakukan hal yang tidak dia inginkan. Regina yang memang belum tidur mengambil posisi duduk dan menatap wajah suaminya itu. Kevin mengacak rambutnya frustasi karena melihat Regina semakin berani melampaui batas yang sudah dia tetapkan. Dia sudah memperingatkan jika mereka adalah dua orang asing yang kebetulan terikat pernikahan dan tinggal satu atap. Sebagai orang asing tidak seharusnya mereka tidur di ranjang yang sama.
"Kita suami istri kak. Hal yang wajar jika aku tidur di kamar ini."
Regina menjawab dengan tenang. Regina tidak terpancing dengan kemarahan suaminya itu. Jika kemarahan dibalas dengar kemarahan maka tidak akan ada kedamaian di rumah itu. Regina ingin menciptakan kedamaian dalam rumah tangga mereka.
"Mengapa kamu keras kepala Regina. Bukankah kita sudah sepakat akan bercerai. Jadi tidak ada gunanya tidur satu kamar dengan kamu. Sekarang, cepat kembali ke kamar mu," kata Kevin. Kevin sengaja menyinggung perceraian supaya Regina tahu dirinya akan posisi dirinya yang tidak diinginkan dan secepatnya kembali ke kamarnya.
"Kita bercerai setelah anak ini lahir. Sebelum bercerai kita masih suami istri bukan? Tidurlah kak, aku akan tidur di paling pinggir. Kalau kamu tidak ingin bersentuhan dengan ku. Ada guling yang menjadi pembatas diantara kita."
Regina menyusun dua guling di tengah tengah ranjang itu kemudian wanita itu berbaring di bagian ranjang paling pinggir. Regina cepat cepat memejamkan matanya supaya Kevin tidak mengatakan apapun lagi.
Regina bisa berkata dengan tenang. Tapi tidak dengan hatinya yang ketakutan dan malu. Jika pada akhirnya dia menuruti saran Melati untuk tidur satu ranjang itu karena Regina benar benar menginginkan pernikahan mereka bisa diperbaiki. Seperti saran Melati, Regina tidak akan menyerah sebelum berjuang.
Kevin berdecak kesal. Dia menatap tidak suka kepada Regina. Tangannya terkepal dan meninju udara. Ingin rasanya dia menarik wanita itu dan mengeluarkan dari kamar itu. Tapi tangannya seperti tertahan. Kevin mengingat jika wanita itu sedang hamil muda. Jika terjadi sesuatu pada kehamilan Regina akan menambah masalah dan semakin repot.
Kevin tetap pada pendiriannya bahwa mereka berdua adalah orang asing. Kevin menarik satu guling dan satu bantal dari ranjang kemudian keluar dari kamar. Lebih baik tidur di sofa daripada tidur satu kamar apalagi satu ranjang dengan Regina.
Hati siapa yang tidak sakit mendapatkan penolakan seperti itu. Walau sudah menduga sebelumnya jika Kevin akan menolak dirinya tapi penolakan Kevin jauh dari perkiraan nya. Regina berpikir jika Kevin akan tidur di sofa ternyata Kevin memang benar benar tidak mau menghirup oksigen di ruangan yang sama dengan dirinya.
Malam itu Regina kembali menangis, dia tidak menyesal karena menurut pada saran Melati tapi Regina menangis karena sepertinya tidak ada peluang untuk memperbaiki hubungan pernikahan itu. Akankah dia mengakhiri hubungan ini secepatnya tapi baru satu hari dirinya mencoba.
Regina tidak bisa terlelap. Regina terus memikirkan nasib pernikahannya dan janinnya itu kelak. Ternyata semakin dirinya memikirkan dampak perceraian pada dirinya dan janin, semakin sulit dirinya terlelap. Regina terus berpikir, hingga terbersit di pikirannya untuk meminta bantuan mertuanya.
Tak sampai setengah jam, pikiran Regina kembali berubah. Meminta bantuan kedua mertuanya hanya akan membuat Kevin semakin membenci dirinya. Cukup dirinya hanya melibatkan Melati dalam masalah rumah tangganya.
Lain dengan Regina, lain pula dengan Kevin. Laki laki itu tidak memikirkan sedikit pun tentang pernikahan itu. Begitu dirinya berbaring di sofa, hanya hitungan detik. Kevin sudah terlelap.
"Jangan berharap yang instant Re. Pelan pelan saja. Kamu hanya butuh berkorban sedikit lagi," kata Melati dari seberang ketika Regina melaporkan apa yang terjadi tadi malam dan pagi ini antara dirinya dan Kevin.
