Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 41


__ADS_3

Kevin mengedarkan pandangannya pada setiap penjuru kamar. Rak rak lemari itu memang masih kosong. Melihat pintu lemari yang terbuka lebar. Kevin menyimpulkan jika Regina terburu buru sehingga lupa menutup pintu lemari itu. Tapi jika mengingat durasi waktu antara Regina meninggalkan rumah orangtuanya hingga tiba di rumah ini dan berkemas. Rasanya tidak mungkin secepat itu Regina bisa meninggalkan rumah itu.


Kevin masih berdiri di kamar itu. Ternyata alasan Regina untuk kembali tinggal di rumah itu selama menjadi status istri Kevin hanya sebagai alasan supaya bisa keluar dari rumah kedua orangtuanya. Itu artinya, Regina memang tidak ingin lagi bersama dirinya. Menyadari hal itu ada perasaan tidak rela di hatinya.


Kevin hendak keluar dari kamar itu. Ketika berbalik dia melihat sebuah koper di balik pintu. Kevin menebak jika Regina masih di rumah itu dan bersembunyi karena mendengar suaranya.


Kevin mendekati kamar mandi. Dia mendorong pelan pintu kamar mandi itu yang ternyata terkunci dari dalam.


"Regina, aku tahu kamu di dalam. Buka pintu Re, kita bicara baik baik," kata Kevin pelan. Tidak ada jawaban dari kamar mandi.


"Re, kalau kamu tidak membuka pintu. Aku akan mendobrak pintu," ancam Kevin.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan Regina terlihat keluar dari kamar mandi itu. Regina memalingkan wajahnya. Dia enggan bertatapan dengan Kevin.


"Re, mari kita bicara," kata Kevin. Regina melewati tubuh Kevin begitu saja dan berjalan menuju kopernya di balik pintu. Regina meletakkan kopernya di balik pintu itu karena panik mendengar suara Kevin yang memanggil dirinya tadi. Regina tidak menyangka di jam seperti ini, Kevin kembali ke rumah Karena saat ini masih jam bekerja. Regina bersembunyi di dalam kamar mandi karena berencana keluar dari rumah itu jika Kevin nantinya keluar dari rumah. Rencananya itu berantakan. Kevin bisa mengetahui dirinya bersembunyi di kamar mandi.


"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan kak. Selain perceraian kita," jawab Regina. Tidak ada suara isakan tangis yang terdengar dari suaranya. Regina bersikap biasa seakan mereka tidak membicarakan hal yang penting.


"Regina, aku tahu kamu marah. Sekarang duduk dulu ya. Kita bicara ya!" bujuk Kevin sambil menarik tangan Regina untuk duduk di tepi ranjang. Regina menepis tangan itu tapi tenaganya kalah sehingga Regina seperti diseret ke tepi ranjang itu.


"Regina, jangan pergi!. Tetap lah di rumah ini menjadi istriku. Yang lalu biarlah berlalu, Kita awali pernikahan ini mulai saat ini. Aku akan bertanggung jawab kepada keluarga kecil kita ini. Maaf, jika tiga bulan selama empat bulan ini membuat kamu kecewa."


Regina tidak mau menatap wajah Kevin yang menatapnya ketika berbicara.


"Maaf kak. Aku tidak bisa. Aku tahu kita tidak saling mencintai dan jika kita melanjutkan pernikahan ini hanya akan semakin menyakiti kamu saja. Aku sudah ikhlas menerima takdir yang terjadi padaku. Seperti keinginan awal kita, perceraian itu akan tetap terjadi. Lebih cepat lebih bagus. Aku tidak mau lagi menjadi istrimu."


Regina berkata serius. Dia sangat sadar jika pernikahan itu sangat penting jika berlandaskan cinta. Jika dirinya terus melanjutkan pernikahan itu, dirinya hanya tempat pelampiasan saja. Dia tidak ingin, Kevin miliknya hanya sebatas status tapi laki laki itu berjuang mendapatkan wanita lain. Kevin memang tidak berzina tubuh tapi sudah bermain hati. Regina sadar, dirinya kalah bersaing dengan Melati dari segi apapun. Melati cantik, lebih mampu secara ekonomi dan sangat baik.


