
Kevin keluar dari toko sepatu itu. Kata kata Reza membuat Kevin hilang selera untuk melihat lihat sepatu itu. Kata kata Reza mengusik pikiran Kevin. Benarkah, Melati benar benar menghapus memori akan kebersamaan mereka selama ini?. Benarkah Melati tidak mau kembali kepadanya?"
Kevin menggelengkan kepalanya. Dia merasa tidak terima jika secepat itu Melati melupakan dirinya. Kevin berpikir jika sikap Melati kepada dirinya setelah mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Regina hanya kesal untuk sementara waktu saja. Jika dirinya dan Regina nanti bercerai. Kevin sangat yakin Melati akan menerima dirinya kembali.
Mereka tidak hanya lama berhubungan. Bukan hanya kenangan indah yang tercipta dalam hubungan mereka yang membuat mereka seharusnya tidak terpisahkan. Tapi ada hal lain yang membuat Kevin dan Melati harus bersatu. Bukan pula karena nyaman. Tapi Melati sudah banyak tahu tentang Kevin.
Lalu bagaimana jika Melati mengandung anak dari laki laki lain. Apakah dirinya masih mengejar Melati?.
Kevin terus memikirkan perkataan Reza itu. Mungkinkah hubungan Melati dan Reza sudah sangat dalam sehingga Reza mengatakan hal itu?
Rasanya Kevin ingin secepatnya menemui Melati dan bertanya pada wanita itu sejauh mana hubungan Reza dan Melati. Hanya membayangkan hubungan Reza dan Melati saja yang sudah sangat dalam membuat Kevin sangat kecewa.
"Kamu selalu menolakku saat itu tapi kamu dengan mudah memberikan tubuh mu pada Reza."
Kevin sudah menyimpulkan dalam hati. Jika Reza berkata seperti itu karena hubungan antara Melati dan Reza tidak seperti hubungannya dulu dengan Melati yang hanya sekedar berc*uman bibir.
Kevin melangkahkan kakinya dengan lesu menuju gerai makanan dimana Rudi dan keluarganya sudah menunggu dirinya di sana.
"Membahagiakan keluarga dulu bro. Baru kita bahas pekerjaan. Kita bekerja keras untuk keluarga kan. Mana istri mu?. Mengapa tidak ikut?" tanya Rudi begitu Kevin tiba di meja laki laki itu.
Kevin terlihat bingung untuk duduk dimana. Meja itu memang enam kursi dan empat kursi sudah untuk keluarga Rudi. Masih ada dua kursi lagi. Mungkin Rudi sengaja mengambil meja itu karena berpikir Kevin membawa istrinya.
"Gabung disini saja bro, siap makan nanti mereka mau belanja," kata Rudi lagi. Rudi bisa melihat Kevin yang kebingungan. Mungkin karena Kevin tidak enak hati mengganggu kebersamaan keluarga itu karena dirinya ikut duduk diantara mereka.
"Ayo om, duduk sini."
Kevin tersenyum mendengar ajakan duduk dari putri rekannya itu yang diperkirakan sudah berumur tiga tahun. Melihat senyum istri Rudi yang sepertinya tidak keberatan. Akhirnya Kevin duduk. Sikap gadis kecil itu menarik perhatian Kevin sehingga tatapan tertuju pada putri dari rekannya itu.
"Om, mau makan apa?" tanya anak kecil itu lagi. Kevin mengulurkan tangannya menjangkau kepala anak itu dan mengelus rambutnya.
"Jangan om, nanti berantakan. Aku tidak mau jelek."
"Siapa sih nama adik yang manis dan cantik ini?" tanya Kevin. Putri Rudi itu sangat cantik dan mirip Rudi sedikit. Kevin memberikan senyum manis pada gadis kecil yang centil itu.
"Bella Om. Cantik kan namaku?. Bella itu artinya cantik om," jawab anak kecil itu malu malu. Di puji manis dan cantik sepertinya membuat anak itu senang sekaligus malu malu. Bella memang anak kecil yang sangat cantik dan pintar. Rambutnya yang ditata dengan karet warna warni dan juga cara bicara nya yang sudah sangat lancar membuat orang senang Berbicara dengan anak kecil itu termasuk Kevin saat ini.
"Ingat sekali dia arti namanya bro. Bella bangga dengan namanya."
Jika Bella bangga dengan namanya. Rudi terlihat sangat bangga dengan putra dan putrinya. Rudi sepertinya papi yang baik bagi anak anaknya. Hal itu terlihat dari perlakuan manis anak anaknya kepada Rudi. Anaknya yang laki laki dan Bella saling bergantian memberikan makanan kepada Rudi.
__ADS_1
"Kalau si abang. Siapa namanya?". tanya Kevin pada anak pertama Rudi yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi akan kedatangannya di meja itu. Sejak tadi, anak laki laki itu sibuk dengan makanannya dan sibuk menyuapi papinya. Terkadang dia juga menyuapi papinya.
"Papi mau?. Ini enak loh," kata Bella lagi. Gadis kecil itu menawarkan makanannya kepada Rudi.
"Mau donk, apapun yang Bella kasih pada papi pasti papi terima."
Rudi membuka mulutnya, Bella yang sudah pintar memakai sumpit memasukkan makanan itu ke mulut Rudi.