"Kalau terus terusan ditolak. Aku yang malu Mel," kata Regina. Tadi pagi, Regina sengaja ingin menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Kevin. Tapi dirinya kalah cepat dari Kevin. Regina baru bangun tidur. Kevin sudah sibuk di dapur membuat sarapannya sendiri. Padahal, Regina sampai memasang alarm supaya dirinya tidak terlambat bangun.
Sikap Kevin pagi ini masih sama. Kevin masih bersikap dingin kepada dirinya.
"Kenapa malu melaksanakan kewajiban seorang istri. Kamu melakukan itu karena kamu ingin berbakti kepada suami mu kan. Jika Kevin tidak menghargai usaha kamu itu artinya dia manusia buta. Jangan langsung menyerah setidaknya berusaha lah selama satu bulan ini."
__ADS_1
Regina menghembuskan nafasnya dengan berat. Satu hari saja ditolak entah bagaimana rasa sakit itu semakin bertumpuk di hatinya. Lalu bagaimana dengan satu bulan?. Apakah dirinya akan membiarkan hatinya semakin tersakiti akan sesuatu yang belum jelas. Akankah hatinya bisa kebal jika setiap hari mendapatkan penolakan. Rasanya Regina tidak tahan berjuang selama itu karena satu hari saja rasanya seperti satu bulan.
"Aku akan mencoba Mel."
Lagi lagi Regina menurut pada Saran sahabatnya itu meskipun hatinya sendiri ragu jika dirinya akan berhasil.
"Nah gitu donk. Itu baru Regina namanya. Ingat Re. Kamu sudah mengorbankan banyak hal demi janin dan pernikahan ini. Kamu bukan hanya mengorbankan pendidikan tapi juga masa muda. Jadi jangan sampai hanya luka hati dan kecewa yang kamu dapatkan dari pengorbanan mu itu. Kamu harus bahagia bersama janin dan suami mu kelak."
Melati terus memberikan semangat kepada sahabatnya itu. Melati pun berpikir bagaimana caranya supaya Kevin bisa melupakan dirinya dan menerima Regina. Melati berpikir jika tidak cukup hanya Regina yang berjuang. Tapi harus ada faktor lain supaya Kevin bisa menerima pernikahannya dengan Regina.
Hanya ada satu cara supaya Kevin tidak mengharapkan dirinya lagi. Melati harus mempunyai kekasih baru. Tapi hal itu rasanya tidak mungkin mendapatkan kekasih semudah dan secepatnya. Karena sampai saat ini, Melati belum menemukan laki laki yang cocok dijadikan kekasih. Bukan tidak ada yang mendekati dirinya. Banyak tapi sikap dari laki laki itu kurang pas bagi Melati. Mungkin karena Kevin terlalu baik dan cukup tampan juga mapan. Melati jadi menginginkan kekasih baru yang standard nya diatas Kevin. Minimal sama dengan Kevin.
Sama seperti Regina yang dilanda kesedihan. Melati juga ikut sedih dengan keadaan rumah tangga sahabatnya. Melati pernah berpikir dengan pertanggungjawaban Kevin atas kehamilan Regina semua masalah akan selesai. Ternyata setelah pernikahan itu. Regina harus menghadapi masalah lebih rumit lagi. Regina lebih menderita menjalani pernikahan itu dibandingkan sebelum menikah. Kevin benar benar menyiksa batin Regina dengan penolakan dan sikapnya yang terkadang kasar dan terkadang dingin.
Sepanjang perkuliahan hari itu. Pikiran Melati tertuju pada Regina. Melati sangat kasihan pada sahabatnya itu tapi belum menemukan solusi yang tepat. Bukan hanya kepada Regina, dirinya kasihan tapi kepada Kevin juga. Sebagai kekasih dari laki laki itu bertahun tahun. Melati dapat melihat jika Kevin juga tersiksa berpisah dari dirinya.
"Sampai kapan kamu seperti ini Kevin, aku bisa pastikan sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali kepada kamu meskipun kalian berpisah. Karena tidak mungkin bagiku menikah dengan laki laki yang sudah menyakiti sahabatku," batin Melati di sela sela jam perkuliahan nya. Hal apapun yang disampaikan sang dosen tidak masuk ke otak Melati karena pikirannya hanya tertuju pada permasalahan rumah tangga Regina.
Melati berlari keluar dari ruangan setelah perkuliahan selesai. Para teman temannya merasa heran dengan kelakuan Melati yang tidak seperti biasanya hari ini. Melati tidak menghiraukan tatapan para teman temannya itu. Melati hanya menginginkan bisa bertemu dengan Reza saat ini, jangan sampai laki laki itu sudah keluar dari area kampus. Karena dirinya ada urusan penting dengan laki laki itu.
"Reza, tunggu?" teriak Melati. Reza sudah hampir mendekati pos satpam sedangkan Melati masih berada di depan gedung fakultas.