Sedangkan dirinya, hanya seorang wanita yang saat ini berjuang untuk menjadi seorang ibu dari janin yang tidak diharapkan oleh ayahnya sendiri.


"Kita sudah mencoba nya selama tiga bulan ini dan kita bisa kan?" kata Kevin.


Regina tersenyum pilu, perkataan Kevin sangat menyayat hatinya. Tiga bulan ini, mereka memang bisa menjalani pernikahan itu seperti pernikahan pada umumnya. Tapi itu sebelum melihat chat antara Kevin dengan Pak Raka. Tapi setelah mengetahui jika Kevin belum bisa menerima janinnya. Semua harapannya sirna. Regina menilai jika Kevin hanya memanfaatkan tubuhnya saja untuk menikmati kenikmatan bermain ranjang.


"Kak, kalau aku bersedia tinggal di rumah ini dan menuntut dicintai tanpa ada wanita lain di hati mu termasuk Melati. Apakah kamu bisa?. Apakah kamu bisa menerima kehadiran janin ini?" tanya Regina. Regina sangat yakin Kevin tidak bisa mengabulkan keinginannya itu.


Regina bertanya karena ingin mengetahui apa alasan dasar suaminya itu meminta dirinya tetap menjadi istrinya. Tanpa disangka, Kevin mengelus perut Regina kemudian mencium perut buncit Regina. Tapi sedikit pun tidak ada lagi rasa bahagia meskipun Kevin melakukan itu tanpa diminta. Regina tidak percaya dengan apapun yang dilakukan oleh suami nya itu.

__ADS_1


Regina bersikap datar dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Dia tidak menunjukkan senyum seperti biasa jika Kevin bersedia menuruti keinginannya untuk mengelus perut buncitnya. Regina melihat apa yang dilakukan oleh Kevin itu hanya sebagai sandiwara supaya dirinya tetap bertahan dan Kevin tidak kehilangan mainannya di tempat tidur.


"Melihat kebahagiaan keluarga Rudi. Aku juga ingin memiliki keluarga seperti itu Regina. Apalagi melihat Bella putrinya Rudi yang pintar dan cantik. Aku jadi tidak sabaran menunggu janin ini lahir," jawab Kevin jujur. Tapi jawaban Kevin itu justru membuat Regina semakin yakin pergi dari rumah itu.


Selain karena Kevin tidak memberikan jawaban atas tuntutan cinta yang diinginkan Regina, juga karena mendengar perkataan Kevin akan alasan menerima janinnya itu membuat Regina semakin ragu.


Kevin tidak sabar menunggu janin itu lahir karena ingin janinnya cantik dan pintar seperti Bella. Jadi bagaimana jika janinnya itu tidak sesuai dengan harapan Kevin. Regina memang selalu mendoakan dan sangat berharap calon anaknya lahir sempurna dan cantik. Dan Regina sadar, manusia hanya boleh meminta dan berharap tapi semua yang ada di dunia ini sudah diatur Sang Pemilik Kehidupan.


Dan jika harapan Kevin tidak sesuai dengan harapannya. Maka akan terjadi penolakan lagi. Cukup, penolakan akan calon anaknya hanya ketika di kandungan saja. Regina tidak akan membiarkan ada penolakan lagi setelah janinnya itu lahir nanti. Dan untuk menghindari penolakan itu. Maka jalan terbaik saat ini dengan pergi dari Kevin. Membawa janinnya itu pergi dari laki laki yang tidak tulus menerima janinnya. Secara tidak langsung, Kevin menerima kehadiran calon anaknya itu dengan syarat cantik dan pintar. Seharusnya sebagai orangtua. Seperti apapun anaknya itu nanti lahir, harus menerima dan bersyukur.


Regina menilai jawaban Kevin bukan seperti jawaban laki laki dewasa. Regina tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Jawaban yang diinginkan Regina adalah jawaban dimana Kevin sudah bisa menerima janinnya itu.