"Enak kan pi?" tanya Bella lagi. Rudi menganggukkan kepalanya. Bella terlihat senang dan bangga karena papinya menyukai makanan yang dia berikan pada Rudi. Gerak gerik Bella sungguh luci dan menggemaskan. Bahkan istrinya Rudi mencubit pipi milik putrinya itu karena sangat gemas.
Jangan cubit cubit mi. Nanti bedak ku luntur."
Kevin dan Rudi sama sama tertawa.
"Kalau mau lagi. Bilang ya pi."
Kevin terus tersenyum melihat Bella. Anak kecil itu sangat memikat hatinya sehingga tidak sadar dia mengelus kepala Bella.
"Kalau om mau. Di kasih gak ya!.
"Big no," jawab Bella dengan cepat. Rudi tertawa.
"Seorang ayah itu adalah cinta pertama putrinya. Dia selalu mengistimewakan papinya dibandingkan aku dan abangnya," kata istrinya Rudi. Rudi tertawa bahagia.
Kevin melihat kebahagiaan keluarga rekannya itu. Rudi mempunyai dua anak. Yang pertama laki laki dan yang kedua adalah Bella. Meskipun anak pertama Rudi terlihat cuek tapi anak itu sangat perduli kepada kedua orangtuanya. Kevin tersenyum ketika melihat anak pertama Rudi mengusap sudut bibir Rudi pakai tissue karena adu sisa saus di sana. Keluarga Rudi benar benar gambaran keluarga bahagia.
Melihat istrinya Rudi melayani Rudi di meja itu. Kevin seketika mengingat Regina. Apa yang dilakukan istri Rudi saat ini persis seperti yang dilakukan oleh Regina ketika melayani dirinya di meja makan. Wanita itu terlebih dahulu mengutamakan makanan untuk suaminya dibandingkan dirinya plus senyum yang selalu terlihat di bibir wanita itu
"Sudah tahu jenis kelamin janin mu bro?" tanya Rudi. Kevin menganggukkan kepalanya.
"Perempuan."
"Wah, beruntung kamu Kevin. Katanya punya anak pertama perempuan itu banyak meringankan beban orangtua loh," kata Rudi.
"Memang seperti itu?" tanya Kevin tidak mengerti.
"Iya, karena anak perempuan lebih cepat berpikir dewasa daripada anak laki laki. Anak perempuan itu lebih peka mengerti orangtuanya daripada anak laki laki. Katanya sih seperti itu."
Kevin menatap Bella. Entah mengapa melihat Bella yang cantik dan pintar, Kevin berharap janin yang ada didalam rahim Regina nantinya seperti Bella yang cantik dan pintar.
__ADS_1
"Sudah menginjak berapa bulan kehamilan istri mu?" tanya Rudi lagi. Kevin menggaruk kepalanya. Dia lupa antara Lima atau enam bulan kehamilan Regina.
"Enam bulan."
"Wah, tiga bulan lagi status mu bertambah bro. Bukan lagi hanya suami tapi juga seorang Ayah."
Kevin hanya menganggukkan kepalanya.
"Pasti tidak sabar lagi menunggu saat itu kan?" tanya Rudi lagi. Kevin bingung menjawab iya atau tidak. Selama ini. Dia tidak begitu memperdulikan kehamilan Regina. Dan dirinya bersikap biasa saja dengan kehamilan Regina. Tidak ada rasa menggebu gebu untuk melihat wajah putrinya secepatnya.
"Iya. Begitu lah."
"Mulia kan istri mu bro. Untuk menjadikan kamu sebagai ayah. Ada perjuangan seorang istri yang mempertaruhkan nyawa melahirkan seorang anak."
Kevin hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya seakan akan dirinya sudah memuliakan istrinya selama ini.
"Papi tidak ikut?" tanya Bella. Makan siang itu sudah usai. Kini waktunya bagi istri dan anak anak Rudi untuk berbelanja.
"Papi ada urusan penting ya sayang. Tidak apa apa kan Bella, abang dan Mami saja yang belanja," jawab Rudi.
"Tidak apa apa pi. Papi kerja ya."
"Iya sayang."
"Kerja cari uang kan."
"Iya sayang."
Lagi lagi Kevin tersenyum melihat interaksi Bella dengan papinya. Apalagi ketika Bella mencium pipi papinya, Kevin serasa ikut bahagia.
Tidak lama Kevin dan Rudi membicarakan tentang masalah pekerjaan itu. Hanya sekitar satu jam.
Kevin tiba di rumahnya malam hari. Setelah pertemuannya dengan Rudi di mall. Kevin menghabiskan waktu dengan para sahabat sahabatnya. Kevin membuka pintu rumahnya. Dia berpikir jika Regina telah kembali karena lampu ruang tamu sudah menyala.
"Benar kan, dia kembali," kata Kevin dalam hati. Kevin langsung masuk ke kamarnya
Di kamar mandi. Kevin mengingat semua kejadian di mall tentang keluarga Rudi. Mengingat Bella, entah mengapa Kevin juga ingin mengelus perut Regina seperti tiga bulan yang sudah dia lakukan tanpa rasa. Setelah membersihkan tubuhnya. Kevin berniat untuk mengembalikan kalung milik Regina supaya ada alasan berbicara dengan istrinya itu.
Kevin mengerutkan keningnya. Ternyata kamar Regina masih gelap. Kevin membuka pintu kamar itu dan menyalakan lampu. Ternyata Regina memang benar benar tidak ada di kamar itu.
__ADS_1