Reza menunggu di kursi besi di bawah pohon besar ketika melihat Reza menghampiri dirinya tapi tidak sendiri. Ada wanita cantik disebelah laki laki itu.
"Ada apa Mel?" tanya Reza. Melati menatap Reza sebentar kemudian menatap wanita yang berdiri di sebelahnya. Dia mengenali wanita itu tapi hanya sekedar mengenal. Sudah rahasia umum di fakultas mereka jika wanita itu sangat tergila gila kepada Reza bahkan ketika Reza masih berstatus kekasih dari Regina. Reza adalah mahasiswa popular di kampus itu karena kepintarannya dan ketampanan nya. Hal yang wajar jika banyak yang menyukai laki laki itu dan yang beruntung itu adalah Regina. Tapi sayang keberuntungan Regina hanya bersifat sementara dan wanita yang bersama Reza saat ini yang sangat berani menunjukkan rasa sukanya kepada Reza meskipun saat Regina masih berstatus kekasih Reza.
"Bisa bicara berdua Za?" tanya Melati sambil memperhatikan raut wajah wanita itu. Terlihat tidak suka di wajah wanita itu mendengar permintaan Melati. Tapi Melati tidak perduli.
"Ada hal yang penting?" tanya Reza. Melati menganggukkan kepalanya.
"Sasa, maaf ya. Sepertinya kita tidak bisa jalan hari ini," kata Reza kepada wanita bernama Sasa itu. Sasa terlihat sangat jelas menunjukkan rasa kecewa di hatinya.
"Apa aku tidak bisa menunggu saja. Kita sudah janji jalan hari ini loh Za. Urusan kalian tidak lama kan?"
"Lama gak Mel?" tanya Kevin memastikan kepada Melati.
"Tidak, tidak sampai setengah jam. Dan kita bicara disini saja. Tapi maaf, berdua ya!"
__ADS_1
"Oke tidak masalah. Aku tunggu di kantin ya Za," kata Sasa. Reza menganggukkan kepalanya. Wajah Sasa terlihat kembali berbinar.
"Gebetan baru Za?" tanya Melati setelah Sasa terlihat sudah jauh dari mereka. Reza tertawa kecil. Tidak menjawab iya atau tidak.
"Seperti tidak tahu saja kamu Mel."
"Aku tahu Za, kalau kamu tidak ada rasa jangan sampai memberikan harapan palsu kepada dia. Kasihan Sasa."
Reza hanya tertawa dan duduk di sebelah Melati.
"Kamu mau bicara apa dengan ku?"
Melati terdiam. Wanita itu menarik nafas panjang kemudian menatap wajah Reza sebentar. Melati terlihat ragu untuk mengatakan apa maksud dirinya mengajak Reza berbicara berdua.
"Apa Mel?" desak Reza.
"Ini berkaitan dengan Regina Za..."
"Regina disakiti oleh laki laki itu?" potong Reza. Melati tidak tahu harus menjawab apa. Regina memang disakiti tapi untuk mengatakan yang sejujurnya, Melati tidak sanggup.
"Kevin belum bisa move on dari aku Za."
"Segitu berpengaruhnya dirimu pada laki laki itu Mel. Tapi itu biasa bagi laki laki yang sudah terlanjur sangat mencintai seseorang. Sama seperti aku Mel, sampai saat ini aku belum bisa melupakan Regina."
"Tapi kamu sudah ada kemajuan Za. Kamu sudah bisa jalan dengan Sasa."
"Hanya ini yang ingin kamu bicarakan kepada ku Mel?" tanya Reza. Dia tidak menanggapi perkataan Melati karena menurut Reza hanya dirinya yang tahu bagaimana dalamnya perasaannya kepada Regina.
"Za, bisa gak kita bekerja sama untuk membuat Kevin bisa melupakan aku."
Kevin mengerutkan keningnya.
"Bekerja sama seperti apa?" tanya Reza bingung.
"Aku meminta tolong kepada mu Za. Jadi lah pacar palsu untuk aku. Aku ingin Kevin melupakan aku dengan cara menunjukkan kepada dia bahwa aku sudah mempunyai kekasih yang baru."
Melati menundukkan dirinya setelah mengatakan itu. Melati berpikir hanya seperti itu caranya supaya Kevin bisa melupakan dirinya. Dan hanya Reza yang bisa membantu dalam hal ini. Jika dirinya meminta tolong laki laki yang lain. Melati takut dimanfaatkan dan meminta bayaran.
__ADS_1
"Za, aku mohon. Jika kamu benar benar menyayangi Regina. Kamu ingin melihat dia bahagia kan?" kata Melati lagi. Kevin masih terdiam membuat melihat khawatir permintaannya ditolak.