"Jawaban mu belum tepat kak. Jangan halangi aku untuk pergi," kata Regina lembut. Regina beranjak dari duduknya dan dengan cepat pula Kevin meraih tangannya. Dan kali ini, Regina berhasil mengibaskan tangan suaminya itu.


"Regina, jangan pergi!.


Kevin bergerak cepat menghampiri Regina. Kevin memeluk tubuh Regina dari belakang. Regina berhenti. Andaikan, niat Kevin menahan dirinya di rumah itu karena alasan sudah cinta dan takut kehilangan dirinya dan sang janin. Mungkin saat ini adalah moment yang paling indah sepanjang perjalanan asmara nya. Tapi yang dirasakan Regina, Kevin melarang dirinya pergi supaya laki laki bisa menuntaskan hasratnya. Regina tidak asal menebak. Dari tonjolan keras di belakang tubuhnya, Kevin sangat berhasrat pada tubuhnya. Dan hal yang wajar Kevin berhasrat padanya karena sudah tiga malam tidak mendapatkan jatah tubuhnya.


Regina sebenarnya ingin menangis dan memukul dada laki laki itu. Tapi dia sadar. Dia bukan wanita yang termakan janji janji manis sehingga terjadi pernikahan diantara mereka. Jauh sebelum menikah, Regina sudah mengetahui jika suaminya itu sangat mencintai Melati dan menjadikan wanita itu ratu di hatinya. Regina juga sadar, apa yang terjadi pada hubungan mereka selama tiga bulan ini karena kerelaan hatinya. Andaikan dirinya tidak rela disentuh. Mungkin saja Kevin pun tidak akan pernah menyentuh tubuhnya.


Regina mengumpat Kevin dalam hati. Di saat membahas perpisahan seperti ini. Bisa bisanya barang laki laki itu bisa on. Dan mengingat mereka tidak melakukan kegiatan suami istri selama empat hari ini, mungkin keinginan Kevin untuk melepaskan hasratnya saat ini sedang menggebu gebu.


"Kak, kalau kamu ingin melihat aku selamat melahirkan janin ini. Jangan halangi aku pergi. Tapi jika kamu mengharapkan hal buruk terjadi padaku. Aku akan tetap tinggal di rumah ini. Kamu tahu mengapa kak?. Melihat kamu luka hati ini seperti disiram air cuka. Jadi pilih kak," kata Regina pelan. Regina ingin menumpahkan air matanya saat ini. Kevin benar benar hanya menjadikan dirinya pelampiasan selama tiga bulan.


Regina tidak bermaksud mengancam tapi seperti itulah yang sebenarnya dirasakan Regina saat ini. Kevin mencerna kata kata itu. Tiga hari saja, keberadaan Regina tidak diketahui. Kevin sudah mendapatkan ancaman dari pak Bayu akan melaporkan nya ke kantor polisi. Apalagi jika terjadi sesuatu yang buruk pada Regina. Sudah pasti dirinya yang akan menjadi tertuduh.


Kevin tidak ingin hubungannya dengan keluarga Regina tidak baik. Seperti permintaan kedua mertuanya untuk mengantarkan Regina kesana. Make hari ini, Kevin akan mengantarkan Regina. Bukan untuk menceraikan tapi untuk menitipkan Regina sementara waktu. Kevin berpikir, Regina perlu waktu untuk menyembuhkan sakit hati. Kevin juga sadar, dirinya sudah menyakiti Regina.


"Kalau begitu, biarkan aku yang mengantarkan kamu ke rumah Pak bayu."


Kevin sadar, dirinya tidak bisa berbuat apa apa selain memastikan Regina tiba di rumah mertuanya dengan selamat. Kevin berencana memberikan waktu berkumpul bagi Regina dan keluarganya. Setelah beberapa hari nanti, Kevin akan menjemput istrinya itu.


"Tidak perlu kak. Begitu kaki ku keluar dari rumah ini. Kita sudah menjadi orang asing. Aku tidak butuh lagi pertanggungjawaban apapun dari kamu."


Regina tidak main main dengan perkataannya. Melepaskan lebih baik daripada menderita dalam pernikahan. Dia perlu ketenangan dan kewarasan untuk menjalani kehamilan itu. Jika dirinya tidak berharga bagi Kevin. Dirinya masih berharga untuk keluarganya dan calon anaknya kelak.


"Regina, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Hanya laki laki yang bisa menceraikan istrinya. Sekalipun kamu berkata kita menjadi orang asing tapi aku yang menjadi penentu dalam pernikahan ini," kata Kevin dengan suara yang keras. Kevin seakan tidak terima dengan perkataan Regina yang menyebutkan meraka akan menjadi orang asing.

__ADS_1


Regina tertawa. Kata kata Kevin seperti laki laki yang perduli dengan nasib rumah tangganya. Perkataan Kevin sangat berbanding terbalik yang menginginkan pernikahan itu akan berakhir setelah janin itu lahir. Regina memang ingin dirinya diperjuangkan. Tapi kata kevin semakin menyakiti dirinya. Kata penentu yang keluar dari mulut Kevin meyakinkan Regina untuk pergi. Jika sekarang laki laki itu menentukan untuk mereka menjalani pernikahan itu. Bisa jadi besok atau lusa, Kevin akan menentukan perceraian mereka.


"Dan hanya aku yang berhak menentukan kehidupan ku sendiri. Aku tidak akan menggantungkan kehidupan ku pada laki laki yang tidak mempunyai perasaan. Yang tidak bisa menghargai istrinya sendiri dan yang tidak bisa move on dari masa lalunya. Cukup selama tiga bulan aku seperti wanita tidak punya diri di hadapan mu. Satu jam dari sekarang ini. Aku dan kamu sudah menjadi masa lalu. Jangan pernah mengingat jika kamu pernah menanamkan benih di rahim ku. Karena tanpa kamu, aku yakin bisa hidup berdua dengan putriku. Lebih cepat bercerai lebih bagus. Ingat itu kak!.


Regina melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu tanpa menyeret kopernya karena Kevin menahan koper milik Regina di tangannya. Sepertinya Kevin bersikeras untuk mengantarkan Regina ke rumah orangtuanya. Laki laki itu mengikuti langkah Regina keluar rumah. Tapi alangkah dirinya terkejut karena di luar rumah sudah ada dua orang laki laki bertubuh besar yang menunggu Regina di depan sebuah mobil.


"Regina tunggu, jangan pergi?.


Dengan tangan yang memegang perutnya, Regina bergerak cepat menuju mobil itu. Pintu mobil dibukakan salah satu dari laki laki yang menunggu di depan mobil tadi.


"Ayo jalan Pak," kata pak Bayu.


Mobil bergerak menjauh dari depan rumah Kevin. Dari jendela kaca, Regina melihat Kevin mengacak rambutnya kemudian berlari ke arah mobilnya. Gerakan Kevin sangat cepat memasukkan koper ke dalam mobil kemudian berlari ke arah gerbang dan membuka gerbang tersebut. Regina meminta supir menambah kecepatan supaya Kevin tidak bisa mengejar mobil itu.


"Ah, kenapa harus seperti ini Regina," kata Kevin frustasi sambil memutar kunci mobil. Kevin membawa mobil itu dengan cepat berharap bisa mengikuti mobil yang membawa Regina. Bahkan kevin tidak memperdulikan pintu gerbang yang tidak terkunci. Keluar dari kompleks perumahan. Kevin sudah kehilangan jejak tidak melihat mobil itu lagu. Kevin mempercepat laju mobilnya. Ketika tiba di persimpangan. Kevin ragu memilih jalan yang harus dia lalu. Ada tiga pilihan. Lurus, belok kiri atau belok kanan. Akhirnya Kevin mengambil belok kanan menuju rumah orangtua Regina.


Hanya memakan waktu setengah jam, akhirnya Kevin tiba di rumah mertuanya itu. Begitu turun dari mobil, Kevin berlari ke rumah Regina. Tapi apa yang dilihat Kevin membuat detak jantung laki laki itu berdetak kencang. Pintu rumah terkunci. Itu artinya Regina belum tiba di rumah itu. Kevin tidak habis akal. Kevin masuk ke dalam mobilnya dan mencari tempat parkir yang tersembunyi tapi masih bisa melihat ke arah depan rumah Regina. Kevin mendapatkan tempat parkir itu dan menunggu Regina di Sana.


Setengah jam menunggu. Regina tidak kunjung muncul. Kevin sudah menduga jika Regina tidak kembali ke rumah itu.


"Kemana kamu Regina. Jangan buat aku pusing," kata kevin pelan sambil membawa mobilnya pergi dari tempat itu.


Pada akhirnya, Pak Bayu dan ibu Siska turun tangan menjauhkan Regina dari Kevin. Setelah kepergian Kevin dari rumah tadi pagi. Pak Bayu langsung menghubungi Regina. Pak Bayu dan ibu Siska memang merasa lega mengetahui Regina berada di rumah mertuanya. Tapi mereka juga sadar jika kasih sayang orang tua kandung itu lebih tulus dibandingkan kasih sayang seorang mertua pada menantunya. Mereka menghargai sikap ibu Tika itu.


Bukan bermaksud meragukan ketulusan ibu Tika kepada Regina. Tapi sebagai seorang ibu, Ibu Tika pasti tidak akan tega lama lama menyembunyikan Regina dari Kevin. Kesalahan Kevin sudah sangat keterlaluan. Ada baiknya Regina dijauhkan dulu dari suaminya supaya Regina tenang menjalani masa masa kehamilan itu.


Untuk menjauhkan Regina dari Kevin. Pak Bayu sampai meminta tolong pada dua orang teman baiknya untuk menemani dirinya dan ibu Siska menjemput Regina hingga membawa Regina nantinya ke tempat yang jauh dari kota itu. Sengaja bukan Pak Bayu atau ibu Siska yang turun menunggu Regina supaya tidak ketahuan jika kepergian Regina atas campur tangan mereka.


"Mama."


Regina memeluk ibu Siska. Ibu Siska hendak diturunkan dari mobil itu sedangkan Regina ditemani pak Bayu dan dua temannya akan melanjutkan perjalanan. Ibu Siska tidak bisa ikut mengantarkan Regina karena masih ada Rani yang harus di jaga di rumah.


Regina menangis begitu juga ibu Siska. Regina tidak menyangka kedua orangtuanya sampai mendukung dirinya sampai sejauh ini. Jika boleh memilih, Regina tidak ingin berpisah dari ibu Siska apalagi di saat dirinya nanti melahirkan. Regina ingin ditemani oleh sang mama. Tapi sepertinya, Regina harus berjuang sendiri melahirkan tanpa ada ibu Tika di sisinya. Pergi menjauh dari Kota itu adalah keputusan mutlak dari pak Bayu yang tidak bisa ditawar tawar lagi. Regina dan janinnya yang selama ini tidak dianggap oleh Kevin, Pak Bayu merasa dirinya sebagai orangtua tidak dihargai sedikit pun oleh Kevin. Pak Bayu tidak hanya sekedar memberikan pelajaran kepada Kevin. Tapi pak Bayu sudah siap dan menginginkan Regina diceraikan saja daripada menderita batin bersama Kevin.


"Tanpa mama atau siapapun bersama mu di hari esok. Mama sangat yakin jika kamu bisa melewati masa masa sulit itu bersama Nenek."


Regina menganggukkan kepalanya dengan sedih atas semangat yang diberikan oleh sang mama. Tujuannya hari ini adalah kampung halaman pak Bayu dimana neneknya masih ada di sana. Regina siap menjalani hari harinya disana hingga tiba saatnya nanti melahirkan.

__ADS_1


Regina melepaskan ibu Siska turun dari mobil itu. Air matanya terus mengalir. Berpisah dari ibu Siska adalah kesedihan tersendiri bagi Regina. Ibu Siska bukan sekedar wanita yang melahirkan dirinya. Tapi ibu Siska adalah sahabat pertama dalam hidupnya.


Hingga mobil itu bergerak kembali. Regina masih mengeluarkan air matanya. Jika saat ini dirinya masih berstatus istri. Mungkin beberapa minggu kemudian, statusnya akan berubah menjadi janda di usia yang masih sangat muda.


__ADS_2